Caleg Parto

Ia tetap yakin dengan dirinya. Yakin bahwa ia akan terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di daerahnya.
Berbekal pertemanan yang banyak, ia pun maju sebagai salah satu calon legislatif. Meski ia tak punya keturunan pejabat dalam keluarganya, Parto bergeming untuk mendaftar melalui Partai Berdikari yang terkenal punya basis massa di desanya.
Parto hanyalah seorang yang biasa. Dari keturunan orang biasa saja. Tidak ada satupun dari anggota keluarganya yang pernah menjadi anggota dewan atau pejabat di instansi pemerintah. Bahkan yang jadi kepala desa pun tak ada. Bisa dikatakan ia hanya berbekal nekad.
Sehari harinya ia adalah guru madrasah swasta di desanya. Muridnya banyak dan dari beberapa alumni yang pernah menjadi muridnya ada yang sudah menjadi pejabat pemerintahan, anggota dewan pusat dan juga ada yang jadi pengusaha sukses luar biasa.
Perawakannya kerempeng dengan wajah asli ndeso, bagi sebagian warga desanya, ia dianggap kurang meyakinkan untuk menjadi seorang pejabat apalagi anggota dewan.
“Anggota dewan itu harus berwibawa, tegap, dan meyakinkan, To,” kata Zudi salah satu warga di desa Parto saat mereka bercengkerama di sebuah mushola.
“Yang penting kita siap mengabdi dan dicaci siapa saja boleh menjadi anggota dewan, Zud,” balas Parto dengan pedenya.
“Apa mesti harus kena caci maki jika seseorang jadi anggota dewan?” tanya Kang Kardi yang sepertinya nggak mau kalah untuk usul berpendapat.
“Itu jelas, karena pasti ada saja yang kecewa dengan kerja kita. Dan lagi,… tidak mungkin kita bisa memaksa orang lain untuk memaklumi cara kerja kita,” Parto melanjutkan penuh keyakinan.
Sudah hampir tiga puluh tahun Parto mengabdi menjadi guru di sekolah swasta desanya. Pahit getirnya menjadi guru swasta telah ia jalani bertahun tahun sehingga ia hapal setiap keluhan yang pernah ia utarakan. Mulai dari gaji yang kecil, ketidakpastian status, dan tentunya bagaimana sulitnya menghadapi kurikulum yang setiap periode harus ganti.
Semua itu dijalani dengan tabah dan ikhlas hingga pada suatu hari salah satu muridnya yang jadi anggota dewan berkunjung ke rumahnya. Imron yang dahulu adalah muridnya yang paling bandel di kelas itu, kini telah menjadi anggota dewan. Penampilannya parlente dengan kaos berkerah dan celana kain yang rapi. Gaya bicaranya pun sedikit kebarat baratan dengan logat bicara resmi seperti dalam protokol kecamatan.
Dalam kunjungan itu Imron berujar, “Bapak ini akan lebih baik jika bisa berkiprah menjadi anggota dewan.”
“Bapak akan lebih bisa mewarnai rapat rapat di ruang sidang. Melihat cara berbicara Bapak saat mengajar saya dulu, saya yakin bapak mampu,” lanjut Imron.
Perkataan itu terngiang terus di benak Parto. Ia yang telah mengajar anggota dewan itu selama enam tahun di sekolahnya. Kini murid bengalnya itu datang untuk meyakinkannya agar mencalonkan diri menjadi anggota dewan.
Ketika Istrinya diberi tahu perihal keinginannya untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan, istrinya itu hanya tertawa. Mungkin bagi istrinya Parto hanya bergurau.
“Jadi anggota dewan itu harus punya uang banyak, Pak,” kilah istrinya saat pertama kali ia sampaikan keinginannya.
“Lho, jadi anggota dewan itu hanya butuh kepercayaan, Bu, Kepercayaan……..” Parto menjelaskan sambil melanjutkan, “ Buat apa uang jika kita tak dipercaya orang.”
“Heemmmz…..Lagian siapa yang mau mempercayai bapak, kan Bapak nggak meyakinkan penampilannya. Paling paling di dunia ini hanya aku yang percaya kamu,” istrinya bersungut sungut memberi pemahaman.
Tak mau kalah dengan istrinya Parto melanjutkan, “Lihat saja nanti. Aku punya murid banyak yang bisa kuandalkan untuk menjadi tim suksesku.”
Di benak Parto, dengan berbekal banyak kenalan dan mantan murid yang sudah jadi orang, ia yakin pencalonannya nanti tidak sia sia. Selama ini ia belum pernah punya cacat sosial di masyarakat. Salah satu kekurangannya adalah kemiskinan.
Seberapapun pintar dan cerdasnya seseorang kalau dia nggak punya materi untuk dijadikan modal sosial maka omongannya tak akan pernah digugu. Bukankah sudah lazim di negeri ini kata kata jutawan lebih punya daya gedor dibandingakn dengan kata kata yang dihasilkan oleh orang pintar. Pemikiran ini sepertinya sejalan dengan pemikiran istri Parto.
Pernah suatu kali istrinya mengingatkan ,“Pak, ingatlah saat setiap rapat di mushola, meski Bapak sudah ngomong hingga bibir terkelupas orang kampung kita masih saja menunggu omongan dari juragan Hasyim di akhir rapat. Seringkali omongan Bapak hanya jadi bahan obrolan saja dalam rapat.”
Setahun kemudian saat pemilihan umum diadakan dengan muka penuh keyakinan Parto duduk menunggu di dipan rumahnya ditemani mantan mantan muridnya yang jadi tim suksesnya. Ada beberapa di antara mereka yang wajahnya terlihat lusuh dan lelah.
“Kita masih punya harapan di kecamatan sebelah, Pak, tenang penghitungan belum selesai,” salah seorang di antaranya membesarkan hati Parto. Parto masih terdiam mengenang saat saat berkampanye tiga bulan lalu. Ia menjanjikan perubahan pada daerahnya saat terpilih nanti. Baginya, tak akan ada lagi uang sebagai jalan mempercepat urusan dalam pemerintahan.
“Korupsi itu racun. Mari bersama sama memeranginya. Saya akan menjadi corong saudara semua di gedung dewan nanti. Kita mampu jika mau dan Anda semua harus bersama saya memperjuangkan itu, sanggupkah saudara saudara?” ujarnya ketika itu berapi api.
“Sanggupppppp…..” itulah jawaban yang massa berikan saat mendengar pertanyaan Parto dalam kampanyenya waktu itu.
Seseorang datang tergopoh gopoh dari halaman depan rumah Parto. Ia kelihatan panik, dan langsung menghambur ke hadapan Parto, “Habis kita! habis kita! tak ada lagi harapan. Kita telah dikalahkan oleh uang.”

