Cerita Tentang Cinta yang Sepele

Cerita Tentang Cinta yang Sepele

Ada yang menganggap cinta itu romantis dan indah. itu tidak salah karena orang yang mengalaminya kadang seperti mabuk minuman; melayang.

Tapi cinta itu sebenarnya remeh dan sepele. Itu hanyalah persepsi luar biasa dari sebuah hubungan antara dua makhluk laean jenis.

Seandainya saja saat menjalin hubungan itu kita bisa melepaskan persepsi dan ekspresi biasa maka rasa cinta itu pun tak lebih hanya dialog belaka.

Menangis dan tertawa bagi yang alay akan ada seribu makna namun bagi orang lugas itu hanya cara hati menampakkan wujudnya.

Iklan

Semua Orang Menyimpan Masa Lalu

Menarik bahkan cenderung mengagetkan mendengar dan melihat kisah perseteruan Mario Teguh dan Ario Kiswinar yang mengaku sebagai anaknya. Publik seakan tak percaya bahkan ragu bagaimana seorang Mario Teguh sang motivator ternyata juga mempunyai masalah dalam kehidupannya. Kata kata dari sang motivator yang selam ini mendamaikan dan lugas dalam menyikapi persoalan seakan menguap begitu saja. Tapi biar bagaimanapun bukan permasalahn itu yang akan kita ulas tetapi bagaimana masa lalu seseorang bisa mengubah orang itu menjadi lebih baik atau buruk.

Selama ini mungkin kita meyakini bahwa kehidupan seorang Mario Teguh itu lempeng lempeng saja. Kita  mengambil kesimpulan seperti itu mengingat bagaimana kiprah seorang Mario Teguh dalam  memeberikan solusi kepada setiap orang dengan begitu simpel dan mudah dijalaninya. Namun, itu ternyata semata mata karena Mario Teguh sudah banyak makan asam garam kehidupan bukan karena hidup yang mudah tapi bagaimana menjadikan yang sulit menjadi mudah, Mario Teguh sudah menjalaninya.

Bagaimana kita menyimak pengakuan Mario Teguh tentang Aro Kiswinar yang mengaku tidak dianggap sebagai anak oleh Mario Teguh adalah wujud kebijaksanaan yang dilakukan seorang Mario Teguh. Ia mengaku sebagai orang yang pernah gagal dalam berumah tangga. Sebagai Motivator tentunya pengakuan itu akan menjatuhkan kredibilitasnya namun ia dengan santai bercerita tentang hal itu dengan berjiwa besar. Mario Teguh seolah melakukan apa apa yang telah dikatakannya dalam setiap acaranya.

Mungkin, bagi kita, seharusnya bisa menarik pelajaran bukan dari perseteruan antara Mario teguh dan Ario Kiswinar tetapi bagaimana kesempurnaan saat ini itu sebenarnya tidak pernah lepas dari hikmah hikmah jejak masa lalu seseorang itulah pelajarannya. Kita semua punya masa lalu baik itu buruk maupun yang baik dan itu akan selalu melekat di benak kita sebagai kaca benggala.

Pilihannya adalah apakah kita akan terjebak dalam labirin kesalahan masa lalu ataukah kita memilih cahaya yang akanmembuat kita meninggalkan masa lalu yang buruk itu. Tidak ada orang yang sempurna, semua punya masa lalu dan bukan sebuah sikap yang bijaksana jika kita selalu mengungkit masa lalu seseorang di saat orang itu sudah berhasil mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk saat ini ataupun saat mendatang. Kamu memutuskan memilih yang mana terjebak kenangan buruk atau merengkuh masa kini? semua terserah Anda.

http://guslitera.blogdetik.com/2016/09/19/semua-orang-menyimpan-masa-lalu

September Ceria Bersama Si Burung Camar

Di pucuk kemarau panjang

yang bersinar menyakitkan

kau datang menghantar

berjuta kesejukan

Setiap memasuki bulan September tak ayal lagi ingatan saya begitu familiar dengan sebuah lagu. Lagu yang dibawakan oleh penyanyi yang dikenal dengan sebutan Si Burung Camar: Vina Panduwinata. Ya, Salah satu lagu yang bikin kita begitu merasakan keceriaan bulan September. Judul lagu tersebut juga sesuai sekali dengan dengan namanya yaitu “September Ceria”. Imagi akan akhir kemarau begitu mengena dalam lagu ini. Akhir kemarau itu dalam lagu ini berubah menjadi kesegaran yang dibasahi oleh kedatangan seorang yang dinantikan.

