Tulis! dan Bagilah

Kadang kita tidak tahu bahwa ide, walaupun itu kecil dan sederhana, namun itu sangat bermakna bagi orang lain. Kita tidak tahu konteks persoalan yang dihadapi oleh orang lain, namun kadang – kadang mereka mempunyai kesamaan konteks problematika dengan apa yang sedang kita alami. Untuk itulah, walaupun sekecil atau seremeh apapun ide yang kita punya berbagilah lewat tulisan karena diluar sana mungkin ada pembaca pembaca yang mungkin terinspirasi dengannya.

Uraian di atas adalah salah satu alasan saya membuat tulisan lewat blog. Meski kadang kadang juga lewat media cetak baik berupa puisi, esai, atau reportase kegiatan. Keinginan untuk berbagi ide adalah salah satu dorongan bagi saya karena apabila kita menyampaikan lewat lisan seringkali malah dicibir oleh teman atau malah dianggap sok. Dengan menuliskan ide ide itu saya lebih bisa mengontrol ide pokok yang hendak saya sampaikan ke orang lain.

Salah satu kendala kita malas berbagi lewat tulisan adalah karena merasa bukan penulis jempolan. Dan ditambah dengan rasa takut tidak ada yang membaca. Kemungkinan tidak terbaca itu pasti jika tulisan itu hanya kita simpan di buku diary. Dan tidak pernah di publikasikan.

Sekarang ini sarana untuk mempublikasikan tulisan dengan cepat dan mudah tanpa harus melalui penerbit konvensional bisa dilakukan, ya salah satunya lewat blog atau situs yang dikelola pihak ketiga seperti qureta.com. Kita tidak usah takut tulisan itu tidak terbaca karena blog memungkinkan untuk ditemukan orang lain asal diberi tag dengan kata yang update atau kata yang spesifik. Dengan cara tersebut tulisan itu namtinya akan sering melintas di mesin pencari.

Tulislah sesuatu yang bermakna untuk umum meski itu bersifat pribadi. Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa kadang masalah yang kita hadapi memang banyak orang yang mengalaminya dan bagaimana Anda mengatasinya itulah yang biasanya bisa diambil pelajaran oleh para pembaca .

Jangan pernah menganggap hal sepele yang Anda alami orang lain juga akan menganggapnya sepele. Bila bisa saya analogikan dengan memberi uang, lebih bermakna mana memberi Rp 5000,00 ke orang yang miskin dan sedang kehausan di depan kedai es daripada memberi Rp 100.000,00 pada orang yang sedang pesta di Mall. Itulah salah satu contoh yang bisa saya analogikan dengan ide kecil tersebut.

Perlu kita sadari bahwa tidak semua orang kaya ilmu, ada juga orang orang yang kurang ilmu yang ingin mencarinya dari berbagai sumber . Orang orang yang seperti inilah yang biasanya merasakan ide kecil kita bermakna luar biasa bagi mereka. Kita hanya perlu membaginya dengan mereka dengan menuliskannya dan mempublikasikannya juga.

Manfaat Menulis Bukan Hanya Untuk Orang Lain

Menulis hanyalah mengungkapkan kata, ide, pemikiran dan usul lainnya dalam sebuah tulisan. Dalam menulis kita harus fokus dan lurus dalam berujar karena ujaran dalam menulis berbeda dengan ujaran dalam berkata kata secara lisan.

Dalam berkata-kata seseorang akan selalu meloncat dari ide yang satu ke ide lainnya dan lawan bicara akan tetap bisa mengikuti apa yang hendak kita sampaikan.

Berbeda dengan berkata melalui lisan, bila tulisan kita bermacam macam pokok pikiran yang hendak disampaikan maka orang yang membaca akan kebingungan dalam memahami tulisan tersebut. Keadaan ini dikarenakan orang yang membaca tulisan itu belum tentu tahu siapa dan bagaimana karakter penulisnya maupun mimiknya ketika penulisnya sedang menyampaikan gagasan.

Dalam berdialog biasanya ada sesuatu yang diulang untuk menegaskan apakah pesan yang disampaikan sudah dimengerti oleh lawan bicaranya, sedangkan dialog lewat tulisan tidak ada konfirmasi semacam itu.

