King James pun Memenuhi Janji, Cleveland Juara

Stadion milik Golden State Warrior (GSW) pun bergemuruh ketika waktu quarter empat menunjukkan 0:0 tapi situasi kontras yang terjadi. Pendukung GSW tertunduk dan pendukung Cleveland Cavaliers bersorak karena mereka memenangkan pertandingan malam itu waktu setempat dengan skor 93-89.

Cleveland menjadi juara liga basket nasional Amerika Serikat ( NBA ) dengan proses yang jarang terjadi di mana tim yang tertinggal 1-3 dalam format best of seven di mana tim yang memperoleh 4 kemenangan menjadi pemenangnya. Dan dalam final kali ini sebagaimana yang terpilih sebagai Most Valuable Player ( MVP) final atau pemain terbaik yang menjadi bintang dari segala bintang adalah LeBron James yang dikenal dengan julukan King James.

King James memberi bukti ucapanya ketika kembali dari tim Miami Heat, yang telah memberinya dua cincin juara, untuk memperkuat tim kampung halamannya Cleveland Caveliers dan menjadikannya juara. Alasan dirinya kembali adalah untuk memberi gelar pada kampung halamannya.

Ketika kondisi kritis, saat GSW tinggal membutuhan satu kemenangan lagi untuk memastikan titel juara, ia mengamuk dan menginspirasi teman temannya untuk bangkit dari ketertinggalan. Stephen Curry sang MVP reguler pun dibuat tak berkutik.

Menarik adalah ucapannya di mana ia memotivasi dirinya untuk selalu berfikir positif pada saat situasi sulit ketika tertinggal 1-3 dari GSW. Daripada selalu mengeluh mengapa harus saya yang mengalami keadaan ini, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa saya memang dipilih untuk mengatasi hal sulit ini. Dia yang di atas sana tak akan memberimu situasi  yang kamu tidak mampu mengatasinya  katanya dalam salah satu wawancara dengan media usai mengantar timnya juara.

Pernyataan yang religius sekaligus menggugah dan ia menambahkan dengan ucapan ” Cleveland Juara ini untukmu.” Selamat King James Anda memang seorang raja.  Dan gelar King James memang pantas disematkan untukmu.

Iklan

MANOR RACING GAGAL MELEJITKAN BAKAT RIO HARYANTO, HENTIKAN SAJA!

Setelah beberapa kali balapan, Rio Haryanto selalu berada di posisi buncit. Meski mencapai finish, hal ini masih menjadi pertanyaan karena Kemampuan Rio seharusnya bisa berkompetisi dengan pebalap lainnya dalam ajang Formula 1 ini. Ada beberapa pendapat pengamat keadaan ini  dikarenakan mobil yang digunakan oleh Rio memang tidak bisa bersaing dalam hal kecepatan dengan mobil peserta lainnya sehingga kemampuan Rio kurang terlihat.

Permintaan Tim Manor racing untuk menambah dana agar Rio bisa terus ikut balapan di formula 1 patut dikaji kembali. Untuk apa kita membiayai sebuah Tim yang nggak bisa membuat perwakilan kita bersaing dan hanya menjadi pembuncit terus. Sudah cukup separuh jalan bagi kita untuk menunjukkan bahwa Rio Haryanto mampu untuk mengendalikan mobil F1 dan mari berfikir untuk mencarikan Tim yang lebih moncer sehingga dana kita tidak sia sia hanya untuk kepentingan bisnis semata.

Memang bagi Manor ini adalah peluang,  bisa memanfaatkan keinginan rakyat Indonesia dengan berupaya menjadikannya mitra sponsor dan bisa menitipkan pebalap dari negara sasaran  sebagai pebalap kedua. Rio bukan pebalap kacangan karena sudah dibuktikan dalam ajang  formula renault maupun GP2 ajang sebagai persiapan menuju balapan formula 1, Rio bisa mendapat poin bahkan naik podium.

Akan lebih baik jika dana itu dijadikan sponsor ke tim yang lebih kuat dalam ajang formula 1 bila ada yang memang tertarik dengan kemampuan Rio Haryanto. Dalam sepertiga  perjalanan balapan formula 1 ini, para pengamat sudah bisa menilai kemampuan yang dimiliki oleh masing masing pebalap apakah ketrampilannya yang oke atau memang kendaraannya yang kurang mendukung.

