Mudukan Ala Mat Klobot

Saat sedang asyik makan rame rame di mushola tiba tiba Mat Klobot tertawa sendiri. Kita yang ada di sebelahnya pada bingung dengan polahnya.

“Lapo..kok ngakak ngono iku, Kang,” tanyaku penuh selidik.

“Kelingan zaman semono, sek cilik cilik mangan bareng urunan beras sak cangkir edang,” jawabnya dengan masih menahan tawanya yang penghabisan.

Ya, saat itu tahun 80an masih belum ada hape. Cah ciran masih suka kumpul kumpul. Nah saat kumpul inilah biasanya muncul ide untuk masakan.

“hiyo, yo zaman biyen seneng, dolanane isek kumpul ngobrol bareng, ora kaya saiki kumpul ning nggremeti hape dewe dewe,” aku mencoba mengingat sebagaimana Mat Klobot.

Saat itu, kalau masakan bersama, masing masing urun beras satu gelas. Membawa dari rumah masing masing. Anehnya karena kondisi ekonomi kita berbeda, maka berasnya pun beda beda, tetapi rasanya saat matang kok ya sama. Berkah mungkin

Hehehe…sopo sing biyen ora tau urun?

Iklan

Mat Klobot Nanjak Ambeng

Mat Klobot sangat suka makan bareng dalam satu talam atau nampan yang menurut istilah wong ciran, nanjak ambeng.

“Enak mangan bareng bareng sak ambeng padha rasa padha rata, tidak ada yang akan dikalahkan atau yang mengalahkan semua memberi kesempatan yang sama. perbedaannya hanyalah siapa yang paling kuat untuk duduk,” begitu jelasnya.

Nanjak ambeng adalah kebiasaan wong ciran jika sedang syukuran. Biasanya mereka memasak masakan satu atau dua nampan besar. Setelah tersaji, nampan akan dibawa di jalan depan rumah atau ke mushola untuk ditanjak rame rame.

Saat nanjak ambeng ini semua orang berkedudukan.sama. Yang kaya, miskin, pangkat maupun jelata duduk bareng mengitari nampan.yang sama.

Kebisaan ini juga berlangsung di bulan puasa. Biasanya ambeng akan dibawa ke mushola menjelang maghrib atau saat darusan untuk dimakan bersama sama.

Seneng poll nik nyawang nanjak ambeng, sak jane gak selera mergo mangan bareng bareng jadinya selera yang hilang kembali muncul. Rapakat pokoke,” jawab Mat Klobot saat kutanya perihal kesukaanya nanjak ambeng.

Tak ada tasa risih atau jengah saat makan bersama dalam satu nampan ini. Dan yang seperti ini hanya di Paciran yang masih bertahan.

Aku pun kadang tak mau terlewatkan dengan menu ambeng ini. Lodeh dengan ikan asin plus wak panggangan disertai sambal urap hemmmmmmmm… nyam nyam…..

Tadarrus Bareng Mat Klobot

Mengaji qur`an saat ramadhan di Paciran itu akan lebih meriah di Langgar dekat rumah Mat Klobot. Di sana enak karena jajannya banyak dan boleh merokok.

“Biarkan saja mereka menyimak sambil merokok, toh itu tidak mengganggu kekhusuan dalam mengaji,” kata Kang Mat Klobot saat di protes wak Tam.

“Biarlah mereka dekat dan nyaman ngaji di langgar dan jangan terlalu banyak larangan biar mereka senang saba Langgar, anak anak sekarang semakin takut ke langgar karena sering dapat makian. Kan lebih baik mereka saba langgar biar langgarnya ramai,” tambahnya.

Memang benar kata Mat Klobot, sekarang ini tadarus makin jarang diisi anak anak muda karena mereka serba salah kalau di mushola. Harusnya langgar atau mushola menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak anak muda. Terlebih lagi anak kecil semakin takut ke mushola karena sering dimarahi orang tua. Inilah penyebabnya mereka menjadi jauh dengan mushola.

Aku juga sering menganalisa kebenaran omong Mat Klobot yang satu ini.

Pernah suatu ketika ia berkata, “mengapa anak Kyai kok selalu pintar mengaji? salah satu alasannya adalah waktu kecil saat mereka bermain di Mushola kita selalu memakluminya saat mereka berpolah, Nah akhirnya mushola jadi tempat yang menyenangkan bagi mereka.”

“Beda kalau yang guyon itu anak makmum biasa pasti banyak kena marah dan akhirnya males ke mushola, kok betul, kang,” jawabku saat itu.

“Makane nik pingin duwe anak pinter kudu sing ngregani bocah ojo angger pisoh pisoh,” Mat Klobot meyakinkan.