Inilah yang menjadikan keuntungan menulis bagi seseorang karena itu akan melatih konsentrasi karena dituntut untuk fokus dalam menyampaikan satu gagasan lewat tulisan. Otak kita akan dipaksa untuk selalu on the track agar apa yang kita tuliskan tidak kacau balau dan susah dimengerti seseorang.

Semakin sering seseorang menulis akan semakin memudahkan orang tersebut untuk mengeksplorasi sebuah ide dari berbagai sisi. Ini disebabkan karena ketika seseorang fokus mengupas sesuatu akan selalu menemukan hal baru yang terlewat dari benak orang lain. Dan itulah kewajiban penulis yaitu menunjukkkan sesuatu yang terlewat di pemikiran seseorang.

Selain itu, menulis membuat orang tidak merasa kebingungan atau suntuk karena bisa menyalurkan kesuntukan dan kebingungannya itu dengan tulisan. Tuliskan apa saja secara bebas dan kesuntukan itu akan terlihat penyebabnya setelah beberapa saat penulis merangkaikan kata kata menjadi kalimat. Anda boleh percaya boleh tidak, tapi saya sudah membuktikannya.

Biar bagaimanapun dengan berbagi ide lewat tulisan, seseorang akan semakin bertambah kaya ide dan kreativitas dan berharaplah ada yang memanfaatkannya walupun itu hanya sedikit dan kalau diniatkan sebagai ibadah insya Allah berpahala. Ayo! berbagi lewat tulisan.

Iklan

B.M. Diah Penyelamat Tulisan Tangan Naskah Proklamasi

Kini berkat tindakan yang dilakukan oleh B.M. Diah, kita bisa merasakan dramatisnya proses pembuatan teks proklamasi karena teks tulisan tangan tersebut ada coretan coretan pada kata yang tak terpakai saat kalimat proklamasi itu disusun oleh para pendiri bangsa tersebut.

Minggu, 10 Maret 2019

Entah apa jadinya jika Burhanuddin Muhammad Diah tak memungut kertas yang dibuang oleh Sayuti Melik ketika ia telah selesai menyalin tulisan tangan itu ke dalam mesin ketik. Mungkin kita tak akan pernah melihat konsep naskah proklamasi yang berupa tulisan tangan yang ditulis Soekarno dan didiktekan oleh Hatta tersebut.

Kertas lecek itu memang sempat terabaikan dan dicampakkan begitu saja oleh para para pelaku sejarah yang terlibat dalam proses pembuatan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda tersebut . Untungnya, di antara yang hadir pada saat itu ada sosok yang sangat perhatian terhadap nilai sebuah bukti otentisitas arsip. Ia adalah tokoh pemuda yang memaksa Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan juga seorang wartawan.

Burhanuddin Muhammad Diah atau yang lebih dikenal B.M. Diah, dialah sosok yang menyimpan kertas tulisan tangan naskah proklamasi itu bertahun tahun sebelum akhirnya menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Tokoh kelahiran Aceh 7 April 1917 ini dikenal sebagai tokoh pers nasional, pejuang kemerdekaan, dan sempat menjadi diplomat serta pengusaha sukses di Indonesia.

Masa kecil B.M. Diah banyak dilewatkan di kota kelahirannya. Menginjak remaja, Burhanuddin mulai hijrah ke Jakarta dan belajar pada lembaga pendidikan Ksatrian Institute yang dipimpin oleh Dr. E.E. Douwes Dekker. Meski di situ ia memilih jurusan jurnalistik, akan tetapi seluk beluk dunia kewartawananya ia pelajari secara pribadi dari Douwes Dekker.

Setelah menamatkan pendidikannya, B.M. Diah kembali ke Medan dan menjadi redaktur harian Sinar Deli. Setengah tahun kemudian ia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai tenaga honorer di harian Sin Po.

Pada zaman pendudukan Jepang, B.M. Diah juga pernah dipenjara karena ketahuan bekerja di dua tempat. Saat itu ia bekerja sebagai penyiar di Radio Hosokyoku dan merangkap bekerja di harian Asia Raya .

Burhanuddin Muhammad Diah termasuk wartawan pejuang karena pada akhir September 1945, setelah diumumkannya Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, Ia bersama rekannya Joesoef Isak dan Rosihan Anwar bahu membahu mengangkat senjata dan berusaha merebut percetakan jepang, Djawa Shimbun, yang menerbitkan harian Asia Raya.

