Ki Darsono

Bukit itu bagi warga desa kami adalah tempat terangker di desa kami. Di sekelilingnya dipenuhi pohon kajaran dan pohon mimba. Dan di tengah-tengah kerimbunan itulah terdapat satu buah kuburan yang sangat panjang. Kuburan itu tidak bernama hanya mempunyai sebuah penanda atau nisan. Desaku adalah kampung nelayan di pesisir utara Lamongan. Sebuah wilayah yang kebanyakan warga kampungya lebih banyak mendengar kisah kisah zaman penyebaran Islam oleh wali songo.

 

Aku dan teman-temanku seringkali dilarang oleh orang tua kami supaya jangan dekat-dekat dengan bukit itu yang oleh orang tua kami disebut punden. Tempat kuburan itu memang seperti gundukan piramid maka disebut punden. “jangan kau masuk ke punden kalau  tidak ingin kau jadi santapan banaspati!” hardik orang tuaku ketika mengetahui aku dan teman teman punya rencana mengejar layang-layang di sekitar punden . Karena letak punden itu di barat daya desa kami, maka seringkali ia menjadi tempat berlabuhnya layang-layang putus ketika angin sedang mengarah ke barat daya.  Biasanya, sehabis dluhur, angin di desaku akan berubah arah menuju barat daya setelah sebelumnya pada waktu pagi hari menuju ke laut. Pada saat itulah keramaian berebut layang layang putus terjadi seringkali sampai lupa waktu.

 

Pernah suatu kali aku tanyakan kepada kakekku perihal kuburan yang ada di punden tersebut. Dijawabnya bahwa kuburan itu ada sejak ia  masih kecil. Dan sejak dulu pun tidak ada yang tahu. Hanya ada sebagian yang meyakini kuburan tersebut adalah kuburan Ki Darsono. Tokoh yang dianggap sakti laksana wali di desa kami walaupun keberadaan kuburannya tidak ada yang mengetahui. Namun ada juga yang menganggap itu adalah kuburan cina karena dulu sebelah utara desa kami adalah tempat berlabuh pasukan tartar ketika hendak menyerang singasari.

 

Sebelum kyai Hambal mendirikan pondok pesantren di desa kami, bukit sentono, sering dijadikan tempat pemberian sesaji bagi warga sekitar desa kami. Ayahku sering mengatakan bahwa ketika masih muda dulu ia sering berebut sesaji yang berupa nasi tumpeng bersama teman-temannya ketika sedang istirahat mengejar layang-layang dan kebetulan ada tetangga desa kami yang kirim sesaji ke punden. Namun kegiatan mengirim sesaji itu telah hilang semenjak kyai Hambal mengatakan itu sirik dan dilarang oleh agama Islam.

 

Mengenai Ki Darsono ini sebenarnya ada cerita yang cukup membuatku bangga sebagai warga desaku, bahwa sebenarnya Ki Darsono yang dianggap sebagai sesepuh pendiri desaku adalah murid Syeh Siti Jenar yang mengasingkan diri dari   kekuasaan Demak yang penuh intrik kekuasaan. Ki Darsono adalah orang  yang telah menyebarkan agama islam di desaku. Menurut sebagian cerita orang orang tua di desaku sebenarnya Ki Darsono adalah seorang penggembala sapi yang alim. Caranya menggembala sapi pun unik, yaitu di mana ia singgah ia akan membuatkan sumur untuk minum sapinya. Cerita tentang  dan sumur itu selalu menarik ketika aku didongengi kakek maupun nenekku. Sumur itu masih bisa dijumpai sampai sekarang dan jumlahnya sebanyak tujuh buah. Namun, yang lebih meyakinkanku bahwa sumur itu adalah buatan orang alim adalah setiap kali  sumur itu ditembok atau direhab maka temboknya pasti runtuh. Seolah olah sumur itu tidak boleh dikuasai secara pribadi oleh warga desa kami.  Airnya pun tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.

 

Kalau muridnya seperti ini bagaimana dengan kemampuan gurunya? tanyaku seringkali ketika habis mandi di salah satu sumur peninggalan Ki Darsono. Kadang-kadang aku ragu apa benar Ki Darsono murid Syeh Siti Djenar yang katanya kafir oleh para Wali Songo tersebut. Mengapa warga desaku malah membabat habis setiap kepercayaan magis yang cenderung syirik kalau memang mereka merupakan keturunan murid Syeh Siti Jenar yaitu Ki Darsono. Aku sendiri sering takjub dengan kondisi keagamaan warga desaku terutama mengenai jumlah masjid yang berada di desaku yang jumlahnya ada sembilan. Dalam hati aku sering membayangkan betapa besar jasa Ki Darsono dalam menyemaikan benih benih keislaman di desaku. Dan aku rasa sebesar lautan di sebelah utara desaku.

Iklan

DILEMA SANG ARSIPARIS

“Sudah berulang kali aku beritahu aku nggak mau mencuri,” kataku pada istriku yang terus saja mengomel minta dibelikan kalung. Sudah satu minggu ini aku diomeli oleh istriku yang minta dibelikan kalung emas yang bobotnya tidak lebih dari dua gram. Bukanya aku pelit tapi aku memang tidak punya uang untuk membelikannya.

