Segara Asat Ora Tau Kandha

 

Segara asat ora tau kondo

Tapi wong miyang wes ngerti kapan

Udan teko ora crito

Tapi wong tani wes podho ngerti kapan

 

Iku mono nalika

KepasanĀ  rego iwak

Ambek rego lombok isih kenek dijagakno

Kanggo nyembung urip

Para kawulo

 

Saiki wong tani lan wong miyangan

Senep mikir nasibe

Udan ombak gak iso kawoco

Nanging rego rego duwure sapadha klasa.

Iklan

PUISIPUISI UNTUK JAWA TIMUR

GERBANG KERTASUSILA

Ketika mula kau ada
Kuselipkan cibir di lubuk hati
Mampukah kurenda
Untaian jamrud di timur jawa

Siapakah gerangan ia
Tahu keberadaan permata
Berserakan tak terkira
Menanti midas menyapa

Di antara cadas Gresik ia tertanam
Di bibir pantai Bangkalan ia berserakan
Di jantung Mojokerto ia mendekam

Di hingar Surabaya ia memencar
Di mata air lumpur ia mengancam
Dengan asa lamongan ia menjelma

SURAMADU

Terbentang sepanjang asa
Tertaut saudara di saujana
Menyatukan satu di antara enam
Wujudkan cita-cita yuwana

Kau bukan gerbang ke tempat asing
Adalah restu untuk bertemu
Sanak yang mengintai di ufuk
Untuk menggenapkan enam yang satu

KETIKA KAU LIHAT AKU

Kalau kau lihat aku
bersinar bak kejora
itu cerminan dirimu

ketika kau lihat aku
indah bagai warna langit senja
itulah pantulan hatimu

bahkan saat kau lihat aku
menangis sederas hujan
itupun menunjukkan dirimu

bagaimanapun aku
dalam setiap lamunanmu
adalah sepertimu saat itu

MENJADI TUA

Menjadi tua adalah kewajiban
Bukan diinginkan tapi mesti dijalankan
Menjadi tua adalah beban
Bagi si muda yang berhati arogan
Menjadi tua haruslah bijak
Agar diterima sang pengikut jejak

KEN DEDES

Tersingkap rahasia Dedes
Tak tampak bagi si jalang
Kabut nafsu menutup hatinya

Cahaya itu menyilaukan
Seterang anak anak zaman
Yang hadir ke dunia melaluinya

Dari gua garbamu
Menitis beratus turunan
Menjadi raja
Memegang pusaka nusantara

MUSIM BARAT

gemuruh datang bersama gulungan ombak laut jawa
menghempaskan harapan harapan nelayan pantai utara
untuk sejenak jeda berjibaku
dengan putaran nasib yang tak tentu

malam berselimut dengan dingin
siang bergelut dengan angin laut
januari adalah nasi yang tak pasti
bisa tersaji untuk hari ini

PUISI PUISI KEHIDUPAN

PENCARIAN

Dalam bimbang sedih dan pilu
Satu-satu kumpul menumpuk
Tinggi-tinggi menjulang entah
Sampai di mana semua
Ada rindu yang menumpuk
Ada cinta yang terbakar
Ada hasrat yang terikat
Ada harapan yang tersimpan rapat
Kadang kala jatuh
Bangun dan jatuh lagi
Terus dan terus berlari
Hingga tak lagi mempunyai arti
Kucari kau kemana mana
Ke hutan-hutan di seberang sana
Ke gua-gua di negeri tetangga
Akhirnya kudapatkan kau dalam asa

23 september 2003

WAKTU

Waktu adalah saksi berjuta peristiwa
Dari zaman Adam hingga kini
Telah dilaluinya ribuan kilo sejarah
Bahkan mungkin ribuan tahun cahaya

Adalah waktu yang menjadi saksi
Bagi setiap kebohongan yang dilakukan manusia
Sayang manusia tak menyadarinya
Hingga waktu terpaksa menghenikannya

14 April 2002

KEMARAU, PANAS, DAN KERINGAT

Dua belas siang adalah perjuangan
Melawan panas terik matahari
Kemarau pun demikian adalah
Perjuangan petani dalam mencari hutang

Panas adalah nyawa bagi pelaut dalam
Mengarungi gelombang kehidupan
Yang menebarkan aroma uang
Di setiap hempasan air asinnya

Keringat adalah bunga yang bersemi
Yang siap dipelihara
Agar dapat dipanen
Di setiap akhir kerja

28 Agustus 2001

MENJADI TUA

Menjadi tua adalah kewajiban
Bukan diinginkan tapi mesti dijalankan
Menjadi tua adalah beban
Bagi si muda yang berhati arogan
Menjadi tua haruslah bijak
Agar diterima sang pengikut jejak