Berkat keberaniannya itu, percetakan tersebut akhirnya bisa direbut tanpa perlawanan dan berhasil dikuasai oleh orang orang Republik.

Pada bulan Oktober 1945 B.M. Diah mendirikan Harian Merdeka bersama Yoesoef Isak dan Rosihan Anwar. Surat kabar ini ia pimpin sampai akhir hayatnya di tahun 1996.

Di bidang pers banyak sekali pemikirannya yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Melalui alat penyiarannya, Harian Merdeka, berita-berita sekitar perjuangan bangsa dan negara, khususnya berita sekitar Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia bisa disebarkan ke masyarakat dengan cepat.

Kisah Kertas Lecek yang Melegenda
Ada beberapa kisah menarik yang tak banyak diketahui orang perihal proses pembuatan naskah proklamasi ini. Salah satu kisanya yang menarik adalah saat ia memungut kertas naskan proklamasi tulisan tangan dari tempat sampah karena dianggap oleh Sayuti Melik sudah tak berguna lagi.

Seperti yang dikisahkannya dalam buku biografinya, Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman yang ditulis oleh Dasman Djamaluddin dan diterbitkan oleh Pustaka Merdeka tahun 1992. Dalam buku ini B.M. Diah mengungkapakan bagaimana ia menyimpan naskah yang sebenarnya sudah dibuang oleh Sayuti Melik ke tempat sampah.

Ia mengungkapkan bahwa setelah naskah tersebut disalin oleh Sayuti Melik, naskah tersebut dibuang ke tempat sampah begitu saja. Tapi, naluri B.M. Diah yang saat itu sudah menjadi wartawan, mempunyai insting untuk menyelamatkan bukti bukti setiap momen atau peristiwa.

Ia memungutnya dari tempat sampah di rumah Laksamana Maeda saat naskah tersebut dibuang oleh Sayuti. Teks itu lantas ia kantongi dan ia simpan sepanjang lebih dari 40 tahun lamanya sebelum diserahkan ke pemerintah Republik Indnoesia pada tahun 1992. Kertas lecek itu ia bawa ke mana mana saat ia berdinas sebagai Duta Besar di Cekoslovakia, Inggris dan Thailand antara tahun 1959 hingga 1968.

Salah satu alasan yang dikemukakan Diah saat ia mengantongi kertas yang sudah lecek itu karena ia takut dokumen itu akan dibuang kembali jika diserahkan ke beberapa tokoh yang ada di rumah Laksaman Maeda saat itu karena dianggap sudah tidak terpakai lagi.

Kini berkat tindakan yang dilakukan oleh B.M. Diah, kita bisa merasakan dramatisnya proses pembuatan teks proklamasi karena teks tulisan tangan tersebut ada coretan coretan pada kata yang tak terpakai saat kalimat proklamasi itu disusun oleh para pendiri bangsa tersebut.

Keberadaan konsep memang sering kita abaikan karena ketidaksadaran kita bahwa konsep itu adalah petunjuk penting adanya kegiatan atau peristiwa karena dokumen tersebut terlibat di dalamnya.

Meski secara otentik naskah proklamasi yang diakui adalah hasil ketikan Sayuti Melik, Namun keberadaan kertas konsep tulisan tangan Soekarno yang redaksinya didikte oleh Hatta itu adalah termasuk arsip penting sebagai memori bangsa.

Teks tulisan tangan yang disimpan Diah ini laksana nyawa bagi teks proklamasi hasil ketikan Sayuti Melik. Tanpa adanya kertas lecek itu kita mungkin tidak bisa melihat latar belakang yang mempengaruhi proses pembuatan naskah proklamasi kemerdekaan negara kita tercinta ini.

Naskah ini dimuat pertama kali di geotimes.co.id

Labirin Azali

Labirin Azali

melingkar lingkar berpelangi
pada ruang kosong tak berbatas
dieja dengan relativitas
terbaca bagai selintas cahaya
kembaliku untukmu
menyatu dalam ada yang tiada

Ketiadaan

merawat usia terlena fana
hampa dalam ramainya dunia
menjemput nafas tersisa
ringkih menyendiri ramai dalam sepi
ada sapa malaikat di ujung langit langit
menjemput waktuku dibawanya berlalu
menjadi rindu pada kehampaan abadi

Belajar Dari Buku Biografi

Salah satu kesukaan saya adalah mengkoleksi buku biografi atau otobiografi. Entah kenapa, saya selalu ingin tahu rahasia dibalik perjalanan hidup seseorang hingga menjadi seperti yang ia kisahkan. Tapi ini soal selera terserah Anda menilainya.