Sebagai pegawai negeri golongan dua yang gajinya hanya cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari, itupun dengan asumsi tidak ada yang sakit di antara anggota keluargaku, karena apabila ada yang sakit, dijamin gajiku bakal kurang. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil aku pun harus waspada terhadap segala bentuk rayuan barang-barang sekunder yang berusaha memoroti gajiku tiap bulannya.

“Mas, bu Edi tadi barusan cerita pada saya habis dari pasar pagi tadi, dia menunjukkan kalung yang dulu aku minta pada mas untuk membelikannya, akhirnya ia yang memilikinya. Padahal pak Edi kan sama golongannya dengan mas di PNS, sama-sama golongan dua,” Istriku mengadu sore itu padaku. Istriku memang belum menyadari betul-betul bahwa rejeki orang itu berbeda-beda walaupun toh sama jenis pekerjaannya. Pekerjaan bisa ditiru, cara bekerja bisa ditiru tapi urusan rejeki nanti dulu.

Apalagi ditambah jabatanku hanyalah seorang arsiparis yang bagi sebagian pegawai negeri sipil adalah pekerjaan yang sering diberikan pada orang-orang buangan di lingkungan kerjanya. Arsiparis hanyalah seorang penanggung jawab urusan kertas-kertas berdebu. Itulah yang disangkakan kebanyakan rekan-rekan kerjaku.

Pagi ini aku berada di kantor seperti biasa seolah tak ada masalah apa-apa di rumah dan memang urusan di rumah, tidak etis kalau dibawa-bawa ke kantor. Teman-teman juga demikian saling bergurau tentang hal yang jorok sampai hal yang kadang-kadan tidak bisa lagi untuk ditertawakan karena terlalu jorok.

“Nes, rambutmu basah sekali hari ini, berapa kali tadi malam kau bertempur, K.O ya,” Edi dengan senyum terkekeh menggoda Ines teman kantorku yang baru saja menjadi pengantin. Baru seminggu ia menikah dengan rekan sesama pegawai tetapi dari instansi yang berbeda. Ines yang digoda hanya bisa menjawab dengan tersenyum disertai muka yang memerah.

Selain Ines di kantorku juga ada lagi yang sering jadi bahan godaan yaitu Bu Sari yang memang terkenal genit walaupun sudah punya cucu. Tapi memang dasar orangnya agak lumayan juga untuk ukuran wanita paruh baya seperti Bu Sari. Rambutnya saja masih direbounding seperti gadis-gadis belasan tahun. Kebetulan juga ia belum genap satu tahun menjanda jadi rekan-rekanku di kantor makin semangat menggoda.

Bu Sari adalah pegawai buangan di kantorku. Dianggap buangan karena ia dimutasi ke tempat kerjaku yang terkenal kering. Ia terkena kasus penggelapan dana proyek dan untung tidak sampai di penjara karena keburu ketahuan rekan sesama kantornya. Memang di kantor orang sering lebih banyak berguraunya daripada bekerja, terlebih lagi kantor pemerintah.

Dan itulah efek dari penempatan pegawai yang tidak efisien apalagi untuk dikatakan efektif. Bisa dilihat dari contoh berikut, seorang insinyur harus menempati bagian dokumentasi sebuah institusi pemerintah yang berkaitan dengan dunia perpustakaan, hanya dengan alasan agar seorang pegawai berpengalaman di segala bidang. Ada lagi yang lebih lucu di mana seorang sarjana bahasa ditempatkan di bagian keuangan. Tapi itulah dunia lembaga pemerintah yang hampir sebagian besar pejabatnya mempunyai kredo yang manjur; ALA BISA KARENA BIASA, hebatkan.

Sedangkan aku memang sudah sejak semula ditempatkan di kantor kearsipan ini. Sebagaimana latar belakang pendidikanku yaitu alumni Diploma tiga Kearsipan dari sebuah Universitas di Yogyakarta. Pada mulanya aku membayangkan ketika pertama kali aku masuk diterima CPNS aku akan selalu bersinggungan dengan dunia arsip. Dunia yang membuatku jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan informasi. Namun, apa yang terjadi ketika aku mendapat sk penugasan dari kepala di Instansi tempat aku ditempatkan ternyata aku diperbantukan di bagian keuangan mendampingi seniorku. Bisa dibayangkan betapa terasingnya aku dengan pekerjaanku ketika pertama kali aku masuk dinas di pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil. Dan memang kegiatan administrasi keuangan lebih dipentingkan dan lebih banyak menyita waktuku dari pada dengan tupoksiku sebagai seorang arsiparis, yaitu mengelola arsip dan informasi.

Keadaan inilah yang membuatku repot, istriku menganggap suaminya ini adalah pengelola keuangan bukan pengelola arsip jadi bisa bisa mendapat penghasilan berlebih. Bagian keuangan tempat mengelola keuangan tentu banyak rekayasa yang berkaitan dengan rupiah. Sialan. Aku menyesali keadaanku sekarang yang semakin mendekatkan aku dengan dunia curi mencuri. Apes.

Sebenarnya urusan merekayasa nominal yang dalam istilah kerennya mark up sudah hampir bisa dikatakan lazim atau biasa. Biasanya alasan yang dikatakan teman-teman adalah tidak mungkin kalau kita hanya mengandalkan gaji untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Jadinya ya begitulah sejak Indonesia merdeka sampai sekarang ini mental pegawai ya begitu itu, harus pintar ngobyek dan patuh sama atasan.