Iklan

Begawan Desa

Semua orang tertegun melihat sosokmu. Dengan topi khas seniman dan rokok menyala di tangan kananmu. Sesekali kau hisap rokok itu penuh penghayatan dan orang orang yang duduk di kursi acara peringatan kepenyairanmu begitu terpesona. Gayamu seringkali menjadi panutan namun jarang cara berkaryamu.

“Terima kasihku pada Anda semua yang hadir di sini, ini bagiku terlalu berlebihan,” Katamu. Semua yang hadir seperti tertusuk saat kau mengucapkan itu. Mereka yang selam ini mengenal sosokmu hanya lewat puisi dan geguritan yang kau tulis menjadi begitu terpukau. Bengong.

Seseorang yang duduk disampingku bertanyam, “Mas, itu, ya, yang bernama Herry Lamongan?”

“Betul, dia memang begitu cara bicaranya, serak dan berat.” Jawabku memberi penjelasan seadanya karena aku sendiri juga baru tahu sosoknya. Bagiku pura pura mengenalnya akan membuatku sedikit keren dimata orang yang bertanya kepadaku.

Saat acara dimulai, dan Herry member sambutan semua terdiam. Namun, saat semua diberi kesempatan bertestimoni semua antusias ingin maju ke depan. Ruangan Aula Perpustakaan umum itu menjadi riuh dengan gelak tawa.

“Bagiku, Mas herry adalah guru menulis yang rendah hati. Meski namanya sudah melanglang buanan di jagad sastra, ia masih mau bergaul dan membimbing kita yang notabene dari desa atau kota kecil di Jawa timur yaitu Lamongan,” kata Syauqi anak didiknya yang paling tawaduk dan kualitas karyanya bisa dikatakan sebanding dengan gurunya itu.

Puja puji terus mengalir siang itu di ruang Aula Perpustakaan Umum Lamongan. Si Kribo kecil dengan penampilan dekil mendadak maju ke depan. “Karena sebab aku berkenalan dengan Herry Lamongan aku pun menjelajah lima benua. Dia adalah guru menulis pertamaku dan sampasi kini ia masih menjadi guruku.” Teriaknya lantang.

“Mas Gusti, dia itu adalah penulis produktif, ia tinggal di Yogya dan jika lebaran pasti berkunjung ke rumah Herry Lamongan,” ujar Munduk yang selama acara duduk di sampingku memberitahuku saat melihat aku begitu tercengang mendengar testimoni si kribo.

Sebenarnya acara ini hanyalah untuk memperingati ulang tahunnya yang keenam puluh tahun perjalanan hidupnya. Selama itu hampir empat puluh tahun lebih ia telah berjibaku dengan dunia tulis menulis. Ia bisa menulis dengan dua bahasa yaitu bahasa ibunya, bahasa jawa dan bahasa nasional bahasa Indonesia.

Dalam dunia sastra jawa ia malah lebih dulu dikenal daripada di dunia sastra Indonesia. Geguritan yang ditulisnya sangat bernas dan liris sekali bahasanya. Aku lebih menggemari puisi bahasa jawanya itu karena lebih mudah kuhayati. Dan memang, bahasa jawa lebih dalam dan merasuk dihati saat diucapkan daripada bahasa Indonesia. Mungkin itu juga karena pengaruh bahwa aku adalah orang Jawa.

Inila salah satu geguritannya yang paling kusuka:

SANGU ELING

layangmu kang tansah dhawuh

ora leren leren

ngentas sapa wae kang sudi ngundhuh

bagus lan ala kanthi anteng

kanti meneng lan seneng

kadya bumi apadene bengawan

tansah bungah karawuhan sapa wae

lila dilurug apa wae,

pawongan kang ora gampang nyacat

utawa ngroweng dening kahanan krana sih-palilahmu

yekti bakal mapan ing larik ngarep

jalaran ngerti yen sejatine ora ngerti

Dalam testimoni aku pun membacakan gurit ciptaanya ini. Aku merasa diksi yang ia pilih begitu pas dengan jalan hidupnya.

Plok plok plok plok………tepuk tangan itu begitu panjang saat aku usai membaca puisi berbahasa jawa itu. Kulihat mas Herry berkaca kaca. Lama ia tertegun dengan tatapan kosong, menerawang entah mengingat suatu peristiwa yang mana.

“Menjadi orang itu harus rendah hati, mas…” kata harist mengulang kata kata Herry Lamongan suatu ketika ketika kami ngopi berdua.

Saat itu, sebagaimana yang diceritakan oleh Harist, temanku yang memang sangat gemar sastra dan mengaku terinspirasi oleh Herry Lamongan ketika ia juga memutuskan menjadi sastrawan, ia sedang bermain ke rumah Herry Lamongan ketika Sang Begawan itu memberinya petuah karena ia terlalu berbangga memperlihatkan novel pertamanya padanya .

“Yang paling kuingat adalah suara tawanya yang berat dan singkat,” terang harist menambahkan.

“Dan dia juga penggemar kopi yang akut,” kata nisa saat aku bertanya padanya perihal kesukaan Herry Lamongan ketika kami sedang sama sama mengambil teh hangat yang disediakan panitia.

Tanpa terasa hari semakin panas dan kami yang berada di Aula pun makin kegerahan. Tinggal satu lagi testimoni yang belum tampil. Lelaki pendiam berkacamata yang sedari tadi duduk membaca buku persembahan untuk Herry Lamongan tiba tiba terhenyak.

“Hadewwwww…….MC nya ini bikin gara gara!” sungutnya saat mendengar namanya disebut pembawa acara siang itu.

Lelaki berkaca mata ini pun menambahkan, “Dia, Herry Lamongan, adalah sastrawan yang anti pakem dan juga tidak liar sebagaimana Remy Sylado. Bahkan puisinya pun liris namun bukan seperti gayanya Sapardi. Ia membuat gayanya sendiri, Gaya Lamongan.”

Serentak seluruh peserta pun tergelak dan merasa ujaran lelaki ini ada benarnya. “Dia adalah bagi kita yang akan mengambil air kata kata. Yang paling kuingat adalah pesannya saat pertama kali aku dan Herry saling berjumpa, jika kita hanya butuh air satu gayung mengapa mesti kita angkat itu sumur, ” pungkasnya sambil menjabat tangan Herry Lamongan.

