Wage dan Pak Saripnya

Setiap hari hari pasaran biasanya pasar tradisional akan terlihat ramai. Wong Ciran akan selalu merindukan Pasar Wage. Dulunya saya nggak mengerti kenapa setiap pasar ramai pedagang kok disebut pasar wage. Ternyata saat itu pasarannya tepat hari Wage.

Ada hari hari pasaran dalam kalender Jawa, yaitu, wage, Kliwon, Legi, Pahing dan Pon. Nah pasar Paciran akan kedatangan aneka macam pedagang saat pasaran hari Wage.

Pedagang baju, sandal, buku, dan aneka poster serta stiker

Juga ada pedagang kacamata, asesoris, dan yang paling kita tunggu adalah pedagang obat

Ada salah satu pedagang obat tradisional yang selalu kita tunggu saat Wage

Ia adalah Pak Sarip. Dia ini selalu menjajakan obat dengan bahan dasar Ular. Semua macam hasil olahan ular mulai dari daging, minyak, dan aneka turunan lainnya ia racik menjadi obat segala macam penyakit. Mulai dari sakit gigi, linu linu, dan penyakit kulit.

Mat Klobot sering mengajakku ke Pasar Wage pada saat itu. Waktu itu di tahun 80-an Pak Sarip sangat menarik perhatian kami. Dengan membawa ular hidup dia akan membuat pengunjung.pasar wage berkumpul mengerubuti lapaknya.

“Ojo parek parek dicokot, mboh lho!” Mat klobot mengingatkanku saat itu. Maklum aku yang masih kecil pasti belum mengerti bahaya ular

“Dicokot iwak, dientup kalajengking, koreng, kudis gawa rene jablasss,” itulah wara wara yang sangat khas dari Pak Sarip. Dengan membawa Toa ia terlihat paling atraktif menawarkan dagangannya.

Pak Sarip pun punya bukti dengan khasiat obatnya. Dirinya adalah bukti, di mana giginya masih utuh, badannya pun tegap meski sudah berumur.

“Ambune….nyuegrak, yo, Har minyake pak Sarip,” kata Mat Klobot waktu itu saat ia diolesi pak Sarip ketika ada kudis di tangannya.

“hiyo e…” aku mengiyakan sambil ikut minta dioles karena sedang canthengen salah satu jariku.

Pak Sarip adalah ikon Pasar Wage wong Ciran.

Selain Pak Sarip biasanya yang ramai adalah pedagang poster. Mulai poster sepakbola hingga artis India ada. Kadang kadang juga menjual buku picisan, karya Fredy S dan Enni Arrow. Mat Klobot sering mengajakku ke sana untuk menukar novel yang telah dibacanya. Anehnya saya nggak pernah diijini saat mau membaca novel itu.

Untuk jujugan anak pondok ada pedagang kitab sekolah dan buku buku bacaan. Biasanya sudut ini ramai dikunjungi oleh para kutu buku. Nama pedagangnya kalau nggak salah Maftuh.

Pasar Wage akan makin ramai bila tiba bulan Ramadhan. Yang ini biasanya rejeki pedagang sandal dan pakaian. Mereka seolah mendapat berkah ramadhan kadang sampai kehabisan.barang.

“Wong Ciran selalu menanti saat Wage karena zaman itu kita masih belum bisa belanja di Mall. Dan lagi…. ketika wage los pasar akan uyel uyelan dan itulah saat kita cari cari senggolan. Meski tidak beli kalau bisa nyenggol kembang desa rasane kok Plong……” kenang Mat Klobot.

“Iso ae, Kang…kang…” jawabku sambil mringisss.

Iklan

Efek Ekonomi Buntut Panjang Atta dan Ricis

Tahun 2004 Chris Anderson mengutarakan istilah ini pertama kali. Long tail ( buntut panjang). Saya lebih suka menyebut buntut dari pada ekor karena lebih presisi untuk mengulas fenomena Long tail. Ya, kehadiran istilah long tail ini tak bisa dilepaskan dengan apa yang kita jalani dan lakukan, internet.

