Wong Ciran dan Tape Deck-nya

Tape Deck adalah pemutar kaset yang cukup populer di Paciran. Bentuknya hitam dan terlihat mewah karena bentuknya yang besar tidak seperti tape kaset biasa.

Seangkan tape kaset biasa Kebanyakan tidak stereo dan tombolnya warna warni, ini yang lazim dimiliki Wong Ciran di tahun 80an.

Nah khusus yang jenis tape deck inilah jarang wong ciran yang punya kalau tidak keluarga juragan, atau malaysiaan (TKI).

Dan yang sering terdengar, tak lain dan tak bukan, pastilah lagu lagu Rhoma Irama. Wong Ciran adalah penggemar dangdut yang akut.

Saat wong ciran sudah banyak yang ke Malaysia tape deck mulai ramai di desa kami.

“Wah..Iklim, Search, May adalah nama nama grup rock legendaris yang harus dibawa saat pulang dari Malaysia,” Mat Klobot mengenang saat akhir era 80an ketika aku menunjuk rongsokan tape deck di rumahnya.

Ternyata Mat Klobot ini pernah juga merasakan jadi TKI di Malaysia waktu itu.

“Wah ndahno ramene jaman sakmono?” aku melanjutkan bertanya padanya mumpung ia terlihat antusias.

“Wuihhh, Rakakake…tho wong saben omah nyetel tape nik gak lagu Isabela yo Rhoma Irama, kemresek pol, pokoke,”‘ ia menjelaskan sambil menertawakan dirinya sendiri.

Memang saat itu, aku sempat mengalami sendiri bagaimana riuhnya tetangga kami saat nganyari tape deck itu. Dengan kondisi jalan di kampung kami yang sempit. terutama njar lor, rumah berhadap hadapan dan memutar tape kaset berbarengan hemmmm, sogok pethek riwenge.

Nah yang punya tape deck biasanya no problem dengan berisik yang ada. Bahkan banter banteran sound. maklum lah, saat itu punya tape deck adalah ukuran kesuksesan seseorang yang bekerja ke Malaysia.

“Nah biasane, yang punya tape deck ini, karena kerjanya di malaysia, bojone, ayu ayu….mesti akeh sing nari kalau pulang,,” Mat Klobot kembali mengenang saat itu.

“Lha ,..bojomu kok elek…?” aku nyaut karo mesem. Mat klobot mung ngakak gak dudu dudu..

Iklan

Jangan Salah, Di Paciran, Jumat Adalah Libur

Berbicara tentang libur, Semua akan sepakat mengatakan hari Sabtu dan Minggu. Tapi lain lagi bagi Wong Ciran, karena di Paciran Sabtu dan Minggu/Ahad tidak ada orang yang di rumah, malahan. Jadi jangan ngajak Wong Ciran berkegiatan pada hari itu karena mereka akan sulit untuk memenuhinya. Itu semua karena pada hari sabtu, mereka malah sedang mengawali minggu kerja.

Di Paciran, baik urusan perburuhan, di bidang pertanian atau permiyangan (Nelayan) semua menjalani liburnya pada hari Jumat. Begitu pula yang berada di lembaga pendidikan swasta. Untuk yang negeri jelas ikut pemerintah liburnya.

Karena liburnya Jumat, bisa dipastikan malam Jumatnya pun ramai sebagaimana malam minggu di kota kota besar.

Tiap malam Jumat inilah, biasanya, waktunya andum bayaran bagi para bos kepada tukang dan kulinya. Mereka, Wong Ciran ini, tiap malam jumat pasti berwajah ceria, maklum bar bayaran.

Mungkin bagi orang kota akanmterasa aneh kenapa hari Sabtu dan Minggu, saat melintas di Jalan Raya Daendels, kok banyak anak sekolah berlalu lalang di Paciran.

“Sudah sebelum saya lahir, libur kita memang Jumat, mungkin karena ada sholat Jumat, nggak enak kalau tetap kerja soalnya tidak maksimal, terpotong Jumatan,” kata Mat Klobot saat Jumat itu ngopi denganku.

Mungkin ya merga bar sunnah rasul, dadi enak preine,….kasoh,” lanjutnya sambil senyum simpul.

