Jangan Keliru Jalan Pulang

Dalam hidup berumah tangga akan selalu ada persoalan baik kecil maupun besar. Semuanya adalah pelangi dalam kehidupan kita yang kadang cerah kadang berawan. Selalu berusaha untuk menikmati setiap kemunculan pelangi dan siapkan selalu matahati.

Dalam berumah tangga banyak sekali percekcokan, mulai dari salah piring waktu makan harusnya yang ini tapi istri memberi yang itu. Atau salah cangkir waktu istri sediakan kopi. Atau yang paling sering suami istri cek cok soal kostum saat mau kondangan, hehehe.

Dari situ kadang timbul pertengkaran,ya..karena kita manusia punya egoisme dan segala alasan yang kadang membuat ati gak enak alias badmood. Ujung ujungnya eker dan berkepanjangan ekernya.

Menjadi Suami istri adalah memilih untuk hidup yang penuh tantangan, makanya kita dijanjikan masuk surga lebih dulu, sedangkan orang single belakangan. Mungkin orang jomblo/single tidak punya tantangan hidup..(ojo protes para jomblo..)

Bisa kita bayangkan dalam hidup berumah tangga seseorang harus berdampingan bertahun tahun dan dilarang untuk bosen. Itu kan tantangan dan hanya orang kreatif saja yang bisa mengolahnya menjadi hal baru baru baru dan tidak menjemukan.

Lha kita bersahabat saja kadang masih ada bosenya padahal itu cara berdampingan yang palling asik. Nah dalam berumah tangga tentunya lain lagi.

Ada komitmen untuk sabar, dan kuat hati karena pasangan menikah itu lebih jujur mengungkabkan kondisi sejati pribadi masing masing. Beda dengan pacaran yang lebih banyak jaimnya alias Fake Character. Nah saat menikah orang akan lebih los bersikap toh kita bersikap di depan pasangan yang legal formal, hak milik kita. Beda dengan pacaran.

Nah, di antara friksi friksi kecil itu, menikmati adalah jalan terbaik untuk setiap pasangan. Dan satu hal yang pasti bila kita masih ingin berpelangi dallam berumah tangga, satu kesalahan yang harus dihindari di antara banyak kekeliruan yang saya sebut di atas adalah Jangan keliru jalan untuk pulang.

Selamat menikmati hidup yang berpelangi.

Iklan

Valentine`s Day Antara Kasih Sayang dan Materialisme

Sebuah hari, di bulan Februari, tepatnya tanggal 14 yang menjadi momen untuk mengungkapkan rasa sayang, bagi orang yang merayakannya. Hari itu dirayakan sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang.

Bukanlah sebuah kesalahan untuk mengungkapkan kasih sayang pada hari hari khusus, semacam hari Valentine, karena setiap hari perlu diapresiasi agar berarti.

Beberapa hari lagi, kita akan tiba pada tanggal tersebut dan suasana menuju perayaan itu sudah terasa terutama di kalangan remaja. Kegelisahan para orang tua pun mulai mencuat mendekati hari tersebut. Meski ada pula orang tua yang ikut ikutan latah dengan berpartisipasi merayakan hari Valentine bersama kaum remaja itu.

Memang dalam setiap menjelang perayaan hari Valentine, selalu timbul pro dan kontra. Perdebatan tentang perayaan hari Valentine membuat penulis juga merasa untuk ikut serta mengikutinya. Karena sebenarnya perbedaan yang mereka perselisihkan ada titik temunya.

Pihak pertama merasa itu bukan budaya kita jadi lantas tidak layak kita tiru. Di pihak kedua adalah pendukung yang merasa perayaan itu tidak salah karena merayakan kasih sayang. Di belakang barisan pendukung inilah ada beberapa tangan tak terlihat yang hendak menjual pesta pesta yang ujung-ujungnya adalah keuntungan atau uang.

