Jangan Keliru Jalan Pulang

Dalam hidup berumah tangga akan selalu ada persoalan baik kecil maupun besar. Semuanya adalah pelangi dalam kehidupan kita yang kadang cerah kadang berawan. Selalu berusaha untuk menikmati setiap kemunculan pelangi dan siapkan selalu matahati.

Dalam berumah tangga banyak sekali percekcokan, mulai dari salah piring waktu makan harusnya yang ini tapi istri memberi yang itu. Atau salah cangkir waktu istri sediakan kopi. Atau yang paling sering suami istri cek cok soal kostum saat mau kondangan, hehehe.

Dari situ kadang timbul pertengkaran,ya..karena kita manusia punya egoisme dan segala alasan yang kadang membuat ati gak enak alias badmood. Ujung ujungnya eker dan berkepanjangan ekernya.

Menjadi Suami istri adalah memilih untuk hidup yang penuh tantangan, makanya kita dijanjikan masuk surga lebih dulu, sedangkan orang single belakangan. Mungkin orang jomblo/single tidak punya tantangan hidup..(ojo protes para jomblo..)

Bisa kita bayangkan dalam hidup berumah tangga seseorang harus berdampingan bertahun tahun dan dilarang untuk bosen. Itu kan tantangan dan hanya orang kreatif saja yang bisa mengolahnya menjadi hal baru baru baru dan tidak menjemukan.

Lha kita bersahabat saja kadang masih ada bosenya padahal itu cara berdampingan yang palling asik. Nah dalam berumah tangga tentunya lain lagi.

Ada komitmen untuk sabar, dan kuat hati karena pasangan menikah itu lebih jujur mengungkabkan kondisi sejati pribadi masing masing. Beda dengan pacaran yang lebih banyak jaimnya alias Fake Character. Nah saat menikah orang akan lebih los bersikap toh kita bersikap di depan pasangan yang legal formal, hak milik kita. Beda dengan pacaran.

Nah, di antara friksi friksi kecil itu, menikmati adalah jalan terbaik untuk setiap pasangan. Dan satu hal yang pasti bila kita masih ingin berpelangi dallam berumah tangga, satu kesalahan yang harus dihindari di antara banyak kekeliruan yang saya sebut di atas adalah Jangan keliru jalan untuk pulang.

Selamat menikmati hidup yang berpelangi.

Iklan

Sudahkah Kita Terliterasi?

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah membuat kita lebih sering mengakses informasi, dengan kata lain kita dikepung dan dipaksa menerima informasi. Sampai sampai membludaknya informasi tersebut membuat orang bingung mana yang dapat dipercaya dan bisa dipakai manfaatnya.

Kini, asal sesuatu itu tertulis di media dan kita bisa membacanya sekaligus mengonsumsinya, tak peduli apakah informasi tersebut berguna atau tidak kita bisa mengonsumsinya. Seolah kita diserang dengan berjuta data untuk kita gunakan meski seringkali kita bingung mau menggunakan informasi yang mana yang tepat untuk kita.

Literasi Informasi adalah syarat utama memasuki dunia banjir informasi. Ini dikarenakan karena Literasi Informasi mampu membuat kemampuan seseorang untuk menyadari kebutuhan informasi dan saat kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang diperlukan, mengorganisasikan dan menggunakan informasi tersebut untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan.

Literasi Informasi berkaitan dengan pemakaian informasi secara efektif dan efisien. Di era media online yang semakin berkembang kemapuan literasi informasi menjadi penting agar kita tidak kebanjiran informasi sampah. Dan yang lebih fatal lagi apabila kita termakan hoax.

Berdasarkan hal tersebut di atas, literasi bukan hanya soal membaca. literasi lebih luas cakupannya karena literasi menunjukkan kemampuan seseorang dalam mencari informasi, dimana lokasi informasi tersebut dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengatasi persoalan setelah dievaluasi secara matang.

