Spin is Real! Ketika Pantura Lamongan Demam Ping pong

Memang bukan hanya bola ping pong yang menarik perhatian penggemar olahraga  tapi permainan ping pong atau tenis meja  juga memikat masyarakat melalui ritme dinamis para pemainnya. Tak terkecuali  masyarakat Pantura Lamongan yang sekarang ini sedang keranjingan ping pong.

Minggu 11/3/2018 setahun yang lalu, kompetisi antar persatuan tenis meja (PTM) di wilayah kecamatan Paciran, Brondong dan Solokuro bertemu di arena pertandingan. Arena yang berada di Warung Kopi D’Warkop Desa Paciran seharian penuh nampak riuh rendah dengan sorak sorai penonton hari itu.

Kompetisi ini diadakan oleh Paciran Ping pong Club (PPC) dengan tema mempingpongkan pantura. Geliat permainan ping pong memang kembali marak seiring dengan pemahaman teknik teknik baru yang diperoleh salah satu warga pantura dari club ping pong di kota. Bola spin (pelintir) baik top spin, side spin, maupun back spin sudah bisa dikendalikan oleh mereka yang tergabung dalam PTM PIM di pantura ini.

Beni hasyim, penggagas turnamen ini mengatakan bahwa kompetisi ini dimaksudkan agar para pemain pemula yang ikut serta lebih memahami teknik dari PTM kawakan yang ada di pantura seperti PTM Pantura yang berlokasi di Kecamatan Brondong.

Tak ketinggalan juga PTM dari Kecamatan Solokuro yang selam ini dikenal sebagai sumber atlit ping pong Kabupaten Lamongan juga menurunkan beberapa pemain mudanya untuk ambil bagian di kompetisi ini.

Salah satu peserta yang paling menghibur adalah Shogun dari PTM Pantura Brondong yang hari itu tampil menggunakan karet Bintik yang terkenal dengan bola pengembalian yang aneh bagi yang belum memahaminya. Bola pantulan yang dihasilkan selalu sukar ditebak dan seringkali membuat lawan belum mengenal karet bintik terlihat seperti pemula. Penonton pun bersorak saat lawan membuat kesalahan.

Meski begitu Shogun pun bisa ditaklukkan oleh Rozim dari PTM Pantura Brondong  di semifinal. Rozim gpada akhirnya keluar sebagai juara dengan mengalahkan dedengkot ping pong Pantura yaitu Yono dengan tiga set langsung di pertandingan final. Mari berping pong, Smash!!

Iklan

Terinspirasi Poster Bola di Jahitan

Sosoknya sangat kharismatis dengan rambut gondrong dan berkumis tipis. Belakangan saya tahu ia adalah Mario Kempes, striker Argentina saat merebut piala dunia 1978.

Gambar sosok itu saya tahu di sebuah poster yang tertempel di dinding Jahitan.

Jahitan adalah tempat beberapa penjahit yang berkumpul membuka jasa jahitan di situ. Berbentuk sebuah rumah tanpa kamar menghadap ke selatan. di Jalan Pasar Lama 1.

Di situ banyak pemuda pemuda yang kumpul di sana. Beberapa di antaranya adalah pemain inti tim sepakbola desa Paciran. Nah karena semua mania bola, dinding jahitan itu penuh poster bola.

Seperti sosok diawal yang saya uraikan, gambar Mario Kempes yang ganteng itu menginspirasi saya dan teman teman menjadi suka dengan bola. Setiap main bola kita pasti berekspresi layaknya adegan di poster bola yang tertempel di dinding Jahitan.

Yang sangat membekas tentunya poster lengkap piala dunia 1986 di mana turnamen itu melahirkan legenda hidup, Maradona. Banyak foto maradona di Jahitan yang akhirnya membuat aku mania dengan tim Tango.

Selain menikmati poster aku dan teman temanku juga bisa main karambol di Jahitan. Kita biasanya main kucing kucingan dengan pemuda pemuda yang biasa mangkal di Jahitan. Jika ketahuan pasti diidoni atau ditempeleng.

Nah, yang lebih membuat aku terkesan adalah, di Jahitan semua pemuda itu punya julukan. Ada Ngunguk, Picik, Clangap, Mudatsir, dan yang paling familiar adalah Ali Klothek dan Sik Cuk.