Dalam suasana riuh rendahnya para penganut hedonisme, pesta adalah kebutuhan wajib yang mesti ada.Tentu kurang absah apabila penganut hedonis tak merayakan pesta dan setiap momen bagi mereka adalah perayaan, perayaan, dan perayaan pesta. Di sinilah peluang yang ditangkap oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara menjual aneka ragam pemuas keinginan para pemuja pesta tersebut.

Ada peluang keuntungan yang ditangkap oleh kaum kapitalis saat orang membutuhkan pesta perayaan. Pembiayaan yang ditimbulkannya adalah lahan bagi mereka untuk menyediakan kebutuhan kaum hedonis tersebut. Di era yang sarat pemujaan terhadap materi ini, tidak ada sesuatupun yang tak bisa diuangkan.

Melihat yang demikian tentunya kita perlu mempertanyakan kembali perdebatan antara dua golongan yang saling pro dan kontra dalam perayaan hari Valentine tersebut. Titik temu dari dua golongan tersebut adalah bahwa mengungkapkan kasih sayang itu penting dan itu bisa dilakukan tiap hari.

Namun yang menjadi titik beratnya adalah bagaimana menghadirkan kasih sayang itu tanpa harus dengan pesta pesta yang malah jauh dari rasa kasih dan sayang itu sendiri. Tak perlu pesta pora hingga menjurus lupa diri kalau hanya sekedar untuk berbagi kasih sayang. Kita bisa menebarkan kasih sayang dengan cara yang murah tanpa hadiah.

Musisi Kok Di Uji Kompetensi, Aneh…Harusnya ya Berkarya

Kegaduhan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan kini mewarnai isi beberapa media. RUU ini dianggap oleh para pelaku di dunia musik mempunyai kecacatan karena bisa mengekang kreativitas musisi dan juga elemen yang terlibat di dalamnya.

Ada salah satu pasal yang akan penulis soroti, yaitu tentang adanya uji kompetensi bagi musisi. Masalah yang tertuang dalam pasal 32 RUU tersebut menghendaki:

Untuk diakui sebagai profesi, pelaku musik yang berasal dari jalur pendidikan atau autodidak harus mengikuti uji kompetensi.
Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan standar kompetensi profesi pelaku musik yang didasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan pengetahuan.
Standar kompetensi dimaksud pada ayat (2) disusun dan ditetapkan oleh menteri dengan memperhatikan usulan dari organisasi profesi.

Entah dengan alasan apa sehingga musisi harus diuji kompetensinya agar dianggap sebagai profesi. Mungkin musisi hendak disamakan dengan profesi lain yang berhubungan dengan institusi kelembagaan yang berhubungan dengan kredibilitas lembaga tersebut. Misalnya, lembaga pendidikan dan kesehatan.

Baca juga artikel saya: Uji kompetensi bagi Musisi

Musisi, sebagaimana seniman lainnya, tak memerlukan uji kompetensi untuk diakui. Karena mereka disebut musisi bukan karena sertifikatnya tapi lebih pada banyaknya karya yang ia hasilkan.

Prostitusi Artis dan Prestise Lelaki Hidung Belang

Kabar tertangkapnya Vanessa Angel di Surabaya terkait dengan prostitusi online sungguh mengejutkan. Penangkapan ini kembali mengingatkan kita saat Robby Abbas tertangkap sebagai mucikari dan mengutarakan bahwa banyak artis yang menjadi kliennya.

Kabar ini seolah membuktikan omongan Robby Abbas pada waktu itu. Mengapa lelaki hidung belang itu mau membayar dengan uang sebegitu besar untuk meniduri si Artis?

Bagi lelaki, prestise adalah kekuasaan dan mungkin juga pencapaian yang luar biasa. Sebagaimana dalam urusan sex. Kalau hanya untuk melampiaskan hasratnya mereka bisa melampiaskan ke setiap perempuan yang memang menjajakan cintanya.

Tapi mengapa harus artis? Inilah tantangannya bagi mereka para lelaki tajir hidung belang tersebut. Ini akan menjadi pencapaian yang luar biasa saat mereka berkumpul dengan rekan sesama berduit itu. Pertama mungkin ia akan mengenalkannya sebagai pacar mereka. Di kalangan, mereka para lelaki hidung belang, artis adalah puncak pencapaian untuk memiliki wanita.