Buku–buku yang saya koleksi tersebut, tidak spesifik berkisah pada satu sosok dengan bidang tertentu. Beragam profesi menjadi kokelsi saya misalnya, bidang politik, bidang ekonomi, atau bidang apa saja, asalkan menarik untuk dibaca. Biasanya aku hanya membaca biografi tokoh yang mempunyai sisi kreatifitas dalam hidupnya dan telah menjadi inspirasi orang banyak.

Kenapa buku biografi? Mungkin jawabannya karena ada sisi menarik dari seseorang yang mungkin sama dengan perjalanan hidup kita sehingga kita bisa memakainya untuk keperluan hidup kita. Dan bila mungkin kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup seseorang yang kita baca cerita hidupnya itu.

Ada sebuah proses, dari kisah liku liku hidup seseorang, hingga menjadi seperti yang kita kenal. Bagaimana pribadi seseorang tersebut terbentuk tentunya ada jutaan anak tangga kehidupan yang harus ia lewati dan kita berharap ada salah satu anak tangga yang sama dengan kehidupan kita.

Seringkali kita bertanya mengapa mereka bisa tapi kita tidak. Hal ini dikarenakan karena kita salah dalam memilih bidang yang kita geluti dan mestinya kita kuasai. Kita seringkali mengekor ketika ada seseorang yang sukses di bidang tertentu yang malah dengan itu kita justru menjerumuskan diri kita sendiri dalam kegagalan.

Kesuksesan tidak dilahirkan. Ada proses yang membentuknya . Proses itu terdiri dari kepingan kepingan yang mungkin pernah salah dan butuh perbaikan hingga membentuk karakter seseorang.
Proses yang tidak disadari namun seolah menjadi plot sebuah cerita yang mesti harus dijalani dengan sedikit improvisasi untuk menyempurnakannya.

Kita salah menilai kemampuan diri kita, bahwa mereka yang sukses itu adalah orang orang yang memang ahli di bidangnya. Dan kita seringkali mengikuti jejaknya dengan jalan memilih bidang yang sama sudah pasti kita hanya akan terus di belakangnya. Yang terjadi adalah keputusasaan yang mendera kita karena kesuksesan itu terasa jauh untuk kita raih.

Marilah mencoba untuk bersikap fair terhadap diri kita. Apa yang kita bisa dan apa yang kita mampu tentunya itulah yang membuat jalan kita untuk sukses. Tentunya ada syarat syaratnya yaitu antusiasme (passion) kita di bidang yang kita mampu serta komitmen kita untuk menggelutinya itulah syarat utamanya.

Ada beberapa contoh orang orang sukses dengan bidang yang sama sekali tak terbayangkan orang misalnya sukses jadi tukang servis, jadi juragan pecel, jadi ilustrator dan masih banyak bidang lainnya. Bob Sadino, Hermawan Kertadjaya, Chaerul Tanjung, Pak Puspo, Andrea Hirata, adalah nama nama yang berhasil mencari peluang di tengah bisnis mainstream yang ada. Ada satu garis lurus yang sama di antara mereka bahwa mereka adalah orang orang yang Mencintai dan Menggilai bidang yang ia tekuni.

Untuk menjadi sukses tak perlu harus mengekor bidang kesuksesan orang lain tapi kita harus meneladani bagaimana cara mereka menggeluti bidangnya hingga bisa sukses seperti itu. Disinilah kita bisa aplikasikan cara cara mereka ke dalam cara kita menggeluti bidang keahlian kita.

Jalan kehidupan seseorang tak kan pernah sama namun satu yang pasti tujuan mereka dan kita adalah sama yaitu untuk memperoleh akhir yang baik. Jalani Bidang yang anda geluti dengan antusias dan jangan pernah berputus asa.

Buku biografi menunjukkan pada kita bahwa jalan hidup seseorang itu berbeda beda. Kita mungkin harus menyadari bahwa kita dibekali dengan kemampuan yang unik sejak lahir. Apa yang kita punya adalah kemampuan untuk kita yang harus kita gali dan asah sesuai dengan kapasitas yang kita punya.