Jadi akan terasa asing bagi Wong Ciran bila hari Jumat melihat rekannya masih kerja.

Ngoyo ngoyo golek apa, prei kok sek diterjang ae” itulah gojlokan yang umum terjadi bila ada yang nekat beraktivitas di hari Jumat.

Kanggoku..kerja pas hari jumat kan nggak apa apa asal tidak melalaikan sholat Jumat,” aku memberi alasan pada Mat Klobot.

Ora papa, tapi nggak etis, kalau kita melawan kebiasaan warga, toh malah baik libur Jumat karena desa kita ini desa santri, dadi yo mantesno, la… ben khusuk olehe ibadah di hari Jumat” ia memberi alasan. Dan aku sudahi obrolanku dengan Mat Klobot karena qiraah wes di setel nang masjid tandane waktu Jumatan wes parek.

Teka teki Watu Tumpang di Paciran

Sudah sejak lama batu itu menumpang di atas gundukan batu cadas, di sisi utara kampungku. Oleh Wong Ciran, batu itu, disebut Watu Tumpang. Besarnya sebesar gerobak truk kira kira.

Di bawah gundukan batu itu, berjajar rumah rumah penduduk. Seandaiya batu itu jatuh hancurlah deretan rumah penduduk itu. Anehnya, meski hanya numpang hampir jatuh tapi batu itu kokohnya minta ampun.

Dulu, pernah mau dipindahkan oleh penduduk karena dianggap berbahaya tapi, saat itu, bergeser pun tidak, meski ditarik orang sekampung. Katanya sih ada penunggunya, kata siapa lagi kalau bukan kata Mat Klobot.

“Penunggunya pernah ngomong, jika batu ini dipindah, rumah penduduk di bawahnya hingga ke Timur mendekati Masjid kampung harus hancur,” ujarnya suatu ketika saat aku memegang kaleng benang layangannya. Saat itu aku masih kecil. kira kira SD kelas empat. Nah entah dari siapa Mat Klobot tahu tentang penunggu Watu Tumpang, aku kurang jelas juga.

Ya, di Watu Tumpang adalah tempat paling strategis untuk ngunjukno layangan (main layang layang). Dari atasnya, pemain layang layang bisa melhat lebih leluasa ke seluruh desa Paciran.

Sebebarnya ada tiga Batu Tumpang, di desaku, satu di utara jl Daendels, Njar Nggunung, kedua adalah Gunung Pendil, dan yang ketiga berlokasi di ngalas njati Sebelah Barat sumur Galalo sekitar dua kilo meter dekat Desa Kandang Semangkon.

Bila pembaca menuju Pesarehan Sunan Sendang Duwur, dan melewati jalan sebelah timur, di sebelah kiri jalan akan melihat batu yang kokoh numpang di sebuah bukit serta bentuknya mirip kendil, itulah Gunung Pendil.
Dan tentang ini Mat Klobot pernah bercerita bahwa batu itu adalah kendil berasal dari Ratu Kalinyamat, dekat Demak, yang tertinggal ketika hendak dihadiahkan ke Sunan Sendang Duwur.

Dan yang ketiga, Batu Tumpang yang di ngalas Njati posisinya pun persih numpang di bukit dan besarnya hampir sama dengan yang dua tadi. Saya tahunya karena diajak Mat Klobot ke sana saat mau bakar jagung ndek ngalase Kastalim.
Bila kita berdiri di atasnya kita bisa melihat hamparan Ngalas Ndrowali yang landai dan lapang, seperti hamparan gurun lemah abang saat musim ketigo.

Bila kita tarik garis dari ketiga batu tersebut, akan terbentuk sebuah segitiga dan Ciran, tepat berada di tengah tengahnya. Entah rahasia apa kok bisa seperti itu atau hanya sebuah kebetulan belaka?

Mungkin dahulu pernah ada yang meletakkannya karena batu itu bukan berada di tempat yang lazim, aneh memang.

Mungkinkah ada sesuatu di Paciran hingga lokasinya ditandai dengan tiga Watu Tumpang itu. Harta karunkah atau apa?