“Begitu kita mendapat Nomor Induk Pegawai kita ini sudah masuk ke dalam lingkaran setan, Bud,” kata Deni seniorku ketika aku mencoba berkeluh kesah tentang perilaku pegawai negeri dengannya. Aku pun tidak menyalahkan atau membantah komentarnya.

“Kalau kamu tidak mau mencuri ya jangan jadi pegawai negeri, ngaji saja di rumah,” lanjutnya waktu itu.

Semenjak ngobrol dengan Deni itulah dibenakku sering timbul pertanyaan apakah semua pegawai yang korup suka mencuri uang anggaran kegiatan itu merupakan watak bawaan atau karena ada faktor lain, keluarga misalnya. Bisa saja karena gajinya kurang untuk menopang hidupnya. Sebenarnya gaji tersebut tidak kurang tapi habis hanya untuk membayar angsuran di bank sehingga yang dibawa pulang biasanya tinggal sepertiganya. Dan biasanya uang hutang itupun hanya untuk biaya konsumsi yang tidak penting.

Kenyataan yang ada pun banyak juga pegawai yang gajinya besar tapi masih saja mencuri alias korupsi. Kalau yang demikian ini aku termasuk salah satu orang yang menyangsikan bahwa untuk menghentikan korupsi di lingkungan pegawai negeri harus dengan jalan menaikkan penghasilannya. Karena kenyataan yang ada, korupsi disebabkan karena nafsu konsumtif yang menggebu-gebu lah penyebabnya.

Seperti halnya isteriku yang sebulan ini terus merengek minta perhiasan padahal ia sudah memakai perhiasan adalah wujud konsumtifisme buta yang menggoda suaminya untuk mencuri-curi uang tambahan. Sudah sejak pertama kali jadi pegawai aku sudah menyadari gaji yang akan kudapatkan hanya cukup untuk hidup sederhana selama sebulan dan sudah pula kusadari resiko kekurangan gajiku.itu.

“Sudahlah, dik, gajiku tidak cukup untuk kebutuhan sekunder itu, jangan memancing saya untuk mencuri uang kantor,” alasanku yang kesekian kali ketika ia terus menagih untuk dibelikan kalung.

“Masak kerja di Bagian Keuangan mas nggak dapat uang sampingan,” rengeknya bersungut-sungut.

“Sumber pendapatan kita hanya satu, lagian aku hanyalah seorang arsiparis bukan staf keuangan seperti yang kamu sangka, ya gaji itu, tidak ada yang lain, kamu kan masih memakai cincin mas kawin kita, itu kan masih pantas, tho .” bujukku.

Bila ku pikir-pikir apakah benar bahwa pejabat yang suka mencuri itu memang berwatak pencuri atau kah mereka mencuri karena sebab-sebab lain yang tak kuketahui, istri yang terlewat konsumtif misalnya. Atau mungkin mereka salah pergaulan, misalnya teman sehari-harinya ialah pengusaha kaya yang gaya hidupnya pasti perlu biaya tinggi, jadi kalau hanya sekedar mengandalkan gaji pasti ketinggalan dengan temannya yang pengusaha itu.

“Orang hidup itu perlu perhitungan matang. Baik dalam segi materi maupun non materi harus cermat mengelola hidup kalau tidak ya kita pasti kalang kabut.” Begitu petuah pak Imam ketika sore itu aku dating ke rumahnya untuk meminjam uang. Pak Imam adalah guruku SD ia terkenal sebagai pengusaha di desaku yang dermawan dalam memberikan pinjaman. Walaupu ia hanya lulusan SD tapi kegigihannya dalam bekerja sejak kecil menjadikannya ia sebagai pengusaha di bidang perikanan. Banyak pabrik di kota yang membutuhkan pasokan ikan darinya. Di sela sela kesibukannya sebagai guru ia masih mengurusi beberapa pengepul ikan yang menyetor ikan padanya.

“ Maaf, pak, anu….. gajiku habis, sedang bulan baru dua puluh hari berjalan,” jawabku ketika pak Imam bertanya tentang alasanku mau menghutang lagi padanya. Walaupun dengan bayak petuah yang membuatku merasa semakin mejadi orang bodoh saja pak Imam pasti memberiku pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari yang memang kurang, terutama bila ada anggota keluargaku yang kebetulan sakit.

Dengan perasaan campur aduk antara sedih dan lega, aku pulang ke rumah. Bayangan sakitnya anakku melintas terus di benakku. Langkahku semakin kupercepat. Tak lupa aku mampir ke apotik untuk membeli sirup penurun panas. Uang hasil pinjaman masih tersisa separuh, cukup untuk sepuluh hari ke depan.

BELAH

 

 

Perjalanan waktu yang panjang menyusuri detik detik menuju pertemuan yang lama kurindukan. Di atas bus kota yang membawaku ke kota kelahiranku , Paciran. Desa yang panas dan beraroma asin karena berada di pesisir pantai utara Lamongan. Suara keroncong Tuti Tri Sedya membawakan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama membuat perjalananku malam hari itu terasa sedikit terhibur dan tidak menjemukan, walaupun bus penuh sesak dan kadang-kadang diselingi suara tangis dari bayi yang terjaga dari tidurnya minta disusui ibunya.

