Belajar Dari Buku Biografi

Salah satu kesukaan saya adalah mengkoleksi buku biografi atau otobiografi. Entah kenapa, saya selalu ingin tahu rahasia dibalik perjalanan hidup seseorang hingga menjadi seperti yang ia kisahkan. Tapi ini soal selera terserah Anda menilainya.

Buku–buku yang saya koleksi tersebut, tidak spesifik berkisah pada satu sosok dengan bidang tertentu. Beragam profesi menjadi kokelsi saya misalnya, bidang politik, bidang ekonomi, atau bidang apa saja, asalkan menarik untuk dibaca. Biasanya aku hanya membaca biografi tokoh yang mempunyai sisi kreatifitas dalam hidupnya dan telah menjadi inspirasi orang banyak.

Kenapa buku biografi? Mungkin jawabannya karena ada sisi menarik dari seseorang yang mungkin sama dengan perjalanan hidup kita sehingga kita bisa memakainya untuk keperluan hidup kita. Dan bila mungkin kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup seseorang yang kita baca cerita hidupnya itu.

Ada sebuah proses, dari kisah liku liku hidup seseorang, hingga menjadi seperti yang kita kenal. Bagaimana pribadi seseorang tersebut terbentuk tentunya ada jutaan anak tangga kehidupan yang harus ia lewati dan kita berharap ada salah satu anak tangga yang sama dengan kehidupan kita.

Seringkali kita bertanya mengapa mereka bisa tapi kita tidak. Hal ini dikarenakan karena kita salah dalam memilih bidang yang kita geluti dan mestinya kita kuasai. Kita seringkali mengekor ketika ada seseorang yang sukses di bidang tertentu yang malah dengan itu kita justru menjerumuskan diri kita sendiri dalam kegagalan.

Kesuksesan tidak dilahirkan. Ada proses yang membentuknya . Proses itu terdiri dari kepingan kepingan yang mungkin pernah salah dan butuh perbaikan hingga membentuk karakter seseorang.
Proses yang tidak disadari namun seolah menjadi plot sebuah cerita yang mesti harus dijalani dengan sedikit improvisasi untuk menyempurnakannya.

Kita salah menilai kemampuan diri kita, bahwa mereka yang sukses itu adalah orang orang yang memang ahli di bidangnya. Dan kita seringkali mengikuti jejaknya dengan jalan memilih bidang yang sama sudah pasti kita hanya akan terus di belakangnya. Yang terjadi adalah keputusasaan yang mendera kita karena kesuksesan itu terasa jauh untuk kita raih.

Marilah mencoba untuk bersikap fair terhadap diri kita. Apa yang kita bisa dan apa yang kita mampu tentunya itulah yang membuat jalan kita untuk sukses. Tentunya ada syarat syaratnya yaitu antusiasme (passion) kita di bidang yang kita mampu serta komitmen kita untuk menggelutinya itulah syarat utamanya.

Ada beberapa contoh orang orang sukses dengan bidang yang sama sekali tak terbayangkan orang misalnya sukses jadi tukang servis, jadi juragan pecel, jadi ilustrator dan masih banyak bidang lainnya. Bob Sadino, Hermawan Kertadjaya, Chaerul Tanjung, Pak Puspo, Andrea Hirata, adalah nama nama yang berhasil mencari peluang di tengah bisnis mainstream yang ada. Ada satu garis lurus yang sama di antara mereka bahwa mereka adalah orang orang yang Mencintai dan Menggilai bidang yang ia tekuni.

Untuk menjadi sukses tak perlu harus mengekor bidang kesuksesan orang lain tapi kita harus meneladani bagaimana cara mereka menggeluti bidangnya hingga bisa sukses seperti itu. Disinilah kita bisa aplikasikan cara cara mereka ke dalam cara kita menggeluti bidang keahlian kita.

Jalan kehidupan seseorang tak kan pernah sama namun satu yang pasti tujuan mereka dan kita adalah sama yaitu untuk memperoleh akhir yang baik. Jalani Bidang yang anda geluti dengan antusias dan jangan pernah berputus asa.