Perihal siapa yang meletakkan batu tersebut, jangankan aku, sedangkan saat perihal ini kutanyakan pada si serba tahu, Mat Klobot, ia hanya longa longo sendiri gak bisa berkata apa.

Paciran dan Kisah Pasukan Tartar

Membaca sejarah Lamongan hasil penelitian Tim Unair yang diterbitkan Perpusda Lamongan membuatku kaget. Ternyata Sedayu Lawas, tetangga desaku, Paciran, dulunya adalah pelabuhan laut besar dan ramai dengan kapal dagang.

Aku jadi teringat sebuah kisah Watu Bolong. Sebuah batu besar di pantai desaku yang konon dipakai tentara Tar tar saat bersandar ke Jawa hendak menyerang Kertanegara di Kediri.

Usut punya usut, saya jadi penasaran dengan pelabuhan Sedayu dan membayangkan keramaian zaman dahulu kala di sana.

Nah, bila demikian, legenda Watu Bolong ini bisa jadi ada benarnya. Nah rasa penasaran ini kurang lego kalau tidak ditanyakan pada sahabat nggedabrus saya, Mat Klobot. Kebetulan hari ini Jumat, ia libur kerja. Libur di desa kami baik madrasah atau kerja adalah Hari Jumat, inilah Ciran.

“Mat, aku bar maca buku tentang sejarah Lamongan katanya Sedayu dulu itu Pelabuhan laut yang besar pada masanya?” tanyaku saat berkunjung ke rumahnya.

“Lho,…piye tho iku ada hubungannya dengan Dampo Awang nang kulone desa, cedak gunung Pencu,” jawabnya.

“Dampo Awang iku salah sijine makam tentara Tar Tar sing keri pas kalah karo Raden Wijaya. Ketika pasukan mongol kabur mau kembali ke Mongol ada salah satunya yang tertinggal,” lanjutnya.

“Jadi Watu Bolong itu benar, ya, katanya tempat menambatkan kapal mongol saat mau ke Kediri?” tanyaku

“Bisa jadi, kan jarak Sedayu dan desa kita tidak jauh, mungkin ada yang kengetanen (terlalu ke Timur) saat mereka berlabuh, Har.” ia menjawab dengan lagak ahli sejarah.

Dengan pedenya ia melanjutkan, “menurut sesepuh desa yang aku pernah dengar Dampo Awang yang singit itu adalah kuburan Tentara cina yang menetap di sini.”

Aku bergumam dalam hati makanya kok Wong Ciran ono sing putih ono sing ngglameng. Mungkin yang putih ini keturunan Cina itu ya.

Memang legenda dan kisah tentara Kubilai Khan, selain Dampo Awang, Watu Bolong juga mempunyai kisah kisah mistik berkaitan dengan pasukan Mongol ini.

Sering warga yang tinggal di sekitar Watu Bolong mendengar bunyi kemrincing pasukan berkuda di malam malam tertentu. Namun sejauh ini belum ada yang pernah diweruhi. hiiiii

Mat Klobot lebih asik lagi ceritanya, kalau perihal mistik, pokoke rakakake….dramatise. jenenge ae Mat Klobot yo ngunuku poreme..

hehehe.

Mat Klobot Alumni Ciran Tulen

Berbicara tentang sekolah, Desa Paciran termasuk desa dengan katagori desa pendidikan. Meski lokasinya di Pantura, Sejak tahun tahun awal kemerdekaan di sana sudah ada lembaga pendidikan. Bahkan kini, semua tingkat pendidikan dari Playgroup hingga Perguruan tinggi ada.

Nah, Mat Klobot termasuk produk asli pendidikan desanya. Dari mulai TK hingga kuliah ia peroleh melalui lembaga pendidikan di desanya. Ia tergolong Wong Ciran tuwuk. Asli produk ciran dewe, makane kadang kadang yo ono mletene.

Di tengah obrolan di warung rakyat, yang dikelola Mas Mundhu ketua Karang Taruna desanya, ia menceritakan riwayat pendidikannya pada temanya Sik Dul. Wong Ciran selalu memberi sandang Sik di depan nama orang, misalnya, Sik da, Sik Nur, Sik Min, Sik Dar dll.