Dan seluruh peserta, terdiam meresapi kutipan lelaki berkaca mata tersebut.

Belah

Perjalanan waktu yang panjang menyusuri detik detik menuju pertemuan yang lama kurindukan. Di atas bus antar kota yang membawaku ke kota kelahiranku, Paciran. Desa yang panas dan beraroma asin karena berada di pesisir pantai utara Lamongan.

Suara keroncong Tuti Tri Sedya membawakan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama membuat perjalananku malam hari itu terasa sedikit terhibur dan tidak menjemukan, walaupun bus penuh sesak dan kadang-kadang diselingi suara tangis dari bayi yang terjaga dari tidurnya minta disusui ibunya.

Masih sekitar kurang lebih tujuh puluh kilo meter lagi menuju desaku, ketika bus memasuki hutan antara Ngawi dan Bojonegoro. Jalan berjurang dan penuh liku membuat kantukku hilang dan tak bisa tidur. Entah sudah berapa tikungan aku lalui dan tanpa terasa kantukku pun datang kembali.

“Mas, sudah sampai, bangun,” suara kondektur menyadarkan aku dari tidurku. Aku bergegas turun, mengambil ranselku sambil mengucap terima kasih pada kondektur yang telah membangunkanku. Jam menunjuk pukul dua belas malam ketika aku lihat arlojiku.

Suasana terminal Tuban sudah agak sepi dan angkot menuju desaku pun sudah jarang walaupun masih bisa kutemukan kalau aku mau bersabar menanti.

Tak lama berselang angkot pun datang “Ciran , Ciran, ayo ini angkutan terakhir,” suara kenek angkutan pedesaan menawari setiap orang yang berdiri di depan terminal.

Segera aku memasukinya, “Lho kok kowe, Sam,“ sapa kenek tersebut ketika aku mendekatinya.

“ Ya arep sambang emak,” jawabku.
“Suwe, gak mulih, kon,” lanjutnya. Ternyata kenek angkot tersebt adalah Memet sahabatku waktu SMA. Dia kelihatan lebih dewasa dan terlihat kekar dibandingkan saat waktu masih sekolah dulu, kerempeng.

Memang orang yang bekerja sejak muda wajahnya kelihatan lebih dewasa, aku nggak tahu kenapa. Sebenarnya Memet ini waktu sekolah sangat pintar. Ia termasuk tiga jawara di kelasku, selain ia masih ada Agung dan Bachri. Mereka bertiga selalu berbagi rangking satu , dua, dan tiga. Dan biasanya rangking empat selalu menjadi bagianku.

Memet seringkali mewakili sekolahku dalam perlombaan matematika, pelajaran kegemarannya. Saat di SMA itu, ia berhasil membawa sekolahku menjadi juara kabupaten dan berhasil ikut dalam perlombaan tingkat provinsi.

Banyak guru guru kami yang berharap agar Memet melanjutkan kuliah ke ITB atau ITS agar kemampuan eksakta yang dipunyainya bisa tersalurkan dengan baik dan berharap ia menjadi ilmuan mumpuni. Tetapi, nasib berkata lain, ia lebih memilih patuh pada orang tuanya.

Ayah memet adalah nelayan di desaku yang penghasilannya tidak menentu karena dalam bekerja ia tidak mempunyai perahu sendiri hanya ikut juragan. Juragan adalah orang yang punya perahu. Biasanya juragan mengajak seorang lagi untuk membantunya melaut mencari ikan yang lebih di kenal dengan istilah belah di desa kami.

Karena ayahnya hanya seorang belah, memet tidak bisa melanjutkan sekolahnya. kebiasaan anak seorang belah, begitu lulus sekolah dasar akan langsung jadi belah juga. Mereka ini akan dilatih bekerja dengan cara diikutkan dengan juragan kenalan ayahnya.

Kehidupan belah seperti halnya kehidupan kuli tandur yang menjadi buruh tani di pemilik sawah.

Belah belah ini hanya mengandalkan tenaganya untuk mencari ikan. Mereka adalah para nelayan yang tak punya modal hanya bermodalkan tenaga.

Dalam proses pembagian pendapatan melaut pun, mereka hanya mendapat sepertiga dari total perolehan karena yang dua pertiga dimiliki oleh sang juragan. Selain itu, para belah ini biasanya rata-rata berpendidikan rendah dan tak begitu peduli dengan urusan pendidikan. Di benak mereka mencari uang adalah yang utama karena urusan perut masih menjadi kebutuhan utamanya.

Hidup di desa nelayan seperti desaku memang banyak anak yang hanya lulus sekolah dasar. Memet termasuk anak belah yang tergolong masih beruntung bisa lulus SMA dan tidak disuruh kerja seperti anak anak belah yang lain begitu lulus SD.

Setelah satu jam perjalanan dari Tuban, angkot sudah memasuki wilayah desaku. Aroma laut langsung menyengat hidungku. Bau udara yang khas beraroma ikan kering, jaring ikan yang dijemur, dan ikan yang diasap membuatku selalu rindu akan desaku.

Aku turun sambil menyodorkan ongkos pada Memet tapi ia menolak.
“Nggak usah, teman sendiri kok,” aku menjadi rikuh karenanya.
“Main ke rumah, ya,“ ajakku pada Memet ketika angkotnya hendak berangkat lagi.
Setiap pulang kampung Memet biasanya datang ngobrol ke rumahku hingga larut malam. Seringkali ia akan bertanya tentang kuliah dan gimana rasanya jadi anak kos itu. Sepertinya ia mengimpikan hal itu tapi, tak mampu, dan hanya bisa menikmati keseruan menjadi mahasiswa dari ceritaku.

Malam itu ia bercerita ingin kuliah. Penghasilannya dari menjadi kenek mobil sudah terkumpul banyak dan bisa dipakai untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Aku kaget dan heran ternyata semangat mencari ilmunya begitu menyala dan tak pernah padam.
“Untuk urusan kos dan lain lain aku bisa cari kerja nanti di Yogya untuk biaya hidupku,” jawabnya ketika aku bertanya perihal bagaimana dengan biaya sehari harinya. Kuliah tidak hanya butuh biaya pendidikan karena biaya hidup di kota itu yang lebih berat karena harus kos dan sebagainya.

