Mat Klobot Nanjak Ambeng

Mat Klobot sangat suka makan bareng dalam satu talam atau nampan yang menurut istilah wong ciran, nanjak ambeng.

“Enak mangan bareng bareng sak ambeng padha rasa padha rata, tidak ada yang akan dikalahkan atau yang mengalahkan semua memberi kesempatan yang sama. perbedaannya hanyalah siapa yang paling kuat untuk duduk,” begitu jelasnya.

Nanjak ambeng adalah kebiasaan wong ciran jika sedang syukuran. Biasanya mereka memasak masakan satu atau dua nampan besar. Setelah tersaji, nampan akan dibawa di jalan depan rumah atau ke mushola untuk ditanjak rame rame.

Saat nanjak ambeng ini semua orang berkedudukan.sama. Yang kaya, miskin, pangkat maupun jelata duduk bareng mengitari nampan.yang sama.

Kebisaan ini juga berlangsung di bulan puasa. Biasanya ambeng akan dibawa ke mushola menjelang maghrib atau saat darusan untuk dimakan bersama sama.

Seneng poll nik nyawang nanjak ambeng, sak jane gak selera mergo mangan bareng bareng jadinya selera yang hilang kembali muncul. Rapakat pokoke,” jawab Mat Klobot saat kutanya perihal kesukaanya nanjak ambeng.

Tak ada tasa risih atau jengah saat makan bersama dalam satu nampan ini. Dan yang seperti ini hanya di Paciran yang masih bertahan.

Aku pun kadang tak mau terlewatkan dengan menu ambeng ini. Lodeh dengan ikan asin plus wak panggangan disertai sambal urap hemmmmmmmm… nyam nyam…..

Iklan

Ngabuburit di Pantai Lorena

Pantai Lorena

Sore itu kami masih berjalan menyusuri pantai desaku. Senja makin lama makin memerah, aku dan kamu masih sama sama diam menghadap ke Barat. Di ufuk lingkaran keemasan itu hampir tenggelam ditelan lautan.

“Ramadhan  kali  ini kita akan sering bertemu setelah kamu kembali dari Hongkong,” aku mengawali perbincangan.

“Ya, aku suka menikmati senja itu bersamamu, apalagi sambil ngabuburit, Maghrib seolah berjalan cepat sekali,”   balasnya sambil memainkan pasir pantai.

Sementara kami masih berbincang, orang orang sibuk memanggil anak anaknya untuk diajak kembali pulang. Gelap kemerahan warna senja menandakan Maghrib segera tiba  dan saatnya berbuka akan segera tiba.

Pantai Lorena berbentuk laguna melengkung memang sering menjadi jujukan warga kampung kami untuk meluangkan waktu di sore hari. Terutama saat bulan ramadhan sambil menunggu bedug Maghrib.

Sebelumnya pantai lorena ini kumuh dan banyak sampahnya. Selama bertahun tahun tak  ada yang  berani menjamah pantai lorena. Disamping karena kumuh juga karena dianggap angker. Seringkali banyak orang yang kesurupan ketika habis bermain di sana.

Pantai lorena letaknya persis di seberang kuburan kampung Penanjan. Dulu kuburan kampung ini adalah tempat menguburkan korban penembakan misterius.

Setelah di desa kami berdiri tempat wisata bahari, pantai lorena pun terkena imbasnya. Para pelancong sering memarkir mobilnya untuk beristirahat sebelum menuju ke tempat wisata. Lambat laun warga di sekitar pantai lorena mulai mendirikan trenda sederhana untuk berjualan.

Karena semakin banyak pengunjung, akhirnya warga desa kami berinisiatif membersihkan pantai lorena agar terlihat bersih dan bisa dipakai sarana bermain.

“Dulu kita tidak berani bermain ke sini, ya, saat masih kotor,” Esti mengingatkanku.

“Lho, jelas tidak berani lha wong tempatnya terkenal angker dan banyak kisah horornya ,” balasku

Saat pertama kita jadian  selalu kesulitan untuk menemukan tempat untuk bertemu  di desa ini. Kini pantai lorena adalah sarana muda mudi bertemu mereka berbincang bebas di alam terbuka di sela kerumunan orang yang menunggu Maghrib.

