Jangan Menggerutu

Kita sering berharap sesuatu dalam kehidupan ini, sering kali yang datang tidak seperti yang kita harapkan dan yakinlah sebagaimana doa nabi Musa bahwa yang datang adalah kebaikan dariNya yang sebenarnya kita butuhkan hanya saja kita tidak tahu apa dan bagaimana nantinya karena itu menjadi rahasia Allah SWT.

Pernahkah kita sadari bahwa di saat kita lapar kita berdoa untuk mendapat makanan tapi yang datang adalah sesuatu yang bukan makanan? Sering bukan?

Nah kita bisa mencontoh Nabi Musa untuk tidak menggerutu, malah bersyukur dan meyakini bahwa yang datang sebenarnya adalah kebaikan yang diturunkan oleh Allah SWT untuk kita.

Semoga kita bisa meneladaninya di tengah kondisi yang serba mendewakan alam materi ini.

Iklan

Semakin Religius Semakin Rendah Hati

Indonesia adalah negara yang beragam budaya serta agama. Pergesekan yang dipicu sikap intoleransi rawan untuk terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Media informasi bisa menjadi pisau bermata dua bila kita tidak bijak menggunakannya atau digunakan sebagai alat pemecah belah oleh oknum oknum berpandangan sempit.

Intoleransi semakin hangat dibicarakan ketika isyu dipoles dengan perbedaan kepercayaan yang sesungguhnya adalah ranah pribadi warga negara. Seharusnya perkembangan media informasi harus bisa dimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk menggunakannya secara bertanggung jawab. Ini ditujukan agar ujaran yang mengarah pada mediskreditkan golongan tertentu di negeri yang beraneka ragam ini bisa diminimalkan.

Eksklusivitas Agama Adalah Wilayah Pribadi Yang Tak Layak Disebarkan Di Media Massa

Ketika pemahaman personal (agama) dimunculkan ke wilayah publik harusnya sang pemeluk agama bisa mengambil point poin penting ajaran agama yang dianutnya yang bisa diterapkan secara universal. Ini disebabkan karena ajaran agama mempunyai sisi eksklusivitas yang memang harus dipegang oleh pemeluknya. Tidak selayaknya sisi eksklusivitas sebuah agama dimunculkan ke wilayah publik karena adanya keberagaman di tengah tengah kita.

Dalam kedudukan bernegara dan berbangsa kita tidak bisa memaksakan hukum yang dimiliki agama tertentu mengingat kemajemukan kondisisosial yang dimiliki negara kita. Hukum yang diacu oleh suatu Negara tentunya sudah mengakomodir setiap aturan dan hukum hukum yang berlaku baik itu hukum adat dan agama. Dan kondisi ini harusnya kita teladani dari para pendahulu kita yang berhasil mencetuskan ide keberagaman berbeda tapi tetap satu juga.

Setiap tokoh agama yang tumbuh di negeri ini harusnya mampu menjadi penabur perdamaian dengan memanfaatkan media massa bukan membesarkan perbedaan antar agama.

Tentunya sisi eksklusivitas suatu agama harus bisa dikunci rapat dalam ranah pribadi karena itu sebuah keniscayaan. Misalnya menganggap agamanya sebagai ajaran yang paling benar adalah keniscayaan dan inilah yang harus dikunci rapat di ruang pribadi masing masing pemeluk agama.

Dan apabila ini dimunculkan ke ruang publik tentunya kan terjadi gesekan dan benturan mengingat semua agama berhak untuk meyakini agamanya benar. Seringkali pertikaian terjadi bila masing masing merasa benar.

