Ki Darsono

Makam itu teronggok sendiri di bukit sebelah Barat Daya desaku. Bukit itu bagi warga desa kami adalah tempat paling angker di desa kami. Di sekelilingnya dipenuhi pohon Kajaran, Kelor, Maja, dan pohon Mimba. Dan di tengah-tengah kerimbunan itulah terdapat satu buah kuburan yang sangat panjang. Kuburan itu tidak bernama,  hanya mempunyai sebuah penanda atau nisan.

Desaku adalah kampung nelayan di pesisir utara Lamongan. Sebuah wilayah yang kebanyakan warga kampungya lebih banyak mendengar kisah kisah zaman penyebaran Islam oleh wali songo. Kisah kisah yang diceritakan kakek nenek kami menjelang tidur atau saat bulan purnama.

Aku dan teman-temanku sering kali dilarang oleh orang tua kami supaya jangan dekat-dekat dengan bukit itu,  yang oleh orang tua kami disebut Punden. Tempat kuburan itu memang seperti gundukan piramid maka disebut punden.

 “Jangan kau sekali kali masuk ke punden kalau tidak ingin kau jadi santapan banaspati!” hardik orang tuaku ketika mengetahui aku dan teman teman punya rencana mencari buah maja  di sekitar punden.

“Kami tak masuk ke dalamnya hanya mencari di luarnya saja, Pak,” balasku memberi lasan agar tak dimarahi.

Karena letak punden itu di Barat Daya desa kami, maka seringkali ia menjadi tempat berlabuhnya layang-layang putus ketika angin sedang mengarah ke barat daya. Biasanya, sehabis zuhur, angin di desaku akan berubah arah menuju barat daya setelah sebelumnya pada waktu pagi hari menuju ke laut. Pada saat itulah keramaian berebut layang layang putus terjadi sering kali sampai lupa waktu.

Pernah suatu kali aku tanyakan kepada kakekku perihal kuburan yang ada di punden tersebut.

“Mbah kenapa kuburan itu kok disebut punden,” tanyaku.

“Kuburan itu ada sejak mbah masih  kecil. Dan sejak dulu pun tidak ada yang tahu. Hanya ada sebagian yang meyakini kuburan tersebut adalah kuburan Ki Darsono,” terang kakekku.

Ki Darsono adalah tokoh yang dianggap sakti laksana wali songo di desa kami walaupun kebenaran  mengenai keberadaan kuburannya tidak ada yang mengetahui secara pasti.  

“Namun ada juga yang menganggap itu adalah kuburan Cina karena dulu sebelah utara desa kami adalah tempat berlabuh pasukan tartar ketika hendak menyerang singasari,“ lanjutnya.

Untuk anggapan yang kedua ini dipercaya karena banyak warga desa kami yang berkulit kuning meski desa kami adalah desa nelayan yang dekat dengan pantai. Gadis gadis desaku memang dikenal  cantik cantik dan banyak diperistri oleh warga dari luar desa. Kebanyakan mereka yang memperistri perawan desa kami ini orang kaya dan pejabat instansi pemerintah.

Bila dikaitkan dengan Ki Darsono, pun ada benarnya, desa kami adalah desa santri yang mempunyai lima pondok pesantren. Dan pondok pesantren di desa kami ini luarbiasanya dari macam macam ormas baik itu Muhammadiyah maupun NU. Dan para kyai itu  pun  masih punya hubungan saudara.

Dengan banyaknya ormas Islam yang ada di desa kami kehidupan beragama di desa kami pun sangat diwarnai dari kedua ormas itu. Dan dari kedua tokoh ormas yang ada di kampungku inilah sering kami dengar kisah Ki Darsono.

“Ia adalah penggembala yang tawaduk dan menguasai banyak ilmu agama,” Ujar Kyai Salam dalam satu pengajiannya di surau tempatku mengaji. “Sayangnya ia tidak begitu banyak meninggalkan tulisan tapi meninggalkan sumur, dan kebanyakan sumur peninggalannya berbentuk kotak atau persegi tidak lingkaran seperti sumur kebanyakan,” lanjutnya.

“Jadi tujuh sumur berbentuk persegi empat di desa kita ini semua buatan Ki Darsono, Mbah, Yai?” tanyaku pada Kyai Salam saat itu.

“Menurut kisahnya, ya, sumur adalah filosofi dari orang yang berilmu. Ia tak kan habis diambil airnya bagi yang membutuhkan,” jawabnya.

“Saat ia menggembala sapi, lokasi di mana ia menggembala sapi sapinya  akan selalu dibikinkan sumur oleh Ki Darsono. Dengan adanya sumur ini ia berharap lahannya akan ramai dikunjungi orang. Itulah bukti kealiman yang dimiliki Ki Darsono, selalu membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak.” tambah Kyai Salam.

Namun, yang lebih meyakinkanku bahwa sumur itu adalah buatan orang alim adalah setiap kali sumur itu ditembok atau direhab maka temboknya pasti runtuh. Seolah-olah sumur itu tidak boleh dikuasai secara pribadi oleh warga desa kami. Airnya pun tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.

Kakekku juga pernah bercerita yang isinya hampir sama dengan yang diceritakan Kyai Salam. Menurutnya  Ki Darsono adalah seorang penggembala sapi yang alim. Caranya menggembala sapi pun unik, yaitu di mana ia singgah ia akan membuatkan sumur untuk minum sapinya. Cerita tentang  dan sumur itu selalu menarik ketika aku didongengi kakek maupun Kyai kyai di Desaku. Sumur itu masih bisa dijumpai sampai sekarang dan jumlahnya sebanyak tujuh buah.

Cara berdakwah Ki Darsono  yang mengakomodasi nilai kultural setempat membuat sinkretisme kepercayaan tumbuh subur di desaku. Ritual ini mulai terkikis di zaman  awal awal kemerdekaan  ketika Muhammadiyah masuk ke desaku lewat Kyai Alamin dan murid muridnya.

Sebelum kiai Hambal mendirikan pondok pesantren di desa kami, bukit sentono, sering dijadikan tempat pemberian sesaji bagi warga sekitar desa kami. Ayahku sering mengatakan bahwa ketika masih muda dulu ia sering berebut sesaji yang berupa nasi tumpeng bersama teman-temannya ketika sedang istirahat mengejar layang-layang dan kebetulan ada tetangga desa kami yang kirim sesaji ke punden.

Namun kegiatan mengirim sesaji itu telah hilang semenjak kiai Hambal mengatakan itu sirik dan dilarang oleh agama Islam.

Mengenai Ki Darsono ini sebenarnya ada cerita yang cukup membuatku bangga sebagai warga desaku, bahwa sebenarnya Ki Darsono yang dianggap sebagai sesepuh pendiri desaku adalah murid Syeh Siti Jenar yang mengasingkan diri dari kekuasaan Demak yang penuh intrik kekuasaan pada saat itu. Ia menyingkir dan memilih menjadi penggembala sapi serta  menyebarkan agama islam di desaku.

Kalau muridnya saja  seperti ini bagaimana dengan kemampuan gurunya? Tanyaku dalam hati   ketika habis mandi di salah satu sumur peninggalan Ki Darsono. Kadang-kadang aku ragu apa benar Ki Darsono murid Syeh Siti Djenar yang katanya kafir oleh para Wali Songo tersebut. Mengapa warga desaku malah membabat habis setiap kepercayaan magis yang cenderung syirik kalau memang mereka merupakan keturunan murid Syeh Siti Jenar yaitu Ki Darsono.