Saat pantai sudah sepi dan makin gelap kita memutuskan untuk pulang. Aku menuju ke kampungku di sebelah barat pantai Lorena dan Esti ke Timur menuju desanya yang kini makin menjamur  dengan  rumah kost. Esti salah satu pemilik rumah kost di desanya yang ia bangun dari hasil menjadi TKW di Hongkong.  

Tadarrus Bareng Mat Klobot

Mengaji qur`an saat ramadhan di Paciran itu akan lebih meriah di Langgar dekat rumah Mat Klobot. Di sana enak karena jajannya banyak dan boleh merokok.

“Biarkan saja mereka menyimak sambil merokok, toh itu tidak mengganggu kekhusuan dalam mengaji,” kata Kang Mat Klobot saat di protes wak Tam.

“Biarlah mereka dekat dan nyaman ngaji di langgar dan jangan terlalu banyak larangan biar mereka senang saba Langgar, anak anak sekarang semakin takut ke langgar karena sering dapat makian. Kan lebih baik mereka saba langgar biar langgarnya ramai,” tambahnya.

Memang benar kata Mat Klobot, sekarang ini tadarus makin jarang diisi anak anak muda karena mereka serba salah kalau di mushola. Harusnya langgar atau mushola menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak anak muda. Terlebih lagi anak kecil semakin takut ke mushola karena sering dimarahi orang tua. Inilah penyebabnya mereka menjadi jauh dengan mushola.

Aku juga sering menganalisa kebenaran omong Mat Klobot yang satu ini.

Pernah suatu ketika ia berkata, “mengapa anak Kyai kok selalu pintar mengaji? salah satu alasannya adalah waktu kecil saat mereka bermain di Mushola kita selalu memakluminya saat mereka berpolah, Nah akhirnya mushola jadi tempat yang menyenangkan bagi mereka.”

“Beda kalau yang guyon itu anak makmum biasa pasti banyak kena marah dan akhirnya males ke mushola, kok betul, kang,” jawabku saat itu.

“Makane nik pingin duwe anak pinter kudu sing ngregani bocah ojo angger pisoh pisoh,” Mat Klobot meyakinkan.

Nah di tengah tengah ngaji darusan, ada Wak Yu Zah kirim gorengan dan yang sedang menyimak pun langsung menyantapnya tanpa sungkan sungkan.

Memang enak ngaji bareng Mat Klobot. bebas tapi yo tetep kudu maca disik ben enak olehe kecap. hihihi.

Cenayang Asmara

Ia telah menjalani profesinya hampir dua puluh tahun. Saat pertama memulai ia berusia tiga puluh tahun satu hari. Tepat sehari setelah peringatan hari ulang tahunnya.

Kodir kini adalah jaminan bagi orang yang sedang kasmaran pada perempuan. Sarannya selalu terbukti cespleng dan manjur untuk menggaet perempuan yang jadi incaran para konsumen jampi jampi asmaranya.

“Jangan berhenti untuk memberinya meski perempuan yang kau incar selalu menolaknya,” saran yang kuterima ketika aku berkunjung ke tempat prakteknya. Kutahu Kodir berkat saran seorang kawan yang kasihan melihatku mabuk kepayang pada Anak juragan selep gabah yang parasnya bagai Dian Sastrowardoyo.

Banyak ibu ibu, jejaka, janda, maupun duda yang antri bersamaku saat itu. Semua bertujuan sama, minta ilmu pelet.

Sebulan berikutnya aku kembali ke tempat Kodir ingin memberi bingkisan terima kasih. Berkat sarannya aku berhasil mendapatkan hati perempuan idamanku. Banyak wajah wajah yang sama. di ruang antrian, seperti saat pertama aku berkunjung ke sana.

Dan lagi lagi tujuan kita sama akan memberi bingkisan tanda terima kasih.

“Bang Kodir memang matoh jampi jampinya, hanya sehari saat aku ikuti saranya si janda incaranku langsung klepek klepek,” Bisik Karto, duda keren yang kini datang bersama Sum janda idamanya itu, padaku.

Anehnya kita semua punya pertanyaan yang sama kenapa Kodir di rumah sendirian tanpa anak dan istri.