Ya…kini bangunan itu tinggal cerita. Yang tersisa adalah kenangan pohon WARU di depannya….. daunnya asyik buat gelembung air. Brullll…..brul…

Sekolah Ngrangkep Berarti Pinter Ngaji

Saat itu di era 80 an. Wong Ciran yang sekolah di sekolah umum masih jarang. Hanya sebagian kecil saja karena kebanyakan menyekolahkan anaknya di madrasah.

“Sekolah madrasah iku mesti iso ngaji,” kata Mat klobot saat ditanya oleh Dul Gacor di warung kopi Doyok. Kedua sahabat ini terlihat serius berdialog perihal madrasah dan sekolah. Aku yang kebetulan ada di belakangnya hanya menyimak. “Awakmu biyen yo sekolah ngrangkep tho, Dul?” tanya Mat Klobot.

Aku jadi ingat diriku sendiri. Aku adalah produk sekolah umum tanpa sekalipun sekolah di madrasah. Seringkali aku dibilang Wong Ciran nggak bisa ngaji karena sekolah umum. Untuk menyiasati ini biasanya temanku yang ortunya kaya memilih sekolah ngrangkep; pagi dan siang.

Dul Gacor melanjutkan menjawab tanya Mat Klobot, “Aku biyen ngrangkep, karo madrasah makane aku nik awan ga iso dolanan kaya awakmu, Bot.”

“Makane aku karo awakmu isane dolanan yo sakben prei dawa thok, yo, Dul. Tapi kan ana untunge awakmu dadi pinter ngaji merga pelajaran agamae akeh ning madrasah. pok syukur…kon iku isek slamet…”

“Ora mesti, akeh kancaku sing malah gak mudeng blass merga dasare bocahe males,” balas Dul Gacor.

Memang banyak juga temanku yang seperti teman Dul Gacor yang asli dari sananya males malah gak ngalor gak ngidul ngajine. Meski aku tidak ngrangkep tapi aku ngaji di mushola Subulussalam sampek lulus SMA. Dadi untuk masalah agama tidak jauh ketinggalan dengan teman yang sekolah di madrasah.

Karena sekolah umum masuk pagi, saat aku ingin bermain dengan temanku biasanya saat siang aku bermain di madrasah menanti mereka istirihat.

Saat itu aku agak kaget karena kelas temanku itu gurunya ganti ganti tiap pelajaran. Berbeda dengan sekolahku yang sejak pagi hingga siang gurunya itu terus. Hanya berganti saat pelajaran Agama Islam dan Olah raga.

Paciran, Desa Paling Santai

Hidup di Paciran itu santai dan tenang. Jarang ada tuntutan terutama bagi kalangan muda. Mereka sangat santai selepas sekolah SMA. Tapi untuk yang sarjana beda sama sekali.

Dari pergaulan saya dengan anak SMA luar desa Paciran, ketegangan yang mereka rasakan berbeda dengan pemuda kami.

“Om, kerja apa yang cocok untuk lulusan SMA?” begitu aku sering ditanya oleh mereka.

Aku heran kok mereka sudah mikir mau kerja apa selepas SMA. Kok jarang nanya kuliah ke mana enaknya.

Ternyata mereka yang bertanya ini biasanya memang nggak niat lanjut ke Universitas.

Ternyata pemikiran ini dibentuk oleh lingkungan desanya yang memang banyak yang sudah bekerja sejak kecil, bahkan merantau ke kota besar.

Berbeda dengan remaja desaku. Meski sudah hampir lukus SMA mereka tetep santai menjalani hidupnya. Apalagi kalau ortunya bisa dikatakan berada, mereka akan lebih santai lagi.

Sehari hari adalah ngopi. ngopi dan Ngopi. Alias cangkrukan di warung kopi sambil main game online.

Pernah sekali waktu aku bertanya, “Habis SMA ini rencananya apa?”

Mbuh, lulus ae durung kok mikir adoh adoh,” jawab yang sering kutrima.

“Habis lulus nyantai dulu lah setahun, habis itu mikir kuliah,” lanjutnya dengan santai

Ya mereka ini nggak bisa disalahkan karena ortu di Paciran memang bisa dikatakan memanjakan anaknya. Apalagi anak lanang hemmmm.

Namun, itu nggak semua tapi banyak fenomena begitu di paciran.