Kesempatan sudah didapatkan oleh Rio untuk menunjukkan kemampuannya di ajang formula 1 tahun ini dan separuh perjalanan bagi saya sudah cukup. Untuk masalah kekurangan dana sebesar 8 juta euro agar dia bisa terus membalap memang perlu dikaji ulang. Semoga ada kesempatan mungkin bagi Rio bisa direkrut oleh tim lain tanpa pemerintah  harus bersusah payah untuk mensponsori tim yang ia bela. Karena, meski Rio tampil sepanjang musim tapi kalau hanya sekedar dioverlaping pebalap lain terus terusan buat apa.

Mari berdoa semoga ada Tim besar sekelas ferrari, williams, atau Mc laren di ajang formula 1 yang sempat melihat bakat terpendam Rio dan merekrutnya tanpa minta embel embel biaya. Amin… Go…Rio…Go!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/06/16/manor-racing-gaga-membuat-bakat-rio-haryanto-mengkilap-hentikan-saja

Selamat Jalan Si Omong Besar

Hari Jumat 3 Juni waktu setempat, dunia kehilangan salah satu olahragawan besar di dunia tinju, Muhammad Ali. Ali meninggalkan kita dalam usia 74 tahun setelah puluhan tahun bertahan dengan penyakit Parkinson yang di deritanya. Penyakit itu adalah efek yang diberikan oleh dunia yang dicintainya dan juga membesarkan namanya yaitu tinju.

Dalam olahraga itu Ali menyebut dirinya the greatest; yang terbesar. Ia memang dikenal sebagai petinju dengan julukan si Omong Besar karena kesukaanya memprovokasi lawan lawanya dengan kata kata yang memanaskan serta memancing emosi lawan.

Masih ingat dengan pertrungan legendaris yang dianggap sebagai pertarungan abad ini yang beken dengan sebutan ” thrilla in Manila” antara ia dengan Joe Frazier bagaimana Ali sebelum pertarungan mengatakan akan menghancurka Joe yang ia sebut sebagai gorila. Namun, apa yang ia janjikan terbukti benar.

Juga dalam pertarungan yang lain dengan tajuk Rumble in The Jungle di mana ia menghancurkan George Foreman si raja K.O. Ali dalam pertarungan itu menjanjikan akan meladeni dan menjinakkan si monster dengan taktik ” Float like Butterfly Sting Like Bee” dan ia pun terbukti benar. Foreman pun dibuatnya terkapar.

Meski dalam olahraga ia terkenal beromong besar namun Ali adalah penentang perang. Ia menolak wajib militer untuk perang vietnam dan lebih memilih kehilangan gelarnya karena dipenjara.

Dilahirkan dengan nama Cassius Marcellus Clay. Jr. Ali kemudian mengubah nama itu menjadi Muhammad Ali ketika dia memutuskan memeluk Islam pada tahun 1964.

Ali memang the greatest sebagaimana yang ia jelaskan pada media ketika ia dibandingkan dengan pesepakbola terkenal Brazil, Pele.

“Pele memang terkenal di Asia, Eropa, Afrika, tapi tanyakan pada anak di Amerika Serikat ini adakah yang mengenal Pele jawabnya pasti tak ada yang tahu siapa Pele, tapi coba tanyakan siapakah Muhammad Ali semua pasti bisa menjawabnya. Pele is the great but I am the greatest,” jawabnya waktu itu.

Ya, selamat jalan the Greatest selamat jalan si Omong Besar. Semoga amal ibadahmu diterima disisiNya. Amin

Dan Zidane Pun Memberi Bukti

Dini hari tadi begitu tendangan penalti kelima yang dilakukan oleh Christiano Ronaldo menyentuh jala  kiper Atletico Madrid sontak stadion San Siro, Milan bergemuruh oleh teriakan suporter Real Madrid. El Real merengkuh gelar liga champions yang kesebelas kalinya dan menjadi pengumpul gelar terbanyak di kejuaraan antar klub paling bergengsi di Eropa itu.

Di balik kegemilangan penampilan El Real di liga Champions adalah sosok maestro legendaris dari Prancis keturunan Aljazair, Zinedine Zidane yang akrab disapa Zizou. Ia telah mengembalikan atau setidaknya bisa membuat pendukung Real Madrid berkepala tegak meski kalah dalam perebutan gelar kompetisi domestik oleh rival abadinya Barcelona.