Ada hal hal dalam ajaran agama yang inklusif dan universal yang harus ditumbuhkan, misalnya, berbuat baik ke sesama, cinta kasih dan tolong menolong. Itu semua adalah ajaran agama yang bisa digunakan dan dimunculkan ke wilayah publik namun seringkali disalahartikan hanya ke sesama golongan saja padahal inti ajarannya tidak demikian

Penguatan Ajaran Agama Yang Bermuatan Perdamaian

Sejarah panjang konflik keagamaan seringkali lebih awet berlangsung. Sejarah besar perang salib misalnya, banyak ditengarai hanya soal kekuasaan dan dominasi sumber ekonomi namun karena dibungkus nilai nilai agama oleh elite agama yang fanatic dan radikal di kedua belah fihak maka konflik itu menjadi berkepanjangan. Apalagi ada bumbu surge dan neraka maka militansinya kan semakin membara.

Media harus mengambil peran dalam hal untuk memfasilitasi penyebaran penguatan nilai nilai agama khususnya yang berisi tentang perdamaian. Pemahaman agama harus lebih universal mengingat kita hidup di tengah tengah perbedaan. Meringankan beban orang lain, tidak memaksakan kehendak ke orang lain dan selalu menghargai perbedaan adalah aajaran universal yang dimiliki oleh setiap agama.

Sudah bukan waktunya lagi kita menumbuhkan rasa pengecut dengan membuat akun palsu untuk menebarkan kebencian via media yang hanya akan membuat kita terpecah sebagai bangsa.

Apa yang diwariskan oleh para pembawa wahyu adalah contoh nyata. Nabi Muhammad SAW, misalnya tak menganjurkan umatnya untuk memusuhi umat agama lain. Bahkan, kesabaran beliau adalah contoh dan teladan yang bagus untuk diikuti nyata akan figur beliau.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

Tak dipungkiri juga pada penganut agama lain misalnya Yesus yang menyerahkan pipi kiri ketika pipi kanan ditampar. Ada juga dalam ajaran Hindu yang dalam Baghawatgita ajaran kemanusiaan sebegitu rupa dan mendamaikan. Budha Gautama pun sama mengajarkan kedamaian dengan mengabdikan hidup sebagai rakyat jelata.

Semakin Religius Seseorang Semakin Rendah Hati

Semakin religius seseorang ia akan semakin terlihat menghindari kekerasan bahkan mengutuknya. Kita bisa lihat tokoh tokoh baik dia Agama Islam, Hindu, Budha, kristen, katolik dan semuanya. Di antara tokoh tokoh tersebut bisa sebut nama nama; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Dalai Lama, Yusuf Al Qardhawi, Sri Paus Yohanes II, dan Imam Khomeini adalah orang orang biasa yang mempunyai religiusitas tinggi yang mengecam kekerasan di dunia.

Mereka adalah contoh konkret bahwa dalam melaksanakan agama bukan dengan khotbah khotbah yang menggelegar tapi bagaimana mereka beraksi dan tetap kukuh dalam menentang kekerasan walaupun itu terjadi pada dirinya mereka tidak membalas dengan kekerasan pula.

Mereka yang saya sebut di atas adalah orang orang yang tidak mendapat materi dari apa yang ia perjuangkan. Bahkan yang tragis ada beberapa yang rela mati untuk memperjuangkan idenya.

Itulah teladan yang bisa kita tiru bagaimana mereka memperlakukan kekerasan yang ia terima bahkan ada salah satu yang menjadi martir dalam memperjuangkan idealismenya menetang kekerasan.

Sebelum kita mengikuti seruannya kita bisa menengok dan mempelajari sejarah hidup tokoh tersebut. Layakkah mereka kita ikuti seruannya disaat mereka sendiri masih belum tulus karena masih terbungkus nafsu pribadi. Dan apabila kita mengikutinya tentunya itu disebabkan adanya kesamaan motivasi diri kita dengannya.

Agama adalah suatu yang personal yang tentunya harus penuh kehati-hatian bila menyuarakan ajarannya di tengah keberagaman agama di negara kita.

Terlebih lagi akhir akhir ini bagaimana isyu agama semakin menjadi jadi untuk dialamatkan pada seseorang baik itu yang seagama maupun yang berbeda agama. Kita perlu menjadi umat yang cerdas agar tidak termakan dengan mudah hasutan hasutan yang mengatasnamakan agama.