Buku biografi menunjukkan pada kita bahwa jalan hidup seseorang itu berbeda beda. Kita mungkin harus menyadari bahwa kita dibekali dengan kemampuan yang unik sejak lahir. Apa yang kita punya adalah kemampuan untuk kita yang harus kita gali dan asah sesuai dengan kapasitas yang kita punya.

Membaca kisah orang lain sedikit banyak memicu kita untuk bisa meneladani perjalanan anak manusia. Cucuran darah dan keringat yang telah ia lakukan dalam menggapai kesuksesan adalah inspirasi. Namun diingat, jangan meniru apa yang telah digelutinmya tapi tel;adanilah semangatnya dalam memaksimalkan profesi yang digelutinya.

Takdir seseorang sudah ditentukan. Tetap berusaha dan menikmati perjuangan meraih impian adalah motivasi yang harusnya selalu kita tumbuhkan agat kita tidak cepat menyerah ketika kita jatuh. Jatuh sekali dan bangun dua kali adalah garis lurus dari kisah kisah orang sukses yang kita baca dari buku biografi itu.

Tak jarang apa yang diceritakan seseorang dalam biografinya adalah sesuatu di luar perkiraanya. Seringkali kita membaca bahwa apa yang telah mereka raih menurut mereka adalah kejutan diluar duagaannya semula.

Dan itulah menariknya buku biografi, yang kadang kadang oleh tokohnya pun merasa terkejut ketika membaca ceritanya karena sebenarnya arah hidupnya tidak pernah seperti yang ia bayangkan.

Itulah buku biografi, yang terkadang, tokohnya pun menceritakan sesuatu yang mengagetkan dirinya hingga pada satu titik tertentu membuat penulis dan pembacanya menyadari itulah takdir. Menarik bukan?

Iklan

Ketika Musim Nggambus Tiba

Masih soal suasana Ramadhan di Paciran. Saat itu di tahun 80 an posonan di Paciran sangat meriah tiap malam. Langgar penuh saat isyak maupun saat tadarusan (Baca Al quran). Wong ciran memang sangat menikmati malam malam bulan Ramadhan dan biasanya diisi dengan darusan hingga menjelang dini hari.

Tapi yang membuatku suka malam posonan adalah adanya musik keliling yang dimainkan pemuda pemuda Ciran. Mereka memainkan lagu lagu kenangan dari Bang Haji, serta pelantun dangdut lainnya. Nama nama seperti, Mansyur S, Meggy Z dan Muchsin Alatas aku tahunya berkat mereka ini. Wong Ciran memberi istilah untuk musik keliling ini adalah Nggambus.

Para pemuda Ciran memang terkenal lihai dan kreatif soal seni. Terlebih lagi seni musik. Banyak yang pintar memainkan alat musik baik itu gitar, kendang, maupun piano. Aku juga heran dengan kemampuan mereka mengingat Ciran itu desa tapi kemampuan mereka bermusik seperti orang kota.

Mat Klobot adalah pemain suling yang handal di desaku. Aku masih ingat saat itu ketika keluar rumah mengikuti grup Nggambusnya yang sedang keliling gang gang Ciran. Ketika sedang nyuling suaranya hampir persis Haji Nasir dari soneta.

Di Paciran ada satu keluarga yang legendaris dalam seni. Semuanya berambut Kribo dan jago main gitar. Semua lagu hampir tak ada yang tidak mereka kuasai. Bahkan salah satunya ada yang sempat mau diajak Soneta untuk jadi personelnya menurut Mat Klobot.

“Selain Nggitar Cak Kribo itu juga jago ngendang, Lho… Bahkan saat soneta manggung dan kebetulan pemain kendangnya berhalangan ia yang jadi penggantinya, dan permainannya pun nggak kalah bagus,” Mat Klobot memberi keterangan saat aku konfirmasi tentang kemampuan Cak Kribo.

Seperti biasa setiap ketemu Mat Klobot di warung kopi mas Doyok aku sering minta cerita masa lalunya. Tentang Nggambus ini dia kelihatan antusias, maklum mantan pemain suling…hemmmmm

Saat berkeliling di jalanan Ciran, grup Nggambus ini bukan hanya satu karena tiap blok punya grup Nggambus. Yang paling terkenal adalah grup Nggambus Jagorawi karena di sana nyanyinya pakai harmonika yang dimainkan oleh pemain harmonika desa kami yang bersuara mirip Mansyur siapa lagi kalau bukan Bu’is.