Sing nemen maneh, hurung teteh mergawe wes wani rabi,” tiba tiba Mat Klobot nyela di belakangku.

“Halah, iki maneh!!!” wes ayo ngopi aja ngrusuhi…

Memang bener juga ujaran Mat Klobot meski terlihat nyantai tapi kalau sudah bekerja biasanya mereka cepet ketebeg tonggone dewe. Itulah mengapa ibu ibu di Paciran jarang usil dengan remaja desaku yang nyantai ini karena mereka sering ada maunya. Yaitu ngapek mantu..hehehe… Nyantai dulur…

Hanya Di Paciran Perempuan Datangi Pria

Ini tentang persoalan mau menikah. Wong Ciran punya adat agak sedikit aneh karena saat resmi melamar yang melakukan adalah pihak Wanita.

Sebenarnya ini tidak hanya di Paciran karena di desa sekitar juga ada. Meski secara yang melamar adalah perempuan, namun secara informal ya tetap laki laki lah…..

Seperti cerita Kang Mat Klobot, saat menikah dulu ia yang meminta si gadis pada orang tuanya.

“Dulu, aku yang meminta lebih dulu, lho soalnya ibune gendakanku, wes kesengsem pingin ngapek mantu aku,” ujarnya sambil jumawa.

Saat kutanyakan perihal lamaran dari pihak wanita, di Paciran Mat Klobot agak protes karena merasa ia yang melamar lebih dulu.

“Lho, sampeyan kang ngomong dewe, tho ora nggawa rombongan keluarga, Kang,” tanyaku lebih lanjut sambil mengajak bareng kondangan saat itu.

“Iku yo durung nglamar tapi ngglagati, yen wong tuane karep sampeyan terus dilamar,” lanjutku penuh selidik.

“Ya, memang setelah itu aku didatangi calon mertua, mereka meminta ke ortuku,” Kang Klobot menjawab mengiyakan tanyaku.

Ya memang secara informal laki laki yang sudah karep dengan prawan Ciran akan ngglagati ke ortu si gadis. Nah disinilah akhiirnya ortu si gadis akan.mengambil sikap.

Inilah mengapa meski melamar lebih dulu ortu biasanya tidak asal minta tapi pasti sudah memasang banyak telik sandi juga terhadap keseriusan atau kemungkinan mau tidaknya si laki laki sebab si ibu gadis juga nggak mau pulang dengan tangan hampa. Tengsin, kan….

Khusus untuk yang tanpa kenalan Mat Klobot punya pengalaman, “Tapi kita pria pria ini tidak asal jumawa lho telah dilamar. Kita juga sudah tahu sebelum ada orang datang ke rumah, pasti diberitahu dulu oleh ortu kita, karena ortu kita pun takut nggelakno wong liya kalau kalau kita belum siap nikah.”

“Jadi, intinya kalau yang nglamar itu tetap laki laki ya, Kang?”

“Hiya..secara informal atau ngglagati tadi, resminya, ya tetap harus perempuan yang datang melamar dan memastikan tanggal nikah,” paparnya..

Ternyata lamaran perempuan itu hanyalah untuk memastikan tanggal dan keseriusan si Pria, toh…oh..tibakne. hemmmmm

Layar Tancap Pak Ceprot

Bila melihat film bagus kenanganku pasti berlari di tahun 80 an. Saat itu aku sering kali diajak Mat Klobot melihat layar tancap di Lapangan Penanjan Desa Paciran. Wong Ciran nyebutnya Beskop untuk layar tancap ini.

Beskop ini biasanya sarana yang digunakan perusahaan jamu untuk promosi. Selain memutar film juga ada figur cebol yang turut serta di dalamnya. Aku masih ingat salah satu cebol itu bernama Pak Ceprot.

Karena jarak dari rumah lumayan jauh, biasanya aku nginthil Mat Klobot yang sudah agak besar saat itu. Tapi mereka biasanya suka iseng ngambungi gadis gadis cantik desa kami di tengah perjalanan. Memang di antara Desa Paciran dan Lapangan Penanjan ada lokasi pemakaman yang ada pohon ringinnya sangat besar.

Kebetulan saat itu aku sedang ngopi berdua dengan Mat Klobot. Aku iseng bertanya tentang kejadian saat itu.