Agama adalah wilayah personal seseorang yang dalam hubungannya dengan sang pencipta begitu pribadi dan rahasia. Bukankah Tuhan pun membenci orang yang sering ujub dalam beribadah?

Kita seringkali ceroboh memaknai religiusitas seseorang. Seringkali kita menilai dari perilaku yang nampak saja dari religiusitas seseorang. Itulah salah satu wilayah public yang gampang sekali menipu kita dengan penampakan apa yang terlihat secara zahir.

Adakah kita pernah menelisik kehidupan pribadi seseorang ketika ada di depan orang dan ketika mereka sedang sendirian. Seorang yang taqwa seringkali sama perilakunya baik saat dihadapan orang banyak maupun sedang sendirian; sama sama santun.

Mari berkaca pada diri masing masing sudahkah kita menghayati ajaran agama kita secara kaffah. Sudahkah kita Bersikap santun sebagaimana kita beribadah kepadanya yang membutuhkan ketenangan tanpa berikap riuh rendah dan bising.

Religius bukanlah dilihat dari cara berpakaian maupun kerasnya teriakan. Religius adalah kesantunan yang senantiasa selalu menciptakan kedamaian dan ketenangan berlandaskan agama masing-masing. Agama harus menjadi Rahmatan Lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam bukan rahmat bagi sebagian golongan. Anda Setuju? Salam..

Baca juga! gusliterabookreview

Menelisik Tingkat Religiusitas Seseorang

Ketika kita mendengar perselisihan antar umat beragama terutama di negara kita Republik Indonesia tercinta ini perasaan miris muncul di benak kita. Walaupun perseteruan antar umat beragama itu tidak hanya terjadi di negara kita tidak sepatutnya kita membiasakan dengan hal hal tersebut. Sebagai negara dengan slogan Bhineka Tunggal Ika tidak ellok rasanya bila kita juga melakukan hal yang sama di negeri ini.

Konflik antar umat beragama memang cukup cepat melebar eksesnya karena masing masing mempunyai jumlah massa besar dan tentunya spirit akan nilai nilai religious membungkus cantik motivasi keduniawian seseorang.

Sepanjang sejarah munculnya konflik yang dilandasi agama sebenarnya penuh kepentingan duniawi di dalamnya. Bisa untuk melanggengkan kekuasaan, atau untuk memperoleh kekayaan materi semata. Dan seringkali umat yang dirugikan karena tidak mengetahui motivasi tokoh tokoh agama yang menyerukan peperangan.

Memahami Motivasi Tokoh Agama

Sebenarnya kondisi ini bisa diminimalkan bila seluruh umat beragama tidak taklid buta terhadap ucapan tokoh agamanya. Semua orang punya kepentingan pribadi yang kita semua tidak tahu. Seringkali kita terkecoh dengan penampilan fisik seseorang hingga kita menganggap kesucian dan tingkat keimanannya sudah tinggi. Percayalah tingkat ketaqwaan seseorang hanya Tuhan yang tahu kita hanya menduga duga saja.

Asal muasal perselisihan ini bisa kita lihat dari tingkat religiusitas seseorang dalam menganut agamanya. Tak soal ia menganut agama apa namun religiusitas seseorang bisa nampak bagaimana ia mengaplikasikan agamanya. Saya yakin dan percaya tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dalam kehidupan.

Cinta, kasih, sayang dan berserah diri adalah ajaran yang hampir setiap agama mempunyainya. Kita bisa memepertanyakan bila ada kejahatan maupun tindak kekerasan yang berlabel ajaran agama apakah benar seseorang itu telah mengamalkan ajaran agamanya?

Indikator tingakat kesalehan sesorang dengan tingkat pemahaman yang tinggi bisa diamati lewat sikap kelembutan dan kerendahhatian seseorang.