Di sela sela ngopi itu Mat Klobot mengenang sosok Buis, “Man Bu’is ini jago sekali memainkan harmonika tremolo yang saat dipakai menyanyi begitu pas meski dia nggak tahu notasi sama sekali, ia bermain hanya mengandalkan feeling saja.”

Luar biasa sekali mendengar kisah Man Bu’is ini. Saat grup man Bu’is ini keliling biasanya akan berhenti di dekat rumah gadis desa kami yang cantik cantik, maklum caper tapi semua kalah karena gadis desa kami yang cantik biasanya diambil juragan juragan kaya dari luar Desa.

“Biasanya lagu yang dimainkan saat berhenti di dekat rumah perawan cantik ini lagunya akan disesuaikan dengan ciri gadis tersebut. Kalau dia hitam manis pasti lagunya berjudul Hitam, kalau dia putih pasti lagunya ya gadis india atau Ani. Bahkan bila si gadisnya ini endel alias centik banget lagunya adalah Nama nama perempuan misalnya Badriah atau Salome,” kata Mat Klobot penuh semangat .

“Tak jarang di sela sela nyanyiannya si empunya rumah akan keluar memberi camilan sisa berbuka, lumayan….. ” lanjutnya.

Aku juga pernah ikut ikut Nggambus di tahun 90 an. memang aku juga mengalami seperti apa yang diceritakan oleh Mat Klobot yaitu dapat makanan saat berhenti di satu rumah warga yang lumo alias luman.

Saat itu aku dan temanku di Jagorawi sering main ke Njar Lor. Di Njar Lor grup kami sering ditunggu tunggu karena mainnya enak katanya orang njar lor. Sesekali aku juga main harmonika tapi tidak selihai Buis.

Ada salah satu temanku yang andal memainkan suling juga tapi sudah almarhum. jadi dandut yang kami mainkan super lengkap peralatan musiknya. Ada gitar serta basnya juga.

Biasanya kami akan pulang saat Adzan awal berbunyi. adzan awal adalah adzan sebelum subuh yang dikumandagkan di desa kami untuk membangunkan saat tahajud. Biasanya menjelang akhir dini hari sekitar pukul setengah tiga dini hari.

Saya merindukan saat itu,,,yang kini sudah tak ada lagi karena dilarang oleh aparat desa dan tokoh tokoh desa kami. Padahal itu adalah sarana hiburan bagi ibu ibu yang sedang masak untuk santap sahur, ya memang tahun telah berubah tapi aku senang bisa sedikit terlibat soal nggambus ini.

Jangan Keliru Jalan Pulang

Dalam hidup berumah tangga akan selalu ada persoalan baik kecil maupun besar. Semuanya adalah pelangi dalam kehidupan kita yang kadang cerah kadang berawan. Selalu berusaha untuk menikmati setiap kemunculan pelangi dan siapkan selalu matahati.

Dalam berumah tangga banyak sekali percekcokan, mulai dari salah piring waktu makan harusnya yang ini tapi istri memberi yang itu. Atau salah cangkir waktu istri sediakan kopi. Atau yang paling sering suami istri cek cok soal kostum saat mau kondangan, hehehe.

Dari situ kadang timbul pertengkaran,ya..karena kita manusia punya egoisme dan segala alasan yang kadang membuat ati gak enak alias badmood. Ujung ujungnya eker dan berkepanjangan ekernya.

Menjadi Suami istri adalah memilih untuk hidup yang penuh tantangan, makanya kita dijanjikan masuk surga lebih dulu, sedangkan orang single belakangan. Mungkin orang jomblo/single tidak punya tantangan hidup..(ojo protes para jomblo..)

Bisa kita bayangkan dalam hidup berumah tangga seseorang harus berdampingan bertahun tahun dan dilarang untuk bosen. Itu kan tantangan dan hanya orang kreatif saja yang bisa mengolahnya menjadi hal baru baru baru dan tidak menjemukan.

Lha kita bersahabat saja kadang masih ada bosenya padahal itu cara berdampingan yang palling asik. Nah dalam berumah tangga tentunya lain lagi.