Seseorang yang terliterasi mempunyai tiga syarat minimal hingga seseorang tersebut dianggap terliterasi.

Pertama, Sesorang harus bisa mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Ketika membutuhkan suatu data terkait dengan keputusan yang diambil orang tersebut harus bisa secara cepat menetukan lokasi keberadaan di mana informasi tersebut berada. Di tahap ini, penguasaan lokasi tempat dan cara informasi didapatkan mutlak harus diketahui.

Kedua, ketika informasi sudah didapatkan, orang tersebut harus bisa mengidentifikasi dan mengevaluasi secara kritis apakah informasi tersebut bisa dipercaya dan mempunyai nilai guna untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. Apakah informasi yang didapatkan sudah sesuai dengan kebutuhan?

Ketiga, apabila sudah dirasa valid dan dapat dipercaya, orang tersbut harus mampu menggunakan informasi tersebut secara kreatif dan akurat. Dengan kata lain orang tersebut harus mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengembangkan kompetensinya agar mudah mengatasi persoalan hidupnya. Diharapkan dengan kreatifitas baru dapat ditemukan informasi baru yang melengkapi informasi yang didapatkan sebelumnya.

Dengan standar minimal di atas bisa dikatakan bahwa seseorang sudah bisa dianggap terliterasi dan bisa melakukan proses belajar sepanjang hayat secara mandiri. Di era internet ini sekedar tahu bukan lagi membawa manfaat bagi seseorang. Yang lebih penting adalah apakah kita bisa menggunakan informasi itu untuk mengembangkan potensi pribadi kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Sudahkah kita terliterasi?

Kertas Masih Ada

Mencatat adalah salah satu cara merekam informasi untuk suatu diingat (dibaca) kembali. Sejak ditemukannya kertas, peradaban menjadi lebih mudah dicatat untuk diingat. Kertas telah menjanjikan kepraktisan sebagai media untuk menyimpan tulisan.

Keberadaan kertas menjadi sarana yang mudah untuk menuangkan tulisan maupun gambar. Ini memudahkan seseorang untuk mengingat kembali apa yang tersimpan di memorinya. Mereka menyadari keterbatasan memori yang dimilikinya sehingga menciptakan cara untuk membantu daya ingatnya dan kertas menjadi pilihan alternatifnya.

Dengan keterbatasan ini maka untuk memudahkan menemukan ide kembali apabila terlupa adalah dengan menuliskannya. Sebelum ada kertas, orang menulis dan menggambar menggunakan pada media yang bisa digores baik itu, daun, kulit hewan maupun tumbuhan dan batu batuan. Semua media itu sulit untuk dibawa ke mana mana karena tidak praktis.

Dengan alasan ketidakpraktisan beberapa media penulisan itulah, seorang cendekiawan Cina, Cai Lun, berfikir untuk menemukan alat yang bisa dipakai untuk mencatat sekaligus ringan dibawa kemana mana.

Sampai sekarang menulis dengan media kertas masih menjadi pilihan bagi banyak pelaku budaya. Peradaban bisa tersimpan dan disebarkan dengan mudah saat kertas tercipta. Sebuah penemuan luar biasa karena bisa bertahan hingga sekarang. Media kertas adalah wujud timeless (tak tergusur waktu) teknologi.

Saat kertas pertama kali ditemukan dan bisa dijadikan media untuk menulis dan menggambar, hasil hasil budaya lebih praktis untuk dibawa dan semua orang menjadi mudah mengakses pengetahuan. Mereka tidak harus berjalan ke rumah cendekiawan karena sang cendekiawan sudah menuliskan ilmunya di kertas yang bisa dibaca kapan saja dan di mana saja.

Saat kertas memainkan perannya sebagai alat tulis, eksklusivitas kulit dan prasasti di batu batu memudar. Kepraktisan kertas sebagai bahan yang bisa menampung informasi baik tulisan maupun gambar secara tidak langsung memancing tersebarnya informasi dan pengetahuan ke segala penjuru di mana manusia itu berada.