Dalam hati aku bertanya, banyakkah anak-anak seperti Memet di negeri ini? Ataukah hanya ada di desaku yang memang terpencil. Desa nelayan yang orang tuanya tak begitu menghiraukan akan arti penting pendidikan bagi anak-anaknya.

Dan sering kali para orang tua di desaku itu dengan enteng berkata, “Kalau tanpa sekolah pun bisa bekerja dan mendapat uang mengapa harus susah-susah menyekolahkan anak.” sebuah kalimat sakti yang menelurkan banyak remaja putus sekolah di desaku.

Penulis aktif di komunitas Literacy Institute yang bergerak dalam pengembangan literasi di lamongan. Bersama teman temanya di sana melakukan penerbitan buku baik sastra maupun budaya untuk menggiatkan kegiatan tulis menulis di Lamongan. Baru baru ini bersama komunitasnya menerbitkan antologi cerpen Bocah luar Pagar dan antologi puisi Ini Hari sebuah Mesjid Tumbuh di Kepala. Bisa di hubungi di agusbuchori@gmail.com.

Ngabuburit di Pantai Lorena

Pantai Lorena

Sore itu kami masih berjalan menyusuri pantai desaku. Senja makin lama makin memerah, aku dan kamu masih sama sama diam menghadap ke Barat. Di ufuk lingkaran keemasan itu hampir tenggelam ditelan lautan.

“Ramadhan  kali  ini kita akan sering bertemu setelah kamu kembali dari Hongkong,” aku mengawali perbincangan.

“Ya, aku suka menikmati senja itu bersamamu, apalagi sambil ngabuburit, Maghrib seolah berjalan cepat sekali,”   balasnya sambil memainkan pasir pantai.

Sementara kami masih berbincang, orang orang sibuk memanggil anak anaknya untuk diajak kembali pulang. Gelap kemerahan warna senja menandakan Maghrib segera tiba  dan saatnya berbuka akan segera tiba.

Pantai Lorena berbentuk laguna melengkung memang sering menjadi jujukan warga kampung kami untuk meluangkan waktu di sore hari. Terutama saat bulan ramadhan sambil menunggu bedug Maghrib.

Sebelumnya pantai lorena ini kumuh dan banyak sampahnya. Selama bertahun tahun tak  ada yang  berani menjamah pantai lorena. Disamping karena kumuh juga karena dianggap angker. Seringkali banyak orang yang kesurupan ketika habis bermain di sana.

Pantai lorena letaknya persis di seberang kuburan kampung Penanjan. Dulu kuburan kampung ini adalah tempat menguburkan korban penembakan misterius.

Setelah di desa kami berdiri tempat wisata bahari, pantai lorena pun terkena imbasnya. Para pelancong sering memarkir mobilnya untuk beristirahat sebelum menuju ke tempat wisata. Lambat laun warga di sekitar pantai lorena mulai mendirikan trenda sederhana untuk berjualan.

Karena semakin banyak pengunjung, akhirnya warga desa kami berinisiatif membersihkan pantai lorena agar terlihat bersih dan bisa dipakai sarana bermain.

“Dulu kita tidak berani bermain ke sini, ya, saat masih kotor,” Esti mengingatkanku.

“Lho, jelas tidak berani lha wong tempatnya terkenal angker dan banyak kisah horornya ,” balasku

Saat pertama kita jadian  selalu kesulitan untuk menemukan tempat untuk bertemu  di desa ini. Kini pantai lorena adalah sarana muda mudi bertemu mereka berbincang bebas di alam terbuka di sela kerumunan orang yang menunggu Maghrib.

Saat pantai sudah sepi dan makin gelap kita memutuskan untuk pulang. Aku menuju ke kampungku di sebelah barat pantai Lorena dan Esti ke Timur menuju desanya yang kini makin menjamur  dengan  rumah kost. Esti salah satu pemilik rumah kost di desanya yang ia bangun dari hasil menjadi TKW di Hongkong.  

Cenayang Asmara

Ia telah menjalani profesinya hampir dua puluh tahun. Saat pertama memulai ia berusia tiga puluh tahun satu hari. Tepat sehari setelah peringatan hari ulang tahunnya.

Kodir kini adalah jaminan bagi orang yang sedang kasmaran pada perempuan. Sarannya selalu terbukti cespleng dan manjur untuk menggaet perempuan yang jadi incaran para konsumen jampi jampi asmaranya.

“Jangan berhenti untuk memberinya meski perempuan yang kau incar selalu menolaknya,” saran yang kuterima ketika aku berkunjung ke tempat prakteknya. Kutahu Kodir berkat saran seorang kawan yang kasihan melihatku mabuk kepayang pada Anak juragan selep gabah yang parasnya bagai Dian Sastrowardoyo.

Banyak ibu ibu, jejaka, janda, maupun duda yang antri bersamaku saat itu. Semua bertujuan sama, minta ilmu pelet.

Sebulan berikutnya aku kembali ke tempat Kodir ingin memberi bingkisan terima kasih. Berkat sarannya aku berhasil mendapatkan hati perempuan idamanku. Banyak wajah wajah yang sama. di ruang antrian, seperti saat pertama aku berkunjung ke sana.

Dan lagi lagi tujuan kita sama akan memberi bingkisan tanda terima kasih.

“Bang Kodir memang matoh jampi jampinya, hanya sehari saat aku ikuti saranya si janda incaranku langsung klepek klepek,” Bisik Karto, duda keren yang kini datang bersama Sum janda idamanya itu, padaku.

Anehnya kita semua punya pertanyaan yang sama kenapa Kodir di rumah sendirian tanpa anak dan istri.

Seorang ibu ibu paruh baya nyeletuk di tengah obrolan kami. Rupanya sejak tadi ia menguping, sambil senyum ia bekata lirih, “Dokter tak bisa mengobati sakitnya sendiri.”

Ki Darsono

Makam itu teronggok sendiri di bukit sebelah Barat Daya desaku. Bukit itu bagi warga desa kami adalah tempat paling angker di desa kami. Di sekelilingnya dipenuhi pohon Kajaran, Kelor, Maja, dan pohon Mimba. Dan di tengah-tengah kerimbunan itulah terdapat satu buah kuburan yang sangat panjang. Kuburan itu tidak bernama,  hanya mempunyai sebuah penanda atau nisan.

Desaku adalah kampung nelayan di pesisir utara Lamongan. Sebuah wilayah yang kebanyakan warga kampungya lebih banyak mendengar kisah kisah zaman penyebaran Islam oleh wali songo. Kisah kisah yang diceritakan kakek nenek kami menjelang tidur atau saat bulan purnama.