Aku sendiri sering takjub dengan kondisi keagamaan warga desaku terutama mengenai jumlah masjid yang berada di desaku yang jumlahnya ada sembilan. Dalam hati aku sering membayangkan betapa besar jasa Ki Darsono dalam menyemaikan benih-benih keislaman di desaku. Dan aku rasa jasanya  sebesar lautan di sebelah utara desaku.

“Laa ilaa Ha Illa..Allah…..” terdengar sayup sayup santri kyai Salam melakukan tahlil di makam Ki Darsono yang kini di kelilingi Madrasah yang dikelola oleh Kyai Salam. Aku tersadar dalam lamunanku. Aku menuruni bukit  yang dulu angker itu sambil lamat lamat kudengarkan tahlil dari santri santri yang khusuk berdoa di makam ki Darsono.

#ilustrasi di atas adalah tampilan saat kisah ini dimuat di Radar Bojonegoro 10/2/2019 

Iklan

Cinta Terlambat Kita

Bertemu saat tak sengaja di tempat yang tidak tepat dan waktu yang juga betul betul tidak tepat. Pertemuan yang tergugah kembali. Kenangan dua puluh tahun yang lampau. Nun jauh terpendam puluhan musim.

Saat itu aku menemukanmu terbaring dengan ibumu..bercengkerama entah tentang apa. Ketidaksengajaan menemukanmu dalam bentuk yang paling utuh. Saat itu terbangun impian bahwa kamu adalah takdirku. Dalam ketaksempurnaan matamu memandang aku dan seolah ada yang mengalir cepat di syaraf tubuhku entah yang mana.

Kau menunduk malu, aku remaja yang sedikit nakal juga tak mampu bertahan menatap bola matamu. Sejak itu namamu menggurat kuat di hati. Saat aku kembali dari pertemuan tak sengaja itu, bahkan kita belum sempat kenalan waktu itu, waktu hanya berjalan dan menimpa setiap kesadaranku tentangmu dengan bunga bunga yang baru.

Kini dua puluh lima tahu sembilan hari kemudian, kita saling bicara bersama dengan nama yang saling berbeda di media sosial dan kenangan keutuhan tubuhmu menggelora bagai ombak laut selatan menerjang karang dadaku…….

Wajah dengan senyuman merekah itu terus berseliweran di beranda media sosialku mengajak pertemanan. Aku masih ragu apakah itu kamu yang pernah mengejutkanku puluhan tahun yang lalu.

Ada satu yang membuatku yakin itu kamu, yaitu mata sebelahmu agak sedikit redup kalau gak bisa dikatakan sipit. Mungkin ciri ini hanya aku yang tahu karena jarang sekali kau berpenampilan seperti itu di keseharianmu.

Selama satu minggu aku terus membiarkan ajakan pertemanan itu. Aku ragu juga sedikit segan untuk menerimamu. Aku intip foto fotomu, ternyata di akun medsosmu kau banyak memposting kegiatanmu sebagai pengajar di sebuah kursus belajar siswa sekolah dasar.

Kau terlihat keibuan sekali di antara anak didikmu, meski sebenarnya kamu begitu centil dan sedikit manja. Begitu temanmu pernah bercerita bahwa kau itu centil dan sedikit manja.

Saat aku menerima ajakan pertemanan itu. Aku beranikan untuk kirim pesan padamu dan bertanya.

“Kamu itu Mbak Asih yang rumahnya sebelah mushola Hijrah itu. ya…”

Selama dua hari pesanku belum dibacanya. Aku risau juga dibuatnya. di hari ketiga aku mendengar handphoneku berbunyi Kling…dan sebuah pemberitahuan adanya pesan masuk sedang on di hapeku.

“Ya…aku Asih….terima kasih atas konfirmnya,” begitu jawabmu di kotak masukku.

“Kok tahu aku Asih…”

“Siapa di kampung kita yang nggak kenal mbak Asih?” Aku menimpali tanyanya sambil ada sedikit harap agar ia nggak bosan dengan tanyaku.

“Kita pernah ketemu, mbak, sudah lama sekali dan mungkin mbak juga gak ingat kapan dan di mana.”

“masak..?”

“Sebenarnya akhir akhir ini kita lho sering berpapasan cuma, mbak saja yang gak peduli, tempat mbak memberi les itu sebenarnya dekat dengan tempatku kerja,”‘ jelasku.

“lho….kalau begitu tiap kita berpapasan menyapa, ya…….”

Tempat mbak Asih mengajar les memang hanya sekitar seratus meter dari perpustakaan umum tempatku bekerja. Sudah hampi tuhuh belas tahun aku berkecimpung dengan buku buku.

Menyenangkan memang. Menjadi pustakawan adalah impianku sejak es em pe dahulu. Aku yang sangat menggemari bacaan dan menjadi penghuni setia perpustakaan umum sekolah sangat terbantukan dengan menjadi pustakawan.

Dengan menjadi pustakawan, aku sangat mudah memperoleh bacaan tanpa harus membeli. Harga buku yang kelewat mahal tentunya menjadi prioritas kesekian dari kebutuhanku sehari hari untuk aku sisihkan buat membeli buku.

Dan lagi, bekerja di perpustakaan aku banyak ketemu orang orang dengan berbagai latar belakang mulai dari orang yang bukan siapa siapa sampai yang berprofesi sebagai apa.

Hari itu, tepatnya pagi itu sangat cerah. Aku memutuskan berangkat kerja berjalan kaki dan berharap ketemu Mbak Asih. Seperti biasa aku berjalan tak terburu buru karena aku jarang berangkat kerja mepet waktu sebagaimana orang yang biasa terburu buru.

Sekitar lima belas menit aku berjalan, aku melihat Mbak Asih menuju ke arahku. Aku heran dan bertanya dalam hati kok ia mengarah ke sini. saat aku berpapasan kusapa dia, “Mbak, mau kemana? lho aku sudah menyapa tho..seperti yang mbak minta di inboxku kemarin.”

“Eh kamu si Bagus, kan? Aku hampir lupa. Dulu kamu imut banget.”

“Dulu kan masih kecil, ya tentu imut,” balasku.

“Betul, aku betul betul lupa. Andai kau nggak menyapa lebih dulu aku nggak tahu lho….sungguh,,” jawabnya sambil tersenyum yang sepertinya ada nuansa menggoda, di sana.

Senyuman itu masih sama seperti yang dulu saat aku pertama melihatnya dua puluh tahun lalu.

“Mau kemana?”

“Ini,…mau fotokopi materi.”

“Sekarang kamu tambah ganteng, lho, sungguh, lho kamu kerja di mana?” lanjutnya. Sudah kebiasaan mbak asih, memuja muji lelaki yang ia temui dan aku pun biasa menanggapinya.

“lelaki, ya jelas ganteng, kalau perempuan ya cantik tentunya. Aku kerja di Perpustakaan Umum. Mampirlah, mbak, kalau ada waktu”

Aku pun mohon diri melanjutkan sambil terus terbayang senyuman dan matanya yang sedikit sipit sebelah.

Sejak pertemuan itu, Mbak asih selalu komen di statusku dan kadang diselingi pesan pesan sedikit menggoda. Aku pun balas menggoda dan bila kurasa agak pribadi bahasannya aku pun pindah ke inboxnya.

“Sudah punya anak berapa, Mbak?”

“Hayo tebak pantasnya punya berapa aku?”

“Dua, ya…..”

“Salah,…..aku belum nikah.”

“Masa sih,…orang cantik kayak mbak kok belum ada yang nglamar..”

“Nggak… sebenarnya anakkusudah tiga, suamiku satu, rumahku satu, nanya apa lagi” jawab yang terakhir ini disertai foto keluarganya.