Karena Kertas Tak Butuh Diperparui Teknologinya

Mengapa kertas bisa bertahan begitu lama hingga memasuki millennium kedua ini? Tak lain Karena kertas tidak perlu diperbarui cara penggunaannya. Kita bisa langsung menuliskannya asal ada alat tulisnya. Selain itu, untuk mengetahui apa yang terekam dalam kertas kita tidak perlu alat bantu mesin teknologi informasisebagai sarana bantunya.

Kita bisa secara langsung membacanya dengan mata kita. Bahkan yang buta pun kini sudah terbisa membaca informasi di media kertas itu sejak ditemukannya huruf Braille.

Keberadaan kertas yang begitu krusial sebagai media untuk menulis membuat kita harus mengendalikan ketersediaan bahan bakunya. Penggunaan kertas sebagai pembungkus dan alat kebersihan tubuh (tissue) harus diminimalkan.

Kulit kayu adalah sumber utama kertas. Dengan semakin menipisnya hutan tidak kecil kemungkinan kertas bisa tergusur dari peradaban bukan karena tidak diperbarui lagi atau tak bisa digunakan lagi akan tetapi alasannya adalah punahnya bahan pembuat kertas itu sendiri.

Kertas Hemat Energi

Kertas juga tidak menawarkan ketergantungan pada sumber energi listrik saat digunakan sebagai media menuangkan tulisan. Kita bisa menuangkannya langsung asal kita bisa menulis. Di manapun dan kapanpun kertas siap dipakai tanpa kita harus susah mencari colokan listrik. Sama sekali berbeda dengan mesin tenologi informasi yang masih tergantung pada sumber energi listrik.

Dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi kertas masih bisa terus bertahan. Teknologi mempunyai kekurangan di antaranya adalah ketergantungan antar elemen satu dan lainnya. Suatu misal saat kita mau mencatat kita harus menggunakan perangkat lunak tertentu namun beberapa tahun kemudian ternyata perangkat lunak tersebut sudah tidak bisa dijalankan dengan Komputer tipe terbaru.

Kekurangan utama perangkat digital adalah keharusan kita untuk selalu memperbarui sistimnya. Sedangkan kertas tak perlu diperbarui agar bisa tetap digunakan untuk menulis maupun dibaca tulisannya. Kepraktisan kertas inilah yang tak ditemukan pada perangkat digital.

Dalam media kertas, kata kata yang ditulis di beberapa abad lalu masih bisa kita lihat dan memungkinkan untuk bisa untuk kita baca.

Perangkat digital hanya dalam hitungan bulan kadang bisa macet karena kita harus memperbarui sistim yang digunakannya. Inilah yang membuat pengguna informasi masih memegang dan setia pada penggunaan kertas mengingat kemudahan dan minimnya ketergantungn pada mesin untuk menggunakannya.

Memang teknologi menawarkan kecepatan, akan tetapi kertas nenawarkan keamanan dan daya guna yang lebih lama.

Strategi Penggunaan Kertas

Untuk itu mengurangi penggunaan kertas pada hal hal yang tidak perlu menjadi cara bijak untuk melestarikan kertas karena bahan bakunya lambat laun semakin menipis dan kemungkinan bisa hilang.

Mulai menggunakan kertas hanya untuk hal hal yang berkaitan untuk melestarikan peradaban adalah salah satu cara mengurangi pemborosan bahan baku kertas. Kertas hanya diperuntukkan khusus untuk kegiatan literasi dan hal hal yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan; untuk buku dan media gambar lainnya.

Sebagian dari kita masih ingin lebih lama berinteraksi dengan kertas. Kita menikmati aroma kertas saat kita membaca. Inilah yang tidak bisa kita dapatkan bila kita mengakses informasi dengan perangkat digital meskipun alat tersebut menjanjikan kecepatan.