Penjelasan sederhananya akan fenomena “buntut panjang” ini adalah bahwa permintaan akan produk-produk dagangan baik jasa maupun barang tidak lagi menjadi monopoli dari penyedia utama, besar dan konvensional. Ambil contoh misalnya video dulu hanya bisa dibuat lewat rumah produksi dan dijajakan di gerai pemilik modal besar dan konvensional yang tidak semua orang bisa punya akses ke sana misalnya, Televisi atau Film.

Kini orang butuh video bisa dari siapa saja tidak harus dari rumah produksi bonafit atau populer karena cukup dengan surfing di youtube orang bisa memilih dan memilah video mana yang ia harapkan. Dengan memanfaatkan keadaan ini dibidang apapun kita bisa menjadi produser.

Produk-produk yang kita buat bisa kita tawarkan melalui pasar maya yang tak berbatas ruang dan waktu. Meski kita tidak berada pada posisi di muka atau atau yang utama dalam bisnis tertentu dan meski kita berada pada posisi buntut pun produk kita masih beresiko diketahui oleh konsumen. Banyak produk produk kreatif lainnya yang bisa kita mainkan dan kita tempatkan pada buntut yang sangat panjang ini.

Apakah kita suka menulis, menggambar, bermusik dll. Kita sudah berartisipasi dalam pasar buntut panjang bila kita sudah berkarya dan kita sosialisasikan lewat internet. Apa yang dicapai oleh Muhammad Attamimi Halilintar (Atta) dan Ria Ricis (Ricis) dua youtuber yang berhasil menembus di atas 10 juta Subscriber adalah hasil dari betapa efektifnya internet menyajikan mata rantai bisnis dalam banyak pilihan.

Apa yang telah ditunjukkan oleh Atta dan Ricis adalah kegigihan dua orang netizen yang berusaha berkarya dan berpartisipasi untuk masyarakat. Mereka hanya menyajikan apa apa yang dibutuhkan masyarakat dan sepenuhnya menyerahkan dari buntut panjang ekonomi ini.

Mereka sudah mengira bahwa di luar sana ada banyak jutaan netizen yang membutuhkan saluran alternatif yang dirasa sesuai dengan karakter mereka. Dua youtuber ini menyerahkan apa yang mereka hasilkan sepenuhnya kepada pasar buntut panjang ini. Dengan satu keyakinan pasti ada konsumen yang menemukannya karena pintu yang ditawarkan pasar buntut panjang ini.

Buntut panjang ini telah melahirkan banyak pilihan bagi penjual maupun pembeli. Bagi penjual. mereka memanfaat kebutuhan orang yang begitu banyak macamnya serta beraneka pula karakternya. Mereka akan datang dari berbagai macam latar belakang suku, ras, dan usia. Dan yang pasti ada selera laten yang tidak dibayangkan seperti apa.Inilah kejutan dari fenomena buntut panjang.

Di sisi konsumen mereka akan mempunyai banyak pilihan dari sesuatu yang mereka butuhkan tanpa harus dikooptasi oleh penjual arus utama. Mereka akan mencari sesuatu yang sesuai dengan karakter mereka yang dirasakannya sangat gue banget. Inilah hal hal yang tak bisa mereka dapatkan dari penjual besar.

Kegiatan perekonomian semisal jual beli sudah tidak lagi membutuhkan (Ruang) yang disebut pasar. Pasar sekarang sudah ada di mana-mana dengan semakin berkembangnya internet.

Ruang virtual telah menggantikan pasar yang sesungguhnya. Para pedagang kaki lima di era internet yang diakses dengan mudah dan murah ini tidak lagi membutuhkan trotoar jalan untuk menjajakan dagangannya. Beberapa situs belanja online bertebaran di dunia maya. Dari yang menjajakan Buku, mesin, alat kecantikan dan barang keperluan lainnya ada lapaknya di dunia maya. Toko toko virtual itu berlomba-lomba menawarkan dagangan di dunia maya. Mulai dari perang harga sampai adu cepat pengiriman barang mereka tawarkan ke konsumennya.

