Full Day School Harus Mengakomodasi Hak Bermain Anak-anak

Seperti yang sudah sudah bahwa setiap ganti menteri pasti ada hal baru yang ditawarkan ke publik. Apa yang dilakukan oleh menteri tersebut adalah sebuah tanggung jawab sebagai orang yang ditunjuk presiden untuk memberikan penyegaran program program pemerintah. Salah satu yang kini ramai adalah gagasan mendiknas yang baru Bapak Muhadjir Effendi agar sekolah menerapkan Full day School. Setelah ramai jadi perdebatan dan sempat diluruskan oleh mendikbud bahwa Full day school bukan sekolah sehari penuh, melainkan pemberian ekstrakurikuler   yang lebih banyak panjang.

Apapun yang diterapkan di sekolah sejatinya adalah dengan tujuan membangun karakter sekaligus pengetahuan bagi siswa. Saya rasa akan lebih bijak untuk menyadari bahwa karakter siswa bukan bersandar pada kegiatan di sekolah saja. Lingkungan di rumah dan hidup bersosialisasi di lingkungannya adalah juga pembentuk karakter siswa hasil mereka berinteraksi dan bersosialisasi.

Bila kita membiarkan siswa lebih banyak di sekolah apakah mereka tidak tersita waktunya untuk bersosialisasi dengan teman temannya di rumah. Inti belajar anak anak adalah bermain, baik itu belajar hidup maupun belajar pengetahuan. Mereka secara tidak sadar menyerap apa yang mereka jadikan tolok ukur dalam hidupnya melalui bermain. Dalam bermain itulah mereka akan mengasah perasaan dan logikanya dengan cara dan pemahaman mereka.

Sebagai orang tua kita hanya mengontrol perkembangan mereka bukan memaksa untuk sesuai dengan logika kita. Begitu pula yang dilakukan sekolah membebaskan mereka dan memberikan rasa nyaman dan senang akan pengetahuan adalah inti kegiatan di sekolah. Jam yang terlalu banyak seringkali membuat anak anak tersebut tertekan bahkan terasing dengan apa yang seharusnya ia pelajari.

Apapun nanti model pelaksanaan full day school tersebut,  yang lebih utama adalah memberikan kenyamanan siswa dan tidak menyita waktu mereka untuk menikmati dan menghayati  dunia mereka. Mereka mempunyai dunia yang sedang mereka bentuk dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya agar menjadi manusia yang berkarakter.  Karena,  sekali lagi anak anak itu tumbuh melalui  belajar sambil bermain atau sebaliknya. Selamat belajar!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/08/10/full-day-school-harus-mengakomodasi-hak-bermain-anakanak

Iklan

Isi Ramadan dengan Ngeblog

Sebanyak dua puluh satu orang remaja dan orang tua laki dan perempuan hadir di aula cendekia Perpustakaan Umum Lamongan untuk belajar membuat blog. Baik platform blog lokal semisal blogdetik maupun blogger dari google.com.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perpuseru di mana perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca dan mencari informasi tapi juga bisa menjadi tempat latihan. Perpustakaan juga sarana bagi kegiatan yang melibatkan masyarakat agar perpustakaan bisa berguna secara maksimal. Salah satunya adalah memfasilitasi masyarakat yang mau belajar ngeblog seperti ini.

Antusiasme terjadi ketika memasuki dalam tahap menulis konten blog dan membuat alamat blog yang akan dijadikan domain oleh peserta. Karena disinilah sisi penting bila sudah mempunyai blog; mengisi dengan konten yang bermanfaat bagi orang lain.

Tak kalah penting adalah bagaimana mengenalkan blog kita agar mudah diakses dan hitnya menjadi lebih banyak dan syukur-syukur bisa menjadi headline di Blogdetik.

Meski dengan menahan lapar karena puasa, namun kreatifitas tetap muncul dan akhirnya setiap peserta pun mempunyai domain di blogdetik dan di blogspot. Selamat ngeblog dan tentunya jangan lupa meng Update blognya, ya

http://guslitera.blogdetik.com/2016/06/11/isi-ramadhan-dengan-ngeblog

Agar Tak Bingung Lagi di Perpustakaan

Apakah Anda pernah kebingungan apabila Anda membutuhkan informasi yang sebenarnya itu hal sepele karena sekedar ingin mengetahui alamat sebuah perusahaan atau kedutaan sebuah Negara dan Anda  kerepotan untuk mendapatkan jawabannya? Mau bertanya ke mana dan pada siapa Anda pun ragu jangan jangan mereka juga tidak bisa memberi solusi akan masalah kita.