“Sippp..suaminya ganteng anaknya apalagi ganteng ganteng. Sudah dulu, mbak, aku mau lanjut ada yang mau pinjam buku,”

“Yups …..mmmuach!!”

“Mbak tetep nakal ya…..” Jawabku yang terakhir tak dibalasnya lagi. Aku agak kaget tadi dapat kiss teks. Tapi lagi lagi aku sadari dia memang begitu orangnya suka ceroboh dalam menggoda.

Setelah beberapa bulan berinboks aku dan mbak asih mulai berbagi nomor hape. Dan dari sinilah semuanya bermula, aku dan dia saling sapa dan kadang kadang saling menggoda…

Seminggu ini aku lelah sekali. Pekerjaan banyak menumpuk banyak buku yang belum diolah dan perlu diselesaikan. Tiba tiba istriku bertanya, “Kok kusut kenapa, Pa?”

“Biasa, lah, banyak kerjaan,” jawabku singkat. Malam itu aku agak suntuk saat menjawab tanya istriku. Mungkin aku maunya dipijit itu baru agak lega. tapi ketika ia bertanya kok kusut aku jadi agak berat. Tiba tiba ada pesan masuk di hapeku. Kling klung…….

Agak malas kubuka hapeku dan kulihat pesan dari Mbak asih. aku langsung semangat membuka dan kubaca tertulis singkat di sana, “aku gak bisa tidur.”
kujawab dengan agak malas, “kenapa?”

“Ingat kamu, nggak tahu kok tiba tiba ingat kamu.”

“lho kok bisa sama,” aku jawab saja dengan berbohong agar obrolanku berlanjut.
benar saja ia langsung melanjutkan pesannya.

“masak?”

“bener.”

“nggak Percaya,…kan ada istrimu, yang menemani,”

“lho, mbak juga ada suami yang menemani, kok ingat saya?”

Dia agak lama menjawabnya. Dan tak pernah menjawabnya lagi. Mungkin ia sadar dan malu dan aku pun begitu.

Sejak dari itu aku tak pernah lagi ketemu atau membayangkan mbak Asih karena secara usia mbak asih jauh dariku terpaut sekitar 5 tahun. Ia sepantaran dengan kakakku yang tertua. Dan dari ketidaksengajaan itulah aku suka menjadikan mbak asih sebagai standar ukuran paras wanita yang kukagumi bersama teman temanku.

Dari pertemuan itu aku tak pernah lagi bertemu mbak asih, Tapi waktu kadang seperti kembali ke masa lalu. Kini aku bertemu ia lagi dalam kondisi yang sama sama sudah dewasa dan juga berkeluarga. Pertemuan yang akan membuat jalan hidupku berubah. Berubah menjadi lebih sensitif terhadap benda benda yang sering menjadi lambang orang orang yang sedang kasmaran.

Kini aku lebih menghayati Bulan, Hujan, pelangi dan warna jingga pada langit senja. Aku lebih menghayati sepi dan kesepian.

Aku mulai menggeluti dunia sepiku di saat perpustakaan sedang sepi pengunjung dengan mencoba coba bersyair.

Sejak sekolah aku kurang menggemari pelajaran bahasa indonesia karena terlalu teknis dan njlimet. fungsi ini lah fungsi itulah pokoknya tidak asyik. Tapi aku senang sekali bila ada materi membaca puisi.

Saat menikmati kesepian, sejak mengenal mbak Asih, kegairahanku membuat syair muncul kembali.

Kosakata seolah hadir bertubi tubi untuk kuolah menjadi sajak sajak cinta.
Ada di antara sajak sajak itu kukirimkan ke Mbak Asih agar dikomentari.

Dia lulusan sastra indonesia di Perguruan tinggi negeri di Yogya. tentunya aku berharap dikomentari dan juga berharap dia mengerti isi hatiku.

“He…mana sajaknya kok lama nggak kirim ke sini. Aku kangen..kangen karyanya lho bukan orangnya, hehehe,” tiba tiba sms masuk menanyakan sajakku. Pesan itu dari Mbak Asih.

“kebetulan, ini aku baru buat lagi, mbak…” balasku meyakinkan hatinya.
inilah sajakku yang kesekian untuknya.

Asmara Terlambat Kita

Setiap kali kau sapa diriku
sejenak lalu menghilang lama
aku terus mencarimu meski aku tahu
itu jebakan untuk merenggutku pada akhirnya

Saat aku mulai terperangkap jala jala asmaramu
aku berusaha menikmati meski
ketidakpastian akan pemenuhan rindu ini
namun merasa digoda kamu itu lebih menggoda dari pada
diam melamun berkasih kasih mesra

Aku mungkin nakal bagai remaja puber
dan kamu kurasa punya sejuta cara iseng
namun pasti kusemaikan cinta
dalam labirin kesetiaan pada kasihku
kau pun punya kekasih
yang katamu tak mengharu biru seperti aku

Maaf kasih gelapku
kuputuskan menikmati
dirimu sebatas keberanianmu menggoda
karena kita tak lebih
hanya penikmat canda tawa semata
meski ada rasa
mari kita endapkan di sudut asmara terlambat kita

Sekian lama kita bersapa via online ada kangen juga untuk bertemu muka. Dari saling berkirim puisi, aku dan mbak Asih pun jadi makin berani untuk saling merayu. Terkadang pun ada selingan nakalnya juga. Dan maklumlah kita kan sudah sama dewasa bukan seperti remaja puber yang membabi buta.

Ada saatnya pun aku harus menemuinya. Saat itu ia ingin aku mencarikan kliping puisi dari sapardi Djoko Damono sastrawan senior yang sangat ia kagumi.

“Carikan aku puisi SDD; Sajak kecil tentang cinta,” salah satu pesannya melalui inbok di hapeku.

“Aku kirim ke mana ini nanti kalau ketemu,” balasku.

“Tolong bawa ke tempat nge les ku, sayang…” jawabnya dengan emoji hati merah menyala.

“Hemmmm, kalau ada maunya manggil sayang…..norak!” jawabku kethus tapi dalam hati sebenarnya aku suka cara dia menggoda.

Satu minggu kucari kutemukan juga puisi itu. …Mencintaimu harus menjelma aku….. itulah kalimat terakhir pada sajak itu yang kata mbak Asih pernah didengarnya pada salah satu radio. Dan saat ia mendengar itu ia mengingatku bahkan membayangkan.bisa membacakan sajak itu di depanku.

“sudah kutemukan, jam berapa nanti aku ke sana?” kukirimkan pesan via wa nya.

“nanti jam 07.00 sebelum jam mengajar, ya…kutunggu tepat waktu,” balasnya.

Pagi itu aku bergegas ke tempat kerja. Sangat pagi sekali. Aku berangkat pukul enam tiga puluh pagi. Aku mampir ke Lembaga Bimbel Cerdas tempat Mbak Asih mengajar.

Terlihat sepi. Aku memasuki salah satu ruang. Terdengar tawa perempuan, ketika aku masih bingung hendak ke mana. Itu tawa khas Mbak Asih. aku bergegas ke ruang sebelah.

Ia kaget ketika aku tiba tiba ada di depan pintu ruang itu.

Ia menunduk. Diam. tiba tiba lengang karena aku juga terdiam.

“Ini puisinya,” kusodorkan kertas kliping puisi itu. Diambilnya dengan tetap menundukkan kepala.

“Terima kasih,” jawabnya singkat.

Adakah yang lebih menderita dari orang yang sedang dimabuk asmara yang datang tak terduga. Ada situasi yang membuat ini terjadi. Tapi bukan ini alasan pasti karena semua orang punya gejolak yang sama dan mempunyai pilihan untuk terhanyut atau mengabaikannya. Bagi lelaki mampukah ia mengabaikan pendar pendar cahaya yang begitu banyak gemerlapnya.