Bukankah dulu, sangat sedikit kesempatan orang untuk bisa mengetahui karya kita karena kita tidak bisa masuk ke pasar utama. Mereka, pelaku pasar utama ini, mendominasi semua akses pemasaran. Mustahil yang tidak bermodal besar bisa berpartisipasi untuk meriuhkan pasar. Kini dengan adanya internet muncullah pasar berbuntut panjang ini. Anda bisa menempel di ujungnya meski yang paling buncit pun masih beresiko untuk laku dan ditemukan oleh konsumen.

Konsumen sekarang pun sudah tak melulu memfavoritkan pasar arus utama karena mereka menyadari ada produk lain di luar pasar utama yang bisa mereka gunakan juga. Garis lurusnya adalah kualitas produk yang ditawarkan. Produk produk berkualitas masih akan ada peminatnya karena pasar sudah mempunyai buntut sangat panjang.

Bagaimana kita, netizen, memanfaatkan fenomena buntut panjang ini adalah dengan mengubah pola pikir kita bahwa kita semua mampu terlibat bahkan terpaksa harus terlibat dalam percaturan ekonomi karena pasar sekarang bukanlah monopoli para pemodal besar, populer, dan ngetren. Akhirnya perlu kita sadari bahwa semua yang terlibat dalam internet bisa menjadi hits. Bagaimana? Anda mau.

Dimuat di geotimes: Fenomena Long tail

Mat Klobot, Tidak Ada Mercon Karbitpun Jadi

Menarik dan menyenangkan bila mengingat tahun tahun 80 an di Paciran. Terlebih lagi bila memasuki suasana posonan alias bulan Ramadhan. Wong ciran punya kebiasaan merconan, atau main petasan. Salah satu yang paling asyik jika sedang main mercon pendem.

Mercon pendem adalah petasan yang berbahan dasar karbit sebagai bahan peledaknya. Semua sudah tahu karbit yang saya maksud, kan, itu lho bahan kimia padat yang bahunya sangat menyengat dan biasanya dipakai untuk Ngimbu buah. Ngimbu yaitu menyimpan buah dengan cara dibungkus kain dan ditambahi karbit agar membuat buah cepat matang.

Nah, untuk membuat mercon pendem meledak dan mengeluarkan bunyi, karbit diletakkan pada penampung air yang bisa masuk ke liang tersebut, di dalam liang atau lubang ini, karbit dan air bereaksi mengeluarkan uap yang dimampatkan di dalamnya karena liang itu ditutup dengan gombal alias kain perca.

Bentuk mercon pendem ini adalah liang yang memanjang seperti got tapi pendek dan ditutup atasnya serta berlubang di satu sisinya. Di sisi atasnya ada lubang kecil sebagai penyulutnya. Nah kalau kesulitan membayangkan, cara kerja mercon pendem ini seperti meriam yang kita lihat di film film zaman kerajaan mataram dan VOC.

Menurut Mat Klobot, saat jandonan di salah satu gubuk tempat ngobrol, dulu yang memiliki mercon pendem paling besar, adalah anak anak seputar Pondok pesantren karangasem. Besarnya mencapai tiga meter dan dibunyikan saat menjelang sahur dan ketika akan berbuka puasa. “Saat itu suaranya nglokor sampai ke dusun tetangga saking besarnya mercon pendem yang mereka buat saat itu,” Mat Klobot mengenang sambil mengingat nama nama temannya saat itu.

“Dulu yang jual karbit, untuk merconan, hanya Wak Ar, Man Kalil, dan Man Mukin. Serta Man Suwanan. Mereka inilah pemilik toko klonthong yang menjual segala macam barang saat itu. Aku paling seneng nukokno karbit kanggo cah seloji iku mergo mercone gedhe,” begitu Klobot mengisahkan.

Karena membuat mercon pendem sangat mudah dulu tiap halaman kosong dan nggupitan pasti ada satu atau dua mercon pendem dengan ukuran kecil. Biasanya yang main ini anak anak setingkat SD. Seringkali mereka membuatnya tidak kokoh dan jungkat atau pecah terangkat ke atas saat hasil proses perngarbitannya sempurna dan berbunyi dengan tekanan luar biasa.

Selain mercon pendem juga ada mercon bumbung, yang terbuat dari bongkotan atau panglal bambu. Cara kerjanya hampir sama cuma bedanya mercon pendem di buat di dalam tanah.