Ditunjuk sebagai pelatih di pertengahan musim,  Zizou mengubah gaya permainan madrid yang tak bercorak ketika ditangani Raphael Benitez menjadi tim yang penuh gairah dan atraktif sebagaimana gaya bermainnya sewaktu menjadi pemain.

Bahkan di akhir musim la liga Zizou sempat membuat pendukung Barcelona ketar ketir karena sempat bersaing poin hingga pertandingan terakhir kedua tim.

Melakoni final liga chamhpions dengan rival sekota dini hari tadi nampaknya Zizou lebih bisa menguatkan mental pemainnya karena dibandingkan dengan Diego Simeone pelatih Atletico Madrid, Zidan lebih berpengalaman menghadapi laga final kejuaraan.

Kini Zidane telah membuktikan bahwa penunjukan dirinya sebagai pelatih El Real tidak salah. Di musim pertamanya sebagai pelatih  gelar liga champions sudah dipersembahkan sebagaimana yang pernah ia berikan ketika menjadi pemain dahulu.

Sejarah pun telah menambahkan bahwa Zizou adalah orang ketujuh yang mampu mengangkat tropi liga champions baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih bersanding dengan enam nama berikut: Miguel Munoz, Geofanni Trappatoni, Johan Cruyf, Carlo Anceloti, Frank Rikaard, dan Josep Guardiolla.

Dan di antara nama nama tersebut Zidane lebih berkilau karena di level negara ia pernah menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa bersama timnas Prancis. Selamat, Zizou dan kami masih menunggu torehan sejarah lainnya darimu. Gracias!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/05/29/dan-zidane-pun-memberi-bukti

Dongeng Itu Berjudul Liecester City FC

Ketika Peluit panjang tanda pertandingan berakhir antara Chelsea Vs Tottenham Hotspurs dengan skor akhir imbang 2:2 sontak seluruh pendukung setia The Foxes julukan leicester City FC bergembira meluapkan kepastian juara tim kesayangannya. Dengan hasil imbang tersebut Tottenham tak mungkin lagi mengejar perolehan skor Liecester sebagai pemuncak klasemen liga primer.

Sepanjang 132 tahun sejarah klub ini adalah titel juara pertama kali yang disandang oleh the Foxes. Tim yang mungkin tidak banyak terdengan selama satu dekade ini karena publik bola hanya tahu Chelsea, Liverpool, Arsenal dan Manchester United. Dengan kapasitas dana klub yang biasa karena bukan tergolong klub kaya yang punya tradisi juara, wajar bila the Foxes kurang familiar dengan penggemar bola. Dua tahun lalu siapa yang mengenal Jamie Vardy dan sekarang coba tanyakan pada penggemar bola siapa itu Jamie vardy.

Salah satu nama yang mungkin dikenal publik sepakbola dunia adalah sang pelatih Claudio Ranieri. Pelatih yang malang melintang di Liga italia maupun liga Spanyol ini bukanlah pelatih kelas rata rata. Ia sudah berpengalaman menangani klub dengan sarat pemain bintang namun belum pernah meraih titel liga,  tapi di klub sekelas liecester city yang gurem dan minus bintang malah menjadikan dia mendapatkan titel liga.

Dunia sudah disuguhi dongeng oleh Claudio Ranieri semenjak pertengahan tahun lalu pada saat itu ketika grafik yang mengesankan dari beberapa pertandingan liecester city. Ketika akhirnya samapai di puncak publik pun masih tidak percaya dan menganggapnya ini hanyalah sebuah kebetulan belaka seperti yang sudah sudah.

Ketika grafik yang ditampilkan the Foxes tidak pernah surut publik dan khususnya klub klub besar liga inggris sudah terlambat menyadari karena pada hakekatnya tidak ada yang tidak mungkin di Sepak bola. Dan liecester membuktikan adgium tersebut bahwa minus bintang dan dana bukan alasan sebuah klub untuk berprestasi karena olah raga adalah ketrampilan yang mesti dibuktikan di medan laga bukan oleh besarnya dana klub maupun besarnya nama pemain bintangnya.