Aku dan istriku sudah 17 tahun bersama. Ia seorang perawat di sebuah Rumah Sakit di Kotaku. Istriku ini termasuk wanita yang tegas dan sedikit judes untuk tataran orang jawa. Meski kami menikah lewat berpacaran tapi pacaran kami cuma tiga bulan dan langsung menikah.

Aku hanya mengikuti iramanya aku pun tak perlu perlu amat untuk saling beromantis ria. Kita sibuk bersama soal ngurusi anak dan rumah tangga lainnya. Kita betul betul melupakan kebutuhan hati kita-tanpa kita sadari.

Hingga tibalah saat aku bertemu Mbak Asih. Aku kembali bergairah dalam hidup ini. Dan anehnya, istriku pun bergairah lagi untuk bermesra mesra denganku. Situasi yang seringkali terjadi di dunia ini sebuah kebetulan yang klop dengan situasi baru yang tak terduga.

Aku ada pada situasi sulit. Dua keindahan hadir pada satu momen. Yang satu adalah hakku dan yang satu adalah pilihanku. Keduanya istimewa, luar biasa dan bermakna. Aku terjebak tapi tak hendak menyerah. Aku yakin pasti ada maksud dan tujuan dari semua ini.

Saat aku memberikan puisi yang ia minta, Itulahpertemuan terakhirku dengan Mbak Asih. Sejak itu aku selalu menghindarinya bahkan hanya sekedar bersimpangan di jalan. Dia pun sepertinya begitu, karena aku pun jarang menemukannya baik di jalan atau di tempat kebiasaanya:perpustakaan kotaku.

Lama lama aku,merasakan ada kekosongan dalam hari hariku tanpanya. mungkin ada kebiasaan yang hilang saja kurasa. Aku tak terlalu risau namun kian hari aku semakin terus terbayang wajahnya. apakah ini rindu? Bukan bukan mungkin ini hanya kebiasaan yang hilang tanpa kehadirannya.

Seminggu. sebulan. hingga takterasa sudah tiga bulan aku tak bersapa dengannya baik itu ketemu muka atausekedar chat biasa.

“Kok terlihat lusuh kamubeberapa bulan ini,” Zidan teman kerjaku menyapa pagi itu.

“Ah, nggak..mungkin karena rambutku aja yang acak acakan hingga sepertinyalusuh tak terurus,” jawabku dengan tetap menuliskan laporan tahunan akhirtahun.

“Tahu sendiri lah, akhir tahun itu seperti apa?” aku melanjutkan dengan agak kesal.

“hahahahaha….nyantai, Bro…habis ini kita tour.” Sambil ngeluyur meninggalkanku ia menjawab seolah itu memberiku semangat kerja.

Aku masih serius dengan apa yang kukerjakan, tiba tiba otakku macet untuk menyusun kalimat laporanku. Aku memegang hape dan kucari kontak mbak Asih. Ada keinginan untuk menelepon hari itu. Lama kupandangi nama dalam hapeku. Ada fotonya separuh wajah dengan senyum yang sedikit menggoda.

Tak berapa lama kupencet nomor dengan gambar separuh wajah wanita paruh baya itu. ‘maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area’ suara mesin operator di ujung sana begitu menyesakkan terdengar di telingaku.

Aku bertanya tanya ada apa dengan dirinya. Aku makin gusar dan rasa kosong ini menikamku. Sepi.

Muson

Biarlah kebuntuan ini kujalani karena ya memang harus buntu jalannya terus harus bagaimana aku. Akankah kudobrak dengan palu godam biar tembok ini berantakan lantas benarkah dibalik tembok itu ada jalan yang lempang. Jangan jangan jalan ini memang jalan buntu. Tapi kalau memang buntu mengapa aku tidak boleh kembali apa aku akan tua dan mati di jalan buntu ini.

Aku terbangun ketika ketukan di pintu kamarku semakin keras. Mimpi ini telah satu minggu menjadi teman tidurku. Tentang jalan buntu dan aku tak boleh kembali aku harus diam di situ mencari kehidupan di situ mencoba membuat dunia dan komunitas atau ekosistim yang nyaman di situ i entah sampai kapan.

“Ya, tunggu,” teriakku ketika ketukan itu semakin keras terdengar. Hari sudah hampir melewatkan pagi karena suara burung tinggal satu dua tiga terdengar tidak riuh rendah bersautan sebagaimana waktu subuh. Sudah satu bulan ini aku selalu bangun kesiangan. “Selalu saja kesiangan, kau, dasar pemalas,” kata istriku dari balik pintu. “ Cepatlah kau antar Dina ke sekolah, Sudah setengah tujuh ini, jangan sampai terlambat lagi seperti kemarin” tambahnya.

Dengan bersungut-sungut aku turun dari tempat tidurku langsung menuju ke kamar mandi tanpa menoleh ke wajah istriku yang mematung di depan pintu kamarku. Sabun tinggal sebesar ibu jari ketika kubasuhkan kemukaku tak ada aroma wanginya lagi. Persediaan cadangan kebutuhan rumah tangga sudah habis sejak kemarin . Sudah habis semuanya, beras, uang belanja, sabun mandi,dan sabun cuci. Yang ada hanya tinggal semangat saja.

Terdengar berita dari televisi di ruang tamu kabut asap melebar kemana-mana sudah hampir mencapai Jawa. Asap pembakaran hutan yang memenuhi Sumatra dan Kalimantan rupanya ingin berbagi dengan saudaranya yang lain yaitu Jawa.

Ulah para cukong pengusaha dalam mengonsumsi kekayaan alam negeri ini seolah luar biasa rakus. Ratusan hektar hutan dibabat habis untuk keuntungan usahanya. Lingkungan yang hijau dan menyehatkan, dalam hitungan tahun ke depan hanya akan tinggal cerita yang didongengkan ke anak cucu saja. Semua gundul dibabat habis.

Tak ada lagi larangan bagi mereka karena aparat kehutanan dan para pengusaha itu sudah akrab berteman. Mereka saling membutuhkan dan disatukan oleh satu kepentingan: uang.

Televisi dengan cepat kumatikan saat anak berteriak, “Yah! Ayo mau terlambat ini, Lho.”

Di atas motor bututku sambil memboncengkan anak sulungku menuju sekolahnya, fikiranku melayang liar. Rejeki di negeri ini begitu sulit dibagi rata. Ada yang begitu mudah mendapatkannya, seperti pengusaha penghancur hutan itu,dan yang seperti aku ini entah bagaimana caranya bisa ikut menikmati. Sebagai nelayan kecil dengan pendapatan yang juga kecil ditambah daya jangkau kapal yang kecil, itupun milik juragan, apalah dayaku.

Mungkin hanya doa dan kesabaran saja yang menghiburku selama ini. Sudah sebulan ini aku berhenti melaut karena musim angin Barat yang membuat ombak begitu besar dan membahayakan bagi nelayan tradisional seperti aku ini. Saat saat seperti ini aku biasanya ikut melaut dengan perahu yang agak besar du desa tetangga yang terkenal bermodal menengah tapi sekarang pun sama kondisinya, juragan perahu besar takut melaut karena ada rasia pukat cantrang yang selam ini dipakainya. Dan itu adalah alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah.

Meski ada larangan mereka para juragan itu tetap main kucing kucingan dengan aparat kepolisian dengan alasan itu adalah alat tradisional yang tentunya berbeda dengan kapal yang bertonasi besar. Sudah sejak zaman kakek mereka yang dipakai ya pukat payang cantrang ini. Bagaimana mereka akan berubah jika kemampuan melautnya ya dengan pukat jenis ini.