Aku dan teman-temanku sering kali dilarang oleh orang tua kami supaya jangan dekat-dekat dengan bukit itu,  yang oleh orang tua kami disebut Punden. Tempat kuburan itu memang seperti gundukan piramid maka disebut punden.

 “Jangan kau sekali kali masuk ke punden kalau tidak ingin kau jadi santapan banaspati!” hardik orang tuaku ketika mengetahui aku dan teman teman punya rencana mencari buah maja  di sekitar punden.

“Kami tak masuk ke dalamnya hanya mencari di luarnya saja, Pak,” balasku memberi lasan agar tak dimarahi.

Karena letak punden itu di Barat Daya desa kami, maka seringkali ia menjadi tempat berlabuhnya layang-layang putus ketika angin sedang mengarah ke barat daya. Biasanya, sehabis zuhur, angin di desaku akan berubah arah menuju barat daya setelah sebelumnya pada waktu pagi hari menuju ke laut. Pada saat itulah keramaian berebut layang layang putus terjadi sering kali sampai lupa waktu.

Pernah suatu kali aku tanyakan kepada kakekku perihal kuburan yang ada di punden tersebut.

“Mbah kenapa kuburan itu kok disebut punden,” tanyaku.

“Kuburan itu ada sejak mbah masih  kecil. Dan sejak dulu pun tidak ada yang tahu. Hanya ada sebagian yang meyakini kuburan tersebut adalah kuburan Ki Darsono,” terang kakekku.

Ki Darsono adalah tokoh yang dianggap sakti laksana wali songo di desa kami walaupun kebenaran  mengenai keberadaan kuburannya tidak ada yang mengetahui secara pasti.  

“Namun ada juga yang menganggap itu adalah kuburan Cina karena dulu sebelah utara desa kami adalah tempat berlabuh pasukan tartar ketika hendak menyerang singasari,“ lanjutnya.

Untuk anggapan yang kedua ini dipercaya karena banyak warga desa kami yang berkulit kuning meski desa kami adalah desa nelayan yang dekat dengan pantai. Gadis gadis desaku memang dikenal  cantik cantik dan banyak diperistri oleh warga dari luar desa. Kebanyakan mereka yang memperistri perawan desa kami ini orang kaya dan pejabat instansi pemerintah.

Bila dikaitkan dengan Ki Darsono, pun ada benarnya, desa kami adalah desa santri yang mempunyai lima pondok pesantren. Dan pondok pesantren di desa kami ini luarbiasanya dari macam macam ormas baik itu Muhammadiyah maupun NU. Dan para kyai itu  pun  masih punya hubungan saudara.

Dengan banyaknya ormas Islam yang ada di desa kami kehidupan beragama di desa kami pun sangat diwarnai dari kedua ormas itu. Dan dari kedua tokoh ormas yang ada di kampungku inilah sering kami dengar kisah Ki Darsono.

“Ia adalah penggembala yang tawaduk dan menguasai banyak ilmu agama,” Ujar Kyai Salam dalam satu pengajiannya di surau tempatku mengaji. “Sayangnya ia tidak begitu banyak meninggalkan tulisan tapi meninggalkan sumur, dan kebanyakan sumur peninggalannya berbentuk kotak atau persegi tidak lingkaran seperti sumur kebanyakan,” lanjutnya.

“Jadi tujuh sumur berbentuk persegi empat di desa kita ini semua buatan Ki Darsono, Mbah, Yai?” tanyaku pada Kyai Salam saat itu.

“Menurut kisahnya, ya, sumur adalah filosofi dari orang yang berilmu. Ia tak kan habis diambil airnya bagi yang membutuhkan,” jawabnya.

“Saat ia menggembala sapi, lokasi di mana ia menggembala sapi sapinya  akan selalu dibikinkan sumur oleh Ki Darsono. Dengan adanya sumur ini ia berharap lahannya akan ramai dikunjungi orang. Itulah bukti kealiman yang dimiliki Ki Darsono, selalu membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak.” tambah Kyai Salam.

Namun, yang lebih meyakinkanku bahwa sumur itu adalah buatan orang alim adalah setiap kali sumur itu ditembok atau direhab maka temboknya pasti runtuh. Seolah-olah sumur itu tidak boleh dikuasai secara pribadi oleh warga desa kami. Airnya pun tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.

Kakekku juga pernah bercerita yang isinya hampir sama dengan yang diceritakan Kyai Salam. Menurutnya  Ki Darsono adalah seorang penggembala sapi yang alim. Caranya menggembala sapi pun unik, yaitu di mana ia singgah ia akan membuatkan sumur untuk minum sapinya. Cerita tentang  dan sumur itu selalu menarik ketika aku didongengi kakek maupun Kyai kyai di Desaku. Sumur itu masih bisa dijumpai sampai sekarang dan jumlahnya sebanyak tujuh buah.

Cara berdakwah Ki Darsono  yang mengakomodasi nilai kultural setempat membuat sinkretisme kepercayaan tumbuh subur di desaku. Ritual ini mulai terkikis di zaman  awal awal kemerdekaan  ketika Muhammadiyah masuk ke desaku lewat Kyai Alamin dan murid muridnya.

Sebelum kiai Hambal mendirikan pondok pesantren di desa kami, bukit sentono, sering dijadikan tempat pemberian sesaji bagi warga sekitar desa kami. Ayahku sering mengatakan bahwa ketika masih muda dulu ia sering berebut sesaji yang berupa nasi tumpeng bersama teman-temannya ketika sedang istirahat mengejar layang-layang dan kebetulan ada tetangga desa kami yang kirim sesaji ke punden.

Namun kegiatan mengirim sesaji itu telah hilang semenjak kiai Hambal mengatakan itu sirik dan dilarang oleh agama Islam.

Mengenai Ki Darsono ini sebenarnya ada cerita yang cukup membuatku bangga sebagai warga desaku, bahwa sebenarnya Ki Darsono yang dianggap sebagai sesepuh pendiri desaku adalah murid Syeh Siti Jenar yang mengasingkan diri dari kekuasaan Demak yang penuh intrik kekuasaan pada saat itu. Ia menyingkir dan memilih menjadi penggembala sapi serta  menyebarkan agama islam di desaku.