Semakin religius seseorang ia akan semakin terlihat menghindari kekerasan bahkan mengutuknya. Kita bisa lihat tokoh tokoh baik dia Agama Islam, Hindu, Budha, kristen, katolik dan semuanya. Di antara tokoh tokoh tersebut bisa sebut nama nama; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Dalai Lama, Yusuf Al Qardhawi, Sri Paus Yohanes II, dan Imam Khomeini adalah orang orang biasa yang mempunyai religiusitas tinggi yang mengecam kekerasan di dunia.

Mereka adalah contoh konkret bahwa dalam melaksanakan agama bukan dengan khotbah khotbah yang menggelegar tapi bagaimana mereka beraksi dan tetap kukuh dalam menentang kekerasan walaupun itu terjadi pada dirinya mereka tidak membalas dengan kekerasan pula.

Mereka yang saya sebut di atas adalah orang orang yang tidak mendapat materi dari apa yang ia perjuangkan. Bahkan yang tragis ada beberapa yang rela mati untuk memperjuangkan idenya.
Itulah teladan yang bisa kita tiru bagaimana mereka memperlakukan kekerasan yang ia terima bahkan ada salah satu yang menjadi martir dalam memeperjuangkan idealismenya menetang kekerasan.

Sebelum kita mengikuti seruannya kita bisa menengok dan mempelajari sejarah hidup tokoh tersebut. Layakkah mereka kita ikuti seruannya disaat mereka sendiri masih belum tulus karena masih terbungkus nafsu pribadi. Dan apabila kita mengikutinya tentunya itu disebabkan adanya kesamaan motivasi diri kita dengannya.

Agama adalah suatu yang personal yang tentunya harus penuh kehati-hatian bila menyuarakan ajarannya di tengah keberagaman agama di negara kita. Religius bukanlah dilihat dari cara berpakaian maupun kerasnya teriakan. Religius adalah kesantunan yang senantiasa selalu menciptakan kedamaian dan ketenangan berlandaskan agama masing-masing. Agama harus menjadi Rahmatan Lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam bukan rahmat bagi sebagian golongan. Anda Setuju? Salam.

Guru Spiritual dan Kekosongan Ruhani Masyarakat Urban

Guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru, tak terkecuali itu adalah guru spiritual. Fenomena guru spiritual sekarang ini menjadi marak di pemberitaan dengan ditangkapnya sosok Gatot Brajamusti yang fenomenal tersebut. Kehadiran guru spiritual tak terlepas dengan adanya kekosongan ruhani yang menjangkiti masyarakat kota.

Di tengah tingkat persaingan hidup di kota yang menyita waktu dan fikiran masyarakat kota kita tidak bisa serta merta menyalahkan mereka hingga melupakan asupan ruhani. Mereka kadang melupakan elemen dasar ajaran agamanya entah apapun itu agamanya hanya karena sibuk menyambung hidup yang keras di kota.

Keadaan ini akan menjadi masalah bila  anak anak mereka beranjak dewasa sedangkan orang tua tak pernah memberikan teladan ataupun bimbingan agama di rumahnya. Ketika anak anak itu dewasa jiwanya menjadi labil karena tingkat pemahaman akan agama yang dangkal. Meski pengajian menjamur namun sepertinya itu hanyalah ritual belaka yang tidak bisa ditularkan pada anak anaknya.

Tak jarang pengajian pengajian tersebut seperti di arisan ibu ibu yang sibuk dengan seragam dan asesoris yang dipakai. Kondisi inilah yang memicu lahirnya guru spiritual di kota kota besar terutama di Jakarta. Banyak artis yang mengaku mempunyai guru spiritual sebagi pembimbingnya dalam beragama. Mereka itu biasanya sejak remaja sudah bergelut dengan dunia entertainment sehingga tak ada waktu untuk mendalami atau sekedar memahami elemen dasar agamanya.

Banyak di antara mereka yang beragama Islam, namun untuk membaca Al Quran atau pun bacaan sholat, banyak yang tidak bisa. Ketika mereka menyadarikekurangan ini di tengah kesibukannya mereka akhirnya memutuskan mencari sosok yang bisa menuntunnya. Meski ada juga yang memang sudah bisa baca al quran tapi kadang melalikan sholat itu dianggap biasa. Ketika mereka menemukan sosok yang rajin sholat dianggapnya dia adalah ustadz yang bisa membimbingnya padahal itu biasa.