Ada keterlibatan kognisi dan emosi saat kita membaca tulisan yang tersimpan di media kertas. Aroma kertas dan sentuhan membolak balik lembar kertas adalah interaksi yang melenakan; itulah kelangenan.

Kertas masih diandalkan untuk mempertahankan kelangenan dalam membaca. Kita masih ingin suasana sublime dalam membaca tanpa diganggu cahaya yang dipancarkan dari layar perangkat digital kita. Kertas Masih ada asal kita masih merindukan kelangenan dalam membaca.

Menulis Di Kertas Masih Menjadi Pilihan

Menulis adalah salah satu cara merekam informasi untuk suatu saat diingat (dibaca) kembali. Meski kini perkembangan teknologi informasi menawarkan alat dan media yang canggih sebagai media untuk menulis, kertas masih menjadi pilihan utama untuk menuangkan ide lewat tulisan.

Sebelum ada kertas, orang memakai media untuk mencatat pada media seperti kulit hewan, kayu, dan kadang kain sutra yang harganya terlalu mahal. Semua itu tidak praktis dan makan biaya.

Dan sejak kertas ditemukan, pengetahuan bisa lebih mudah dicatat untuk diingat. Kertas telah memudahkan informasi untuk ditransformasikan.

Orang menyadari dengan keterbatasan daya ingat yang ia miliki, maka untuk memudahkan mengingat kembali tersebut, maka orang harus menulis.

Sampai sekarang, menulis dengan media kertas masih menjadi pilihan bagi banyak pelaku budaya literasi. Informasi bisa tersimpan dan disebarkan dengan mudah saat dituliskan.

Kertas, sebagai media untuk menulis, adalah sebuah penemuan luar biasa karena bisa bertahan hingga sekarang. Media kertas adalah wujud inovasi teknologi yang bisa dikatakan timeless (tak tergusur terbatas waktu).

Saat kertas ditemukan dan bisa dijadikan media untuk menulis dan menggambar, hasil hasil kerja budaya lebih praktis untuk dibawa dan semua orang menjadi mudah mengaksesnya. Mereka tidak harus berjalan ke rumah cendekiawan karena sang cendekiawan sudah menuliskan ilmunya di kertas yang bisa dibaca siapa saja. kapan saja, dan di mana saja.

Kepraktisan kertas sebagai bahan yang bisa menjadi media untuk menuangkan informasi, baik tulisan maupun gambar, secara tidak langsung memancing tersebarnya informasi dan pengetahuan ke segala penjuru di mana manusia itu berada.

Karena Kertas Tak Butuh Diperbarui
Mengapa kertas bisa bertahan begitu lama digunakan sebagai media menulis hingga memasuki millennium kedua ini? Karena teknologi pemanfaatan kertas sebagai media untuk menulis tidak perlu diperbarui tiap waktu sebagaimana produk teknologi lainnya. Hal ini terjadi karena untuk mengetahui apa yang tertulis dalam kertas kita tidak perlu alat bantu mesin teknologi informasi lainnya.

Kita bisa secara langsung membacanya dengan mata kita. Bahkan yang buta pun kini sudah terbisa membaca informasi di media kertas itu dengan menggunakan huruf Braille.

Kita semua berharap keberadaan kertas jangan sampai punah atau hilang karena masih banyak pemakai/pengguna informasi yang lebih suka menggunakannya sebagai media untuk menulis. Salah satu alasannya adalah karena kertas tidak menawarkan ketergantungan pada mesin atau teknologi perangkat lunak lainnya.

Kertas juga hemat energi karena tidak tergantung pada sumber energi listrik saat digunakan sebagai media untuk menulis. Kita bisa menuangkannya langsung asalkan kita bisa menulis. Di manapun dan kapanpun kertas siap dipakai untuk menulis dan semua bisa melakukannya tanpa harus menguasai alat canggih dan cukup dengan pena.

Hal tersebut sama sekali berbeda dengan mesin tenologi informasi yang masih menawarkan eksklusivitas penggunanya yaitu dengan menguasai perangkat lunaknya.