Itu adalah sebagian kecil bila kita tidak memahami jenis jenis koleksi di perpustakaan. Mengapa tidak dating ke Perpustakaan Umum di kotamu? Di sana tersedia berbagai macam buku rujukan. Di sinilah pentingnya peranan buku rujukan atau buku referensi bagi orang orang yang mengalami persolan seperti yang tersebut di atas.

Keberadaan buku rujukan memang sering kali terabaikan padahal tidak semua bahan pustaka adalah bahan bacaan yang penggunaannya harus dibaca sampai tuntas berjam jam ataupun berhari-hari. Ada beberapa koleksi khusus yang fungsinya sebenarnya hanya untuk dilihat atau dibaca sekilas isinya. Dengan kata lain penggunaannya hanya  diperlukan apabila kita membutuhkan informasi singkat akan suatu hal. Informasi itu bisa berupa makna kata, alamat kantor, cara menggunakan sesuatu, lokasi maupun tanggal suatu peristiwa. Informasi yang demikian inilah  yang  biasanya akan kita temukan jawabannya dalam buku buku khusus yang memuat informasi  itu yang lazim kita sebut buku rujukan atau  buku referensi.

Di setiap perpustakaan sebenarnya menyediakan buku buku referensi semacam ini yang biasanya ditempatkan di ruang tersendiri dan  buku buku referensi ini tidak dipinjamkan untuk dibaca di rumah karena kegunaanya yang spesifik tadi, yaitu hanya digunakan sebagai rujukan singkat.  Dengan alasan tersebut itulah buku referensi tidak dipinjamkan untuk dibaca di rumah melainkan hanya untuk di baca di tempat.

Ada beberapa jenis  buku referensi yang perlu kita ketahui untuk memudahkan kita dalam menelusuri informasi singkat seperti yang tersebut di atas, di antaranya  adalah :

  1. Kamus

Daftar alfabetis kata-kata yang disertai dengan arti kata tersebut.

  1. Ensiklopedi

Daftar istilah istilah ilmu pengetahuan dengan tambahan keterangan ringkas tentang arti dari istilah tadi.

  1. Direktori

Buku yang memuat alamat alamat berbagai organisasi.

  1. Almanak

Buku yang memuat keterangan  penting di suatu saat dan tempat tertentu.

  1. Buku tahunan

Buku yang memuat peristiwa peristiwa selama setahun terakhir

  1. Buku Pedoman

Ada dua macam yaitu manual (memuat sekumpulan fakta / buku pintar) dan hanbook (yang berisi cara melakukan sesuatu/how to  do it)

Dari beberapa buku referensi yang sudah penulis  bahas diharapkan kita tidak lagi kebingungan untuk menemukan  informasi  yang kita butuhkan karena kita sudah mengetahui sumber informasi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Agar kita terbiasa dengan buku buku referensi tentu tidak ada salahnya bila setiap kali kita berkunjung ke perpustakaan kita menengok ke ruang referensi agar kita lebih akrab dengan buku buku rujukan atau buku referensi tersebut. Dengan pemahaman yang kita punya mengenai bahan pustaka ini berarti kita telah selangkah  menuju menjadi Masyarakat Literasi yaitu masyarakat yang bisa menggunakan sumber informasi untuk memberdayakan kompetensi yang dimilinya. Terlebih lagi, karena sekarang bukan lagi era melek huruf tapi melek informasi.  Selamat berselancar di dunia informasi. Salam Literasi!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/05/12/agar-tak-bingung-lagi-di-perpustakaan