Kondisi inilah yang sering terjadi di mana mereka akhirnya menemukan sosok yang salah dalam membimbingnya karena mereka sendiri pun tidak memahami bagaimanakah sejatinya seorang guru agama itu. Tak jarang mereka dimanfaatkan secara materi oleh oknum oknum tersebut.

Biar bagaimanapun pemahaman orang tua di rumah untuk memberikan teladan pada keluarga lebih utama dibanding kehadiran sosok guru spiritual yang kadang tidak jelas asal usul ilmunya. Bukankah fenomena guru spiritual yang akhirnya konflik dengan muridnya sudah sering terjadi? Mengapa itu selalu terulang?

Ada jalan untuk mengisi kekosongan ruhani kita seperti dalam lagu tombo ati:

1. Bacalah Al quran

2. Sholat

3. Berkumpul dengan orang shaleh ( Bukan senang hura hura )

4. Jangan rakus urusan dunia

5. Banyaklah mengingat Tuhanmu

Mari bersama berusaha karena agamamu ada di tanganmu bukan di tangan guru spiritual.

http://guslitera.blogdetik.com/2016/09/05/guru-spiritual-dan-kekosongan-ruhani-masyarakat-urban

Puasa Sebagai Sarana Detoksifikasi

Puasa ramadan bukan hanya sebuah kewajiban. Lebih dari itu, puasa adalah sarana penjaga kesehatan. Berpuasalah supaya sehat begitulah salah satu hadist nabi yang memberitahukan bahwa puasa adalah sarana menjaga bahkan memperoleh kesehatan.

Kesehatan, sebagaimana yang banyak diutarakan ahli kesehatan, selalu berbanding lurus dengan apa apa yang kita masukkan dalam mulut kita. Rakus adalah penyebab utama gangguan kesehatan atau datangnya penyakit di tubuh kita. Cara makan yang tidak teratur selalu menjadi penyebab utama penyakit degeneratif di samping jenis makanan yang kita makan.

Dalam berpuasa kita diajak untuk lebih teratur dalam pola makan karena waktu yang ditentukan untuk makan jelas dan tertib yaitu dalam hal waktu sahur dan waktu berbuka. Dengan makan lebih teratur sistim pencernaan akan lebih fokus bekerja karena apa yang mereka olah datang pada waktu waktu tertentu dan pasti.

Sistim pencernaan tidak lagi bekerja asal asalan sebagaimana hari hari biasa yang sepanjang siang dan malam kita hajar dengan makanan dan camilan. Bagi orang yang berpuasa kerja sistim pencernaan akan konsisten dan tidak kacau balau karena sepanjang siang sistim pencernaan tidak diganggu aneka camilan yang banyak menghambat proses mereka dalam mengolah makanan.

Puasa juga bisa menjadi alat detoksifikasi; pembuangan racun ditubuh kita. Hal ini bisa kita rasakan di mana saat siang kita lebih sering berdahak dan mengeluarkan sisa sisa proses pencernaan yang merupakan tempat penumpukan zat racun tubuh.

Bagi orang yang diet atau ingin diet maka bulan ramadan bisa dijadikan momen untuk memulainya karena inti dari diet adalah keteraturan pola makan apapun itu jenis dietnya.

Di samping detoksifikasi racun jasmani puasa juga sarana detoksifikasi racun ruhani yaitu nafsu duniawi yang sering kali membuat hati kita berjelaga. Karena berpuasa menganjurkan kita untuk selalu mengingat sang pencipta melalui ritual ibadah yang lebih intens dan khusuk selama ramadan.

Maka dari itu, selain karena kewajiban agama berpuasalah karena di dalamnya ada hikmah kesehatan sebagaimana hadist nabi yang saya kutip di awal tulisan ini. Selamat berpuasa!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/06/10/puasa-sebagai-sarana-detoksifikasi-tubuh