Bulan September memang identik dengan kemarau baik secara tersurat maupun tersirat. Ada kekosongan dan mungkin  juga ada kesedihan di Bulan september namun apakah kita akan terlarut saja dengan kesedihan itu. Dalam tataran negara, Bulan September identik dengan peristiwa Gerakan 30 Septemper yang berujung dengan tewasnya tujuh Jendral Angkatan Darat. Mungkin dalam tataran yang lebih kecil september adalah kekeringan yang panjang bagi kaum petani.

Vina telah mengisi kita dengan optimisme di bulan september lewat suara khasnya. Tidak usah risaukan kemarau september karena kita bisa membuatnya lebih ceria dengan datangnya harapan dan impian kita. Tak perlu risaukan berita berita yang menyedihkan di bulan September toh sebelum bulan september kita sudah dihadiahi oleh pasangan ganda campuran tim bulu tangkis kita, Tontowi dan Liliyana Natsir, dengan sekeping emas olimpiade untuk Kado kemerdekaan kita.

September ceria..September ceria…

September ceria..September ceria …

Milik kita Bersama….

Mari kita sama sama berceria dengan  optimisme dan anugerah yang melimpah di negara kita tercinta. Tak perlu merisaukan harga, politik, dan urusan yang kadang kita sendiri nggak tahu ujung pangkalnya. Kita doakan Bapak Bapak yang terhormat untuk menjalankan roda pemerintahan negeri ini semoga amanah dan membawa berkah.

Mari bernyanyi bersama lagu “September Ceria” yang dipopulerkan oleh Mbak Vina itu. Dan selayaknya kita patut ceria bersama karena September Ceria milik kita bersama. Terima kasih mbak Vina telah menghadirkan lagu itu di tengah tengah kita. Mari Bernyanyi!

http://guslitera.blogdetik.com/2016/09/02/september-ceria-bersama-si-burung-camar?_ga=1.236399880.882420812.1468666157

Tidak Semua Berita Itu Valid; Verifikasilah dengan Teliti!

Media online memudahkan orang mendapat informasi/berita secara cepat dan mudah. Begitu banyak berita yang tersaji hingga kita, pembaca, kadang ragu dengan apa yang kita baca karena banyak berita yang isinya kontradiktif dengan kenyataan yang ada.

Menyiasati hal ini ada beberapa tip yang bisa saya bagikan pada pembaca bagaimana kita memverfikasi berita berita tersebut kebenarannya. Agar kegiatan membaca kita tidak hanya menghasilkan fitnah semata ada baiknya teknik saya ini bisa dipakai mungkin bisa sedikit jadi bahan referensi.

1. Untuk berita berita tentang baik buruk seseorang biasanya saya baca dari banyak sumber media online, apakah semua media tersebut memberitakan hal yang sama tentang pribadi orang tersebut. Bila ya maka berita tersebut kemungkinan besar sesuai fakta

2. Untuk berita yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan maka untuk memverifikasinya saya bandingkan dengan media yang punya kompetensi di bidang tersebut misal tentang lingkungan maka kita rujuk dengan situs National Geography kalau berkenaan dengan pelayanan pemerintah ya kita akses langsung dari situsnya lembaga pemerintahan tersrbut.

3. Validitas sumber penyedia berita biasanya adalah mereka mereka yang juga mempunyai media cetak selain online jadi berita berita yang disediakan situs yang dimiliki media cetak isinya lebih bisa dipertanggungjawabkan dan dari sumber yang kredibel

4. Untuk yang khusus media online yang saya rasa paling otoritatif dan kredibel baru portal berita detik.com ( bukan sponsor lho) alasan saya karena detik.com adalah pioner di bidang berita online. Kredibilitas dan sumbangsihnya untuk berita online sudah teruji.

Itulah empat teknik agar kita tidak mudah terpancing fitnah dan dapat ilmu yang salah dari media online. Salam literasi.