Seorang ibu ibu paruh baya nyeletuk di tengah obrolan kami. Rupanya sejak tadi ia menguping, sambil senyum ia bekata lirih, “Dokter tak bisa mengobati sakitnya sendiri.”

Jangan Berteriak Antikorupsi Jika Masih Butuh Amplop

Mental oportunis harus bersama-sama diperangi untuk melihat kepentingan yang lebih panjang. Nominal yang biasanya habis dalam sehari jangan membuat kita lupa akan tujuan politik.

Pemilu adalah sarana kontrak sosial paling masuk akal untuk memasrahkan sebagian hak publik kita kepada pejabat publik. Tentunya sangat tidak elok bagi para pemilih ini berteriak-teriak penuh kebencian sedang dirinya sendiri tak mau kehilangan kesempatan untuk korupsi jika ada kesempatan.

Baca selengkapnya di:

https://www.qureta.com/post/jangan-teriak-antikorupsi-jika-masih-butuh-amplop

Spin is Real! Ketika Pantura Lamongan Demam Ping pong

Memang bukan hanya bola ping pong yang menarik perhatian penggemar olahraga  tapi permainan ping pong atau tenis meja  juga memikat masyarakat melalui ritme dinamis para pemainnya. Tak terkecuali  masyarakat Pantura Lamongan yang sekarang ini sedang keranjingan ping pong.

Minggu 11/3/2018 setahun yang lalu, kompetisi antar persatuan tenis meja (PTM) di wilayah kecamatan Paciran, Brondong dan Solokuro bertemu di arena pertandingan. Arena yang berada di Warung Kopi D’Warkop Desa Paciran seharian penuh nampak riuh rendah dengan sorak sorai penonton hari itu.

Kompetisi ini diadakan oleh Paciran Ping pong Club (PPC) dengan tema mempingpongkan pantura. Geliat permainan ping pong memang kembali marak seiring dengan pemahaman teknik teknik baru yang diperoleh salah satu warga pantura dari club ping pong di kota. Bola spin (pelintir) baik top spin, side spin, maupun back spin sudah bisa dikendalikan oleh mereka yang tergabung dalam PTM PIM di pantura ini.

Beni hasyim, penggagas turnamen ini mengatakan bahwa kompetisi ini dimaksudkan agar para pemain pemula yang ikut serta lebih memahami teknik dari PTM kawakan yang ada di pantura seperti PTM Pantura yang berlokasi di Kecamatan Brondong.

Tak ketinggalan juga PTM dari Kecamatan Solokuro yang selam ini dikenal sebagai sumber atlit ping pong Kabupaten Lamongan juga menurunkan beberapa pemain mudanya untuk ambil bagian di kompetisi ini.

Salah satu peserta yang paling menghibur adalah Shogun dari PTM Pantura Brondong yang hari itu tampil menggunakan karet Bintik yang terkenal dengan bola pengembalian yang aneh bagi yang belum memahaminya. Bola pantulan yang dihasilkan selalu sukar ditebak dan seringkali membuat lawan belum mengenal karet bintik terlihat seperti pemula. Penonton pun bersorak saat lawan membuat kesalahan.

Meski begitu Shogun pun bisa ditaklukkan oleh Rozim dari PTM Pantura Brondong  di semifinal. Rozim gpada akhirnya keluar sebagai juara dengan mengalahkan dedengkot ping pong Pantura yaitu Yono dengan tiga set langsung di pertandingan final. Mari berping pong, Smash!!

Geguritaning Urip

MEH
akeh padha ngendelno
dumeh sugih dumeh ayu dumeh apa wae
apa padha nora kelingan
nok sajerone dumeh
ana barang kang meh
meh loro
meh mati
meh bangkrut
meh wae lali
kaben nggawa meh
mulakno dadi wong aja dumeh

NRIMO
ora akeh gunem
ora kakean cangkem
mung marem ngadepi
apik elek ginarise urip

manungsa mung ngupaya
kudu obah pikir obah sikil
maring gusti kerep zikir
hasile ora usah dipikir