Membaca kisah orang lain sedikit banyak memicu kita untuk bisa meneladani perjalanan anak manusia. Cucuran darah dan keringat yang telah ia lakukan dalam menggapai kesuksesan adalah inspirasi. Namun diingat, jangan meniru apa yang telah digelutinmya tapi tel;adanilah semangatnya dalam memaksimalkan profesi yang digelutinya.

Takdir seseorang sudah ditentukan. Tetap berusaha dan menikmati perjuangan meraih impian adalah motivasi yang harusnya selalu kita tumbuhkan agat kita tidak cepat menyerah ketika kita jatuh. Jatuh sekali dan bangun dua kali adalah garis lurus dari kisah kisah orang sukses yang kita baca dari buku biografi itu.

Tak jarang apa yang diceritakan seseorang dalam biografinya adalah sesuatu di luar perkiraanya. Seringkali kita membaca bahwa apa yang telah mereka raih menurut mereka adalah kejutan diluar duagaannya semula.

Dan itulah menariknya buku biografi, yang kadang kadang oleh tokohnya pun merasa terkejut ketika membaca ceritanya karena sebenarnya arah hidupnya tidak pernah seperti yang ia bayangkan.

Itulah buku biografi, yang terkadang, tokohnya pun menceritakan sesuatu yang mengagetkan dirinya hingga pada satu titik tertentu membuat penulis dan pembacanya menyadari itulah takdir. Menarik bukan?

Layar Tancap Pak Ceprot

Bila melihat film bagus kenanganku pasti berlari di tahun 80 an. Saat itu aku sering kali diajak Mat Klobot melihat layar tancap di Lapangan Penanjan Desa Paciran. Wong Ciran nyebutnya Beskop untuk layar tancap ini.

Beskop ini biasanya sarana yang digunakan perusahaan jamu untuk promosi. Selain memutar film juga ada figur cebol yang turut serta di dalamnya. Aku masih ingat salah satu cebol itu bernama Pak Ceprot.

Karena jarak dari rumah lumayan jauh, biasanya aku nginthil Mat Klobot yang sudah agak besar saat itu. Tapi mereka biasanya suka iseng ngambungi gadis gadis cantik desa kami di tengah perjalanan. Memang di antara Desa Paciran dan Lapangan Penanjan ada lokasi pemakaman yang ada pohon ringinnya sangat besar.

Kebetulan saat itu aku sedang ngopi berdua dengan Mat Klobot. Aku iseng bertanya tentang kejadian saat itu.

“Mat, dulu itu kalau lihat beskop pak Ceprot kok pasti lari kenceng kenapa ya?”

“Oh…saat di tengah kuburan nanjan tho?”

“Lha, itu…pasti aku kamu ajak nyanggong di situ, dan tiba tiba kamu dekati gerombolan gadis, terus kamu lari,”

“Lha nik gak mlayu lak ketok rupaku, wong salah sijine bar tak ambung, mbuh sapa pokok e ngambung, hehe kon kok eling ae tho,” ia terkekeh mengingat kekurangajarannya dulu.

Oh aku baru tahu mengapa kok setiap di situ aku mesti harus berlari.mengejarnya agar tidak ketinggalan.

Selain keseruan di perjalanan itu, film yang diputar pak Ceprot juga luar biasa. Biasanya film laga dengan aktor Barry Prima atau Advent Bangun. Dua aktor itu adalah figur top Cah Ciran.

Kadang juga film humor Dono Kasino Indro. Saat itu, sebelum film diputar biasanya Pak Ceprot membuat atraksi lucu dengan rekannya sesama cebol.

Perusahaan jamu yang aku ingat pernah memutar beskop di Lapangan Nanjan, yaitu Jamu Jago, Nyonya Meneer, dan Dua Putri dewi. Mungkin karena bapak bapak di desa kami doyan jamu jadinya mereka sering mampir ke desa kami.

“Dulu saat nonton film kok kamu suka ngikuti aku tho?” tanya Mat Klobot.

“Soalnya aku ingin tidur di Masjid. Karena kalau pulang takut kemalaman. Kalau tidak ikut kamu tidak aman, kan sampeyan jagoan dadi nggak ana sing nggudoi aku,” jawabku.