Motor kuhentikan di depan halaman sekolah yang sudah ramai anak anak berbaris hendak melaksanakan upacara bendera hari Senin itu. Seperti biasa sepulang mengantar anakku aku mampir di warung kopi Lik Karto tempat berkummpulnya para nelayan desaku dan desa tetanggaku.

“Aduh, maunya pemerintah ini kita disuruh melaut paka apa. Gara gara ada larangan pukat cantrang ini, kita sulit melaut lagi. Bahkan yang lebih parah lagi, saat bersandar di Bawean atau Kalimantan kita diusir karena dianggap menghancurkan lahan pencaharian mereka, sial..sial…,” ujar Darman seorang juragan kapal payang saat aku tiba di warung Lik Karto.

“Coba ditanyakan ukurannya berapa sih yang menjadikan pukat cantrang kampong kita ini dilarang,” usulku sambil duduk menyebelahinya.

“pemerintah sudah nggak bisa dirembug lagi,” balas Darman seusai menghisap rokoknya dalam dalam.

“Memang jadi orang kecil ini susah. Berbeda bila yang usul itu konglomerat, pasti akan dipermudah. Semua hal di negeri ini kan kalahnya dengan uang,” jawabnya makin memuntab.

“Coba saja kau baca dan dengar berita di televisi dan koran; reklamasi, penjualan pulau, pencurian ikan, semua pelakunya adalah orang berduit. Tak mungkin mereka bila menjalani itu semua tanpa kemudahan dari oknum oknum yang mau disogok, yang tertangkap itu hanya mereka mereka yang apes saja, di luar sana masih banyak,” protes Darman seperti ingin meyakinkan pendengarnya.

Mereka memang layak marah. Meski di kampung kami ada himpunan nelayan sebagai wadah aspirasi para nelayan ke pemerintah tapi pengurusnya lebih banyak bungkam. Dan lagi lagi kebungkaman itu tetap saja disebabkan karena benda satu itu; Uang.

Di negeri yang banyak warganya silau dengan uang maka setiap jalan urusan akan mudah mengalir bila disertai dengan uang. Meski reformasi sudah ahmpir dua puluh tahun tapi cara perilaku hampir tetap sama dengan tokoh tokoh yang berbeda. Buktinya Komisi Pemberantasan korupsi tidak pernah berhenti menangkap koruptor di negeri ini.

Bagi orang kecil seperti aku ini, akses kemudahan urusan sebagai warga negara masih saja sulit. Seringkali aku harus mengalah untuk mereka yang berduit bila ada urusan dengan kantor pemerintah.

Sementara para nelayan masih sibuk berbincang tentang kondisi mereka yang sulit akibat larangan dari pemerintah perihal alat tangkap mereka yang dianggap membahayakan, aku duduk menyimak dan menghirup sisa kopi di cangkirku. Aku tersadar bahwa istriku tadi memesan lauk saat aku hendak mengantar anakku ke sekolah. Sementara kopiku ini adalah traktiran Darman dan uang di kantong celana hanya tinggal selembar dua ribuan aku putuskan pulang.

“Mana?…” istriku bertanya

“Hari ini pakai garam saja,” jawabku dengan muka penuh rasa bersalah.

Baca juga! gusliterabookreview

Buku, Waktu, dan Menunggu

Bila kita membicarakan waktu pasti setiap orang akan mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Bagi yang sedang tertimpa musibah waktu begitu lama berjalan begitu pula bagi yang sedang mendapat anugerah waktu terasa begitu singkat melintas. Memang kita menjadi begitu subyektif memaknai waktu.

“Yah,…mengapa saat aku membaca buku sepertinya terlalu sebentar waktu untukku. Selalu saja tiba tiba waktu tidur menjelang,” ujar anakku yang sulung sambil menghambur ke arahku.

“Ayah lho sejak tadi menunggumu membaca sampai terkantuk kantuk, kamu saja yang terlalu serius,” balasku sambil membelai rambutnya yang lurus panjang menghitam.

Ketika kita sedang membaca, sering tidak kita sadari kita sedang membuat jeda dari waktu yang bergulir.

Bila kita mau mengkaji, adakah di dunia ini, yang tidak sama mendapat pembagian waktu. Semua pasti akan sepakat dengan suara yang bulat bahwa kita sama dalam menikmati waktu. Sehari semalam kita semua mendapat waktu dua puluh empat jam tidak lebih dan tidak kurang. Terus adakah di antara kita yang sudah menggunakannya dengan baik atau barang kali dari 24 jam itu terlewat begitu saja.

Dengan jumlah waktu yang sama mengapa nasib kita berbeda. Adakah itu betul-betul nasib kita yang berbeda atau cara kita mengisi waktu yang berbeda yang akhirnya membuat kita mendapat sebutan yang berbeda; pengemis, perampok, pengusaha, pedagang, dan yang lebih malang adalah pengangguran.

Banyak buku buku tentang manajemen waktu berserakan di toko buku. Mungkin penulis itu lupa bahwa membaca itu juga perlu waktu tapi tak disinggungnya di buku buku itu.

“kamu dan ibumu itu sama; sering lupa waktu saat membaca buku,” kataku sambil mengantarnya ke tempat tidur.

“Ibu pernah bilang bahwa ia jatuh cinta pada ayah karena sebuah buku,” balasnya sambil tersenyum. “Aku ingin mengikuti jejaknya. Bila saatnya aku ingin jatuh cinta pada lelaki yang bisa memberi buku yang membuatku menangis dan tertawa,” lanjutnya sambil menutup pintu kamarnya.

Tidak mengherankan apabila banyak peribahasa yang menyebut tentang waktu. Ada yang mengatakan waktu adalah pedang kalau tidak mahir menggunakan akan melukai yang menggunakan. Ada juga yang mengatakan bahwa waktu adalah uang kalau tidak hemat menggunakan maka waktu akan terbuang percuma. Begitulah waktu diapresiasi dengan begitu rupa oleh siapa saja.

“Andai aku punya banyak waktu tentu aku tidak akan seperti ini,” kata seorang penganggur yang merasa selalu kekurangan waktu karena terlalu banyak tidur dan membaca buku tanpa pernah sekalipun melakukan sesuatu dari hasil membaca buku buku itu.

Buku adalah teman paling bagus untuk seseorang dengan banyak waktu luang, Waktu luang adalah hari raya bagi pembaca. Kesalahan terbesar pembaca adalah tidak pernah mengolah yang telah ia baca menjadi karya.

Tak heran sekarang ini bila banyak menjamur kursus manajemen waktu. Banyak orang yang ikut kursus itu berharap untuk bisa menaklukkan waktu-menata sekehendak hatinya.

Di pagi yang dingin karena sisa hujan semalaman, aku duduk di ters rumah sambil membaca buku kesukaanku bagaimana cara memabaca buku. Saat menikmati jeda waktu di tengah membaca buku, tiba tiba anakku datang.

“Ayo ke toko buku mumpung libur, hari ini,” pintanya.

“Buku sekarang mahal mahal, kita tunggu kalau ada obral di kios pak Darto.”

“Ya…gagal lagi.”

“Ning, jadilah kutu buku yang rasional. Jangan pernah habiskan waktu dengannya. Harus kau sisakan waktu untuk mengolah yang kau baca menjadi karya, entah apa itu bentuknya realisasikanlah yang masuk ke otakmu dengan sesuatu yang bisa kau bagi dengan orang lain.”

Aku mengingatkannya untuk waspada terhadap buku karena kutu buku itu baik tapi meluangkan waktu untuk berkarya adalah yang terbaik.