Kedua, mereka yang berduit itu mulai memanfaatkan gaya hidup para artis itu, yang biar bagaimanapun pasti membutuhkan biaya besar untuk merawat kecantikannya. Hedonisme dan kekayaan menjadi hubungan simbiosis mutualisme.

Gaya hidup yang memerlukan biaya tidak kecil tentunya akan membuat situasi hidup agak sulit bagi artis artis medioker. Hanya mengandalkan honor yang tidak seberap tentunya mereka akan kalah bersaing untuk bisa eksis di jagad dunia hiburan. Tentunya ini akan berbeda dengan artis papan atas dengan honor ratusan juta.

Pilihan yang bisa ditempuh untuk bisa terus eksis bagi artis medioker ini adalah memanfaatkan tubuhnya, terutama untuk mereka yang tidak mempunyai ketrampilan lain selain hanya pamer kemolekan. Di dunia hiburan yang begitu mendewakan materialisme dan hedonisme sesaat, uang adalah kunci untuk bertahan.

Ketika kebutuhan akan uang begitu mendesak mereka mulai menawarkan harga untuk sesuatu yang memang sudah terbiasa dijalani. Tentunya hukum ekonomi bermain di sini, kalau bisa diuangkan mengapa mesti kita serahkan gratisan.

Dalam kasus prostitusi artis ini tentunya tak terlepas dari adanya pelanggan yang membutuhkan jasa ini. Mereka yang saya sebut di atas , Jutawan hidung belang, adalah target bagi para mucikari artis. Ketika kebutuhan pasar ada, tentunya para pelaku bisnis di dunia artis, agen dan manajer nakal akan memainkan perannya.

Menang dalam kasus prostitusi artis ini agak tertutup transaksinya karena penyedia jasa hanya akan melayani pelanggan tertentu, kaya dan sudah kenal secara personal. Dan kebanyakan juga mereka memang, para perantara atau agen itu, adalah orang orang dekat di sekeliling artis itu sendiri.

Uang dan prestise menjadi kemasan yang menarik bagi para agen tersebut. Di lain pihak ada yang butuh uang untuk kelangsungan hidupnya dan dipihak lain ada orang yang butuh prestise untuk menyempurnakan hidupnya.

Prostitusi artis kini telah terbukti nyata adanya dengan ditangkapnya Vanessa angel. Pihak berwajib dalam hal ini kepolisian telah melakukan pencegahan dan penindakan. Tantangan ke depannya adalah menghapus kegiatan ini agar tak meresahkan masyarakat.

Tentunya ini bukan hanya tanggung jawab penegak hukum. Prostitusi akan selalu ada jika ada pelanggannya. Masyarakat pun harus ikut terlibat untuk penanggulangan ini. Mulai membiasakan memandang kecantikan bukan sebagai alat konsumsi adalah awal keterlibatan kita untuk meredam prostitusi,

Biar bagaimanapun para artis tersebut adalah tokoh yang mungkin saja dirugikan di mana mereka selalu digoda oleh iming iming uang dan kekayaan. Mereka, para artis medioker itu, adalah sasaran empuk para cukong kenikmatan seksual.

Saat situasi ekonomi seseorang lemah, berbuat negatif adalah godaan yang menggiurkan karen bisa mengatasi hidup secara cepat. Nah di kalangan artis senjata termudahnya adalah kemolekan tubuh. Meski tidak semua artis mengandalkan kemolekan tubuhnya untuk berkarir.

Apakah Vanessa akan bicara siapa saja teman seprofesinya. Jelas ini menjadi informasi yang ditunggu oleh publik yang selama ini penasaran akan ucapan Robby abbas dahulu. Saat itu artis yang disebut Robby ramai ramai berkata tidak. Kini apakah mereka juga akan berkata tidak jika salah satu rekannya pun berkata bahwa ia tidak sendiri.