Kalau muridnya saja  seperti ini bagaimana dengan kemampuan gurunya? Tanyaku dalam hati   ketika habis mandi di salah satu sumur peninggalan Ki Darsono. Kadang-kadang aku ragu apa benar Ki Darsono murid Syeh Siti Djenar yang katanya kafir oleh para Wali Songo tersebut. Mengapa warga desaku malah membabat habis setiap kepercayaan magis yang cenderung syirik kalau memang mereka merupakan keturunan murid Syeh Siti Jenar yaitu Ki Darsono.

Aku sendiri sering takjub dengan kondisi keagamaan warga desaku terutama mengenai jumlah masjid yang berada di desaku yang jumlahnya ada sembilan. Dalam hati aku sering membayangkan betapa besar jasa Ki Darsono dalam menyemaikan benih-benih keislaman di desaku. Dan aku rasa jasanya  sebesar lautan di sebelah utara desaku.

“Laa ilaa Ha Illa..Allah…..” terdengar sayup sayup santri kyai Salam melakukan tahlil di makam Ki Darsono yang kini di kelilingi Madrasah yang dikelola oleh Kyai Salam. Aku tersadar dalam lamunanku. Aku menuruni bukit  yang dulu angker itu sambil lamat lamat kudengarkan tahlil dari santri santri yang khusuk berdoa di makam ki Darsono.

#ilustrasi di atas adalah tampilan saat kisah ini dimuat di Radar Bojonegoro 10/2/2019 

Cinta Terlambat Kita

Bertemu saat tak sengaja di tempat yang tidak tepat dan waktu yang juga betul betul tidak tepat. Pertemuan yang tergugah kembali. Kenangan dua puluh tahun yang lampau. Nun jauh terpendam puluhan musim.

Saat itu aku menemukanmu terbaring dengan ibumu..bercengkerama entah tentang apa. Ketidaksengajaan menemukanmu dalam bentuk yang paling utuh. Saat itu terbangun impian bahwa kamu adalah takdirku. Dalam ketaksempurnaan matamu memandang aku dan seolah ada yang mengalir cepat di syaraf tubuhku entah yang mana.

Kau menunduk malu, aku remaja yang sedikit nakal juga tak mampu bertahan menatap bola matamu. Sejak itu namamu menggurat kuat di hati. Saat aku kembali dari pertemuan tak sengaja itu, bahkan kita belum sempat kenalan waktu itu, waktu hanya berjalan dan menimpa setiap kesadaranku tentangmu dengan bunga bunga yang baru.

Kini dua puluh lima tahu sembilan hari kemudian, kita saling bicara bersama dengan nama yang saling berbeda di media sosial dan kenangan keutuhan tubuhmu menggelora bagai ombak laut selatan menerjang karang dadaku…….

Wajah dengan senyuman merekah itu terus berseliweran di beranda media sosialku mengajak pertemanan. Aku masih ragu apakah itu kamu yang pernah mengejutkanku puluhan tahun yang lalu.

Ada satu yang membuatku yakin itu kamu, yaitu mata sebelahmu agak sedikit redup kalau gak bisa dikatakan sipit. Mungkin ciri ini hanya aku yang tahu karena jarang sekali kau berpenampilan seperti itu di keseharianmu.

Selama satu minggu aku terus membiarkan ajakan pertemanan itu. Aku ragu juga sedikit segan untuk menerimamu. Aku intip foto fotomu, ternyata di akun medsosmu kau banyak memposting kegiatanmu sebagai pengajar di sebuah kursus belajar siswa sekolah dasar.

Kau terlihat keibuan sekali di antara anak didikmu, meski sebenarnya kamu begitu centil dan sedikit manja. Begitu temanmu pernah bercerita bahwa kau itu centil dan sedikit manja.

Saat aku menerima ajakan pertemanan itu. Aku beranikan untuk kirim pesan padamu dan bertanya.

“Kamu itu Mbak Asih yang rumahnya sebelah mushola Hijrah itu. ya…”

Selama dua hari pesanku belum dibacanya. Aku risau juga dibuatnya. di hari ketiga aku mendengar handphoneku berbunyi Kling…dan sebuah pemberitahuan adanya pesan masuk sedang on di hapeku.

“Ya…aku Asih….terima kasih atas konfirmnya,” begitu jawabmu di kotak masukku.

“Kok tahu aku Asih…”

“Siapa di kampung kita yang nggak kenal mbak Asih?” Aku menimpali tanyanya sambil ada sedikit harap agar ia nggak bosan dengan tanyaku.

“Kita pernah ketemu, mbak, sudah lama sekali dan mungkin mbak juga gak ingat kapan dan di mana.”

“masak..?”

“Sebenarnya akhir akhir ini kita lho sering berpapasan cuma, mbak saja yang gak peduli, tempat mbak memberi les itu sebenarnya dekat dengan tempatku kerja,”‘ jelasku.

“lho….kalau begitu tiap kita berpapasan menyapa, ya…….”

Tempat mbak Asih mengajar les memang hanya sekitar seratus meter dari perpustakaan umum tempatku bekerja. Sudah hampi tuhuh belas tahun aku berkecimpung dengan buku buku.

Menyenangkan memang. Menjadi pustakawan adalah impianku sejak es em pe dahulu. Aku yang sangat menggemari bacaan dan menjadi penghuni setia perpustakaan umum sekolah sangat terbantukan dengan menjadi pustakawan.

Dengan menjadi pustakawan, aku sangat mudah memperoleh bacaan tanpa harus membeli. Harga buku yang kelewat mahal tentunya menjadi prioritas kesekian dari kebutuhanku sehari hari untuk aku sisihkan buat membeli buku.

Dan lagi, bekerja di perpustakaan aku banyak ketemu orang orang dengan berbagai latar belakang mulai dari orang yang bukan siapa siapa sampai yang berprofesi sebagai apa.

Hari itu, tepatnya pagi itu sangat cerah. Aku memutuskan berangkat kerja berjalan kaki dan berharap ketemu Mbak Asih. Seperti biasa aku berjalan tak terburu buru karena aku jarang berangkat kerja mepet waktu sebagaimana orang yang biasa terburu buru.

Sekitar lima belas menit aku berjalan, aku melihat Mbak Asih menuju ke arahku. Aku heran dan bertanya dalam hati kok ia mengarah ke sini. saat aku berpapasan kusapa dia, “Mbak, mau kemana? lho aku sudah menyapa tho..seperti yang mbak minta di inboxku kemarin.”

“Eh kamu si Bagus, kan? Aku hampir lupa. Dulu kamu imut banget.”