Memang pada tahun itu petasan konvensional dengan kertas dan bubuk petasan masih jarang ada yang menjual di Paciran. Hanya yang kerja di kota dan mudik ke Paciran saja yang punya.

“Dulu, kalau tidak Kaji Solikin dan Samsudi yang membawa dari Jakarta, kita pun nggak akan bisa meniati mercon renteng kaya wong Betawi,” Mat Klobot mengenang dua juragan ikan yang dia pernah ikut kerja pada kedua orang tersebut. Keduanya ini orang kaya di Desa kami dan sering membawa mercon renteng untuk dibunyikan saat hari raya di komplek Jagorawi.

Jagorawi adalah sebuah blok di Ciran yang terkenal dengan kreativitas anak mudanya. Mereka memulai musim break dance, Radio amatir, dan membuat event event yang menarik seluruh warga untuk menikmatinya. Cah Jagorawi yo terkenal pinter main musik meski saat itu masih kecil kecil. Pokoke…nyuoto mbek temenan hasile.

“Selain merconan yang lebih asik lagi adalah gambusan yaitu main musik keliling sepanjang jalan kampung saat malam-malam bulan Ramadhan. nah mengenai yang satu ini aku duwe crito akeh,” janji Mat Klobot.

“Lha pe rendi lho..kok kesusu, bae?” tanyaku…

Teka teki Watu Tumpang di Paciran

Sudah sejak lama batu itu menumpang di atas gundukan batu cadas, di sisi utara kampungku. Oleh Wong Ciran, batu itu, disebut Watu Tumpang. Besarnya sebesar gerobak truk kira kira.

Di bawah gundukan batu itu, berjajar rumah rumah penduduk. Seandaiya batu itu jatuh hancurlah deretan rumah penduduk itu. Anehnya, meski hanya numpang hampir jatuh tapi batu itu kokohnya minta ampun.

Dulu, pernah mau dipindahkan oleh penduduk karena dianggap berbahaya tapi, saat itu, bergeser pun tidak, meski ditarik orang sekampung. Katanya sih ada penunggunya, kata siapa lagi kalau bukan kata Mat Klobot.

“Penunggunya pernah ngomong, jika batu ini dipindah, rumah penduduk di bawahnya hingga ke Timur mendekati Masjid kampung harus hancur,” ujarnya suatu ketika saat aku memegang kaleng benang layangannya. Saat itu aku masih kecil. kira kira SD kelas empat. Nah entah dari siapa Mat Klobot tahu tentang penunggu Watu Tumpang, aku kurang jelas juga.

Ya, di Watu Tumpang adalah tempat paling strategis untuk ngunjukno layangan (main layang layang). Dari atasnya, pemain layang layang bisa melhat lebih leluasa ke seluruh desa Paciran.

Sebebarnya ada tiga Batu Tumpang, di desaku, satu di utara jl Daendels, Njar Nggunung, kedua adalah Gunung Pendil, dan yang ketiga berlokasi di ngalas njati Sebelah Barat sumur Galalo sekitar dua kilo meter dekat Desa Kandang Semangkon.

Bila pembaca menuju Pesarehan Sunan Sendang Duwur, dan melewati jalan sebelah timur, di sebelah kiri jalan akan melihat batu yang kokoh numpang di sebuah bukit serta bentuknya mirip kendil, itulah Gunung Pendil.
Dan tentang ini Mat Klobot pernah bercerita bahwa batu itu adalah kendil berasal dari Ratu Kalinyamat, dekat Demak, yang tertinggal ketika hendak dihadiahkan ke Sunan Sendang Duwur.

Dan yang ketiga, Batu Tumpang yang di ngalas Njati posisinya pun persih numpang di bukit dan besarnya hampir sama dengan yang dua tadi. Saya tahunya karena diajak Mat Klobot ke sana saat mau bakar jagung ndek ngalase Kastalim.
Bila kita berdiri di atasnya kita bisa melihat hamparan Ngalas Ndrowali yang landai dan lapang, seperti hamparan gurun lemah abang saat musim ketigo.

Bila kita tarik garis dari ketiga batu tersebut, akan terbentuk sebuah segitiga dan Ciran, tepat berada di tengah tengahnya. Entah rahasia apa kok bisa seperti itu atau hanya sebuah kebetulan belaka?