http://guslitera.blogdetik.com/2016/05/27/tidak-semua-berita-valid-verifikasi

Jangan Biarkan Anak Kita Bersikap Adigang Adigung

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
Tidak tengelam di masa lampau.
…………
Itulah Bait ketiga dari puisi ‘Anakmu Bukanlah Milikmmu” Karya Pujangga Lebanon Kahlil Gibran yang sangat kontekstual untuk memaknai kasus yang baru baru ini terjadi di Medan Sumatra Utara tentang seorang siswi SMA yang membentak seorang Polwan karena mengaku sebagai anak seorang Jenderal.
Kasus tersebut membuat penulis trenyuh akan pola pengasuhan orang tua terhadap anaknya. Sebagai orang tua kita memang akan selalu protektif terhadap anak anak kita namun bila itu membuat anak selalu berlindung di ketiak orang tua akan beresiko juga bagi anak tersebut. Resiko yang terjadi di kemudian hari adalah bahwa ia tidak akan selalu hidup dengan orang tuanya dan tantangan kehidupan yang ia hadapi tidak akan se zaman dengan apa yang dialami oleh orang tuanya.
Seorang anak akan melesat ke depan, Ia akan meninggalkan masa lalunya bersam orang tuanya tidak seharusnya orang tua membiarkan seorang anak adigang adigung ( selalu mengandalkan ) dengan apa yang dimilikinya saat ini ketika ia masih bersama orang tuanya.
Orang tua pun harus menyadari bahwa ia tidak bisa selalu bersama dengan anak anaknya. Mereka harus bisa memberikan bekal kepercayaan diri pada anaknya bahwa kelak ia akan menghadapi persoalan kehidupannya sendiri ketika tiba masanya. Jiwa manja dan ketergantungan anak pada kekuasaan orang tua harus bisa dilepaskan bila kita ingin melihat mereka dewasa dan menjadi pribadi yang mandiri.
Mereka, anak anak itu, mempunyai fikiran dan problem yang akan ia hadapi sesuai konteks zamannya. Tidak lah menjadi berarti bila Kita Orang tua memaksa mereka menjadi seperti kita karena apa yang kita hadapi berbeda dengan apa yang akan mereka hadapi di kemudian hari.
Hentikanlah pembelaan membabi buta bagi anak anak kita bila mereka mendapat persoalan di kehidupannya. Biarkan ia menyelesaikan sendiri dengan cara mereka karena itulah bekal sesungguhnya yang bisa kita wariskan, yaitu membiarkan mereka berkembang dan tumbuh sesuai dengan zamannya. Kita orang tua hanya mengarahkan dan mendukung di belakang di kala mereka jatuh. Tugas kita hanya memyemangati mereka untuk bangun dan bangun lagi di saat mereka terjatuh bukan menghakimi pada apa yang membuat mereka jatuh.
Jatuh bangun dalam kehidupan adalah tempaan bagi anak anak kita. Tanpa harus selalu membuat mereka manja, Kita dorong mereka dengan kasih sayang tanpa harus memanjakannya. Kesanggupan kita untuk melihat mereka kalah dan menang adalah penghargaan bagi mereka, anak anak kita. Ketika kalah rangkullah mereka dengan kasih sayang dan bisikan kata kata penyemangat untuk selalu berani terus mencoba dan mencoba.
Bila kita ingin anak anak kita tidak adigang adigung biarkan ia menyelesaikan persoalannya sendiri dan kesiapan kita melihat itu adalah bekal paling berharga untuk mereka nanti. Bagaimana?

Gerhana Hati Lebih Dahsyat Daripada Gerhana Matahari

Kejadian luar biasa tanggal 9 Maret kemarin begitu menarik perhatian masyarakat. Gerhana Matahari Total yang berlangsung pada hari itu di sebagian daerah di Nusantara telah membuat heboh begitu banyak orang sehingga banyak yang menyambutnya dengan berbagai macam upacara hingga sholat gerhana. Fenomena tertutupnya matahari oleh bulan sehingga bumi nampak gelap di siang hari itu memang layak dirayakan karena fenomena tersebut jarang terjadi dan akan terulang setelah ratusan tahun.

 

Hendaknya kita mawas diri bahwa diri kita sebagai manusia juga mempunyai cahaya yang menerangi setiap langkah kita. Cahaya hati dalam diri kita yang selalu menuntun ke jalan kebenaran harus kita jaga agar tidak mengalami gerhana sehingga membuat gelap  jalan hidup kita. Dalam jiwa manusia akan selalu ada baik dan buruk yang beredar dalam hati kita. Bila keburukan menutupi kebaikan itulah bukti telah terjadi gerhana hati di dalam jiwa kita.

 

Bila Gerhana hati sedang terjadi maka kita akan selalu redup, murung dan tak bersemangat bahkan cenderung menuju ke perilaku buruk yang akan menjerumuskan kita sebagai manusia. Kebaikan yang kita anggap sebagai cahaya tertutup oleh nafsu yang membawa ke hal hal negatif. Mensiasati hal tersebut kita harus bisa menjaga agar garis edar baik dan buruk dalam jiwa kita yang selalu bergerak laksana siklus jagad raya ini untuk selalu harmoni sesuai dengan garis edarnya.

 

Untuk menemukan harmoni itu kita harus selalu mendekatkan diri pada hal hal yang membawa kita untuk selalu dalam lindungan cahaya cahaya ilahi. Cahaya cahaya yang diberikan sebagai potensi manusia untuk selalu mencari dan menemukan penciptanya. Untuk itulah kita selalu dituntut untuk beribadah dan berbuat baik baik kepada sesama karena itulah tindakan tindakan yang meminimalkan terjadinya gerhana hati.

