Guru Spiritual dan Kekosongan Ruhani Masyarakat Urban

Guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru, tak terkecuali itu adalah guru spiritual. Fenomena guru spiritual sekarang ini menjadi marak di pemberitaan dengan ditangkapnya sosok Gatot Brajamusti yang fenomenal tersebut. Kehadiran guru spiritual tak terlepas dengan adanya kekosongan ruhani yang menjangkiti masyarakat kota.

Di tengah tingkat persaingan hidup di kota yang menyita waktu dan fikiran masyarakat kota kita tidak bisa serta merta menyalahkan mereka hingga melupakan asupan ruhani. Mereka kadang melupakan elemen dasar ajaran agamanya entah apapun itu agamanya hanya karena sibuk menyambung hidup yang keras di kota.

Keadaan ini akan menjadi masalah bila  anak anak mereka beranjak dewasa sedangkan orang tua tak pernah memberikan teladan ataupun bimbingan agama di rumahnya. Ketika anak anak itu dewasa jiwanya menjadi labil karena tingkat pemahaman akan agama yang dangkal. Meski pengajian menjamur namun sepertinya itu hanyalah ritual belaka yang tidak bisa ditularkan pada anak anaknya.

Tak jarang pengajian pengajian tersebut seperti di arisan ibu ibu yang sibuk dengan seragam dan asesoris yang dipakai. Kondisi inilah yang memicu lahirnya guru spiritual di kota kota besar terutama di Jakarta. Banyak artis yang mengaku mempunyai guru spiritual sebagi pembimbingnya dalam beragama. Mereka itu biasanya sejak remaja sudah bergelut dengan dunia entertainment sehingga tak ada waktu untuk mendalami atau sekedar memahami elemen dasar agamanya.

Banyak di antara mereka yang beragama Islam, namun untuk membaca Al Quran atau pun bacaan sholat, banyak yang tidak bisa. Ketika mereka menyadarikekurangan ini di tengah kesibukannya mereka akhirnya memutuskan mencari sosok yang bisa menuntunnya. Meski ada juga yang memang sudah bisa baca al quran tapi kadang melalikan sholat itu dianggap biasa. Ketika mereka menemukan sosok yang rajin sholat dianggapnya dia adalah ustadz yang bisa membimbingnya padahal itu biasa.

Kondisi inilah yang sering terjadi di mana mereka akhirnya menemukan sosok yang salah dalam membimbingnya karena mereka sendiri pun tidak memahami bagaimanakah sejatinya seorang guru agama itu. Tak jarang mereka dimanfaatkan secara materi oleh oknum oknum tersebut.

Biar bagaimanapun pemahaman orang tua di rumah untuk memberikan teladan pada keluarga lebih utama dibanding kehadiran sosok guru spiritual yang kadang tidak jelas asal usul ilmunya. Bukankah fenomena guru spiritual yang akhirnya konflik dengan muridnya sudah sering terjadi? Mengapa itu selalu terulang?

Ada jalan untuk mengisi kekosongan ruhani kita seperti dalam lagu tombo ati:

1. Bacalah Al quran

2. Sholat

3. Berkumpul dengan orang shaleh ( Bukan senang hura hura )

4. Jangan rakus urusan dunia

5. Banyaklah mengingat Tuhanmu

Mari bersama berusaha karena agamamu ada di tanganmu bukan di tangan guru spiritual.

http://guslitera.blogdetik.com/2016/09/05/guru-spiritual-dan-kekosongan-ruhani-masyarakat-urban

Iklan

Puasa Sebagai Sarana Detoksifikasi

Puasa ramadan bukan hanya sebuah kewajiban. Lebih dari itu, puasa adalah sarana penjaga kesehatan. Berpuasalah supaya sehat begitulah salah satu hadist nabi yang memberitahukan bahwa puasa adalah sarana menjaga bahkan memperoleh kesehatan.

Kesehatan, sebagaimana yang banyak diutarakan ahli kesehatan, selalu berbanding lurus dengan apa apa yang kita masukkan dalam mulut kita. Rakus adalah penyebab utama gangguan kesehatan atau datangnya penyakit di tubuh kita. Cara makan yang tidak teratur selalu menjadi penyebab utama penyakit degeneratif di samping jenis makanan yang kita makan.

Dalam berpuasa kita diajak untuk lebih teratur dalam pola makan karena waktu yang ditentukan untuk makan jelas dan tertib yaitu dalam hal waktu sahur dan waktu berbuka. Dengan makan lebih teratur sistim pencernaan akan lebih fokus bekerja karena apa yang mereka olah datang pada waktu waktu tertentu dan pasti.

Sistim pencernaan tidak lagi bekerja asal asalan sebagaimana hari hari biasa yang sepanjang siang dan malam kita hajar dengan makanan dan camilan. Bagi orang yang berpuasa kerja sistim pencernaan akan konsisten dan tidak kacau balau karena sepanjang siang sistim pencernaan tidak diganggu aneka camilan yang banyak menghambat proses mereka dalam mengolah makanan.

Puasa juga bisa menjadi alat detoksifikasi; pembuangan racun ditubuh kita. Hal ini bisa kita rasakan di mana saat siang kita lebih sering berdahak dan mengeluarkan sisa sisa proses pencernaan yang merupakan tempat penumpukan zat racun tubuh.

Bagi orang yang diet atau ingin diet maka bulan ramadan bisa dijadikan momen untuk memulainya karena inti dari diet adalah keteraturan pola makan apapun itu jenis dietnya.

Di samping detoksifikasi racun jasmani puasa juga sarana detoksifikasi racun ruhani yaitu nafsu duniawi yang sering kali membuat hati kita berjelaga. Karena berpuasa menganjurkan kita untuk selalu mengingat sang pencipta melalui ritual ibadah yang lebih intens dan khusuk selama ramadan.

Maka dari itu, selain karena kewajiban agama berpuasalah karena di dalamnya ada hikmah kesehatan sebagaimana hadist nabi yang saya kutip di awal tulisan ini. Selamat berpuasa!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/06/10/puasa-sebagai-sarana-detoksifikasi-tubuh