Selamat! Jamie Vardy, Kasper Schmeichel ( kamu mengikuti jejak ayahmu bersama MU ), boss Claudio Ranieri dan tentunya seluruh punggawa the Foxes Anda Layak mendapatkan titel juara itu karena kalian adalah satu satunya tim dengan tampilan paling konsisten dan impresif di Liga Inggris musim ini.

http://guslitera.blogdetik.com/2016/05/03/dongeng-itu-berjudul-leicester-city-fc

Messi dan Pencapaian yang Tak Sempurna

Malam itu tanggal 13 Juli 2014 di stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil semua mata tertuju kepada sosok kecil yang terdiam meski di sekitarnya riuh rendah keramaian Tim Jerman yang merayakan Juara Piala Dunia. Bahkan sorotan kamera sering menuju ke ekspresi wajahnya. Ia terdiam tidak bahagia walaupun ditangan kanannya tergenggam bola emas tanda trophy pemain terbaik turnamen piala dunia sepakbola tahun 2014 di Brazil. Ia sedih dan juga tatapannya kosong, “ gelar individu bukan obsesi saya, ” itulah kata yang terucap dan banyak dikutip media, sesekali tampak ia mengusap airmatanya. Sejatinya ia ingin Argentina Juara itulah obsesi terbesarnya.

 

Messi adalah fenomena luar biasa di sepakbola dunia. Dengan postur yang tak lazim karena terlalu pendek untuk ukuran Amerika Latin maupun Eropa, Ia menyihir lawan lawannya lewat gocekan gocekan mautnya. Karena postur inilah ia sering disamakan dengan kompatriotnya terdahulu yang sama sama pendek di tim Argentina yaitu sang legenda; Maradona. Gaya permainan mereka nyaris sama yaitu mengandalkan keahlian dribbling untuk menguasai permainan lawan.

 

Sejak tahun2009 hingga tahun 2012 Messi selalu terpilih sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA. Dan tadi malam Messi terpilih lagi sebagai pemain terbaik dunia untuk yang kelima kalinya setelah selama dua tahun yaitu 2013 dan 2014 direbut pesaing utamanya, Christiano Ronaldo. Untuk pencapaian kualitas individual mustahil mencari orang yang meragukan kemampuan Messi. Ia adalah contoh sempurna dalam urusan mengolah si kulit bundar.

 

Meski ia telah meraih segalanya pengamat masih menganggap kurang lengkap dengan apa yang telah dicapai oleh La Pulga atau si Kutu ini. Meski perlu diingat bahwa messi sudah pernah membawa Tim Nasional Argentina Juara Dunia di level Junior di tahun 2005 dan juga pernah membawa Argentina meraih medali emas di olimpiade Beijing tahun 2007. Pencapaian yang tidak semua pemain bintang bisa menikmatinya.

 

Cacat prestasi yang bisa disematkan ke Messi adalah belum bisa membawa Tim Tango julukan untuk Tim senior Argentina menjuarai event Major sepakbola yaitu Copa America dan World Cup. Biar bagaimanapun permainan sepakbola adalah permainan tim yang mengutamakan kerjasama bukan kualitas seorang bintang. Di tim Tango Messi tidak mempunyai rekan yang sepadan untuk bisa mengisi   dan melengkapinya.

 

Lain cerita dengan yang terjadi di tim Barcelona, Messi yang sejak kecil sudah berlatih di Akademi sepakbola La Masia di Barcelona dengan rekannya di tim Barcelona seolah menyatu dengan rekan setim di Barcelona. Apa yang terjadi, Barcelona menjadi tim Luar Biasa. Tim yang selalu menang dengan permainan atraktif dan tentunya dominasi sihir dari kaki kiri Leonel Messi. Hampir semua turnamen disapu bersih oleh Barcelona di era Pep Guardiola.

 

Argentina bukan Barcelona yang sudah menjadi rumah bagi Messi. Di tim Argentina ia harus belajar memahami karakter rekannya, kesukaannya, dan di posisi mana rekan itu berada ketika ia sedang membawa bola. Barcelona dengan messi seolah saling melengkapi dan itulah yang terjadi. Ketika semua pemain Barcelona menjadi tulang punggung Timnas Spanyol dengan sedikit tambahan dari klub lain spanyol pun merengkuh Juara Eropa dan Juara Dunia.

 

Meski selalu dianggap pencapaiannya tak lengkap, publik sepakbola dunia mengamini suguhan kualitas individu seorang Lionel Messi setelah hilangnya Pele, Maradona, Ronaldo, dan Zinedine Zidane. Dan tentunya keputusan FIFA takkan pernah dicela karena malam itu di Zurich Swiss Ballon d’Or kembali ke pangkuan Messi.Congratulation! Leo.

guslitera.blogdetik.com

 

Hadirmu Premiere league Terancam Menjemukan, Guardiola.