“Dulu kan masih kecil, ya tentu imut,” balasku.

“Betul, aku betul betul lupa. Andai kau nggak menyapa lebih dulu aku nggak tahu lho….sungguh,,” jawabnya sambil tersenyum yang sepertinya ada nuansa menggoda, di sana.

Senyuman itu masih sama seperti yang dulu saat aku pertama melihatnya dua puluh tahun lalu.

“Mau kemana?”

“Ini,…mau fotokopi materi.”

“Sekarang kamu tambah ganteng, lho, sungguh, lho kamu kerja di mana?” lanjutnya. Sudah kebiasaan mbak asih, memuja muji lelaki yang ia temui dan aku pun biasa menanggapinya.

“lelaki, ya jelas ganteng, kalau perempuan ya cantik tentunya. Aku kerja di Perpustakaan Umum. Mampirlah, mbak, kalau ada waktu”

Aku pun mohon diri melanjutkan sambil terus terbayang senyuman dan matanya yang sedikit sipit sebelah.

Sejak pertemuan itu, Mbak asih selalu komen di statusku dan kadang diselingi pesan pesan sedikit menggoda. Aku pun balas menggoda dan bila kurasa agak pribadi bahasannya aku pun pindah ke inboxnya.

“Sudah punya anak berapa, Mbak?”

“Hayo tebak pantasnya punya berapa aku?”

“Dua, ya…..”

“Salah,…..aku belum nikah.”

“Masa sih,…orang cantik kayak mbak kok belum ada yang nglamar..”

“Nggak… sebenarnya anakkusudah tiga, suamiku satu, rumahku satu, nanya apa lagi” jawab yang terakhir ini disertai foto keluarganya.

“Sippp..suaminya ganteng anaknya apalagi ganteng ganteng. Sudah dulu, mbak, aku mau lanjut ada yang mau pinjam buku,”

“Yups …..mmmuach!!”

“Mbak tetep nakal ya…..” Jawabku yang terakhir tak dibalasnya lagi. Aku agak kaget tadi dapat kiss teks. Tapi lagi lagi aku sadari dia memang begitu orangnya suka ceroboh dalam menggoda.

Setelah beberapa bulan berinboks aku dan mbak asih mulai berbagi nomor hape. Dan dari sinilah semuanya bermula, aku dan dia saling sapa dan kadang kadang saling menggoda…

Seminggu ini aku lelah sekali. Pekerjaan banyak menumpuk banyak buku yang belum diolah dan perlu diselesaikan. Tiba tiba istriku bertanya, “Kok kusut kenapa, Pa?”

“Biasa, lah, banyak kerjaan,” jawabku singkat. Malam itu aku agak suntuk saat menjawab tanya istriku. Mungkin aku maunya dipijit itu baru agak lega. tapi ketika ia bertanya kok kusut aku jadi agak berat. Tiba tiba ada pesan masuk di hapeku. Kling klung…….

Agak malas kubuka hapeku dan kulihat pesan dari Mbak asih. aku langsung semangat membuka dan kubaca tertulis singkat di sana, “aku gak bisa tidur.”
kujawab dengan agak malas, “kenapa?”

“Ingat kamu, nggak tahu kok tiba tiba ingat kamu.”

“lho kok bisa sama,” aku jawab saja dengan berbohong agar obrolanku berlanjut.
benar saja ia langsung melanjutkan pesannya.

“masak?”

“bener.”

“nggak Percaya,…kan ada istrimu, yang menemani,”

“lho, mbak juga ada suami yang menemani, kok ingat saya?”

Dia agak lama menjawabnya. Dan tak pernah menjawabnya lagi. Mungkin ia sadar dan malu dan aku pun begitu.

Sejak dari itu aku tak pernah lagi ketemu atau membayangkan mbak Asih karena secara usia mbak asih jauh dariku terpaut sekitar 5 tahun. Ia sepantaran dengan kakakku yang tertua. Dan dari ketidaksengajaan itulah aku suka menjadikan mbak asih sebagai standar ukuran paras wanita yang kukagumi bersama teman temanku.

Dari pertemuan itu aku tak pernah lagi bertemu mbak asih, Tapi waktu kadang seperti kembali ke masa lalu. Kini aku bertemu ia lagi dalam kondisi yang sama sama sudah dewasa dan juga berkeluarga. Pertemuan yang akan membuat jalan hidupku berubah. Berubah menjadi lebih sensitif terhadap benda benda yang sering menjadi lambang orang orang yang sedang kasmaran.

Kini aku lebih menghayati Bulan, Hujan, pelangi dan warna jingga pada langit senja. Aku lebih menghayati sepi dan kesepian.

Aku mulai menggeluti dunia sepiku di saat perpustakaan sedang sepi pengunjung dengan mencoba coba bersyair.

Sejak sekolah aku kurang menggemari pelajaran bahasa indonesia karena terlalu teknis dan njlimet. fungsi ini lah fungsi itulah pokoknya tidak asyik. Tapi aku senang sekali bila ada materi membaca puisi.

Saat menikmati kesepian, sejak mengenal mbak Asih, kegairahanku membuat syair muncul kembali.

Kosakata seolah hadir bertubi tubi untuk kuolah menjadi sajak sajak cinta.
Ada di antara sajak sajak itu kukirimkan ke Mbak Asih agar dikomentari.

Dia lulusan sastra indonesia di Perguruan tinggi negeri di Yogya. tentunya aku berharap dikomentari dan juga berharap dia mengerti isi hatiku.

“He…mana sajaknya kok lama nggak kirim ke sini. Aku kangen..kangen karyanya lho bukan orangnya, hehehe,” tiba tiba sms masuk menanyakan sajakku. Pesan itu dari Mbak Asih.

“kebetulan, ini aku baru buat lagi, mbak…” balasku meyakinkan hatinya.
inilah sajakku yang kesekian untuknya.