Jangan-jangan Sang waktu sedang tertawa. Menertawakan tingkah polah orang yang sedang mencoba menaklukkannya. Ia heran bagaimana bingungnya orang menghadapi dirinya yang hanya berjumlah 24 jam sehari-semalam hingga harus kursus manajemen waktu segala.

Bagiku, waktu tetaplah sebuah rahasia abadi karena aku tidak tahu kapan ia berhenti bersamaku. Tidak ada yang perlu disesali dengan berjalannya waktu, toh waktu tidak akan kembali dan dia akan terus melaju. Yang lebih penting lagi ialah bagaimana kita bisa bersama dengan waktu mengisi hari-hari kita jangan sampai kita ditinggalkan oleh waktu yang bergerak lebih cepat dari gerak kita.

“Ayo lebih cepat kita sedang terburu-buru, nih,” kata istriku yang sedang membonceng di belakangku.

“Mengapa kita mesti terburu-buru mengejar waktu bukankah salah kita mengapa kita tidak terjaga lebih dulu dan mendahului waktu sehingga kita akan menjadi seorang penunggu.” balasku.

Setibanya di tempat jumpa penulis itu, istriku menyodorkan bukunya ke meja untuk ditandatangani oleh penulis buku yang sangat ia suka. Buku dengan judul Cara Terbaik Menghabiskan Waktu Dengan Suami. Itu adalah buku mas kawinku dengannya. Aku menunggu di tempat parkir sementara ia antri menunggu sang penulis datang.

Sambil menunggu, kubaca sebuah kalimat di buku tentang menunggu..

Manusia, adalah makhluk yang sangat jengkel apabila disuruh menunggu. Bukankah dengan menunggu berarti kita telah mendahului waktu? Mengapa harus jengkel, bosan, apalagi marah apabila harus menunggu? Coba mereka berpikir bagaimana penyesalan yang diakibatkan oleh perasaaan ketinggalan, terlewatkan dan kita baru sadar ketika waktu sudah jauh melesat. Kecewa.

Baca juga! gusliterabookreview

DILEMA SANG ARSIPARIS

“Sudah berulang kali aku beritahu aku nggak mau mencuri,” kataku pada istriku yang terus saja mengomel minta dibelikan kalung. Sudah satu minggu ini aku diomeli oleh istriku yang minta dibelikan kalung emas yang bobotnya tidak lebih dari dua gram. Bukanya aku pelit tapi aku memang tidak punya uang untuk membelikannya.

Sebagai pegawai negeri golongan dua yang gajinya hanya cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari, itupun dengan asumsi tidak ada yang sakit di antara anggota keluargaku, karena apabila ada yang sakit, dijamin gajiku bakal kurang. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil aku pun harus waspada terhadap segala bentuk rayuan barang-barang sekunder yang berusaha memoroti gajiku tiap bulannya.

“Mas, bu Edi tadi barusan cerita pada saya habis dari pasar pagi tadi, dia menunjukkan kalung yang dulu aku minta pada mas untuk membelikannya, akhirnya ia yang memilikinya. Padahal pak Edi kan sama golongannya dengan mas di PNS, sama-sama golongan dua,” Istriku mengadu sore itu padaku. Istriku memang belum menyadari betul-betul bahwa rejeki orang itu berbeda-beda walaupun toh sama jenis pekerjaannya. Pekerjaan bisa ditiru, cara bekerja bisa ditiru tapi urusan rejeki nanti dulu.

Apalagi ditambah jabatanku hanyalah seorang arsiparis yang bagi sebagian pegawai negeri sipil adalah pekerjaan yang sering diberikan pada orang-orang buangan di lingkungan kerjanya. Arsiparis hanyalah seorang penanggung jawab urusan kertas-kertas berdebu. Itulah yang disangkakan kebanyakan rekan-rekan kerjaku.

Pagi ini aku berada di kantor seperti biasa seolah tak ada masalah apa-apa di rumah dan memang urusan di rumah, tidak etis kalau dibawa-bawa ke kantor. Teman-teman juga demikian saling bergurau tentang hal yang jorok sampai hal yang kadang-kadan tidak bisa lagi untuk ditertawakan karena terlalu jorok.

“Nes, rambutmu basah sekali hari ini, berapa kali tadi malam kau bertempur, K.O ya,” Edi dengan senyum terkekeh menggoda Ines teman kantorku yang baru saja menjadi pengantin. Baru seminggu ia menikah dengan rekan sesama pegawai tetapi dari instansi yang berbeda. Ines yang digoda hanya bisa menjawab dengan tersenyum disertai muka yang memerah.

Selain Ines di kantorku juga ada lagi yang sering jadi bahan godaan yaitu Bu Sari yang memang terkenal genit walaupun sudah punya cucu. Tapi memang dasar orangnya agak lumayan juga untuk ukuran wanita paruh baya seperti Bu Sari. Rambutnya saja masih direbounding seperti gadis-gadis belasan tahun. Kebetulan juga ia belum genap satu tahun menjanda jadi rekan-rekanku di kantor makin semangat menggoda.

Bu Sari adalah pegawai buangan di kantorku. Dianggap buangan karena ia dimutasi ke tempat kerjaku yang terkenal kering. Ia terkena kasus penggelapan dana proyek dan untung tidak sampai di penjara karena keburu ketahuan rekan sesama kantornya. Memang di kantor orang sering lebih banyak berguraunya daripada bekerja, terlebih lagi kantor pemerintah.

Dan itulah efek dari penempatan pegawai yang tidak efisien apalagi untuk dikatakan efektif. Bisa dilihat dari contoh berikut, seorang insinyur harus menempati bagian dokumentasi sebuah institusi pemerintah yang berkaitan dengan dunia perpustakaan, hanya dengan alasan agar seorang pegawai berpengalaman di segala bidang. Ada lagi yang lebih lucu di mana seorang sarjana bahasa ditempatkan di bagian keuangan. Tapi itulah dunia lembaga pemerintah yang hampir sebagian besar pejabatnya mempunyai kredo yang manjur; ALA BISA KARENA BIASA, hebatkan.

Sedangkan aku memang sudah sejak semula ditempatkan di kantor kearsipan ini. Sebagaimana latar belakang pendidikanku yaitu alumni Diploma tiga Kearsipan dari sebuah Universitas di Yogyakarta. Pada mulanya aku membayangkan ketika pertama kali aku masuk diterima CPNS aku akan selalu bersinggungan dengan dunia arsip. Dunia yang membuatku jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan informasi. Namun, apa yang terjadi ketika aku mendapat sk penugasan dari kepala di Instansi tempat aku ditempatkan ternyata aku diperbantukan di bagian keuangan mendampingi seniorku. Bisa dibayangkan betapa terasingnya aku dengan pekerjaanku ketika pertama kali aku masuk dinas di pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil. Dan memang kegiatan administrasi keuangan lebih dipentingkan dan lebih banyak menyita waktuku dari pada dengan tupoksiku sebagai seorang arsiparis, yaitu mengelola arsip dan informasi.

Keadaan inilah yang membuatku repot, istriku menganggap suaminya ini adalah pengelola keuangan bukan pengelola arsip jadi bisa bisa mendapat penghasilan berlebih. Bagian keuangan tempat mengelola keuangan tentu banyak rekayasa yang berkaitan dengan rupiah. Sialan. Aku menyesali keadaanku sekarang yang semakin mendekatkan aku dengan dunia curi mencuri. Apes.

Sebenarnya urusan merekayasa nominal yang dalam istilah kerennya mark up sudah hampir bisa dikatakan lazim atau biasa. Biasanya alasan yang dikatakan teman-teman adalah tidak mungkin kalau kita hanya mengandalkan gaji untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Jadinya ya begitulah sejak Indonesia merdeka sampai sekarang ini mental pegawai ya begitu itu, harus pintar ngobyek dan patuh sama atasan.