Jangan Biarkan Anak Kita Bersikap Adigang Adigung

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
Tidak tengelam di masa lampau.
…………
Itulah Bait ketiga dari puisi ‘Anakmu Bukanlah Milikmmu” Karya Pujangga Lebanon Kahlil Gibran yang sangat kontekstual untuk memaknai kasus yang baru baru ini terjadi di Medan Sumatra Utara tentang seorang siswi SMA yang membentak seorang Polwan karena mengaku sebagai anak seorang Jenderal.
Kasus tersebut membuat penulis trenyuh akan pola pengasuhan orang tua terhadap anaknya. Sebagai orang tua kita memang akan selalu protektif terhadap anak anak kita namun bila itu membuat anak selalu berlindung di ketiak orang tua akan beresiko juga bagi anak tersebut. Resiko yang terjadi di kemudian hari adalah bahwa ia tidak akan selalu hidup dengan orang tuanya dan tantangan kehidupan yang ia hadapi tidak akan se zaman dengan apa yang dialami oleh orang tuanya.
Seorang anak akan melesat ke depan, Ia akan meninggalkan masa lalunya bersam orang tuanya tidak seharusnya orang tua membiarkan seorang anak adigang adigung ( selalu mengandalkan ) dengan apa yang dimilikinya saat ini ketika ia masih bersama orang tuanya.
Orang tua pun harus menyadari bahwa ia tidak bisa selalu bersama dengan anak anaknya. Mereka harus bisa memberikan bekal kepercayaan diri pada anaknya bahwa kelak ia akan menghadapi persoalan kehidupannya sendiri ketika tiba masanya. Jiwa manja dan ketergantungan anak pada kekuasaan orang tua harus bisa dilepaskan bila kita ingin melihat mereka dewasa dan menjadi pribadi yang mandiri.
Mereka, anak anak itu, mempunyai fikiran dan problem yang akan ia hadapi sesuai konteks zamannya. Tidak lah menjadi berarti bila Kita Orang tua memaksa mereka menjadi seperti kita karena apa yang kita hadapi berbeda dengan apa yang akan mereka hadapi di kemudian hari.
Hentikanlah pembelaan membabi buta bagi anak anak kita bila mereka mendapat persoalan di kehidupannya. Biarkan ia menyelesaikan sendiri dengan cara mereka karena itulah bekal sesungguhnya yang bisa kita wariskan, yaitu membiarkan mereka berkembang dan tumbuh sesuai dengan zamannya. Kita orang tua hanya mengarahkan dan mendukung di belakang di kala mereka jatuh. Tugas kita hanya memyemangati mereka untuk bangun dan bangun lagi di saat mereka terjatuh bukan menghakimi pada apa yang membuat mereka jatuh.
Jatuh bangun dalam kehidupan adalah tempaan bagi anak anak kita. Tanpa harus selalu membuat mereka manja, Kita dorong mereka dengan kasih sayang tanpa harus memanjakannya. Kesanggupan kita untuk melihat mereka kalah dan menang adalah penghargaan bagi mereka, anak anak kita. Ketika kalah rangkullah mereka dengan kasih sayang dan bisikan kata kata penyemangat untuk selalu berani terus mencoba dan mencoba.
Bila kita ingin anak anak kita tidak adigang adigung biarkan ia menyelesaikan persoalannya sendiri dan kesiapan kita melihat itu adalah bekal paling berharga untuk mereka nanti. Bagaimana?

KEBERHASILAN PENDIDIKAN KARAKTER DITENTUKAN PADA PENILAIAN PERILAKU SISWA BUKAN PADA TES NORMATIF SAJA

Photo-0119

Pendidikan karakter sekarang ini sedang marak dibicarakan di lingkungan dunia pendidikan. Keprihatinan mengenai karakter bangsa Indonesia yang mulai luntur menjadikan pakar pendidikan di Indonesia berniat memasukkan unsur pemnbangun karakter dalam mata pelajaran.

Karakter bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa dengan keramahtamahannya serta kesantunannya mulai luntur dari benak setiap warga Negara. Ketitidakjujuran semakin mengakar yang membuat para pakar pendidikan miris menyaksikannya. Ini dibuktikan dengan tingkat korupsi yang semakin tinggi, serta masyarakat mudah melakukan kekerasan di mana-mana. Kondisi inilah yang mau tidak mau harus ditanggulangi secara strategis dengan cara memasukkanya pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran di sekolah.

Sebelum pendidikan karakter ini ramai dibicarakan, sebenarnya dalam dunia pendidikan sudah ada mata pelajaran agama, tapi mengapa masih ditambah dengan pendidikan karakter? Apakah pendidikan agama tidak cukup untuk membina moral bangsa ini?

Dari sini bisa kita pertanyakan bahwa ada yang salah dengan proses pembelajaran agama selama ini karena, seperti kita semua tahu, sejak tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi pendidikan agama telah dengan secara masif diberikan namun mengapa perilaku korupsi masih meraja lela di bumi Indonesia, kejujuran semakin jauh panggang dari api.

Selain pendidikan agama di sekolah juga diberikan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) yang di dalamnya juga mengandung nilai-nilai moral yang mestinya bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari. Sekali lagi mengapa kebobrokan moral masih saja menjadi persoalan kita bersama.

Kebanyakan selama ini parameter yang digunakan untuk menilai moral hanyalah angka angka yang tentunya tidak siknifikan dengan perilaku sehari-hari. Bagaimana mungkin seorang anak didik yang ‘Nakal’ kadang kadang nilai agamanya maupun PPKNnya tinggi. Inilah sebenarnya pangkal persoalannya yang harus kita ubah bersama.