Asmara Terlambat Kita

Setiap kali kau sapa diriku
sejenak lalu menghilang lama
aku terus mencarimu meski aku tahu
itu jebakan untuk merenggutku pada akhirnya

Saat aku mulai terperangkap jala jala asmaramu
aku berusaha menikmati meski
ketidakpastian akan pemenuhan rindu ini
namun merasa digoda kamu itu lebih menggoda dari pada
diam melamun berkasih kasih mesra

Aku mungkin nakal bagai remaja puber
dan kamu kurasa punya sejuta cara iseng
namun pasti kusemaikan cinta
dalam labirin kesetiaan pada kasihku
kau pun punya kekasih
yang katamu tak mengharu biru seperti aku

Maaf kasih gelapku
kuputuskan menikmati
dirimu sebatas keberanianmu menggoda
karena kita tak lebih
hanya penikmat canda tawa semata
meski ada rasa
mari kita endapkan di sudut asmara terlambat kita

Sekian lama kita bersapa via online ada kangen juga untuk bertemu muka. Dari saling berkirim puisi, aku dan mbak Asih pun jadi makin berani untuk saling merayu. Terkadang pun ada selingan nakalnya juga. Dan maklumlah kita kan sudah sama dewasa bukan seperti remaja puber yang membabi buta.

Ada saatnya pun aku harus menemuinya. Saat itu ia ingin aku mencarikan kliping puisi dari sapardi Djoko Damono sastrawan senior yang sangat ia kagumi.

“Carikan aku puisi SDD; Sajak kecil tentang cinta,” salah satu pesannya melalui inbok di hapeku.

“Aku kirim ke mana ini nanti kalau ketemu,” balasku.

“Tolong bawa ke tempat nge les ku, sayang…” jawabnya dengan emoji hati merah menyala.

“Hemmmm, kalau ada maunya manggil sayang…..norak!” jawabku kethus tapi dalam hati sebenarnya aku suka cara dia menggoda.

Satu minggu kucari kutemukan juga puisi itu. …Mencintaimu harus menjelma aku….. itulah kalimat terakhir pada sajak itu yang kata mbak Asih pernah didengarnya pada salah satu radio. Dan saat ia mendengar itu ia mengingatku bahkan membayangkan.bisa membacakan sajak itu di depanku.

“sudah kutemukan, jam berapa nanti aku ke sana?” kukirimkan pesan via wa nya.

“nanti jam 07.00 sebelum jam mengajar, ya…kutunggu tepat waktu,” balasnya.

Pagi itu aku bergegas ke tempat kerja. Sangat pagi sekali. Aku berangkat pukul enam tiga puluh pagi. Aku mampir ke Lembaga Bimbel Cerdas tempat Mbak Asih mengajar.

Terlihat sepi. Aku memasuki salah satu ruang. Terdengar tawa perempuan, ketika aku masih bingung hendak ke mana. Itu tawa khas Mbak Asih. aku bergegas ke ruang sebelah.

Ia kaget ketika aku tiba tiba ada di depan pintu ruang itu.

Ia menunduk. Diam. tiba tiba lengang karena aku juga terdiam.

“Ini puisinya,” kusodorkan kertas kliping puisi itu. Diambilnya dengan tetap menundukkan kepala.

“Terima kasih,” jawabnya singkat.

Adakah yang lebih menderita dari orang yang sedang dimabuk asmara yang datang tak terduga. Ada situasi yang membuat ini terjadi. Tapi bukan ini alasan pasti karena semua orang punya gejolak yang sama dan mempunyai pilihan untuk terhanyut atau mengabaikannya. Bagi lelaki mampukah ia mengabaikan pendar pendar cahaya yang begitu banyak gemerlapnya.

Aku dan istriku sudah 17 tahun bersama. Ia seorang perawat di sebuah Rumah Sakit di Kotaku. Istriku ini termasuk wanita yang tegas dan sedikit judes untuk tataran orang jawa. Meski kami menikah lewat berpacaran tapi pacaran kami cuma tiga bulan dan langsung menikah.

Aku hanya mengikuti iramanya aku pun tak perlu perlu amat untuk saling beromantis ria. Kita sibuk bersama soal ngurusi anak dan rumah tangga lainnya. Kita betul betul melupakan kebutuhan hati kita-tanpa kita sadari.

Hingga tibalah saat aku bertemu Mbak Asih. Aku kembali bergairah dalam hidup ini. Dan anehnya, istriku pun bergairah lagi untuk bermesra mesra denganku. Situasi yang seringkali terjadi di dunia ini sebuah kebetulan yang klop dengan situasi baru yang tak terduga.

Aku ada pada situasi sulit. Dua keindahan hadir pada satu momen. Yang satu adalah hakku dan yang satu adalah pilihanku. Keduanya istimewa, luar biasa dan bermakna. Aku terjebak tapi tak hendak menyerah. Aku yakin pasti ada maksud dan tujuan dari semua ini.

Saat aku memberikan puisi yang ia minta, Itulahpertemuan terakhirku dengan Mbak Asih. Sejak itu aku selalu menghindarinya bahkan hanya sekedar bersimpangan di jalan. Dia pun sepertinya begitu, karena aku pun jarang menemukannya baik di jalan atau di tempat kebiasaanya:perpustakaan kotaku.

Lama lama aku,merasakan ada kekosongan dalam hari hariku tanpanya. mungkin ada kebiasaan yang hilang saja kurasa. Aku tak terlalu risau namun kian hari aku semakin terus terbayang wajahnya. apakah ini rindu? Bukan bukan mungkin ini hanya kebiasaan yang hilang tanpa kehadirannya.

Seminggu. sebulan. hingga takterasa sudah tiga bulan aku tak bersapa dengannya baik itu ketemu muka atausekedar chat biasa.

“Kok terlihat lusuh kamubeberapa bulan ini,” Zidan teman kerjaku menyapa pagi itu.

“Ah, nggak..mungkin karena rambutku aja yang acak acakan hingga sepertinyalusuh tak terurus,” jawabku dengan tetap menuliskan laporan tahunan akhirtahun.

“Tahu sendiri lah, akhir tahun itu seperti apa?” aku melanjutkan dengan agak kesal.

“hahahahaha….nyantai, Bro…habis ini kita tour.” Sambil ngeluyur meninggalkanku ia menjawab seolah itu memberiku semangat kerja.

Aku masih serius dengan apa yang kukerjakan, tiba tiba otakku macet untuk menyusun kalimat laporanku. Aku memegang hape dan kucari kontak mbak Asih. Ada keinginan untuk menelepon hari itu. Lama kupandangi nama dalam hapeku. Ada fotonya separuh wajah dengan senyum yang sedikit menggoda.

Tak berapa lama kupencet nomor dengan gambar separuh wajah wanita paruh baya itu. ‘maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area’ suara mesin operator di ujung sana begitu menyesakkan terdengar di telingaku.

Aku bertanya tanya ada apa dengan dirinya. Aku makin gusar dan rasa kosong ini menikamku. Sepi.