 

Masih sekitar kurang lebih tujuh puluh kilo meter lagi menuju desaku, ketika bus memasuki hutan antara Ngawi dan Bojonegoro. Jalan berjurang dan Penuh liku membuat kantukku hilang dan tak bisa tidur. Entah sudah berapa tikungan aku lalui dan tanpa terasa kantukku pun datang kembali.

 

“Mas, nyampek mas, bangun,”suara kondektur menyadarkanku dari tidurku. Aku bergegas turun mengambil ranselku sambil mengucap terima kasih pada kondektur yang telah membangunkanku. Jam menunjuk pukul sembilan malam ketika aku lihat arlojiku. Suasana terminal Tuban sudah agak sepi dan angkot menuju desaku pun sudah jarang walaupun masih bisa kutemukan kalau aku mau bersabar menanti.

 

Tak lama berselang angkot pun datang “Blimbing, Blimbing, ayo terakhir,” suara kenek angkot menawari setiap orang yang berdiri di depan terminal. Segera aku memasukinya, “Lho kok kowe, Gus,“ sapa kenek tersebut ketika aku mendekatinya. “ Ya mau liburan sambang emak” jawabku.

 

Suwe, gak mulih, kon,” lanjutnya. Ternyat kenek angkot tersebt adalah Memet sahabatku waktu SMA. Dia kelihatan lebih dewasa dan terlihat kekar walaupun waktu masih sekolah badannya kerempeng. Memang orang yang bekerja sejak muda wajahnya kelihatan lebih dewasa nggak tahu kenapa. Sebenarnya Memet ini waktu sekolah sangat pintar. Ia termasuk tiga jawara di kelasku, selain ia masih ada Agung dan Bachri. Mereka bertiga selalu berbagi rangking satu , dua, dan tiga. Dan biasanya rangking empat selalu menjadi bagianku.

 

Ayah memet adalah nelayan di desaku yang penghasilannya tidak menentu karena dalam bekerja ia tidak mempunyai perahu sendiri hanya ikut juragan. Juragan adalah orang yang punya perahu. Biasanya juragan mengajak seorang lagi untuk membantunya melaut mencari ikan atau lebih di kenal dengan istilah Belah di desa kami. Karena ayahnya hanya searang belah memet tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Karena biasanya anak seorang belah begitu lulus sekolah dasar akan langsung jadi belah juga. Diikutkan dengan juragan kenalan ayahnya. Hidup di desa nelayan seperti desaku memang banyak anak yang hanya lulus sekolah dasar. Memet termasuk anak belah yang tergolong masih beruntung bisa lulus SMA tidak disuruh kerja seperti anak anak belah yang lain begitu lulus SD.

 

Setelah satu jam perjalanan dari tuban angkot sudah memasuki wilayah desaku. Aroma laut langsung menyengat hidungku. Bau udara yang khas membuatku selalu rindu akan desaku. Aku turun sambil menyodorkan ongkos pada Memet tapi Memet menolak, “Nggak usah bolo dewe,” aku menjadi rikuh karenanya.

 

“ Main ke rumah, yo , “ ajakku pada memet ketika angkotnya hendak berangkat lagi. Dalam hati aku bertanya banyakkah anak-anak seperti Memet di negeri ini. Ataukah hanya ada di desaku yang memang terpencil. Desa nelayan yang tak begitu menghiraukan akan arti penting pendidikan bagi anak-anaknya. Dan sering kali para orang tua di desaku itu berkata berkata, “Kalau tanpa sekolah pun bisa bekerja mengapa harus susah-susah menyekolahkan anak.”.

 

 

AKU TAK MAU MENCURI

Oleh : GUSLITERA
“Sudah berulang kali aku beritahu aku nggak mau mencuri,” kataku pada istriku yang terus saja mengomel minta dibelikan kalung. Sudah satu minggu ini aku diomeli oleh istriku yang minta dibelikan kalung emas yang bobotnya tidak lebih dari dua gram. Bukanya aku pelit tapi aku memang tidak punya uang untuk membelikannya.

Sebagai pegawai negeri golongan tiga A yang gajinya hanya cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari, itupun dengan asumsi tidak ada yang sakit di antara anggota keluargaku, karena apabila ada yang sakit dijamin kurang. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil aku pun harus waspada terhadap segala bentuk rayuan barang-barang sekunder yang berusaha memoroti gajiku tiap bulannya.

“Mas, bu Edi tadi barusan cerita pada saya habis dari pasar pagi tadi, dia menunjukkan kalung yang dulu aku minta pada mas untuk membelikannya, akhirnya ia yang memilikinya. Padahal pak Edi kan sama golongannya dengan mas di PNS, sama-sama golongan IIIa,” Istriku mengadu sore itu padaku.

Pagi ini aku berada di kantor seperti biasa seolah tak ada masalah apa-apa di rumah dan memang urusan di rumah, tidak etis kalau dibawa-bawa ke kantor. Teman-teman juga demikian saling bergurau tentang hal yang jorok sampai hal yang kadang-kadan tidak bisa lagi untuk ditertawakan karena terlalu jorok.

“Nes, rambutmu basah sekali hari ini, berapa kali tadi malam kau bertempur, K.O ya,” Edi dengan senyum terkekeh menggoda Ines teman kantorku yang kebetulan juga pengantin baru. Baru seminggu ia menikah dengan rekan sesama pegawai tetapi dari instansi yang berbeda. Ines yang digoda hanya bisa menjawab dengan tersenyum disertai muka yang memerah.