“Dul, saiki Sik Taipur itu di mana kabarnya?” tanyanya pada Sik Dul yang sedang ngopi di warung rakyat sore itu.

“Iku konco sekolah kawit cilik, puintere rapakat, cah iku,” ia melanjutkan.

Taipur adalah salah satu warga desa kami yang kini jadi Dosen di Jakarta. Ia terkenal ahli nahwu shorof ilmu yang melegenda di desa kami.

Hampir semua orang luar desa kami mengagumi kemampuan ilmu alat bahasa arab itu. Bahkan di Pondok gontor orang orang desa kami merajai untuk ilmu yang satu itu.

“Kabare saiki golek Master nang Arab, Mat. Mbuh Mekah mbuh Madinah gak pasti,” jawab sik Dul.

“Koncomu kabeh dadi wong, kon kok klumbrak klumbruk ngono Mbot…klobot, piye ngunuku.”

“Ha ha ha nyantai, Nda…kabeh sing sukses sukses iku pas isih sekolah nyontoh aku, lho….,” ia tak mau kalah.

“Kon gak percaya tho kalau pas PGA aku iki juara kelas lho…, tapi wong pinter iku akeh tapi nasibe beda beda. Kudu ngerti ilmu iso ditiru tapi garis tangan seje seje,” Mat Klobot meyakinkan Sik Dul.

Ya di tahun 60an 70an di Paciran ada PGA setingkat smp atau Mts yang muridnya banyak dari luar desa. Alumninya banyak yang mewarnai pendidikan di Lamongan juga Jawa Timur, bahkan Indonesia mungkin.

Di antara alumninya itu ada yang jadi rektor IAIN, Kyai Pesantren, kalau sekedar juru dakwah mungkin dari sabang sampai merauke. Di tahun ketika pak M. Natsir jadi ketua Dewan Dakwah pemuda desa kami banyak yang keluar pulau jadi Da`i.

Kalau jadi pengasuh pondok juga banyak, mulai ujung wetan jawa sampai ujung kulon mungkin.

Mat klobot nylethuk lagi kepadaku yang kebetulan nyimak terus obrolan mereka, “Kalau untuk urusan ahli ahli wong Ciran akeh sing duwe, Ahli ilmu Falak, Jawa Timur adalah wong Ciran, Alm Kyai Salamun. Ada lagi Ahli ilmu Al quran, Alm. Kyai Abdurrahman Syamsuri, beliau ini juri MTQ Nasional tiap tahun. Ada juga juga Kyai yang suka menulis, yaitu Kyai Husein Syarqowi, salah satu bukunya Uluk Salam. Ia banyak mengajarkan ilmu Tarekat. Juga ada pak Munip Musthofa ahli ilmu nahwu shorof yang muridnya ribuan.

Dan masih ada juga Kyai Ridwan Syarqowi, saudara Kyai Husein yang termasuk pelopor pendidikan madrasah di Paciran.”

Aku kaget juga mendengar cerita Mat Klobot, dan bangga juga Ternyata Wong Ciran iku pelopor literasi sejak dulu.

Mat Klobot; Wong Ciran Repot Aturane

Pagi pagi aku dikejutkan oleh suara kemresek di sebelah rumahku. O…ternyata Mat Klobot sedang mengumpulkan ibu ibu. Ia sedang membagi bagi kalender atau penaggalan. Semua pada ribut minta bagian.

“Mat, endi bagianku?” aku nggak mau ketinggalan minta bagian pada Mat Klobot, mumpung gratis.

Ternyata di kalender itu ada gambar salah satu wong Ciran yang mau nyaleg jadi anggota dewan. Matoh… aku mbatin karo ngguyu.

“Dadi tim sukses, Lik..e..menawa kabul kajate bolo Ciran dewe,” sambate mat Klobot karo ngelungno penanggalan nang aku.

Aku juga heran karo Wong Ciran. Sudah menjadi rahasia umum Wong Ciran repot aturane.

“Zub, piye ngene iki, Wong Ciran iku nik dikon dadi pimpinan seringnya menghindar, e…iki malah ono sing kudu dadi dewan,” Mat klobot menjelaskan pada salah satu tetanggaku, Zubaidi.