MENTES
Tuwa dudu sing umure dawa
tuwa iku mentes
mentes pikire mentes lakune

NGOPI
padha sesrawungan guyup sakanca
meja kursi kebak ukara
tukang kayu tukang batu uga guru
padha andum rasa

urip kang abot disangga
diudal bareng ing jroning warung
ana irah irahan tresna ana ing sacuil roti
ing Paciran urip disangga
liwat sak cangkir kopi

GAMBAR ANYAR

tanggal 20 oktober 2014
salah siji gambar ana omahku ganti
wes sepuluh rendengan keliwat
ora cicir senajan wis kereb kena angin

Dina iki arep tak ganti
gambar wong kuru tapi prigel
gelem gawe gak kakean lambe
amarga pejabat iku kudu
iso laku kere

ALUN ALUN MALANG
swara jangkrik lan emprit
dadi rewang bengi iki
bocah loro sawang sinawang

kopi panas tak sruput
aku kelingan
bocah pacaran kae
sing lanangsumende
sing wedok ngguyu

aku kisinan
selawe taun kepungkur
aku kaya bocah kuwi

JRONING QALBU

Sawangen ning aja meri
sejatine mripatmu
ajeg kandha ning ora pener
kang pener ana jroning qalbu
ning awakmu ora tau nggugu

TREKAL
Semburat sinare srengenge
mega abang ngelingake
iki wayah mapag gawe
ojo nganti keri amarga nggedekake sare

sapa bisa nuladani piweling
saka priyayi jawa kang adi
pingin mulya kuwi mesthi
nyuda bantal kelawan guling

GENDHAKAN
Ora ana gendhakan sing apik
sing mesthi ana iku
bojo kang becik

sayange gendhakan mesthi gethokan
sengite gendakan yo mung pawadan
tresna lan asih bojo mesthi tanpa aling alingan

mula aja gampang percaya karo gendhaan
amarga akeh akehe sak obahe gawe gawean
bojo kuwi sejatine gething lanasih
amarga sejati kudune
ditampa nganggo wigati
MERI
Aja sirik karo liyan
meluwa seneng nek nyawang liyan
aja nandur sengit
ning ati krasa pahit

mula sing jembar ati
sing padhang pikire
aja susah nalika ana bungah
aja bungah nyawang wong susah

urip kudhu bisa
madakna rasa
rasa sami raharja

IKHTIAR

paribasan titi mangsa
ana mangsa ketigo
uga ana mangsa rendheng
wayah ketiga aja rumangsa rekasa
wayah rendheng aja banget seneng

kudune diri kudu nyipati
ginarising urip ya padha
pas gak nduwe aja rumangsa kere
kepasan sugih aja rumangsa duwe

sugih kere ana wancine
nanging kudu obah awak obah pikire
aja mung sare
lan gedhe angen angene
dunung orahe kuwi kersaning gusti

MUSPRA
amal sing tansah ketutan omong
gawe sing ketutan misuh
kabeh koyo nguyahi banyu segara
muspra kerana sonder legawa

NGELMU
Ngelmu iku duweni rong macem
siji ngelmu kaya dene ngangsu
loro kaya dene dipancuri
karo karone duwe kaluwihan

yen ngangsu pan gelmu tansah rekasa
yen nadah rekasane gak sepiro
mulane yen dadi guru kude duwe sifat kados sumur
ora bakalan kentekan banyu
ojo kaya ceret sing mung mancur nanging cethek

KAREP
Lamun sira ngarep
ngarepana sing padha
karo sing duweni karep
insya Allah urip mu gampang

aja sepisan sepisan karep ala
nek kalakon dadi mala
marakke urip sangsara
kanggo kowe lan wong liya

karep iku akeh kanthilan nafsu
ati ati karo karepmu
sing mbok senengi ora mesthi
apik kanggo kowe
dadiyo sing nastiti
amarga kabeh wes tinulis ana titi wanci

UDAN
Udane deres nelesi ati sing ngenes
swarane banyu kemricik nggawe becik
lali karo kesusahan sing gemanthil
ana jeroning urip sing kebak krikil

NESU
kecut sing tak rasa
nyawang kowe meneng
ora omong mung momong
rasa sumpek ning dhadha
sakjane mung kandha ana apa