Dari kasus di atas semoga pendidikan karakter tidak mengulangi hal yang sama dan diharapkan mampu mencetak anak didik yang betul betul mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya strategi penilaian pada setip aktifitas anak didik harus mengacu juga pada penilaian perilaku sehari-hari tidak pada tes normative belaka.

MENGAJAR SENI BUKAN MONOPOLI MEREKA YANG BERLATAR BELAKANG PENDIDIKAN SENI

130413-0809

(Tanggapan atas tulisan SENI RUPA BELUM MERDEKA oleh Djati Djuliprambudi)

Oleh : Agus Buchori
Pengajar seni rupa di SMAM6 Karangasem Paciran Lamongan

Menarik sekali membaca tulisan Bapak Djuli Djatiprambudi pada rubrik ruang putih tanggal 29 Agustus 2010 yang berjudul Seni Rupa Belum Merdeka. Ketertarikan saya sekaligus juga mengundang koreksi terhadap substansi tulisan Bapak Djuli yang dalam tulisan tersebut menciptakan istilah “guru siluman” yaitu guru bidang studi seni yang bukan berasal atau mempunyai latar belakang pendidikan seni.

Dalam tulisan tersebut Bapak Djuli merasa trenyuh melihat pengetahuan para guru seni yang mengikuti pelatihannya tidak mengetahui sama sekali isu-isu yang sekarang berkembang di jagat seni rupa Indonesia. Ketika dalam suatu tatap muka, beliau mengajukan nama-nama seniman (pelukis) seperti, I Nyoman Masriadi, Dipo Andy, Alit Sembodo, Jumaldi Alfi dan teman-teman segenerasinya yang sekarang menguasai pasar seni lukis internasional ternyata banyak para pendidik seni tersebut yang tidak tahu. Berdasar asumsi inilah beliau akhirnya mengetahui bahwa ternyata para guru seni tersebut banyak yang berlatar belakang bukan dari pendidikan seni dan olehnya mendapat sebutan yang cukup “menakutkan” bagi saya yaitu guru siluman.

Sebagai salah satu guru “siluman” di bidang seni rupa saya kurang sependapat dengan penilaian Bapak Djuli bahwa mereka ini dianggap tidak mampu mengajarkan mata pelajaran seni dengan baik karena tidak memiliki kompetensi keilmuan di bidang seni. Bapak Djuli terlalu cepat menyimpulkan hanya karena melihat kompetensi sebagian peserta diklatnya yang kebetulan kurang wawasan seninya. Beliau tidak melihat bahwa di luar masih banyak guru siluman yang kapabel dan kompeten untuk mengajarkan mata pelajaran seni.

Bila saya boleh menganalogikan sebagai berikut; seorang lulusan fakultas sastra tidak serta merta menjadi sastrawan. Perlu pengalaman panjang dan intensitas yang dalam untuk menjadi sastrawan. Dan kondisi ini tentunya dipengaruhi oleh pergaulan serta minat yang besar terhadap sastra sehingga akhirnya lulusan fakultas sastra pun bisa menjadi sastrawan. Pun banyak sastrawan yang lahir dari kondisi tersebut walaupun ia bukan lulusan fakultas sastra. Demikian juga di dunia seni rupa bahwa alumni pendidikan seni rupa tidak akan serta merta kapabel di dunia seni rupa perlu keseriusan yang tinggi dan intensitas yang dalam agar mampu menguasainya. Dari sini Bapak Djuli bisa melihat mantan mahasiswanya apakah semuanya kompeten dan terjun menggeluti dunia seni rupa? Saya yakin hanya sebagian saja, yaitu mereka-mereka yang tertarik dan mengelutinya dengan seriuslah yang berhasil.

Untuk menjadi pengajar kesenian pun tiada beda perlu seseorang yang mempunyai ketertarikan tinggi dan berwawasan luas dalam bidang kesenian. Kondisi ini tidak bisa hanya diharapkan dari seorang yang mempunyai latar belakang pendidikan seni. Kemampuan dan wawasan yang berkembang tidak akan diperoleh oleh pribadi-pribadi (guru siluman) yang malas. Perlu kerja keras dan selalu merefresh informasi di dunia yang digelutinya.

Sebagai seorang kurator, Bapak Djuli, tentu sangat akrab dengan nama Sindhunata, beliau termasuk kurator handal yang tulisannya termasuk sering saya baca juga tulisan Bapak Djuli tentunya. Beliau adalah salah satu contoh konkret bagaimana seorang yang bukan berlatar belakang pendidikan seni bisa begitu kompeten mengulas karya seni rupa masa kini. Dan banyak pelukis yang mengakui ketajaman tulisannya.