“Begitu kita mendapat Nomor Induk Pegawai kita ini sudah masuk ke dalam lingkaran setan, Bud,” kata Deni seniorku ketika aku mencoba berkeluh kesah tentang perilaku pegawai negeri dengannya. Aku pun tidak menyalahkan atau membantah komentarnya.

“Kalau kamu tidak mau mencuri ya jangan jadi pegawai negeri, ngaji saja di rumah,” lanjutnya waktu itu.

Semenjak ngobrol dengan Deni itulah dibenakku sering timbul pertanyaan apakah semua pegawai yang korup suka mencuri uang anggaran kegiatan itu merupakan watak bawaan atau karena ada faktor lain, keluarga misalnya. Bisa saja karena gajinya kurang untuk menopang hidupnya. Sebenarnya gaji tersebut tidak kurang tapi habis hanya untuk membayar angsuran di bank sehingga yang dibawa pulang biasanya tinggal sepertiganya. Dan biasanya uang hutang itupun hanya untuk biaya konsumsi yang tidak penting.

Kenyataan yang ada pun banyak juga pegawai yang gajinya besar tapi masih saja mencuri alias korupsi. Kalau yang demikian ini aku termasuk salah satu orang yang menyangsikan bahwa untuk menghentikan korupsi di lingkungan pegawai negeri harus dengan jalan menaikkan penghasilannya. Karena kenyataan yang ada, korupsi disebabkan karena nafsu konsumtif yang menggebu-gebu lah penyebabnya.

Seperti halnya isteriku yang sebulan ini terus merengek minta perhiasan padahal ia sudah memakai perhiasan adalah wujud konsumtifisme buta yang menggoda suaminya untuk mencuri-curi uang tambahan. Sudah sejak pertama kali jadi pegawai aku sudah menyadari gaji yang akan kudapatkan hanya cukup untuk hidup sederhana selama sebulan dan sudah pula kusadari resiko kekurangan gajiku.itu.

“Sudahlah, dik, gajiku tidak cukup untuk kebutuhan sekunder itu, jangan memancing saya untuk mencuri uang kantor,” alasanku yang kesekian kali ketika ia terus menagih untuk dibelikan kalung.

“Masak kerja di Bagian Keuangan mas nggak dapat uang sampingan,” rengeknya bersungut-sungut.

“Sumber pendapatan kita hanya satu, lagian aku hanyalah seorang arsiparis bukan staf keuangan seperti yang kamu sangka, ya gaji itu, tidak ada yang lain, kamu kan masih memakai cincin mas kawin kita, itu kan masih pantas, tho .” bujukku.

Bila ku pikir-pikir apakah benar bahwa pejabat yang suka mencuri itu memang berwatak pencuri atau kah mereka mencuri karena sebab-sebab lain yang tak kuketahui, istri yang terlewat konsumtif misalnya. Atau mungkin mereka salah pergaulan, misalnya teman sehari-harinya ialah pengusaha kaya yang gaya hidupnya pasti perlu biaya tinggi, jadi kalau hanya sekedar mengandalkan gaji pasti ketinggalan dengan temannya yang pengusaha itu.

“Orang hidup itu perlu perhitungan matang. Baik dalam segi materi maupun non materi harus cermat mengelola hidup kalau tidak ya kita pasti kalang kabut.” Begitu petuah pak Imam ketika sore itu aku dating ke rumahnya untuk meminjam uang. Pak Imam adalah guruku SD ia terkenal sebagai pengusaha di desaku yang dermawan dalam memberikan pinjaman. Walaupu ia hanya lulusan SD tapi kegigihannya dalam bekerja sejak kecil menjadikannya ia sebagai pengusaha di bidang perikanan. Banyak pabrik di kota yang membutuhkan pasokan ikan darinya. Di sela sela kesibukannya sebagai guru ia masih mengurusi beberapa pengepul ikan yang menyetor ikan padanya.

“ Maaf, pak, anu….. gajiku habis, sedang bulan baru dua puluh hari berjalan,” jawabku ketika pak Imam bertanya tentang alasanku mau menghutang lagi padanya. Walaupun dengan bayak petuah yang membuatku merasa semakin mejadi orang bodoh saja pak Imam pasti memberiku pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari yang memang kurang, terutama bila ada anggota keluargaku yang kebetulan sakit.

Dengan perasaan campur aduk antara sedih dan lega, aku pulang ke rumah. Bayangan sakitnya anakku melintas terus di benakku. Langkahku semakin kupercepat. Tak lupa aku mampir ke apotik untuk membeli sirup penurun panas. Uang hasil pinjaman masih tersisa separuh, cukup untuk sepuluh hari ke depan.

BELAH

 

 

Perjalanan waktu yang panjang menyusuri detik detik menuju pertemuan yang lama kurindukan. Di atas bus kota yang membawaku ke kota kelahiranku , Paciran. Desa yang panas dan beraroma asin karena berada di pesisir pantai utara Lamongan. Suara keroncong Tuti Tri Sedya membawakan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama membuat perjalananku malam hari itu terasa sedikit terhibur dan tidak menjemukan, walaupun bus penuh sesak dan kadang-kadang diselingi suara tangis dari bayi yang terjaga dari tidurnya minta disusui ibunya.

 

Masih sekitar kurang lebih tujuh puluh kilo meter lagi menuju desaku, ketika bus memasuki hutan antara Ngawi dan Bojonegoro. Jalan berjurang dan Penuh liku membuat kantukku hilang dan tak bisa tidur. Entah sudah berapa tikungan aku lalui dan tanpa terasa kantukku pun datang kembali.

 

“Mas, nyampek mas, bangun,”suara kondektur menyadarkanku dari tidurku. Aku bergegas turun mengambil ranselku sambil mengucap terima kasih pada kondektur yang telah membangunkanku. Jam menunjuk pukul sembilan malam ketika aku lihat arlojiku. Suasana terminal Tuban sudah agak sepi dan angkot menuju desaku pun sudah jarang walaupun masih bisa kutemukan kalau aku mau bersabar menanti.

 

Tak lama berselang angkot pun datang “Blimbing, Blimbing, ayo terakhir,” suara kenek angkot menawari setiap orang yang berdiri di depan terminal. Segera aku memasukinya, “Lho kok kowe, Gus,“ sapa kenek tersebut ketika aku mendekatinya. “ Ya mau liburan sambang emak” jawabku.

 

Suwe, gak mulih, kon,” lanjutnya. Ternyat kenek angkot tersebt adalah Memet sahabatku waktu SMA. Dia kelihatan lebih dewasa dan terlihat kekar walaupun waktu masih sekolah badannya kerempeng. Memang orang yang bekerja sejak muda wajahnya kelihatan lebih dewasa nggak tahu kenapa. Sebenarnya Memet ini waktu sekolah sangat pintar. Ia termasuk tiga jawara di kelasku, selain ia masih ada Agung dan Bachri. Mereka bertiga selalu berbagi rangking satu , dua, dan tiga. Dan biasanya rangking empat selalu menjadi bagianku.

 

Ayah memet adalah nelayan di desaku yang penghasilannya tidak menentu karena dalam bekerja ia tidak mempunyai perahu sendiri hanya ikut juragan. Juragan adalah orang yang punya perahu. Biasanya juragan mengajak seorang lagi untuk membantunya melaut mencari ikan atau lebih di kenal dengan istilah Belah di desa kami. Karena ayahnya hanya searang belah memet tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Karena biasanya anak seorang belah begitu lulus sekolah dasar akan langsung jadi belah juga. Diikutkan dengan juragan kenalan ayahnya. Hidup di desa nelayan seperti desaku memang banyak anak yang hanya lulus sekolah dasar. Memet termasuk anak belah yang tergolong masih beruntung bisa lulus SMA tidak disuruh kerja seperti anak anak belah yang lain begitu lulus SD.