“Ora mung iku, wong Ciran iku ora seneng dipimpin barang pokoke repot aturane,” Zubaidi nambahi karo ngakak kenceng.

Memang wong Ciran menurut saya seperti yang diucapkan kedua warga itu. Kebanyakan tidak mau dipimpin tapi dijadikan pemimpin pun juga sulit. Sak karepe dewe sak mlaku mlakune.

Yang lebih mengherankan saya, setiap ada salah satu yang tampil mesti dipoyoki “gaya…arep dadi opo,…nomo jeke wong.” ini adalah frase yang sering saya dengar.

Tak heran banyak orang pinter bin cerdas alias matoh uteke kebanyak mungret di desanya sendiri. Dan mereka lebih moncer bila sudah keluar dari Desa Paciran.

Banyak kasus malahan yang sudah moncer jadi ulama di negeri orang, kalau pulang san disuruh khotbah di mesjid kampung.

“Mat Dadi tim sukses sing akas nik ono dadine ben kabeh yo melu seneng, ora kon thok!” pesanku pada Mat Klobot saat mau pamit membagi bagi kalender.

“Ono duite, ora…..” lanjutku

“Hahahaha,” Mat Klobot ngakak entah apa artinya.

Mat Klobot; Ciran Dan Kehebatan Warganya

Saat itu saya ngopi di warungnya mas Doyok. Disebut begitu karena kurus badannya, mungkin. Sepertinya keberuntunganku lagi on kok ndilalah…ketemu orang paling nggedabrus se Paciran siapa lagi kalau bukan Mat Klobot.

Sambil duduk mencangkung tak lupa ada rokok di selipkan di telinganya. Ia bercerita sambil menyeruput kopi, ia biasa minum tanpa kopi gula, kusapa sambil menawarkan korek api.

“Korek ta… kok rokoke diselipno ae…nang kuping, mambu dem lho,” tanyaku.

“Engko sik gek tas ae nyedot,” jawabnya sambil melanjutkan ceritanya.

“Sebenarnya desa kita ini tidak ndeso ndeso amat, lho Har…jal pok pikir..”

“maksudnya gimana wong deso kok gak ndeso,”

“Tahun 80 an desa kita ini sudah ada warganya yang keluar negeri.”

“Mergawe, tho?”

“Lho..lho..ojo ngawur, kon, Kuliah bro…” Mat Klobot melanjutkan sambil membanggakan salah satu Wong Ciran yang pernah kuliah di Amerika.

Ya aku ingat pada tahun 80 an ada salah satu warga desaku yang kuliah di Amerika. Kalau nggak salah ia anak penjual gulai kambing yang terkenal uwenak.

“Har, Jahar kowe ngandel opo ora, wong ciran iku nik wes metu teko desane mesti dadi wong nduwuran,” Klobot melanjutkan kisahnya sambil meminjam korek padaku.

“Wong Desomu iki akeh sing dadi wong nik njobo. Ono dadi rektor, kyai, dosen, pengusaha gedhe nang Jakarta, barang.”

Memang ada salah satu warga desaku yang punya outlet di mall mall Jakarta. Ia memang keturunan orang kaya di desa kami, bahkan dengar dengar salah satu kapolda di negeri ini adalah menantunya, lho….hebat tho.

Bab kuliah ke luar negeri, Wong Ciran itu menurut Mat Klobot jaman dulu sudah lazim kalau kuliah ke Timur Tengah. “Sak arat arat wong duwe titel L.C. iku ning kene,” ujar Mat Klobot suatu ketika.

Kalau masalah kreatif desaku ini memang lakone. awal 80an sudah kenal orkesan dan kemampuan bermusiknya pun sungguhan. Bahkan ada yang sempat mau diajak Soneta segala.

“itu saja dulu, nanti tak sambung lagi,” tiba tiba ia memutus ceritanya katanya punya janji.

Saya tahu itu hanya akal akalan saja supaya terlihat sibuk. Si Klobot ini pemalas tapi banyak temannya ya karena pinter bercerita dan meyakinkan.

“Kopine? melu aku ta?”

“Yo, bayarono sik….”

“Hemmmmm…..”

Dasar bot….klobot. Aku hanya tersenyum dalam hati.