Saat nonton beskop ini, biasanya mat Klobot selalu saja mendapat jajanan entah dari siapa. Tapi aku gak pernah bertanya pokoke melu mangan.

Karena beskop gratisan, biasanya pemutarannya dua sesi. Saat jeda dagangan jamunya buka lagi dan pak Ceprot beratraksi kembali. Nah di bawah layar tancap ini biasanya banyak yang buang air kecil, dan biasanya yang bawa senter pun iseng menyorotkan lampunya ke orang yang sedang kencing. Mereka biasanya akan terbirit birit sambil buang air.

Saat kuingatkan tentang hal itu Mat Klobot terpingkal pingkal. Entah apa yang diingatnya dengan peristiwa itu. Aku hanya memandanginya dengan heran.

Bar Bal Balan Byurrr Nik Gowah

Biyen nalikane isih cuwilik menthik aku sak kancaku sering bal balan ning ngasinan. Senajan rada adoh sithik nanging lumayan merga ngasinan panggonane amba tur leter, ora ana erine.

Nalika iku karo kancaku, Doni, Roni, Yakin lan sapinunggalane padha seneng yen bal balan ning ngasinan merga sakbare gupak lempung iso langsung anjlok byuuur nang Gowah.

Gowah iki kaya dhene blumbang bentuke kothak mesagi tur banyune kebak. Najan banyune ijo wernane aku laro kancaku ora jikik apa maneh gilo. Wes dadi pepengenku iso dudusan ning Gowah, itung itung blajar nglangi.

Nanging dus dusan ning Gowah iku nggawa resiko, digepuki, pake…. merga kuatir yen aku klelep.

Biasane bal balan nang ngasinan mesti oleh mungsoh bocah bocah blok pondok karangasem. Aku kelingan jaman semana oleh mungsoh balane Yasir, Toriq, karo azis. Bocahe gedhi gedhi tapi aku sak kancaku ora wedi mergo aku ya nduwe kanca gedhi.

Aku mungsohan karo balane Yasir menang 3-1 tapi balku bledhos kepasan gae tabrukan azis karo Roni.

Pas bar menang iku…aku sorak sorak lan langsung byurrr nang Gowah. Segerrrr

Saiki gowah iku wes gak ana. Panggonane ana ngarepe langgar Abu Darin, ngarepe omahe Zubaidi sing saiki dadi wong duwuran Muhammadiyah Balikpapan. Jarene, gowah iku sakben tahun mesti ana sing klelep tapi pas iku aku ora tahu nduweni ati ngena ngene. Tetep ae…..byurrrrrr bilas sak bar bal balan.

Lebih Bijak Hindari Buku Bajakan

Harga buku di negara kita memang mahal. Keadaan ini dikarenakan karena bahan baku kertas yang mahal atau proses produksi dan tetek bengeknya yang banyak biaya kita tak tahu. Keadaan ini memperparah gairah membaca yang sudah rendah pula.

Mahalnya harga buku membuat orang orang yang gemar membaca memilih alternatif lain untuk membaca buku yang diinginkannya. Ada beberapa pilihan yang mereka punya di antaranya, meminjam di perpustakaan umum, membeli saat ada obral, dan yang terakhir adalah membeli bajakan.

Dua cara pertama adalah cara yang bijak dan tak melawan hukum. Meminjam buku di perpustakaan adalah acar termurah untuk mendapatkan buku buku terbitan terbaru tanpa harus membelinya. Kita bisa mengunyah isinya tanpa keluar biaya dan tentunya ada tanggung jawab untuk mengembalikannya.

Mengembalikan buku yang dipinjam dari perpustakaan adalah bentuk tenggang rasa bahwa ada orang lain pula yang menunggu untuk meminjam buku yang sedang kita pinjam. Ada kewajiban untuk berbagi dengan yang lain mengingat perpustakaan umum ini adalah wujud layanan publik di bidang literasi.

Buku koleksi perpustakaan umum adalah layanan publik untuk masyarakat yang tentunya harus saling berbagi dengan yang lain. Pemustaka wajib untuk taat pada aturan waktu peminjaman yang disediakan oleh perpustakaan tersebut.