Nah di tengah tengah ngaji darusan, ada Wak Yu Zah kirim gorengan dan yang sedang menyimak pun langsung menyantapnya tanpa sungkan sungkan.

Memang enak ngaji bareng Mat Klobot. bebas tapi yo tetep kudu maca disik ben enak olehe kecap. hihihi.

Spin is Real! Ketika Pantura Lamongan Demam Ping pong

Memang bukan hanya bola ping pong yang menarik perhatian penggemar olahraga  tapi permainan ping pong atau tenis meja  juga memikat masyarakat melalui ritme dinamis para pemainnya. Tak terkecuali  masyarakat Pantura Lamongan yang sekarang ini sedang keranjingan ping pong.

Minggu 11/3/2018 setahun yang lalu, kompetisi antar persatuan tenis meja (PTM) di wilayah kecamatan Paciran, Brondong dan Solokuro bertemu di arena pertandingan. Arena yang berada di Warung Kopi D’Warkop Desa Paciran seharian penuh nampak riuh rendah dengan sorak sorai penonton hari itu.

Kompetisi ini diadakan oleh Paciran Ping pong Club (PPC) dengan tema mempingpongkan pantura. Geliat permainan ping pong memang kembali marak seiring dengan pemahaman teknik teknik baru yang diperoleh salah satu warga pantura dari club ping pong di kota. Bola spin (pelintir) baik top spin, side spin, maupun back spin sudah bisa dikendalikan oleh mereka yang tergabung dalam PTM PIM di pantura ini.

Beni hasyim, penggagas turnamen ini mengatakan bahwa kompetisi ini dimaksudkan agar para pemain pemula yang ikut serta lebih memahami teknik dari PTM kawakan yang ada di pantura seperti PTM Pantura yang berlokasi di Kecamatan Brondong.

Tak ketinggalan juga PTM dari Kecamatan Solokuro yang selam ini dikenal sebagai sumber atlit ping pong Kabupaten Lamongan juga menurunkan beberapa pemain mudanya untuk ambil bagian di kompetisi ini.

Salah satu peserta yang paling menghibur adalah Shogun dari PTM Pantura Brondong yang hari itu tampil menggunakan karet Bintik yang terkenal dengan bola pengembalian yang aneh bagi yang belum memahaminya. Bola pantulan yang dihasilkan selalu sukar ditebak dan seringkali membuat lawan belum mengenal karet bintik terlihat seperti pemula. Penonton pun bersorak saat lawan membuat kesalahan.

Meski begitu Shogun pun bisa ditaklukkan oleh Rozim dari PTM Pantura Brondong  di semifinal. Rozim gpada akhirnya keluar sebagai juara dengan mengalahkan dedengkot ping pong Pantura yaitu Yono dengan tiga set langsung di pertandingan final. Mari berping pong, Smash!!

Terinspirasi Poster Bola di Jahitan

Sosoknya sangat kharismatis dengan rambut gondrong dan berkumis tipis. Belakangan saya tahu ia adalah Mario Kempes, striker Argentina saat merebut piala dunia 1978.

Gambar sosok itu saya tahu di sebuah poster yang tertempel di dinding Jahitan.

Jahitan adalah tempat beberapa penjahit yang berkumpul membuka jasa jahitan di situ. Berbentuk sebuah rumah tanpa kamar menghadap ke selatan. di Jalan Pasar Lama 1.

Di situ banyak pemuda pemuda yang kumpul di sana. Beberapa di antaranya adalah pemain inti tim sepakbola desa Paciran. Nah karena semua mania bola, dinding jahitan itu penuh poster bola.

Seperti sosok diawal yang saya uraikan, gambar Mario Kempes yang ganteng itu menginspirasi saya dan teman teman menjadi suka dengan bola. Setiap main bola kita pasti berekspresi layaknya adegan di poster bola yang tertempel di dinding Jahitan.

Yang sangat membekas tentunya poster lengkap piala dunia 1986 di mana turnamen itu melahirkan legenda hidup, Maradona. Banyak foto maradona di Jahitan yang akhirnya membuat aku mania dengan tim Tango.

Selain menikmati poster aku dan teman temanku juga bisa main karambol di Jahitan. Kita biasanya main kucing kucingan dengan pemuda pemuda yang biasa mangkal di Jahitan. Jika ketahuan pasti diidoni atau ditempeleng.

Nah, yang lebih membuat aku terkesan adalah, di Jahitan semua pemuda itu punya julukan. Ada Ngunguk, Picik, Clangap, Mudatsir, dan yang paling familiar adalah Ali Klothek dan Sik Cuk.