9 Agustus 2001

PURNAMA

Bulan purnama yang terang
Kini hilang ditelan sinar lampu nan gemilang
Bulan purnama yang terang
Indahmu hanya di daerah yang tak bertuan
Bulan purnama yang terang
Bagai lebaran di masa anak-anak malam
Bulan purnama yang terang
Sinarilah malam-malam panjang penantian

7 Agustus 2001

ADA SERIBU PUISI

Ada seribu puisi di hati
Yang berisi tentang suasana hati
Ada seribu puisi dibaca
Lewat mulut indah penyairnya
Ada seribu puisi dicampakkan
Oleh si buta dan si tuli peradaban
Namun ada satu puisi terpatri di hati
Tentang cahaya-cahaya Ilahi

7 Agustus 2001

ILMU ADALAH

Ilmu adalah matahari
Menyinari siapa saja
Baik muslim maupun non muslim
Semua menerima panasnya

Ilmu adalah lautan
Diarungi berbagai jenis insan
Kafir atau bukan
Asal bersampan semua sampai tujuan

Ilmu adalah ilmu
Bukan hitam bukan putih
Apalagi abu-abu
Karena dia adalah warna itu sendiri

1 Agustus 2001

HARI-HARI

Hari-hari adalah siang sore dan malam
Hari-hari adalah waktu yang berputar duapuluh empat jam
Hari-hari adalah penantian panjang
Kapan tiba hariku yang terakhir berbilang

30 Juli 2001

LAHIR

Ada yang lahir di hari ini
Tangisnya bergema di lembah-lembah kehidupan
Semua berkumpul menyambutnya
Menunjukkan suka duka dunia

Ada yang tertawa menyapa
Ada pula yang menangis bahagia
Namun ada satu yang menjerit
Bayi yang kaget melihat wajah dunia

Dalam tangisnya ada sejuta Tanya
Tentang dunia yang fana
Tentang tanggung jawab yang diterimanya

7 Juli 2001

INSAN KAMIL

Oh, kau yang rendah hati
Kau sudah tiba di tempat tertinggi
Tapi kau minta turun kembali
Oh, kau yang bijaksana
Yang dijanjikan istana surga
Tapi masih mencoba meniti tangganya
Oh kau yang terpercaya
Yang tak sanggup berkata dusta
Walau pada orang yang tuli serta buta
Oh kau sang pemberi teladan
Aku rindukan kamu
Sampai tiba waktuku

2 Juni 2001

SEMUA MENDEKAT

Lewat tangisan pertamanya ia sambut jalannya
Semakin lama semakin dekatlah ia
Tak peduli aral menghampiri bertubi-tubi
Semua yang bernyawa pasti akan berserah diri
Hingga pada satu titik kata pasti
Tak kuasa ia tolak tak daya ia minta segera

Paciran, 10 Maret 2001

KEPADA HUJAN, HALILINTAR DAN AIR

Kepada hujan aku titipkan rinduku
Yang dingin beku membiru
Bersama langit malam yang kelabu
Kepada halilintar aku ucapkan cinta
Agar disampaikan pada sang juwita
Yang sedang lelap terlena
Kepada air aku titpkan harapan
Agar turun membasahi hati
Yang kering tak terperi

16 Desember 2000

dua puluh empat jam

rumput itu masih saja di situ. berhari-hari bersama waktu.bukankah dalam sehari ada dua puluh empat jam kawan. tapi kita memaknainya berbeda. semua sama mendapat jatah dua puluh empat jam tapi …..dalam terjaga semua berbeda durasinya.

jangan salahkan rumput bila kita berbeda, kalaupun ada yang kaya juga ada yang papa. bukankah kita dibagi waktu yang sama dua puluh empat jam sehari. mari menelisik hati dan diri.

biarkan rumput itu disitu selamanya dia akan di situ menunggu waktu. kita jangan hanya menunggu karena waktu kita hanya dua puluh empat jam sehari dan seratus enam puluh delapan jam seminggu

JALAN HIDUP

Bertahun berbulan berhari
Hanya menghitung waktu saat ke saat
Merangkak berjalan hingga beruban
Tak terasa banyak yang terlewat

Tak terhitung dosa
Tak terhimpun jasa jasa
Hanya pasrah dalam dekapan nasib
Menyambut tamu yang tak mungkin ku tolak

5Juni 2008

UNTUKMU

Harapanku padamu melebihi
Harapanku pada diriku
Kekhawatiranku padamu melebihi
Kekhawatiranku pada diriku
Cita-citaku padamu melampaui
Cita-citaku pada diriku
Penuhilah cita-citaku, lampaui
Agar diakhir hidupku sedikit berarti

16 mei 2008