Tentunya para lelaki hidung belang ini juga akan takut. Mereka tentunya terdiri dari berbagai macam kalangan, polisi, pejabat, pengusaha dan mereka yang berduit lainnya. Nah terlebih lagi adalah mereka mereka yang pernah menggunakan ‘jasa’ Vanessa.

Nama nama seperti apakah nanti yang muncul ke ruang publik. Ini menarik untuk menjadi pergunjingan. Apalgi di musim politik begini. Para penikmat kenikmatan sesaat itu mungkin semua berdoa agar Vanessa angel lupa bahwa mereka pernah menidurinya.

Baca! Jejak-Jejak Prostitusi Lesbian

Tapi berharaplah agar Vanessa Angel siap untuk merasa malu sendirian saja. Karena jika sampai ia ingin malu berjamaah tentunya ia akan menyebut nama nama siapa saja yang menjadi pelanggannya. Semoga kita tidak kaget dibuatnya. Hemmmmmz

Tahun Baru, Apanya yang Baru?

Hari Selasa tanggal 1 Januari 2019 adalah hari Selasa yang sama dengan hari Selasa sebelumnya. Namun di benak kita akan memunculkan persepsi yang berbeda beda. Bagi kita penganut pesta pesta kedatangan Hari itu akan disambut dengan perayaan yang meriah terutama menjelang DiniHari.

Entah apa yang membuatnya berbeda. Semua telah terbius sebuah angka sebagai penanda. Toh yang dilewati selalu sama. Gelap. Ya malam itu pasti semua gelap hanya kita yang memaknai dengan maksud dan alasan yang berbeda. Padahal kita tak pernah beranjak atau bergeser. Bahkan jika penanda itu tak ada di manakah durasi itu.

Bagi kita semua hari hanyalah putaran waktu siang dan malam. Bila siang kita berjumpa matahari dan bila malam kita berjumpa sang rembulan. Tidak ada yang berbeda, begitu terus sejak dulu. begitu pula bulan dan tahun semua tetap sama tak ada yang berubah.

Setelah tiga puluh hari kita menyebutnya bulan karena bulan beredar tepat tiga puluh hari dia akan berposisi di titik yang sama. Dan setelah dua belas kali bulan beredar kita menyebutnya tahun. Ya.,,, hidup ini hanya berkutat dengan hitungan pergantian peredaran matahari dan bulan.

Manusia memang suka mencari penanda untuk menandai sesuatu apalagi tentang waktu. Mereka seolah tak mau terlewatkan bahwa ada durasi yang harus ia pahami agar hidup ini mempunyai arti. Kita memang senang dengan tanda tanda. Untuk memudahkan daya ingat dan patokan kita perlu tanda.

Kalender adalah tanda tanda untuk kita. Ada hari dan jam yang kita pecah pecah dan kita golongkan sesuai dengan keinginan kita. Kalender hanyalah symbol kosong jika hanya dibanya sebagai penanda. Kitalah yang harus membuatnya berisi.

Manusia mempunyai persepsi menganggap sesuatu yang berganti menjadi baru padahal sesungguhnya itu adalah cara mereka mengisi hari. Sesungguhnya cara mengisi hari itulah yang baru karena hari akan berlalu seperti mereka tahu, siang dan malam.

Bagi orang yang tidak punya kreasi dan kreativitas mengisi hari mereka akan merasa hidup dalam perjalanan waktu yang itu itu saja. Relativitas karena penanda yang begitu jelas diukur dan dihitung, membuat durasi begitu lama terjadi.

Baca! Doa Pemulung di Malam Tahun Baru

Bagi orang dengan banyak aktivitas, setiap hari adalah parameter acuan apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin. Pergeseran detik demi detik pun menjadi nisbi dan relative. Waktu seakan tak pernah cukup dan begitu cepat berganti.

Banyak yang terlena dengan perayaan tahun baru. Padahal setahun yang berlalu adalah waktu yang mungkin tak lebih dari masa lalu saat itu tak menghasilkan sesuatu. Seringkali malah mereka tak punya rencana dengan apa yang akan dilauinya di pegantian angka 1 Januari itu.