Ada komitmen untuk sabar, dan kuat hati karena pasangan menikah itu lebih jujur mengungkabkan kondisi sejati pribadi masing masing. Beda dengan pacaran yang lebih banyak jaimnya alias Fake Character. Nah saat menikah orang akan lebih los bersikap toh kita bersikap di depan pasangan yang legal formal, hak milik kita. Beda dengan pacaran.

Nah, di antara friksi friksi kecil itu, menikmati adalah jalan terbaik untuk setiap pasangan. Dan satu hal yang pasti bila kita masih ingin berpelangi dallam berumah tangga, satu kesalahan yang harus dihindari di antara banyak kekeliruan yang saya sebut di atas adalah Jangan keliru jalan untuk pulang.

Selamat menikmati hidup yang berpelangi.

Valentine`s Day Antara Kasih Sayang dan Materialisme

Sebuah hari, di bulan Februari, tepatnya tanggal 14 yang menjadi momen untuk mengungkapkan rasa sayang, bagi orang yang merayakannya. Hari itu dirayakan sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang.

Bukanlah sebuah kesalahan untuk mengungkapkan kasih sayang pada hari hari khusus, semacam hari Valentine, karena setiap hari perlu diapresiasi agar berarti.

Beberapa hari lagi, kita akan tiba pada tanggal tersebut dan suasana menuju perayaan itu sudah terasa terutama di kalangan remaja. Kegelisahan para orang tua pun mulai mencuat mendekati hari tersebut. Meski ada pula orang tua yang ikut ikutan latah dengan berpartisipasi merayakan hari Valentine bersama kaum remaja itu.

Memang dalam setiap menjelang perayaan hari Valentine, selalu timbul pro dan kontra. Perdebatan tentang perayaan hari Valentine membuat penulis juga merasa untuk ikut serta mengikutinya. Karena sebenarnya perbedaan yang mereka perselisihkan ada titik temunya.

Pihak pertama merasa itu bukan budaya kita jadi lantas tidak layak kita tiru. Di pihak kedua adalah pendukung yang merasa perayaan itu tidak salah karena merayakan kasih sayang. Di belakang barisan pendukung inilah ada beberapa tangan tak terlihat yang hendak menjual pesta pesta yang ujung-ujungnya adalah keuntungan atau uang.

Dalam suasana riuh rendahnya para penganut hedonisme, pesta adalah kebutuhan wajib yang mesti ada.Tentu kurang absah apabila penganut hedonis tak merayakan pesta dan setiap momen bagi mereka adalah perayaan, perayaan, dan perayaan pesta. Di sinilah peluang yang ditangkap oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara menjual aneka ragam pemuas keinginan para pemuja pesta tersebut.

Ada peluang keuntungan yang ditangkap oleh kaum kapitalis saat orang membutuhkan pesta perayaan. Pembiayaan yang ditimbulkannya adalah lahan bagi mereka untuk menyediakan kebutuhan kaum hedonis tersebut. Di era yang sarat pemujaan terhadap materi ini, tidak ada sesuatupun yang tak bisa diuangkan.

Melihat yang demikian tentunya kita perlu mempertanyakan kembali perdebatan antara dua golongan yang saling pro dan kontra dalam perayaan hari Valentine tersebut. Titik temu dari dua golongan tersebut adalah bahwa mengungkapkan kasih sayang itu penting dan itu bisa dilakukan tiap hari.

Namun yang menjadi titik beratnya adalah bagaimana menghadirkan kasih sayang itu tanpa harus dengan pesta pesta yang malah jauh dari rasa kasih dan sayang itu sendiri. Tak perlu pesta pora hingga menjurus lupa diri kalau hanya sekedar untuk berbagi kasih sayang. Kita bisa menebarkan kasih sayang dengan cara yang murah tanpa hadiah.

Musisi Kok Di Uji Kompetensi, Aneh…Harusnya ya Berkarya

Kegaduhan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan kini mewarnai isi beberapa media. RUU ini dianggap oleh para pelaku di dunia musik mempunyai kecacatan karena bisa mengekang kreativitas musisi dan juga elemen yang terlibat di dalamnya.