Kalau bisa saya ambil contoh lain adalah mantan menteri pendidikan kita, Bapak Daoed Joesoef, dan Bapak almarhum Fuad Hasan. Kita bisa membaca kemampuan kedua tokoh ini dalam mengulas karya seni rupa seorang seniman bagaimana mereka menganalisa teknik seseorang mulai dari cara goresan kuas, komposisi warna baik yang sengaja tercipta maupun tak sengaja hingga bisa menjadi cirri seorang pelukis mereka bisa menganalisanya walaupun mereka bukan berlatar belakang pendidikan seni. Tentunya kemampuan ini tidak serta merta tercipta begitu saja, ada intensitas dan pergulatan panjang dengan jagat seni rupa. Dan selain itu, adalah kepekaan estetis yang mereka asah tentunya.

Mengakhiri tulisan ini, saya hendak mengisahkan pengalaman pribadi saya. Sebagai guru siluman di bidang seni, yang pada tahun awal di luncurkannya KBK (kurikulum berbasis kompetensi) mengikuti pelatihan sosialisasi KBK guru bidang studi yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Ketintang Surabaya. Saya adalah guru kesenian yang bukan berlatar belakang seni sementara kebanyakan yang hadir adalah guru kesenian yang berlatar belakang pendidikan kesenian. Di akhir diklat selama satu minggu tersebut ada pemilihan peserta terbaik dari masing – masing kelompok bidang studi dan saya terpilih menjadi peserta terbaik di bidang kesenian. Saya heran dan kaget kok saya sedangkan banyak peserta lain yang berlatar belakang pendidikan seni malah tidak terpilih. Ada apa dengan guru seni yang asli tersebut?

DAFTAR BACAAN
Muhidin M Dahlan, dkk., Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, Yogyakarta: Gelaran Budaya, 2009
Daoed Joesoef, Dia dan Aku Memoar Pencari Kebenaran, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006

MENCONTEK DAN KEJUJURAN

Akhir-akhir ini sifat jujur sebagai perwujudan moral mulia yang kita teladani dari nabi kita Muhammad SAW, semakin jauh dari tindakan kita sehari-hari. Bahkan di lingkungan pendidikan sebagai lembaga tang bertanggung jawab untuk menigkatkan harkat dan martabat manusia pun kejujuran seolah-olah sudah menjadi barang yang langka. Dan tragisnya lagi yang sering kita jumpai adalah kecurangan dan kemunafikan.

Mencontek adalah salah satu bentuk ketidakjujuran yang terjadi di dunia pendidikan yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Di kalangan pelajar sifat tidak jujur sering kali tumbuh secara tidak sengaja yaitu melalui tindakan mencontek yang mereka lakukan selama terjadi ujian di sekolahnya. Dengan mencontek mereka mulai melakukan ketidakjujuran pada diri mereka sendiri. Mereka tidak mau mengakui kemampuan dirinya apa adanya dengan jalan mencontek agar terlihat sebagai siswa yang pintar karena pada saat ujian mereka menjawab soal-soal tersebut dengan jalan mencontek.

Ada beberapa efek buruk mencontek yang akhirnya kan terbawa oleh mereka ketika terjun ke masyarakat, yaitu;
Pertama, malas, dengan mencontek mereka menumbuhkan rasa malas pada dirinya karena selama sekolah mereka malas belajar dan seringkali mengandalkan mencontek ketika ujian berlangsung..
Kedua, tidak percaya diri, kebiasaan mencontek ini menumbuhkan juga rasa tidak percaya diri, walaupun tanpa mencontek mereka mampu menjawab soal ujian namun karena terbiasa mencontek mereka menjadi tidak yakin dengan kemampuannya sebelum melihat contekannya.
Ketiga, tidak jujur, efek yang ketiga inilah yang paling merugikan bagi siswa yang bersangkutan maupun orang lain yang dicuranginya. Sebagai contoh, dengan nilai hasil contekan seorang siswa akan sulit diketahui kemampuannya oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan secara benar akibatnya guru tersebut tidak bisa memberikan perbaikan kembali karena menganggap nilainya sudah baik. Dan akibatnya siswa tersebut akan tetap tidak mampu pada pelajaran yang diujikan tersebut karena ketidakjujurannya.

Itulah beberapa efek buruk mencontek yang tentunya harus dipahami oleh siswa sejak dini agar mereka nantinya tidak menjadi manusia manusia yang malas, tidak percaya diri, dan tidak jujur. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa kejujuran harus kita tumbuhkan sejak dini dengan jalan membuang kebisaan mencontek di dunia pendidikan. Selamat belajar.