Ya…kini bangunan itu tinggal cerita. Yang tersisa adalah kenangan pohon WARU di depannya….. daunnya asyik buat gelembung air. Brullll…..brul…

Sekolah Ngrangkep Berarti Pinter Ngaji

Saat itu di era 80 an. Wong Ciran yang sekolah di sekolah umum masih jarang. Hanya sebagian kecil saja karena kebanyakan menyekolahkan anaknya di madrasah.

“Sekolah madrasah iku mesti iso ngaji,” kata Mat klobot saat ditanya oleh Dul Gacor di warung kopi Doyok. Kedua sahabat ini terlihat serius berdialog perihal madrasah dan sekolah. Aku yang kebetulan ada di belakangnya hanya menyimak. “Awakmu biyen yo sekolah ngrangkep tho, Dul?” tanya Mat Klobot.

Aku jadi ingat diriku sendiri. Aku adalah produk sekolah umum tanpa sekalipun sekolah di madrasah. Seringkali aku dibilang Wong Ciran nggak bisa ngaji karena sekolah umum. Untuk menyiasati ini biasanya temanku yang ortunya kaya memilih sekolah ngrangkep; pagi dan siang.

Dul Gacor melanjutkan menjawab tanya Mat Klobot, “Aku biyen ngrangkep, karo madrasah makane aku nik awan ga iso dolanan kaya awakmu, Bot.”

“Makane aku karo awakmu isane dolanan yo sakben prei dawa thok, yo, Dul. Tapi kan ana untunge awakmu dadi pinter ngaji merga pelajaran agamae akeh ning madrasah. pok syukur…kon iku isek slamet…”

“Ora mesti, akeh kancaku sing malah gak mudeng blass merga dasare bocahe males,” balas Dul Gacor.

Memang banyak juga temanku yang seperti teman Dul Gacor yang asli dari sananya males malah gak ngalor gak ngidul ngajine. Meski aku tidak ngrangkep tapi aku ngaji di mushola Subulussalam sampek lulus SMA. Dadi untuk masalah agama tidak jauh ketinggalan dengan teman yang sekolah di madrasah.

Karena sekolah umum masuk pagi, saat aku ingin bermain dengan temanku biasanya saat siang aku bermain di madrasah menanti mereka istirihat.

Saat itu aku agak kaget karena kelas temanku itu gurunya ganti ganti tiap pelajaran. Berbeda dengan sekolahku yang sejak pagi hingga siang gurunya itu terus. Hanya berganti saat pelajaran Agama Islam dan Olah raga.

Paciran, Desa Paling Santai

Hidup di Paciran itu santai dan tenang. Jarang ada tuntutan terutama bagi kalangan muda. Mereka sangat santai selepas sekolah SMA. Tapi untuk yang sarjana beda sama sekali.

Dari pergaulan saya dengan anak SMA luar desa Paciran, ketegangan yang mereka rasakan berbeda dengan pemuda kami.

“Om, kerja apa yang cocok untuk lulusan SMA?” begitu aku sering ditanya oleh mereka.

Aku heran kok mereka sudah mikir mau kerja apa selepas SMA. Kok jarang nanya kuliah ke mana enaknya.

Ternyata mereka yang bertanya ini biasanya memang nggak niat lanjut ke Universitas.

Ternyata pemikiran ini dibentuk oleh lingkungan desanya yang memang banyak yang sudah bekerja sejak kecil, bahkan merantau ke kota besar.

Berbeda dengan remaja desaku. Meski sudah hampir lukus SMA mereka tetep santai menjalani hidupnya. Apalagi kalau ortunya bisa dikatakan berada, mereka akan lebih santai lagi.

Sehari hari adalah ngopi. ngopi dan Ngopi. Alias cangkrukan di warung kopi sambil main game online.

Pernah sekali waktu aku bertanya, “Habis SMA ini rencananya apa?”

Mbuh, lulus ae durung kok mikir adoh adoh,” jawab yang sering kutrima.

“Habis lulus nyantai dulu lah setahun, habis itu mikir kuliah,” lanjutnya dengan santai

Ya mereka ini nggak bisa disalahkan karena ortu di Paciran memang bisa dikatakan memanjakan anaknya. Apalagi anak lanang hemmmm.

Namun, itu nggak semua tapi banyak fenomena begitu di paciran.

Sing nemen maneh, hurung teteh mergawe wes wani rabi,” tiba tiba Mat Klobot nyela di belakangku.

“Halah, iki maneh!!!” wes ayo ngopi aja ngrusuhi…

Memang bener juga ujaran Mat Klobot meski terlihat nyantai tapi kalau sudah bekerja biasanya mereka cepet ketebeg tonggone dewe. Itulah mengapa ibu ibu di Paciran jarang usil dengan remaja desaku yang nyantai ini karena mereka sering ada maunya. Yaitu ngapek mantu..hehehe… Nyantai dulur…