Mungkin dahulu pernah ada yang meletakkannya karena batu itu bukan berada di tempat yang lazim, aneh memang.

Mungkinkah ada sesuatu di Paciran hingga lokasinya ditandai dengan tiga Watu Tumpang itu. Harta karunkah atau apa?

Perihal siapa yang meletakkan batu tersebut, jangankan aku, sedangkan saat perihal ini kutanyakan pada si serba tahu, Mat Klobot, ia hanya longa longo sendiri gak bisa berkata apa.

Mat Klobot Alumni Ciran Tulen

Berbicara tentang sekolah, Desa Paciran termasuk desa dengan katagori desa pendidikan. Meski lokasinya di Pantura, Sejak tahun tahun awal kemerdekaan di sana sudah ada lembaga pendidikan. Bahkan kini, semua tingkat pendidikan dari Playgroup hingga Perguruan tinggi ada.

Nah, Mat Klobot termasuk produk asli pendidikan desanya. Dari mulai TK hingga kuliah ia peroleh melalui lembaga pendidikan di desanya. Ia tergolong Wong Ciran tuwuk. Asli produk ciran dewe, makane kadang kadang yo ono mletene.

Di tengah obrolan di warung rakyat, yang dikelola Mas Mundhu ketua Karang Taruna desanya, ia menceritakan riwayat pendidikannya pada temanya Sik Dul. Wong Ciran selalu memberi sandang Sik di depan nama orang, misalnya, Sik da, Sik Nur, Sik Min, Sik Dar dll.

“Dul, saiki Sik Taipur itu di mana kabarnya?” tanyanya pada Sik Dul yang sedang ngopi di warung rakyat sore itu.

“Iku konco sekolah kawit cilik, puintere rapakat, cah iku,” ia melanjutkan.

Taipur adalah salah satu warga desa kami yang kini jadi Dosen di Jakarta. Ia terkenal ahli nahwu shorof ilmu yang melegenda di desa kami.

Hampir semua orang luar desa kami mengagumi kemampuan ilmu alat bahasa arab itu. Bahkan di Pondok gontor orang orang desa kami merajai untuk ilmu yang satu itu.

“Kabare saiki golek Master nang Arab, Mat. Mbuh Mekah mbuh Madinah gak pasti,” jawab sik Dul.

“Koncomu kabeh dadi wong, kon kok klumbrak klumbruk ngono Mbot…klobot, piye ngunuku.”

“Ha ha ha nyantai, Nda…kabeh sing sukses sukses iku pas isih sekolah nyontoh aku, lho….,” ia tak mau kalah.

“Kon gak percaya tho kalau pas PGA aku iki juara kelas lho…, tapi wong pinter iku akeh tapi nasibe beda beda. Kudu ngerti ilmu iso ditiru tapi garis tangan seje seje,” Mat Klobot meyakinkan Sik Dul.

Ya di tahun 60an 70an di Paciran ada PGA setingkat smp atau Mts yang muridnya banyak dari luar desa. Alumninya banyak yang mewarnai pendidikan di Lamongan juga Jawa Timur, bahkan Indonesia mungkin.

Di antara alumninya itu ada yang jadi rektor IAIN, Kyai Pesantren, kalau sekedar juru dakwah mungkin dari sabang sampai merauke. Di tahun ketika pak M. Natsir jadi ketua Dewan Dakwah pemuda desa kami banyak yang keluar pulau jadi Da`i.

Kalau jadi pengasuh pondok juga banyak, mulai ujung wetan jawa sampai ujung kulon mungkin.

Mat klobot nylethuk lagi kepadaku yang kebetulan nyimak terus obrolan mereka, “Kalau untuk urusan ahli ahli wong Ciran akeh sing duwe, Ahli ilmu Falak, Jawa Timur adalah wong Ciran, Alm Kyai Salamun. Ada lagi Ahli ilmu Al quran, Alm. Kyai Abdurrahman Syamsuri, beliau ini juri MTQ Nasional tiap tahun. Ada juga juga Kyai yang suka menulis, yaitu Kyai Husein Syarqowi, salah satu bukunya Uluk Salam. Ia banyak mengajarkan ilmu Tarekat. Juga ada pak Munip Musthofa ahli ilmu nahwu shorof yang muridnya ribuan.