 

Setelah satu jam perjalanan dari tuban angkot sudah memasuki wilayah desaku. Aroma laut langsung menyengat hidungku. Bau udara yang khas membuatku selalu rindu akan desaku. Aku turun sambil menyodorkan ongkos pada Memet tapi Memet menolak, “Nggak usah bolo dewe,” aku menjadi rikuh karenanya.

 

“ Main ke rumah, yo , “ ajakku pada memet ketika angkotnya hendak berangkat lagi. Dalam hati aku bertanya banyakkah anak-anak seperti Memet di negeri ini. Ataukah hanya ada di desaku yang memang terpencil. Desa nelayan yang tak begitu menghiraukan akan arti penting pendidikan bagi anak-anaknya. Dan sering kali para orang tua di desaku itu berkata berkata, “Kalau tanpa sekolah pun bisa bekerja mengapa harus susah-susah menyekolahkan anak.”.

 

 

HUMANISME PROBO

Sudah satu minggu aku tinggal di rumah temanku, Probo, yang berada di Yogya persisnya di Gowok, Sleman. Sepanjang itupun aku belum pernah menyaksikan temanku itu melaksanakan sholat-padahal ia muslim. Di rumahnya ada sajadah tapi jarang dipakai hanya tersimpan di almari. Sajadah itu hanya terpakai ketika aku ke sana. Jadi bisa dibayangkan ketika Aku pertama kali memakainya baunya seperti debu karena terlalu lama tersimpan di almari kayu.

Probo memang tinggal sendiri di rumanya dia hanya pulang 3 hari sekali ke rumah istrinya di Klaten. Dan itu sudah dilakukannya semenjak tiga tahun lalu. Di yogya ia berprofesi sebagai penulis lepas untuk beberapa harian surat kabar.

Sebagaimana biasanya, kedatanganku ke Yogya hanya untuk sekedar melepas kangen dengan suasana kota budaya ini. Maklum, aku pernah hampir lima tahun tinggal di kota ini. Yaitu saat aku kuliah dulu di salah satu Universitas tertua di negeri ini Universitas Gadjah Mada. Dan setiap aku ke Yogya tempatku menginap adalah teman akrabku sewaktu kuliah dulu, Probo Adikara.

“Gimana, Ton, apa keluargamu sehat semua?” pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh Probo, ketika pertama kali ia ada kesempatan untuk menanyaiku. Dan biasanya berlanjut ke pertanyaan tentang pekerjaanku.

Probo adalah orang yang pertama mengingatkan aku untuk mengambil kesempatan ketika ada sebuah lowongan di Kota kelahiranku, sebagai PNS. Hal ini dikarenakan- menurutnya aku adalah orang yang tipe karyawan jadi sangat cocok apabila menjadi Pegai Negeri Sipil. Dia menganggap aku adalah tipe manusia penurut yang patuh pada aturan walaupun menurutnya aku termasuk orang yang pintar tapi tidak bakal bisa berkembang karena sifat penurutku itulah yang mengunci kreatifitasku, katanya suatu ketika.

Terlepas dari segala kebaikan maupun kesederhanaan yang Probo tunjukkan selama berteman denganku, sebenarnya ada kesedihan yang mengganjal di hatiku terhadapnya. Ia jarang sholat bahkan bisa dikatakan tidak pernah, padahal sekali lagi aku tegaskan ia islam. Keluarganya islam, ayah dan ibunya juga muslim, tidak seperti keluarga gado-gado lainnya yang biasa aku temui di daerah Yogya- suami islam dan istri non muslim atau sebaliknya.

Menengok latar belakang yang demikian bisa dikatakan Probo berasal dari keluarga muslim yang kental. Kakek neneknya sudah haji ke Makkah. Bapak dan ibunya juga. Probo juga pintar mengaji alqur’an.. Dibandingkan dengan aku sepertinya lebih lancar temanku itu dalam membaca al qur’an. Tapi persoalan Cuma satu mengapa ia tidak mau sholat.

Sebenarnya ketika aku pertama kali ketemu dengan Probo, saat awal kuliah dulu ia masih belum seperti ini. Setiap waktu sholat ia tak jarang sering mengajak aku ke mushola kampus bersama untuk berjamaah. Namun semenjak ia sering membaa buku-buku yang radikal ditambah pergaulannya dengan teman-temannya yang bergaya Hippies ia sedikit-sedikit mulai berubah pemahamannya tentang agama. Humanisme adalah kosa kata yang sering ia katakan kepadaku.

Humanisme telah melupakannya dari pemahaman agama. Baginya dalam hidup ini yang penting adalah berbuat baik dengan sesama, persetan dengan ritual agama. Menurutnya buat apa rajin sholat kalau masih sering menyakiti orang lain. Mengambil hak orang lain. Menipu orang lain dan masih banyak lagi. Yang penting orang harus memanusiakan orang lain.

Dia tidak menyadari bahwa pemikiran seperti ini berbahaya dikarenakan ia tidak pernah merasa bersalah.. Kebiasaan dari penganut aliran humanisme adalah baik kepada orang lain tetapi tidak menyayangi diri sendiri. Mereka banyak yang hobby mabuk. Gemar melaur. Gemar berjudi dan masih banyak lagi. Yang penting prinsipnya dalam hidup ini jangan membuat orang lain menderita. Kalau diri sendiri yang menderita tak apalah.

“Jangan dikira aku tak pernah ingat tuhan walaupun aku tidak pernah sholat, Ton,” jawabnya ketika aku menanyainya perihal kejarangannya dalam sholat.

‘Eling sing nggawe urip iku dalane akeh*, Ton,” tambahnya waktu itu. Aku hanya tersenyum kecut tidak bisa lagi berbantah dengannya. Dengan hati agak kesal akupun membalasnya “Sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, kawan.”

Saat itu ia semakin sengit membalas pernyataanku menurutnya apakah para koruptor, pembunuh, penculik, penjudi dan sebagian pelaku aneka jenis kejahatan yang lain di negeri Indonesia tercinta ini semua tidak pernah sholat? Bukankah mereka semua adalah tokoh-tokoh masyarakat juga tokoh agama bahkan di antara para koruptor itu ada yang sudah haji. Dia malah memberi pertanyaan padaku waktu itu, “Apakah mereka bisa menghindar dari perbuatan keji dan mungkar padahal mereka semua adalah orang-orang yang secara kasat mata adalah ahli sholat.”

Selama satu minggu di tempat Probo aku selalu terngiang-ngiang pada pertanyaan temanku itu. Dalam hatiku merasa apakah dia kecewa dengan perilaku para ahli sholat itu. Tapi bukankah hidup ini harus seimbang dalam berbuat baik. Kita harus berbuat baik pada sesama manusia juga harus membina hubungan baik dengan Sang pencipta.

Di dalam bis yang mengantar perjalananku pulang kembali ke Lamongan aku masih memikirkan temanku itu. Ketika sampai di rumah, seperti biasa, aku langsung menghidupkan komputerku untuk melihat berita lewat internet. Keringatku dingin. Kaget. Tertulis dengan besar sekali sebuah headline “PROBO, PENULIS TERKENAL DARI YOGYA DITANGKAP POLISI KARENA MENIKAM PEMABUK YANG SEDANG KENCING DI DALAM MUSHOLA”