Ada salah satu pasal yang akan penulis soroti, yaitu tentang adanya uji kompetensi bagi musisi. Masalah yang tertuang dalam pasal 32 RUU tersebut menghendaki:

Untuk diakui sebagai profesi, pelaku musik yang berasal dari jalur pendidikan atau autodidak harus mengikuti uji kompetensi.
Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan standar kompetensi profesi pelaku musik yang didasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan pengetahuan.
Standar kompetensi dimaksud pada ayat (2) disusun dan ditetapkan oleh menteri dengan memperhatikan usulan dari organisasi profesi.

Entah dengan alasan apa sehingga musisi harus diuji kompetensinya agar dianggap sebagai profesi. Mungkin musisi hendak disamakan dengan profesi lain yang berhubungan dengan institusi kelembagaan yang berhubungan dengan kredibilitas lembaga tersebut. Misalnya, lembaga pendidikan dan kesehatan.

Baca juga artikel saya: Uji kompetensi bagi Musisi

Musisi, sebagaimana seniman lainnya, tak memerlukan uji kompetensi untuk diakui. Karena mereka disebut musisi bukan karena sertifikatnya tapi lebih pada banyaknya karya yang ia hasilkan.

Prostitusi Artis dan Prestise Lelaki Hidung Belang

Kabar tertangkapnya Vanessa Angel di Surabaya terkait dengan prostitusi online sungguh mengejutkan. Penangkapan ini kembali mengingatkan kita saat Robby Abbas tertangkap sebagai mucikari dan mengutarakan bahwa banyak artis yang menjadi kliennya.

Kabar ini seolah membuktikan omongan Robby Abbas pada waktu itu. Mengapa lelaki hidung belang itu mau membayar dengan uang sebegitu besar untuk meniduri si Artis?

Bagi lelaki, prestise adalah kekuasaan dan mungkin juga pencapaian yang luar biasa. Sebagaimana dalam urusan sex. Kalau hanya untuk melampiaskan hasratnya mereka bisa melampiaskan ke setiap perempuan yang memang menjajakan cintanya.

Tapi mengapa harus artis? Inilah tantangannya bagi mereka para lelaki tajir hidung belang tersebut. Ini akan menjadi pencapaian yang luar biasa saat mereka berkumpul dengan rekan sesama berduit itu. Pertama mungkin ia akan mengenalkannya sebagai pacar mereka. Di kalangan, mereka para lelaki hidung belang, artis adalah puncak pencapaian untuk memiliki wanita.

Kedua, mereka yang berduit itu mulai memanfaatkan gaya hidup para artis itu, yang biar bagaimanapun pasti membutuhkan biaya besar untuk merawat kecantikannya. Hedonisme dan kekayaan menjadi hubungan simbiosis mutualisme.

Gaya hidup yang memerlukan biaya tidak kecil tentunya akan membuat situasi hidup agak sulit bagi artis artis medioker. Hanya mengandalkan honor yang tidak seberap tentunya mereka akan kalah bersaing untuk bisa eksis di jagad dunia hiburan. Tentunya ini akan berbeda dengan artis papan atas dengan honor ratusan juta.

Pilihan yang bisa ditempuh untuk bisa terus eksis bagi artis medioker ini adalah memanfaatkan tubuhnya, terutama untuk mereka yang tidak mempunyai ketrampilan lain selain hanya pamer kemolekan. Di dunia hiburan yang begitu mendewakan materialisme dan hedonisme sesaat, uang adalah kunci untuk bertahan.

Ketika kebutuhan akan uang begitu mendesak mereka mulai menawarkan harga untuk sesuatu yang memang sudah terbiasa dijalani. Tentunya hukum ekonomi bermain di sini, kalau bisa diuangkan mengapa mesti kita serahkan gratisan.

Dalam kasus prostitusi artis ini tentunya tak terlepas dari adanya pelanggan yang membutuhkan jasa ini. Mereka yang saya sebut di atas , Jutawan hidung belang, adalah target bagi para mucikari artis. Ketika kebutuhan pasar ada, tentunya para pelaku bisnis di dunia artis, agen dan manajer nakal akan memainkan perannya.