Josep”pep” Guardiola adalah pelatih yang selalu ditunggu kiprahnya di liga liga elit Eropa. Ia sudah membuktikan merajalela dengan tim Barcelona melalui teknik permainan “tika taka” yang menghibur sekaligus selalu membawa  kemenangan. Tidak banyak tim yang bisa selalu menang sekaligus menghibur secara permainan- Dulu mungkin Ajax Amsterdam bersama Johan Cruiff dan era Van Gall . Guardiola mampu membuktikan itu, bahwa kemenangan itu harus disertai dengan penampilan yang menghibur.

Di era Guardiola “El Barca” sebutan kesebelasan Barcelona, menjadi tim yang fenomenal dengan model permainan dari kaki ke kaki yang indah namun mematikan. Ketrampilan pemain Barca seolah berasal dari planet lain. Mereka membuat tim sekelas Manchester United seolah menjadi tim ayam sayur ketika berjumpa dengan mereka di Final Liga Champions. Pemain Manchester hampir tidak pernah menyentuh bola ketika berhadapan dengan mereka di final tahun 2009. Pada tahun Barca menyapu bersih seluruh kompetisi resmi antar klub sepakbola Eropa dan dunia. Luar Biasa.

Namun ada kejemuan di benak penggemar sepak bola akan dominasi Barca di kancah Eropa dan di La liga Spanyol. Kompetisi menjadi jelas tergambar siapa yang akan menjadi juaranya. Real Madrid sebagai pesaing utama hanya memberikan satu dua kejutan untuk merebut juara itu pun hanya di Piala raja (Copa Del Rei).

Apa yang terjadi di Spanyol pun sekarang terjadi di liga Jerman (Bundesliga). Ketika Guardiola memutuskan pindah ke Bayern Munchen tiga tahun lalu semua pengamat sepak bola seolah meminta pembuktian apakah Guardiola bisa menaklukan Liga Jerman. Apakah ia sanggup menaklukan para bintang Bayern yang baru saja merengkuh Piala dunia dengan Tim Nasional Jerman. Pertanyaan itu kini terjawab sudah dengan penampilan Bayern Munchen yang seolah olah melaju sendirian di Bundesliga. Dan lagi lagi kompetisi terasa begitu menjemukan bagi para penikmat bola karena aura persaingan yang tidak lagi terasa dengan begitu superiornya anak asuh Guardiola.

Meski Tidak merengkuh liga Champions, Barcelona bersama Bayern mampu merebut titel Juara Piala Toyota, dan Double Winner di ajang kompetisi domestik, suatu pencapaian yang fantastis. Pep Guardiola ternyata sanggup menjinakkan para pemain bintang Hollywood Fc. julukan bayern yang terkenal keras kepala.

Tahun depan guardiola sudah memutuskan hengkang ke Manchester City. Tim rival sekota Manchester United itu adalah tim yang beruntung meminangnya di tengah persaingan beberapa tim elit Eropa Lainnya. Semua bos tim elit eropa tersebut berharap Guardiola bisa menjadi nahkoda kesebelasannya namun Guardiola sudah menentukan pilihannya pada The Citizen julukan Manchester City.

Kita tunggu kiprah Pep untuk membuat Premiere League menjadi tambah kompetitif atau malah menjemukan dengan begitu mendominasinya anak asuh Guardiola itu nantinya.

Namun kita jangan terlalu pesimistis, liga inggris selalu menyajikan persaingan ketat hingga akhir kompetisi. Guardiola sudah mampu membuktikan dirinya  bersama Barcelona dan Bayern munchen. Namun, sukses dengan Manchester City,  tunggu dulu karena banyak faktor untuk bisa menjadi manajer sukses di tanah Inggris.

Sejarah telah mencatat bahwa kebanyakan tim tim Inggris yang sukses di negerinya maupun di Eropa dan dunia sebut saja Liverpool dan Manchester United adalah tim tim yang dilatih oleh orang Inggris Raya ketika mereka merajalela dalam kompetisi sepakbola eropa dan dunia.

Biar bagaimanapun tantangan sudah diambil Josep Guardiola dengan memutuskan berkiprah di premiere League dan kita tunggu saja kiprahnya. Akankah ia mampu membuat kompetisi paling panas di Dunia itu menjadi menjemukan? Silahkan menunggu.