Produk teknologi yang bisa berfungsi sebagaimana kertas mempunyai kekurangan mendasar yaitu adanya ketergantungan antar elemen satu dan lainnya. Suatu misal, saat kita mau mencatat kita menggunakan perangkat lunak tertentu namun beberapa tahun kemudian ternyata perangkat lunak tersebut sudah tidak bisa dijalankan dengan komputer tipe terbaru.

Ditambah lagi produk teknologi mempunyai kekurangan yang sangat mendasar yaitu adanya kebutuhan untuk selalu memperbarui sistimnya.

Kertas tak membutuhkan peningkatan teknologi pendamping atau perangkat lunak lainnya agar bisa bisa dibaca. Kepraktisan kertas inilah yang tak ditemukan pada produk teknologi informasi lainnya.

Dalam media kertas, tulisan yang ditulis beberapa abad lalu masih bisa kita lihat dan memungkinkan untuk bisa kita baca. Dan mesin teknologi tak mampu untuk bisa seperti kertas karena mereka harus mengikuti perkembangan zaman jika tak mau dikatakan usang.

Perlu kita sadari bahwa, produk teknologi informasi hanya dalam hitungan bulan kadang bisa macet karena kita harus memperbarui sistim yang digunakannya.

Produk teknologi yang baru selalu muncul dan inilah yang membuat pengguna informasi masih memegang teguh dan setia untuk memakai kertas sebagai media tulis menulis.

Memang teknologi menawarkan kecepatan, akan tetapi, teknik dan cara penggunaannya pun turut berkembang yang membikin sebagian orang malas untuk itu. Mereka tak mau disibukkankan dengan aneka macam cara untuk sekedar menulis dan membaca.

Teknologi digital pun rawan hilang dan tidak aman sedangkan kertas nenawarkan keamanan dan daya guna yang lebih lama.

Sebagian dari kita masih ingin lebih lama berinteraksi dengan kertas. Kita menikmati aroma kertas saat kita membaca. Inilah yang tidak bisa kita dapatkan bila kita mengakses informasi dengan mesin meskipun mesin menjanjikan kecepatan.

Ada keterlibatan emosi saat kita membaca informasi yang tersimpan di media kertas. Aroma kertas dan sentuhan membolak balik lembar kertas adalah interaksi yang melenakan; itulah kelangenan.

Untuk mempertahankan kelangenan dalam membaca tidak ada lain adalah menjaga kelestarian kertas yang menjadi elemen penting terjaganya sebuah hasil peradaban

Berbaik Sangka Untuk Menepis Hoax

Ada dua kebenaran dari pihak yang dituduh dan yang menuduh. Mari kita menyikapi kabar kabar ini dengan jeli karena kita adalah negara demokrasi yang menganut bahwa hukum adalah di atas segalanya dan semua pihak berkedudukan sama di muka hukum.

Mari kita percayai bahwa negara ini tidak semua dikendalikan oleh orang buruk. Andaikata kita percayai bahwa semua pengendali negara ini bermental buruk tentunya negeri kita sudah ambruk. Hukum tetaplah kita percaya sebagai pengadil yang meski banyak dihuni para oportunis duniawi. ada sedikit mungkin orang baik yang masih bisa memberi warna akan kebaikan.

Mari kita pasrahkan bahwa keadilan dunia yang mungkin tidak bisa kita raih lantaran hukum yang penuh kepentingan masih ada pengadilan tuhan yang lebih Adil dan Maha memberi keadilan. Jauhkan segala prasangka buruk dan selalu mengeksplorasi kebaikan orang lain.

Menjadi orang yang selalu awas dengan kebaikan orang lain itu menentramkan. Jangan sibuk mencari cari keburukan orang karena di zaman ini keburukan orang lain berlalu lalang tak karuan di media sosial. Selalu kritis dan jangan latah menebar isyu yang tak pasti adalah jalan menjadi pribadi berpendirian teguh.