Kalau waktu itu adalah pedang, kita sebenarnya terlena saat menyambut pedang yang datang. Kita berpesta untuk apa? Jika kita tidak mahir atau bisa menggunakannya.

Ada sebuah hadist nabi yang mengatakan bahwa barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi, sedangkan orang yang Hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka.

Memaknai hadist tersebut apakah kita akan memilih persepsi yang sama akan datangnya hari baru atau kah kita mampu menciptakan persepsi yang baru akan datangnya hari baru tersebut. Tentunya karena kita berpersepsi akan sesuatu yang baru alangkah baiknya jika kita harus mempersiapkan dengan hal hal baru yang lebih baik dari hari yang telah berlalu itu.

Dan kita berharap semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung itu. Keberuntungan tidak akan menimpa orang yang tak bergerak. Bergerak dan berubah adalah bagian dari ikhtiar yang akan menemukan kita dengan keberuntungan.
Kesempatan harus diciptakan dengan cara cara baru. Inilah sejatinya memaknai kebaruan. Segala yang baru selalu ada karena ada perpindahan dari yang lama menuju ke bagian berikutnya yang lebih muda. Jejak yang tertinggal tak akan kembali bahkan mungkin hilang namun terus membuat jejak baru yang lebih membekas adalah kesempatan menjadi abadi.

Tahun 2019 adalah tahun pemilu. Ada pemilihan presiden dan legislatif di sana. Ada yang membuatnya menjadi tanda pagar yang riuh di media sosial. Semoga kita tidak terlena karena setiap penanda selalu bermakna dua; tanda bahagia atau derita. Dan semoga kita bisa selalu bersyukur jika menemui salah satunya.

Sekali lagi, sekedar mengingatkan bahwa menyambut tahun baru pada Senin malam (31 Desember 2018) kemarin bukanlah sebuah ajang pesta belaka. Apakah kita mampu menjadikannya baru dengan ide ide baru yang tentunya lebih baik dari yang lalu. Jangan sampai kemeriahan pesta tahun baru mengalahkan kegairahan kita untuk mengisinya dengan hal hal baru. Semoga.

Happy New Year 2019

Bermanfaat Bagi Orang Lain, Itulah Sukses

Ini tentang kesuksesan.Ya, kesuksesan memang selalu menjadi parameter seseorang dalam menjalani kehidupan. Bila kita sering mengeluh karena tidak bisa sukses seperti “mereka” maka kita telah menutup pintu masuk menuju kesuksesan kita sendiri.

Lantas apa ukuran kesuksesan itu? Uang? Ataukan segala yang berbau material lainnya?

Seringkali kita merasa mengapa mereka bisa tapi kita tidak. Hal ini dikarenakan kita salah dalam melihat bidang yang kita geluti dan mestinya kita kuasai. Kita seringkali mengekor ketika ada seseorang yang sukses di bidang tertentu yang malah dengan itu kita justru menjerumuskan diri kita sendiri dalam kegagalan.

Kita tidak mau melihat kedalam diri kita sesungguhnya sehingga kita tidak tahu kemampuan apa yang kita miliki untuk kita lakukan dan bisa berkontribusi terhadap orang lain dengan kemampuan yang kita miliki itu.

Kita salah menilai kemampuan diri kita, bahwa mereka yang sukses itu adalah orang orang yang memang ahli di bidangnya. Dan kita seringkali mengikuti jejaknya dengan jalan memilih bidang yang sama, sudah pasti kita hanya akan terus di belakangnya. Yang terjadi adalah keputusasaan yang mendera kita karena kesuksesan itu terasa jauh untuk kita raih.

Hargailah kemampuan dan ketrampilan apa yang kita punya. Dan berusahalah untuk memasarkan yang kita punya agar bisa bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita.

Marilah mencoba untuk bersikap fair terhadap diri kita. Apa yang kita bisa dan apa yang kita mampu tentunya itulah yang membuat jalan kita untuk sukses. Tinggal kita apakah kita bisa mencari dan memanfaatkan itu untuk berguna pada orang lain.