Selain Ines di kantorku juga ada lagi yang sering jadi bahan godaan yaitu Bu Sari yang memang terkenal genit walaupun sudah punya cucu. Tapi memang dasar orangnya agak lumayan juga untuk ukuran wanita paruh baya seperti Bu Sari. Rambutnya saja masih direbonding seperti gadis-gadis belasan tahun. Kebetulan juga ia belum genap satu tahun menjanda jadi rekan-rekanku di kantor makin semangat menggoda.

Bu Sari adalah pegawai buangan di kantorku. Dianggap buangan karena ia dimutasi karena suatu kasus. Ia terkena kasus penggelapan dana proyek dan untung tidak sampai di penjara karena keburu ketahuan rekan sesama kantornya. Memang di kantor orang sering lebih banyak berguraunya daripada bekerja, terlebih lagi kantor pemerintah.

Dan itulah efek dari penempatan pegawai yang tidak efisien apalagi untuk dikatakan efektif. Bisa dilihat dari contoh berikut, seorang insinyur harus menempati bagian dokumentasi sebuah institusi pemerintah yang berkaitan dengan dunia perpustakaan, hanya dengan alasan agar seorang pegawai berpengalaman di segala bidang. Ada lagi yang lebih lucu di mana seorang sarjana bahasa ditempatkan di bagian keuangan. Tapi itulah dunia lembaga pemerintah yang hampir sebagian besar pejabatnya mempunyai kredo yang manjur; ALA BISA KARENA BIASA, hebatkan.

Nah untuk sarjana bahasa yang kumaksud itu adalah aku sendiri. Bisa kamu bayangkan betapa terasingnya aku dengan pekerjaanku ketika pertama kali aku masuk dinas di pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil.

Keadaan inilah yang membuatku repot, sebagai staff keuangan istriku menganggap suaminya ini bisa mendpat penghasilan berlebih. Bagian keuangan tempat mengelola keuangan tentu bayak rekayasa yang berkaiatan dengan rupiah. Sialan. Aku menyesali keadaanku sekarang yang semakin mendekatkan aku dengan dunia curi mencuri. Apes.

Sebenarnya urusan merekayasa nominal yang dalam istilah kerennya mark up sudah hampir bisa dikatakan lazim atau biasa. Biasanya alasan yang dikatakan teman-teman adalah tidak mungkin kalau kita hanya mengandalkan gaji untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Jadinya ya begitulah sejak Indonesia merdeka sampai sekarang ini mental pegawai ya begitu itu, harus pintar ngobyek dan patuh sama atasan.

“Begitu kita mendapat Nomor Induk Pegawai kita ini sudah masuk ke dalam lingkaran setan, Bud,”kata Deni seniorku ketika aku mencoba berkeluh kesah tentang perilaku pegawai negeri dengannya. Aku pun tidak menyalahkan atau membantah komentarnya.

“kalau kamu tidak mau mencuri ya jangan jadi pegawai negeri, ngaji saja di rumah,” lanjutnya waktu itu.

Semenjak ngobrol dengan Deni itulah dibenakku sering timbul pertanyaan apakah semua pegawai yang korup suka mencuri uang anggaran kegiatan itu merupakan watak bawaan atau karena ada faktor lain, keluarga misalnya. Bisa saja karena gajinya kurang untuk menopang hidupnya. Sebenarnya gaji tersebut tidak kurang tapi habis hanya untuk membayar angsuran di bank sehingga yang dibawa pulang biasanya tinggal sepertiganya. Dan biasanya uang hutang itupun hanya untuk biaya konsumsi yang tidak penting.

Kenyataan yang ada pun banyak juga pegawai yang gajinya besar tapi masih saja mencuri alias korupsi. Kalau demikian aku termasuk salah satu orang yang menyangsikan bahwa untuk menghentikan korupsi dilingkungan pegawai negeri harus dengan jalan menaikkan penghasilannya.
Karena kenyataan yang ada, korupsi disebabkan karena nafsu konsumtif yang menggebu-gebu lah penyebabnya.

Seperti halnya isteriku yang sebulan ini terus merengek minta perhiasan padahal ia sudah memakai perhiasan adalah wujud konsumtifisme buta yang menggoda suaminya untuk mencuri-curi uang tambahan. Sudah sejak pertama kali jadi pegawai aku sudah menyadari gaji yang akan kudapatkan hanya cukup untuk hidup sederhana selama sebulan dan sudah pula kusadari resiko kekurangan gajiku.itu.

“Sudahlah, dik, gajiku tidak cukup untuk kebutuhan sekunder itu, jangan memancing saya untuk mencuri uang kantor,” alasanku yang kesekian kali ketika ia terus menagih untuk dibelikan kalung.

“Masak kerja di Bagian Keuangan mas nggak dapat uang sampingan,” rengeknya bersungut-sungut.

“Sumber pendapatan kita hanya satu, ya gaji itu tidak ada yang lain, kamu kan masih memakai cincin mas kawin kita, itu kan masih pantas, tho .” bujukku.

Bila ku piker-pikir apakah benar bahwa pejabat yang suka mencuri itu memang berwatak pencuri atau kah mereka mencuri karena sebab-sebab lain yang tak kuketahui, istri yang terlewat konsumtif misalnya. Atau mungkin mereka salah pergaulan, misalnya teman sehari-harinya ialah pengusaha kaya yang gaya hidupnya pasti perlu biaya tinggi, jadi kalau hanya sekedar mengandalkan gaji pasti ketinggalan dengan temannya yang pengusaha itu.