 

Sebagimana matahari yang nampak redup di siang hari ketika gerhana terjadi, hati juga akan redup dan gelap bila terjadi gerhana. Kemegahan cahaya matahari menjadi hilang dalam beberapa menit dan hati pun demikian akan hilang beberapa detik cahayanya yang membuat seseorang khilaf dan melupakan kodrat sebagai manusia sang khlaifah di bumi yang seharusnya memberikan kedamaian dan ketenangan di bumi.

 

Bila kita sebagai khalifah di bumi sudah tidak bisa memberikan kedamaian dan ketenangan pada sesama penduduk bumi bukankah dalam hati kita sudah mulai terjadi Gerhana? Masih ada kesempatan kita untuk menyingkirkan gerhana itu dengan menghilangkan benci, iri, dengki pada  sesama. Mari kita sama sama mencegah terjadinya gerhana hati di dalam diri kita  dengan selalu berfikiran berpositif pada orang lain karena fikiran positif adalah cahaya yang selalu menerangi hati kita.

http://guslitera.blogdetik.com/2016/03/11/gerhana-hati-lebih-dahsyat-daripada-gerhana-matahari-total

Ngeblog Berbeda dengan Menulis Status Medsos

Sekarang adalah era menulis. Hampir setiap orang menulis sesuatu dan mempunyai pembaca walaupun yang ditulis hanyalah satu kata atau satu kalimat atau satu paragraf. Pembaca itu adalah pengikutnya atau temannya di media sosial (medsos) yang selalu terhubung dan akan diberitahu bila temannya menulis. Menulis status apapun pasti akan nampak di halaman mereka. Dan kita tidak tahu konteks bagaimana proses status itu ditulis misalnya; iseng atau lebay atau mungkin juga pribadi.

 

Tulisan status itu sangat beragam mulai dari keluh kesah sampai ke hal hal yang sangat pribadi hingga ke hal hal remeh temeh misalnya hanya kata Aduh! Pun pasti dibaca dan biasanya ada komentarnya yang aneh aneh pula, kebanyakan. Ya, dalam kata lain status medsos adalah ungkapan kegalauan semata. Namun, jangan kita anggap kegalauan itu adalah nyata karena bagaimanapun di dunia virtual sebuah kenyataan itu masih perlu sejuta verifikasi untuk membuktikannya. Sah sah saja bila kita menanggapi sebuah tulisan yang sepertinya pribadi, namun dibalik itu mungkin ketika seseorang itu menulis status ia sedang menuliskannya sambil tertawa-tawa dengan temannya walaupun tulisan itu bernada sedih.

Dan banyak pula tanggapan terhadap status itu juga dilakukan dengan berembuk dengan teman-temanya. Maka patut dipertanyakan bila seseorang terlarut dalam saling berbalas tanggapan dalam status karena kedua belah pihak kadang tidak kenal secara pribadi namun bisa begitu emosional berbalas tulisan.

 

Lain cerita bila kita berinteraksi di internet melalui blog. Meski di blog memungkinkan pertemanan namun bentuk interaksi di blog adalah komen atau kritik tentang isi tulisan yang diterbitkan pemilik blog dengan sesama pemakai blog. Ini dikarenakan karena tulisan di blog banyak berisi tentang ide ide kreatif yang bersifat membangun dan berkemungkinan memunculkan diskusi. Tak jarang isi tulisan blog para blogger lebih ilmiah lebih bernas karena para blogger itu biasanya menuliskan apa yang mereka  kuasai dan ahli di bidangnya.

Dalam blog meski termasuk banyak  subyektifitasnya, tulisan tulisan itu lebih bermakna umum dan ada nilai nilai yang mungkin secara tidak langsung bisa dipakai oleh pembacanya.

Tak jarang blog blog yang bagus pun akhirnya dipakai oleh penerbit untuk dijadikan buku karena tulisan tulisan layak jual. Terlepas dari sisi komersial bahwa menulis di blog adalah sarana pembebasan bagi sedikit uneg uneg para pemilik blog tersebut. Karena dalam menulis adalah ketulusan bukan kekayaan yang menjadi alasan utamanya untuk menjadikan sebuah tulisan itu bernilai Abadi di benak pembacanya.

 

Itulah bedanya status medsos dan isi sebuah blog. Yang satu cenderung mengeksplore emosi (meski dalam taraf lucu lucuan belaka) dan yang satu lagi mengutamakan ide kreasi. Nah Anda pilih yang mana?