Dan masih ada juga Kyai Ridwan Syarqowi, saudara Kyai Husein yang termasuk pelopor pendidikan madrasah di Paciran.”

Aku kaget juga mendengar cerita Mat Klobot, dan bangga juga Ternyata Wong Ciran iku pelopor literasi sejak dulu.

Aku dan Gus Ipul Di Hari Pers Nasional

Meski bukan insan pers, ada kenangan yang tak bisa dilewatkan begitu saja saat Hari Pers Nasional (HPN). Waktu itu peringatan dilakukan di Lamongan dan sebagai ketua Panitianya adalah Jirin, dari Surabaya Pagi.

Acara waktu itu dihadiri Wagub yang baru terpilih yaitu Gus Ipul, saya lupa tanggalnya, dan saya diminta untuk membuat karikatur tentang gus Ipul.

Melalui seorang teman, yang sekarang sudah Alm, Adi Cahyono, saya bisa berhubungan dengan panitia saat itu dan kenal dengan Mas Jirin.

Selama dua hari saya hunting foto dengan gesture yang pas dengan karakter Gus Ipul. Akhirnya saya menemukan wajah dengan senyum yang khas mewakili Gus Ipul, sebagaimana ilustrasi di atas.

Sebenarnya sih saya bukan karikaturis, cuman seneng nggambar. Untuk menggambar wajah, saya biasanya menggambar tokoh tokoh yang punya karakter khas karena wajah seperti itu mudah di jadikan karikatur. Kebetulan sekali saat itu saya diminta untuk nggambar Gus Ipul jadi agak mudah.

Selain itu saya juga sering menggambar wajah temanku yang kebetulan ulang tahun. Karena gak punya uang sebagai hadiah ya paling aman buat sketsa wajahnya dan itu lebih personal.

Sebenarnya saat itu saya membuat karikatur wajah tiga tokoh, selain gus Ipul. Mereka adalah Bupati dan Wakil Bupati Lamongan saat itu.

Ya, meski gak mirip mirip amat, tapi karakter wajahnya sudah muncul dan bagiku dan itu sudah cukup.

Melihat Cara tertawa Gus Ipul di foto di atas saya rasa dia puas dengan hasil gambaran saya. hehehe.

Itulah sedikit kenangan yang saya punya bersama insan pers lamongan. Selamat Hari Pers Nasional untuk rekan rekan jurnalis semua. tetep netral, kritis dan ingatlah anda bekerja untuk pembaca bukan pemilik media. Begitu Bill Kovac menyitir dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme.

## Kalau mau pesan Karikatur ke Saya boleh tapi saya akan mengiyakan jika wajah Anda Punya karakter khas lho…Soal harga gampang….hahaha..

Persekutuan Jahat Pejabat dan Pengusaha

Korupsi tak pernah mati. Hampir tiap hari kita membaca berita kasus tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penangkapan penangkapan itu tak membuat pelakunya menjadi jera. Malah membabi buta.

Bahkan hampir seluruh anggota DPRD di salah satu Kabupaten/kota di Jawa Timur terkena kasus korupsi. Bukankah ini luar biasa karena korupsi malah dilakukan dengan berjamaah.

Kenapa korupsi seolah tak mau pergi dari negeri ini. Ternyata akar masalahnya adalah terjadinya kongkalikong antara uang dan kekuasaan. Uang ingin memperoleh kekuasaan dan kekuasaan dijadikan untuk mendatangkan uang. Klop sudah.

Pernyataan semakin menguatkan pernyataan bahwa power tend to corrupt. Karena terjadi penyalahgunaan fungsi antara uang dan kekuasaan inilah akhirnya korupsi hadir dan terus menggoda para pelaku pelakunya.

Baca Juga: Akar Korupsi

Pelaku utama dari kedua unsur tadi adalah pejabat dan pengusaha. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua aktor utama itu selalu menjadi tokoh sentral jika terjadi kasus kasus korupsi yang ditangani oleh KPK.

https://gusliterabokreview.wordpress.com