Tentunya ada syarat syaratnya seseorang untuk sukses di bidang yang ia kuasainya, yaitu antusiasme (passion) di bidang yang ia mampu serta komitmen untuk menggelutinya itulah syarat utamanya.

Tidak ada sukses yang dieroleh dari kebetulan belaka. Semua yang sukses adalah mereka yang memang ahli dan punya passion di bidangnya. Dan satu yang pasti kemampuannya atau ketrampilannya yang dimiliki itu berguna atau bisa dimanfaatkan banyak orang. Setidak tidaknya mereka adalah inspirasi berkat ketekunan dan kerja kerasnya.

Ada beberapa contoh orang orang sukses dengan bidang yang sama sekali tak terbayangkan orang misalnya sukses jadi tukang servis, jadi juragan pecel, jadi illustrator dan masih banyak bidang lainnya. Bob Sadino, Hermawan Kertadjaya, Chaerul Tanjung, Pak Puspo, dan Andrea Hirata, adalah nama nama yang berhasil mencari peluang di tengah bisnis mainstream yang ada.

Ada satu garis lurus yang sama di antara mereka bahwa mereka adalah orang orang yang Mencintai dan Menggilai bidang yang ia tekuni. Mereka semua mulai dengan rasa cinta pada kegiatan yang ia tekuni. Gairah yang luar biasa terhadap bidang yang ia pilih adalah kunci seseorang menjadi ahli.

Ada karena kecintaanya pada memasak membuat ia sukses dengan berjual makanan. Pada awalnya mereka tidak berfikir bahwa apa yang mereka lakukan akan berhasil, tapi kecintaan itulah yang membuatnya bertahan karena mereka melakukan apa yang mereka suka.

Teringat apa yang dikatakan J.K Rowling, penulis Novel Harry Potter, bahwa kecintaan pembaca saat membaca novelnya tak bisa mengalahkan rasa sukanya saat menuliskannya. Ia bahkan mengatakan bahwa ia menulis itu untuk menghibur dirinya sendiri.

Seorang illustrator atau seniman lukis juga demikian mereka adalah para pecinta dan maniak dengan apa yang dilakukannya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa lukisan atau gambarnya akan laku atau tidak tapi mereka terus menjalaninya dengan penuh gairah yang besar.

Mulailah untuk melihat kemampuan sesungguhnya diri Anda, apa yang kamu bisa. Saya yakin bahwa setiap orang punya ketrampilan yang berbeda beda karena semua orang punya bakat bawaan yang berbeda pula.

Syarat utamanya adalah mencintai apa yang kita bisa dan tidak merasa kecil karena kemampuan kita tidak popular atau ngetren. Buatlah tren dengan gairah yang besar untuk menjalaninya. Berbagilah baik cara maupun produk yang Anda punya dengan orang lain. Dengan berbagi kita bisa membuat apa yang kita punya dikenali lebih banyak orang lain.

Untuk menjadi sukses tak perlu harus mengekor atau mengikuti bidang yang sama dengan bidang yang membuat kesuksesan orang lain tapi kita harus meneladani bagaimana cara mereka menggeluti bidangnya hingga bisa sukses seperti itu.

Di sinilah kita bisa aplikasikan cara cara mereka ke dalam cara kita menggeluti bidang keahlian yang kita jalani.

Jalan kehidupan seseorang tak kan pernah sama namun satu yang pasti tujuan mereka dan kita adalah sama yaitu untuk memperoleh akhir yang baik dan bisa member manfaat pada orang lain. Bukankah kebahagiaan dan kesuksesan itu diukur dari seberapa besar kita dapat bermanfaat bagi orang lain.

Jalani bidang yang Anda geluti dengan antusias dan jangan pernah berputus asa. Dan selalu berusahalah untuk bermanfaat bagi orang lain dengan apa yang kita jalani. Itulah sebenar benarnya kesuksesan. Bagaimana?