“Orang hidup itu perlu perhitungan matang. Baik dalam segi materi maupun non materi harus cermat mengelola hidup kalau tidak ya kita pasti kalang kabut.” Begitu petuah pak Imam ketika sore itu aku dating ke rumahnya untuk meminjam uang. Pak Imam adalah guruku SD ia terkenal sebagai pengusaha di desaku yang dermawan dalam memberikan pinjaman. Walaupu ia hanya lulusan SD tapi kegigihannya dalam bekerja sejak kecil menjadikannya ia sebagai pengusaha di bidang perikanan. Banyak pabrik di kota yang membutuhkan pasokan ikan darinya. Di sela sela kesibukannya sebagai guru ia masih mengurusi beberapa pengepul ikan yang menyetor ikan padanya.

“ Maaf, pak, anu….. gajiku habis, sedang bulan baru dua puluh hari berjalan,” jawabku ketika pak imam bertanya tentang alasanku mau menghutang lagi padanya. Walaupun dengan bayak petuah yang membuatku merasa semakin mejadi orang bodoh saja pak Imam pasti memberiku pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari yang memang kurang, terutama bila ada anggota keluargaku yang kebetulan sakit.

Dengan perasaan campur aduk antara sedih dan lega, aku pulang ke rumah. Bayangan sakitnya anakku melintas terus di benakku. Langkahku semakin kupercepat. Tak lupa aku mampir ke apotik untuk membeli sirup penurun panas. Uang hasil pinjaman masih tersisa separuh, cukup untuk sepuluh hari ke depan.

DUA PULUH EMPAT JAM

Bila kita membicarakan waktu pasti setiap orang akan mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Bagi yang sedang tertimpa musibah waktu begitu lama berjalan begitu pula bagi yang sedang mendapat anugrah waktu terasa begitu singkat melintas. Memang kita menjadi begitu subyektif memaknai waktu.

Bila kita mau mengkaji, adakah di dunia ini, yang tidak sama mendapat pembagian waktu. Semua pasti akan sepakat dengan suara yang bulat bahwa kita sama dalam menikmati waktu. Sehari semalam kita semua mendapat waktu dua puluh empat jam tidak lebih dan tidak kurang. Terus adakah diantara kita yang sudah menggunakannya dengan baik atau barang kali dari 24 jam itu terlewat begitu saja.

Dengan jumlah waktu yang sama mengapa nasib kita berbeda. Adakah itu betul-betul nasib kita yang berbeda atau cara kita mengisi waktu yang berbeda yang akhirnya membuat kita mendapat sebutan yang berbeda; pengemis; perampok; pengusaha; pedagang; dan yang lebih malang adalah pengangguran.

Tidak mengherankan apabila banyak peribahasa yang menyebut tentang waktu. Ada yang mengatakan waktu adalah pedang kalau tidak mahir menggunakan akan melukai yang menggunakan. Ada juga yang mengatakan bahwa waktu adalah uang kalau tidak hemat menggunakan maka waktu akan terbuang percuma. Begitulah waktu diapresiasi dengan begitu rupa oleh siapa saja.

‘Andai aku punya banyak waktu tentu aku tidak akan seperti ini,’ kata seorang penganggur yang merasa selalu kekurangan waktu karena terlalu banyak tidur. Tapi bagi orang yang super sibuk pun akan mengatakan hal yang sama bahwa waktu yang ia miliki sangat sempit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kalau sudah demikian apa ada yang salah dengan durasi waktu yang hanya 24 jam itu?

Tak heran sekarang ini bila banyak menjamur kursus manajemen waktu. Banyak orang yang ikut kursus itu berharap untuk bisa menaklukkan waktu-menata sekehendak hatinya.
Jangan-jangan Sang waktu sedang tertawa. Menertawakan tingkah polah orang yang sedang mencoba menaklukkannya. Ia heran bagaimana bingungnya orang menghadapi dirinya yang hanya berjumlah 24 jam sehari-semalam hingga harus kursus manajemen waktu segala.

Bagiku, waktu tetaplah sebuah rahasia abadi karena aku tidak tahu kapan ia berhenti bersamaku. Tidak ada yang perlu disesali dengan berjalannya waktu, toh waktu tidak akan kembali dan dia akan terus melaju. Yang lebih penting lagi ialah bagaimana kita bisa bersama dengan waktu mengisi hari-hari kita jangan sampai kita ditinggalkan oleh waktu yang bergerak lebih cepat dari gerak kita.

‘ayo lebih cepat kita sedang terburu-buru, nih,’ kata istriku yang sedang membonceng di belakangku.
‘ Mengapa kita mesti terburu-buru mengejar waktu bukankah salah kita mengapa kita tidak terjaga lebih dulu dan mendahului waktu sehingga kita akan menjadi seorang penunggu.’ Balasku.

Inilah anehnya tabiat manusia, mereka adalah makhluk yang sangat jengkel apabila disuruh menunggu. Bukankah dengan menunggu berarti kita telah mendahului waktu? Mengapa harus jengkel, bosan, apalagi sebel apabila harus menunggu? Coba mereka berfikir bagaimana penyesalan yang diakibatkan oleh perasaaan ketinggalan, terlewatkan dan kita baru sadar ketika waktu sudah jauh melesat. Kecewa.