Menang dalam kasus prostitusi artis ini agak tertutup transaksinya karena penyedia jasa hanya akan melayani pelanggan tertentu, kaya dan sudah kenal secara personal. Dan kebanyakan juga mereka memang, para perantara atau agen itu, adalah orang orang dekat di sekeliling artis itu sendiri.

Uang dan prestise menjadi kemasan yang menarik bagi para agen tersebut. Di lain pihak ada yang butuh uang untuk kelangsungan hidupnya dan dipihak lain ada orang yang butuh prestise untuk menyempurnakan hidupnya.

Prostitusi artis kini telah terbukti nyata adanya dengan ditangkapnya Vanessa angel. Pihak berwajib dalam hal ini kepolisian telah melakukan pencegahan dan penindakan. Tantangan ke depannya adalah menghapus kegiatan ini agar tak meresahkan masyarakat.

Tentunya ini bukan hanya tanggung jawab penegak hukum. Prostitusi akan selalu ada jika ada pelanggannya. Masyarakat pun harus ikut terlibat untuk penanggulangan ini. Mulai membiasakan memandang kecantikan bukan sebagai alat konsumsi adalah awal keterlibatan kita untuk meredam prostitusi,

Biar bagaimanapun para artis tersebut adalah tokoh yang mungkin saja dirugikan di mana mereka selalu digoda oleh iming iming uang dan kekayaan. Mereka, para artis medioker itu, adalah sasaran empuk para cukong kenikmatan seksual.

Saat situasi ekonomi seseorang lemah, berbuat negatif adalah godaan yang menggiurkan karen bisa mengatasi hidup secara cepat. Nah di kalangan artis senjata termudahnya adalah kemolekan tubuh. Meski tidak semua artis mengandalkan kemolekan tubuhnya untuk berkarir.

Apakah Vanessa akan bicara siapa saja teman seprofesinya. Jelas ini menjadi informasi yang ditunggu oleh publik yang selama ini penasaran akan ucapan Robby abbas dahulu. Saat itu artis yang disebut Robby ramai ramai berkata tidak. Kini apakah mereka juga akan berkata tidak jika salah satu rekannya pun berkata bahwa ia tidak sendiri.

Tentunya para lelaki hidung belang ini juga akan takut. Mereka tentunya terdiri dari berbagai macam kalangan, polisi, pejabat, pengusaha dan mereka yang berduit lainnya. Nah terlebih lagi adalah mereka mereka yang pernah menggunakan ‘jasa’ Vanessa.

Nama nama seperti apakah nanti yang muncul ke ruang publik. Ini menarik untuk menjadi pergunjingan. Apalgi di musim politik begini. Para penikmat kenikmatan sesaat itu mungkin semua berdoa agar Vanessa angel lupa bahwa mereka pernah menidurinya.

Baca! Jejak-Jejak Prostitusi Lesbian

Tapi berharaplah agar Vanessa Angel siap untuk merasa malu sendirian saja. Karena jika sampai ia ingin malu berjamaah tentunya ia akan menyebut nama nama siapa saja yang menjadi pelanggannya. Semoga kita tidak kaget dibuatnya. Hemmmmmz

Tahun Baru, Apanya yang Baru?

Hari Selasa tanggal 1 Januari 2019 adalah hari Selasa yang sama dengan hari Selasa sebelumnya. Namun di benak kita akan memunculkan persepsi yang berbeda beda. Bagi kita penganut pesta pesta kedatangan Hari itu akan disambut dengan perayaan yang meriah terutama menjelang DiniHari.

Entah apa yang membuatnya berbeda. Semua telah terbius sebuah angka sebagai penanda. Toh yang dilewati selalu sama. Gelap. Ya malam itu pasti semua gelap hanya kita yang memaknai dengan maksud dan alasan yang berbeda. Padahal kita tak pernah beranjak atau bergeser. Bahkan jika penanda itu tak ada di manakah durasi itu.

Bagi kita semua hari hanyalah putaran waktu siang dan malam. Bila siang kita berjumpa matahari dan bila malam kita berjumpa sang rembulan. Tidak ada yang berbeda, begitu terus sejak dulu. begitu pula bulan dan tahun semua tetap sama tak ada yang berubah.