Cara berikutnya untuk menyiasati harga buku yang mahal adalah dengan menunggu saat ada obral atau cuci gudang dari penerbit penerbit besar. Tiap tahun penerbit penerbit besar pasti akan mengadakan event cuci gudang. Buku yang diobral ini biasanya tidak terbitan terbaru namun masih asli bukan bajakan.

Meski asli biasanya buku ini adalah buku buku hasil sortiran pihak manajemen penerbit bersangkutan. Dengan kata lain buku buku dengan harga super murah ini adalah buku yang mempunyai cacat produksi namun isinya tetap utuh.

Beberapa kecacatan itu, dari pengalaman penulis, adalah adanya halaman yang terbalik, pemotongan yang tidak simetris, atau ada noda dan cacat fisik lainnya. Namun itu tidak maslah karena buku tergolong asli dan biasanya masih tersegel dengan plastik. Toh kita butuh isinya bukan penampilan bukunya.

Biasanya buku buku yang diobral ini adalah buku buku yng sudah tidak laris lagi di pasaran. Bagi kita penggemar buku, itu bukan ukuran untuk mendapatkan buku karena yang kita inginkan adalah isi dan ditulis oleh siapa buku tersebut. Di ajang obral buku ini biasanya buku akan dijual seperempat prosen dari harga sesungguhnya di pasaran.

Kalau kita beruntung dan rajin menghadiri ajang obral buku ini kita bisa mendapatkan buku bagus dengan harga yang betul betul murah. Selain itu di ajang obral buku ini biasanya penerbit juga memberikan diskon yang besar untuk buku buku terbaru. Nah bagi penggemar buku yang minim dananya cara ini bisa dimanfaatkan untuk menyiasati mahalnya harga buku.

Cara terakhir untuk menyiasati buku yang mahal adalah membeli buku bajakan. Cara ini adalah cara yang tidak bertanggung jawab karena kita telah menzalimi penulis buku. Harga buku bajakan memang murah tapi kualitas cetakannya bukan seperti cetakan mesin cetak namun lebih dekat seperti hasil fotokopi.

Buku Bajakan juga tidak awet tulisannya karena bukan hasil proses mesin cetak. Meski berharga murah, kualitas fisik buku bajakan cepat rusak  karena penjilidannya pun asal asalan.

Selain itu membeli buku bajakan juga tindakan melanggar hukum karena bertentangan dengan undang undang hak cipta. Pembeli buku bajakan secara tidak langsung juga turut mendukung para pembajak karya inteletual orang lain itu untuk terus melakukan pembajakan.

Pembajak buku akan terus melakukan itu karena ada permintaan dari konsumen. Ada beberapa kejahatan yang kita lakukan jika membeli buku bajakan. kejahatan itu berupa mencuri hak cipta, merampas penghasilan penulis, dan tentunya merusak iklim usaha penerbitan resmi. 

Penulis buku memperoleh penghasilan dari royalti penjualan bukunya dari penerbit yang telah menerbitkan bukunya. Jika kita membeli buku bajakan maka kita sama saja mematikan mata pencaharian penulis buku. Bukankah itu sebuah kejahatan yang sangat kejam karena berkaitan dengan hajat hidup seseorang.

Dengan membeli buku bajakan kita juga tidak menghargai jerih payah seorang penulis saat berproses menghasilkan karya. Bagaimana ia berhari hari menuangkan tenaga dan pikiran untuk mengolah kata kata menjadi buku yang layak dibaca. Mereka menghabiskan waktunya fokus berkarya dan saat diterbitkan dibajak pula. Apes.

Akan lebih bijak jika kita, para penggemar bacaan ini, menghindari untuk membeli buku bajakan mengingat efek samping yang ditimbulkannya. Kerugian materi dari orang orang yang harusnya mendapat keuntungan dari buku yang telah ditulisnya begitu mengancam kehidupannya akibat adanya pembajakan.

Kita harusnya menyadari bahwa membeli buku adalah wujud penghargaan bagi penulis. Kita memberikan harga dari ilmu yang telah kita ambil dari buku yang kita baca. 

Penulis pun bisa bertahan untuk menulis jika secara ekonomi ia tidak kesulitan. Dan yang lebih penting, perasaan dihargai pembaca akan membuat semangatnya terus menyala untuk berkarya.

Tulisan ini terbit pertama kali di qureta.com Lebih Bijak Hindari Buku Bajakan. Silahkan follow akun saya di situ,