HUMANISME PROBO

Sudah satu minggu aku tinggal di rumah temanku, Probo, yang berada di Yogya persisnya di Gowok, Sleman. Sepanjang itupun aku belum pernah menyaksikan temanku itu melaksanakan sholat-padahal ia muslim. Di rumahnya ada sajadah tapi jarang dipakai hanya tersimpan di almari. Sajadah itu hanya terpakai ketika aku ke sana. Jadi bisa dibayangkan ketika Aku pertama kali memakainya baunya seperti debu karena terlalu lama tersimpan di almari kayu.

Probo memang tinggal sendiri di rumanya dia hanya pulang 3 hari sekali ke rumah istrinya di Klaten. Dan itu sudah dilakukannya semenjak tiga tahun lalu. Di yogya ia berprofesi sebagai penulis lepas untuk beberapa harian surat kabar.

Sebagaimana biasanya, kedatanganku ke Yogya hanya untuk sekedar melepas kangen dengan suasana kota budaya ini. Maklum, aku pernah hampir lima tahun tinggal di kota ini. Yaitu saat aku kuliah dulu di salah satu Universitas tertua di negeri ini Universitas Gadjah Mada. Dan setiap aku ke Yogya tempatku menginap adalah teman akrabku sewaktu kuliah dulu, Probo Adikara.

“Gimana, Ton, apa keluargamu sehat semua?” pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh Probo, ketika pertama kali ia ada kesempatan untuk menanyaiku. Dan biasanya berlanjut ke pertanyaan tentang pekerjaanku.

Probo adalah orang yang pertama mengingatkan aku untuk mengambil kesempatan ketika ada sebuah lowongan di Kota kelahiranku, sebagai PNS. Hal ini dikarenakan- menurutnya aku adalah orang yang tipe karyawan jadi sangat cocok apabila menjadi Pegai Negeri Sipil. Dia menganggap aku adalah tipe manusia penurut yang patuh pada aturan walaupun menurutnya aku termasuk orang yang pintar tapi tidak bakal bisa berkembang karena sifat penurutku itulah yang mengunci kreatifitasku, katanya suatu ketika.

Terlepas dari segala kebaikan maupun kesederhanaan yang Probo tunjukkan selama berteman denganku, sebenarnya ada kesedihan yang mengganjal di hatiku terhadapnya. Ia jarang sholat bahkan bisa dikatakan tidak pernah, padahal sekali lagi aku tegaskan ia islam. Keluarganya islam, ayah dan ibunya juga muslim, tidak seperti keluarga gado-gado lainnya yang biasa aku temui di daerah Yogya- suami islam dan istri non muslim atau sebaliknya.

Menengok latar belakang yang demikian bisa dikatakan Probo berasal dari keluarga muslim yang kental. Kakek neneknya sudah haji ke Makkah. Bapak dan ibunya juga. Probo juga pintar mengaji alqur’an.. Dibandingkan dengan aku sepertinya lebih lancar temanku itu dalam membaca al qur’an. Tapi persoalan Cuma satu mengapa ia tidak mau sholat.

Sebenarnya ketika aku pertama kali ketemu dengan Probo, saat awal kuliah dulu ia masih belum seperti ini. Setiap waktu sholat ia tak jarang sering mengajak aku ke mushola kampus bersama untuk berjamaah. Namun semenjak ia sering membaa buku-buku yang radikal ditambah pergaulannya dengan teman-temannya yang bergaya Hippies ia sedikit-sedikit mulai berubah pemahamannya tentang agama. Humanisme adalah kosa kata yang sering ia katakan kepadaku.

Humanisme telah melupakannya dari pemahaman agama. Baginya dalam hidup ini yang penting adalah berbuat baik dengan sesama, persetan dengan ritual agama. Menurutnya buat apa rajin sholat kalau masih sering menyakiti orang lain. Mengambil hak orang lain. Menipu orang lain dan masih banyak lagi. Yang penting orang harus memanusiakan orang lain.

Dia tidak menyadari bahwa pemikiran seperti ini berbahaya dikarenakan ia tidak pernah merasa bersalah.. Kebiasaan dari penganut aliran humanisme adalah baik kepada orang lain tetapi tidak menyayangi diri sendiri. Mereka banyak yang hobby mabuk. Gemar melaur. Gemar berjudi dan masih banyak lagi. Yang penting prinsipnya dalam hidup ini jangan membuat orang lain menderita. Kalau diri sendiri yang menderita tak apalah.

“Jangan dikira aku tak pernah ingat tuhan walaupun aku tidak pernah sholat, Ton,” jawabnya ketika aku menanyainya perihal kejarangannya dalam sholat.

‘Eling sing nggawe urip iku dalane akeh*, Ton,” tambahnya waktu itu. Aku hanya tersenyum kecut tidak bisa lagi berbantah dengannya. Dengan hati agak kesal akupun membalasnya “Sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, kawan.”

Saat itu ia semakin sengit membalas pernyataanku menurutnya apakah para koruptor, pembunuh, penculik, penjudi dan sebagian pelaku aneka jenis kejahatan yang lain di negeri Indonesia tercinta ini semua tidak pernah sholat? Bukankah mereka semua adalah tokoh-tokoh masyarakat juga tokoh agama bahkan di antara para koruptor itu ada yang sudah haji. Dia malah memberi pertanyaan padaku waktu itu, “Apakah mereka bisa menghindar dari perbuatan keji dan mungkar padahal mereka semua adalah orang-orang yang secara kasat mata adalah ahli sholat.”