Setelah tiga puluh hari kita menyebutnya bulan karena bulan beredar tepat tiga puluh hari dia akan berposisi di titik yang sama. Dan setelah dua belas kali bulan beredar kita menyebutnya tahun. Ya.,,, hidup ini hanya berkutat dengan hitungan pergantian peredaran matahari dan bulan.

Manusia memang suka mencari penanda untuk menandai sesuatu apalagi tentang waktu. Mereka seolah tak mau terlewatkan bahwa ada durasi yang harus ia pahami agar hidup ini mempunyai arti. Kita memang senang dengan tanda tanda. Untuk memudahkan daya ingat dan patokan kita perlu tanda.

Kalender adalah tanda tanda untuk kita. Ada hari dan jam yang kita pecah pecah dan kita golongkan sesuai dengan keinginan kita. Kalender hanyalah symbol kosong jika hanya dibanya sebagai penanda. Kitalah yang harus membuatnya berisi.

Manusia mempunyai persepsi menganggap sesuatu yang berganti menjadi baru padahal sesungguhnya itu adalah cara mereka mengisi hari. Sesungguhnya cara mengisi hari itulah yang baru karena hari akan berlalu seperti mereka tahu, siang dan malam.

Bagi orang yang tidak punya kreasi dan kreativitas mengisi hari mereka akan merasa hidup dalam perjalanan waktu yang itu itu saja. Relativitas karena penanda yang begitu jelas diukur dan dihitung, membuat durasi begitu lama terjadi.

Baca! Doa Pemulung di Malam Tahun Baru

Bagi orang dengan banyak aktivitas, setiap hari adalah parameter acuan apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin. Pergeseran detik demi detik pun menjadi nisbi dan relative. Waktu seakan tak pernah cukup dan begitu cepat berganti.

Banyak yang terlena dengan perayaan tahun baru. Padahal setahun yang berlalu adalah waktu yang mungkin tak lebih dari masa lalu saat itu tak menghasilkan sesuatu. Seringkali malah mereka tak punya rencana dengan apa yang akan dilauinya di pegantian angka 1 Januari itu.

Kalau waktu itu adalah pedang, kita sebenarnya terlena saat menyambut pedang yang datang. Kita berpesta untuk apa? Jika kita tidak mahir atau bisa menggunakannya.

Ada sebuah hadist nabi yang mengatakan bahwa barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi, sedangkan orang yang Hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka.

Memaknai hadist tersebut apakah kita akan memilih persepsi yang sama akan datangnya hari baru atau kah kita mampu menciptakan persepsi yang baru akan datangnya hari baru tersebut. Tentunya karena kita berpersepsi akan sesuatu yang baru alangkah baiknya jika kita harus mempersiapkan dengan hal hal baru yang lebih baik dari hari yang telah berlalu itu.

Dan kita berharap semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung itu. Keberuntungan tidak akan menimpa orang yang tak bergerak. Bergerak dan berubah adalah bagian dari ikhtiar yang akan menemukan kita dengan keberuntungan.
Kesempatan harus diciptakan dengan cara cara baru. Inilah sejatinya memaknai kebaruan. Segala yang baru selalu ada karena ada perpindahan dari yang lama menuju ke bagian berikutnya yang lebih muda. Jejak yang tertinggal tak akan kembali bahkan mungkin hilang namun terus membuat jejak baru yang lebih membekas adalah kesempatan menjadi abadi.

Tahun 2019 adalah tahun pemilu. Ada pemilihan presiden dan legislatif di sana. Ada yang membuatnya menjadi tanda pagar yang riuh di media sosial. Semoga kita tidak terlena karena setiap penanda selalu bermakna dua; tanda bahagia atau derita. Dan semoga kita bisa selalu bersyukur jika menemui salah satunya.

Sekali lagi, sekedar mengingatkan bahwa menyambut tahun baru pada Senin malam (31 Desember 2018) kemarin bukanlah sebuah ajang pesta belaka. Apakah kita mampu menjadikannya baru dengan ide ide baru yang tentunya lebih baik dari yang lalu. Jangan sampai kemeriahan pesta tahun baru mengalahkan kegairahan kita untuk mengisinya dengan hal hal baru. Semoga.

Happy New Year 2019