Hilangkan sikap mencurigai satu sama lain. Kita perlu untuk saling mendorong dan mengangkat harkat kemanusiaan kita menjadi manusia yang santun ramah dan suka bekerja sama.

Artikel Lengkap klik di sini

Mari, dengan rasa rendah hati, berdoa dan selalu berkhusnuzon agar apa yang kita sangka baik betul betul terjadi menjadi sebuah kebaikan. Hilangkan prasangka buruk karena itu hanya akan menyakiti hati kita.

Karena yang Tertulis Lebih Dipercaya

Dalam komunikasi lesan distorsi informasi tidak bisa dihindari. Informasi yang berpindah secara tutur mempunyai resiko berkurang atau berlebihan. Validitas informasinya menjadi bias. Berbeda dengan informasi yang disampaikan dengan tulisan. Dalam tulisan informasi menjadi lebih mempunyai reliabilitas. Dan orang lebih percaya pada yang tertulis daripada apa yang disampaikan lewat omongan.

Kertas telah mengubah sejarah bukan lagi mitos yang disampaikan lewat dongeng sebelum tidur. Jejak peradaban itu kini terekam dengan apik. Sejak adanya kertas bukti kegiatan kehidupan sebagai sebuah bangsa menjadi nyata. Dokumen dokumen menjadi saksi kegiatan manusia di masa lampau. Sejarah bercerita sebagaimana adanya dokumen itu tercipta.

Dengan dituliskan, sejarah bukan lagi bualan para pelakunya. Tulisan telah menghentikan bumbu bumbu informasi yang kerap muncul saat diobrolkan.

Baca juga: Kertas mengikis komunikasi lesan

Kebudayaan adalah olah rasa dan karsa yang memperkaya nurani. Kertas memainkan peranan tidak kecil dalam melestarikan peradaban. Karena dengan kertas kita merekam segala olah rasa dan laku kita untuk bisa di baca generasi berikutnya. Jejak jejak informasi pada kertas itulah yang nantinya menelurkan pengetahuan saat dibaca ulang dan diinterpretasikan anak cucu kita kelak.

Kertas telah menjadi juri yang adil bagi tukang cerita. Cerita cerita yang dikisahkannya kini telah ada dalam tulisan. Tulisan menjadi dasar otentisitas sebuah informasi dan menjadikannya abadi. Dan membaca, sekali lagi, lebih berarti dibandingkan mendengar bualan yang tak ada bukti.

Literasi Sekolah Menjawab Tantangan Zaman

Sekolah sebagai tempat menumbuhkan semangat pembelajaran sepanjang hayat. Bisa jadi inilah tantangan terbesar sekolah dalam mencetak kader bangsa.

Biar bagaimanapun sekolah haruslah menyenangkan sehingga warganya menjadi warga yang selalu haus informasi dan pengetahuan. Sekolah jangan malah mematikan semangat tersebut karena terlalu kaku dengan aturan aturan yang menakutkan.

Memang sekolah adalah tempat mendidik sekaligus mengajar bagi guru, namun membuka dan menumbuhkan antusiasme untuk belajar itu saya rasa lebih utama. Siswa harus menikmati suasana sekolah yang pada akhirnya menumbuhkan semangat berekemajuan baik ruhani maupun fisiknya. Sekolah harus tanggap dengan masivnya serbuan informasi yang bisa diakses siswanya dengan membekalinya dengan ilmu memilih dan memilah informasi itu.

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah membuat kita lebih sering mengakses informasi, dengan kata lain kita dikepung dan dipaksa menerima informasi. Sampai sampai membludaknya informasi tersebut membuat orang bingung mana yang dapat dipercaya dan bisa dipakai manfaatnya.