Selama satu minggu di tempat Probo aku selalu terngiang-ngiang pada pertanyaan temanku itu. Dalam hatiku merasa apakah dia kecewa dengan perilaku para ahli sholat itu. Tapi bukankah hidup ini harus seimbang dalam berbuat baik. Kita harus berbuat baik pada sesama manusia juga harus membina hubungan baik dengan Sang pencipta.

Di dalam bis yang mengantar perjalananku pulang kembali ke Lamongan aku masih memikirkan temanku itu. Ketika sampai di rumah, seperti biasa, aku langsung menghidupkan komputerku untuk melihat berita lewat internet. Keringatku dingin. Kaget. Tertulis dengan besar sekali sebuah headline “PROBO, PENULIS TERKENAL DARI YOGYA DITANGKAP POLISI KARENA MENIKAM PEMABUK YANG SEDANG KENCING DI DALAM MUSHOLA”

TAK TIK TAK TOK

Tak tik tak tok. Tak tik tak tok. Nyaring terdengar bunyi mesin yang ditekan Gagah. Dalam kamarnya yang sempit ukuran dua kali dua meter, bunyi mesin ketik itu terdengar sangat berisik. Di sela-sela ia menulis tersebut kadang-kadang ia menghisap rokoknya dalam sekali sembari ia hembuskan dengan tanpa ada rasa menikmati sama sekali. Semakin pengaplah udara di kamarnya malam itu. Ia cabut kertas yang baru ia tulisi separuh itu dari mesin ketiknya. Diremasnya kertas itu setelah sebelumnya ia baca sebentar kemudian ia buang begitu saja.

Gumpalan-gumpalan kertas berserakan di lantai kamarnya. Buku-buku pun demikian, berserakan tak beraturan. Gagah memungut salah satu buku, membacanya sebentar, dengan malas ia lemparkan kembali ke lantai kamarnya. Kepalanya ia pegang tepat di ubun-ubunnya dan dengan suntuk ia remas rambutnya.

“Yang terakhir ini harus lolos,” Ujarnya sambil meraih kertas baru dan diselipkannya di mesin ketiknya.

Dua bulan yang lalu ia melamar pacarnya, Gayatri, gadis tetangga desanya yang menggemari bacaan sastra. Pada awal perkenalannya dulu Gagah sering menunjukkan puisi maupun cerpen yang ia buat padanya. Bahkan waktu menyatakan cintanya pun Gagah menggunakan puisinya untuk menaklukkan hati Gayatri.

Yang jadi beban hatinya saat ini adalah puisi-puisi maupun cerpen yang pernah ia tunjukkan pada Gayatri belum ada satu pun yang sudah pernah dimuat di media massa. Dan malangnya, Gayatri sering minta bukti untuk melihat karya Gagah dipampang di halaman koran. Hingga saat ini, yang paling membuatnya risau adalah ketika Gayatri minta mas kawin berupa bingkaian karya Gagah yang di muat di koran.

“Pokoknya, kalau mas kawin yang aku minta tidak sanggup kamu penuhi, jangan berharap kamu bisa menjadi suamiku,” ujar Gayatri waktu itu.

Kata-kata tersebut terngiang terus di benak Gagah dari waktu ke waktu.

Entah sudah berapa kali surat penolakan dari redaksi surat kabar yang ia terima, puluhan bahkan sudah ratusan, sejak ia pertama kali mengirimkan karyanya. Ia hampir-hampir putus asa namun keinginan untuk menikah dengan Gayatri membakar terus semangatnya.

Di dalam kamarnya Gagah membaca satu per satu naskah-naskah yang pernah dikirimnya ke surat kabar mulai yang berupa puisi, cerpen dan gurit tak ada yang terlewatkan. Ia meneliti satu per satu. Dalam hatinya seolah ada protes mengapa naskahnya tak pernah dimuat. Ia meraih buku kumpulan puisi ia bandingkan dengan miliknya, begitu pula cerpen-cerpennya ia bandingkan pula dengan buku kumpulan cerpen dari penulis-penulis ternama. Mulai tanda baca, pola kalimat dan tema ia telisik—dan menurutnya miliknya tak jauh berbeda.

“Memang sulit jadi penulis belum punya nama, tapi aku harus berjuang demi Gayatri,” Sumpahnya malam itu.

Gagah terjaga dari tidurnya dengan terkejut. Pagi itu adiknya, Ines, menggedor pintu kamarnya. Dengan malas ia membuka pintu.

“He, tau nggak, aku masih ngantuk,” jawabnya sambil membuka pintu.

“Mas, ini lho, ada tulisanmu yang dimuat di koran Minggu ini,” balas Ines dari luar kamarnya.

“Kebetulan namanya sama, ‘kali!”

“Bukan, Mas, namanya jelas tertulis oleh GAGAH ADITYA LITERA. Siapa lagi yang punya nama itu kalau bukan Mas Gagah,” adiknya meyakinkan.

Dengan serta merta Gagah membuka pintu, ia rebut koran yang dipegang oleh adiknya. Ia pandangi namanya di koran itu, jelas nama itu adalah namanya dan puisi itu adalah karyanya karena di bawah judulnya tertulis untuk GAYATRI KARTIKASARI.