“Mat, dulu itu kalau lihat beskop pak Ceprot kok pasti lari kenceng kenapa ya?”

“Oh…saat di tengah kuburan nanjan tho?”

“Lha, itu…pasti aku kamu ajak nyanggong di situ, dan tiba tiba kamu dekati gerombolan gadis, terus kamu lari,”

“Lha nik gak mlayu lak ketok rupaku, wong salah sijine bar tak ambung, mbuh sapa pokok e ngambung, hehe kon kok eling ae tho,” ia terkekeh mengingat kekurangajarannya dulu.

Oh aku baru tahu mengapa kok setiap di situ aku mesti harus berlari.mengejarnya agar tidak ketinggalan.

Selain keseruan di perjalanan itu, film yang diputar pak Ceprot juga luar biasa. Biasanya film laga dengan aktor Barry Prima atau Advent Bangun. Dua aktor itu adalah figur top Cah Ciran.

Kadang juga film humor Dono Kasino Indro. Saat itu, sebelum film diputar biasanya Pak Ceprot membuat atraksi lucu dengan rekannya sesama cebol.

Perusahaan jamu yang aku ingat pernah memutar beskop di Lapangan Nanjan, yaitu Jamu Jago, Nyonya Meneer, dan Dua Putri dewi. Mungkin karena bapak bapak di desa kami doyan jamu jadinya mereka sering mampir ke desa kami.

“Dulu saat nonton film kok kamu suka ngikuti aku tho?” tanya Mat Klobot.

“Soalnya aku ingin tidur di Masjid. Karena kalau pulang takut kemalaman. Kalau tidak ikut kamu tidak aman, kan sampeyan jagoan dadi nggak ana sing nggudoi aku,” jawabku.

Saat nonton beskop ini, biasanya mat Klobot selalu saja mendapat jajanan entah dari siapa. Tapi aku gak pernah bertanya pokoke melu mangan.

Karena beskop gratisan, biasanya pemutarannya dua sesi. Saat jeda dagangan jamunya buka lagi dan pak Ceprot beratraksi kembali. Nah di bawah layar tancap ini biasanya banyak yang buang air kecil, dan biasanya yang bawa senter pun iseng menyorotkan lampunya ke orang yang sedang kencing. Mereka biasanya akan terbirit birit sambil buang air.

Saat kuingatkan tentang hal itu Mat Klobot terpingkal pingkal. Entah apa yang diingatnya dengan peristiwa itu. Aku hanya memandanginya dengan heran.

Bar Bal Balan Byurrr Nik Gowah

Biyen nalikane isih cuwilik menthik aku sak kancaku sering bal balan ning ngasinan. Senajan rada adoh sithik nanging lumayan merga ngasinan panggonane amba tur leter, ora ana erine.

Nalika iku karo kancaku, Doni, Roni, Yakin lan sapinunggalane padha seneng yen bal balan ning ngasinan merga sakbare gupak lempung iso langsung anjlok byuuur nang Gowah.

Gowah iki kaya dhene blumbang bentuke kothak mesagi tur banyune kebak. Najan banyune ijo wernane aku laro kancaku ora jikik apa maneh gilo. Wes dadi pepengenku iso dudusan ning Gowah, itung itung blajar nglangi.

Nanging dus dusan ning Gowah iku nggawa resiko, digepuki, pake…. merga kuatir yen aku klelep.

Biasane bal balan nang ngasinan mesti oleh mungsoh bocah bocah blok pondok karangasem. Aku kelingan jaman semana oleh mungsoh balane Yasir, Toriq, karo azis. Bocahe gedhi gedhi tapi aku sak kancaku ora wedi mergo aku ya nduwe kanca gedhi.

Aku mungsohan karo balane Yasir menang 3-1 tapi balku bledhos kepasan gae tabrukan azis karo Roni.

Pas bar menang iku…aku sorak sorak lan langsung byurrr nang Gowah. Segerrrr

Saiki gowah iku wes gak ana. Panggonane ana ngarepe langgar Abu Darin, ngarepe omahe Zubaidi sing saiki dadi wong duwuran Muhammadiyah Balikpapan. Jarene, gowah iku sakben tahun mesti ana sing klelep tapi pas iku aku ora tahu nduweni ati ngena ngene. Tetep ae…..byurrrrrr bilas sak bar bal balan.