Kini, asal sesuatu itu tertulis di media dan kita bisa membacanya sekaligus mengonsumsinya, tak peduli apakah informasi tersebut berguna atau tidak kita bisa mengonsumsinya. Seolah kita diserang dengan berjuta data untuk kita gunakan meski seringkali kita bingung mau menggunakan informasi yang mana yang tepat untuk kita.

Menjawab tantangan ini, sekolah harus bisa menyajikan sumber informasi yang kredibel yang bisa diakses oleh warganya sehingga mereka terbiasa kritis karena kebiasaan membaca yang tinggi. Selain itu, di lingkungan sekolah dibiasakan juga untuk menulis agar bisa berfikir terstruktur dan memudahkannya memahami sebuah bacaan yang telah dikonsumsinya.

Literasi Informasi adalah syarat utama memasuki dunia banjir informasi. Ini dikarenakan karena Literasi Informasi mampu membuat kemampuan seseorang untuk menyadari kebutuhan informasi dan saat kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang diperlukan, mengorganisasikan dan menggunakan informasi tersebut untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan.

Literasi Informasi berkaitan dengan pemakaian informasi secara efektif dan efisien. Di era media online yang semakin berkembang kemapuan literasi informasi menjadi penting agar kita tidak kebanjiran informasi sampah. Dan yang lebih fatal lagi apabila kita termakan hoax.

Berdasarkan hal tersebut di atas, literasi bukan hanya soal membaca. literasi lebih luas cakupannya karena literasi menunjukkan kemampuan seseorang dalam mencari informasi, dimana lokasi informasi tersebut dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengatasi persoalan setelah dievaluasi secara matang.

Seseorang yang terliterasi mempunyai tiga syarat minimal hingga seseorang tersebut dianggap terliterasi.

Pertama, Sesorang harus bisa mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Ketika membutuhkan suatu data terkait dengan keputusan yang diambil orang tersebut harus bisa secara cepat menetukan lokasi keberadaan di mana informasi tersebut berada. Di tahap ini, penguasaan lokasi tempat dan cara informasi didapatkan mutlak harus diketahui.

Kedua, ketika informasi sudah didapatkan, orang tersebut harus bisa mengidentifikasi dan mengevaluasi secara kritis apakah informasi tersebut bisa dipercaya dan mempunyai nilai guna untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. Apakah informasi yang didapatkan sudah sesuai dengan kebutuhan? di sini kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu bisa dilihat jika ia mampu menyederhanakannya dalam sebuah tulisan.

Ketiga, apabila sudah dirasa valid dan dapat dipercaya, orang tersbut harus mampu menggunakan informasi tersebut secara kreatif dan akurat. Dengan kata lain orang tersebut harus mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengembangkan kompetensinya agar mudah mengatasi persoalan hidupnya. Diharapkan dengan kreatifitas baru dapat ditemukan informasi baru yang melengkapi informasi yang didapatkan sebelumnya. Proses inilah yang menjadi sintesa saat orang tersebut menuliskannya kembali.

Dengan standar minimal di atas bisa dikatakan bahwa seseorang sudah bisa dianggap terliterasi dan bisa melakukan proses belajar sepanjang hayat secara mandiri.

Di era internet ini, sekedar tahu, bukan lagi membawa manfaat bagi seseorang. Yang lebih penting adalah apakah kita bisa menggunakan informasi itu untuk mengembangkan potensi pribadi kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Tentunya itu semua bisa dilakukan jika kita mampu menuliskannya kembali dan dapat dikonsumsi orang lain.

Last but not least, Sekolah adalah sebuah ekosistim pembelajaran tentunya selepas dari situ mental pembelajar haruslah semakin tumbuh bukan malah teralienasi dengan informasi pada saat warganya lepas ke dunia yang sesungguhnya. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan adalah tantangan untuk menciptakan masyarakat yang terliterasi.

Pengetahuan bukan lagi sekedar hafalan namun menuangkan kembali menjadi sebuah tulisan adalah sarat pertama seseorang dianggap terliterasi. Mampukah sekolah kita menjawab tantangan itu?