Menulis, Kata Siapa Mudah.

Banyak orang terutama penulis kawakan, yang mengatakan menulis itu gampang. Semudah menggerakkan tangan untuk membentuk kata kata dan menjadi kalimat indah.

Kemudahan yang dilakukan oleh para penulis itu karena mereka telah menulis ribuan bahkan jutaan kali. Nah pada titik ini, kita hanya mengetahui saat ia sudah tidak bisa melupakan kebiasaannya untuk menuliskan aksara menjadi kata, dan selanjutnya menjadi kalimat indah dan bermanfaat.

Kuncinya adalah kebiasaan. Kebiasaan akan membuat syaraf kita secara reflek bergerak dengan sendirinya. Saya jadi ingat kata kata Bruce Lee bahwa jurus yang diulang seribu kali lebih mematikan dibanding seribu macam jurus yang dikuasai asal jadi.

Membiasakan menulis adalah kunci agar kita bisa menjadi penulis. Tentang kualitas percayalah pada Bruce lee, apa apa yang dilatih berulangkali akan membuatnya makin bertaji.

Nah, jika demikian, bukankah menulis itu tak mudah. Apalagi jika kamu juga malas membaca.

Bacalah apa saja agar kita akrab dengan kata kata. Semua penulis, yang saya tahu, adalah kolektor buku dan rakus membaca.

Kita dihadang kemalasan dan rasa bosan setiap hari. Dan itu adalah tantangan buat semua yang mau jadi penulis.

Coba bayangkan jika buku setebal 500 halaman bisa ditulis oleh si pemalas. Tidak bukan?…..

Iklan

Caleg Parto

Ia tetap yakin dengan dirinya. Yakin bahwa ia akan terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di daerahnya.
Berbekal pertemanan yang banyak, ia pun maju sebagai salah satu calon legislatif. Meski ia tak punya keturunan pejabat dalam keluarganya, Parto bergeming untuk mendaftar melalui Partai Berdikari yang terkenal punya basis massa di desanya.
Parto hanyalah seorang yang biasa. Dari keturunan orang biasa saja. Tidak ada satupun dari anggota keluarganya yang pernah menjadi anggota dewan atau pejabat di instansi pemerintah. Bahkan yang jadi kepala desa pun tak ada. Bisa dikatakan ia hanya berbekal nekad.
Sehari harinya ia adalah guru madrasah swasta di desanya. Muridnya banyak dan dari beberapa alumni yang pernah menjadi muridnya ada yang sudah menjadi pejabat pemerintahan, anggota dewan pusat dan juga ada yang jadi pengusaha sukses luar biasa.
Perawakannya kerempeng dengan wajah asli ndeso, bagi sebagian warga desanya, ia dianggap kurang meyakinkan untuk menjadi seorang pejabat apalagi anggota dewan.
“Anggota dewan itu harus berwibawa, tegap, dan meyakinkan, To,” kata Zudi salah satu warga di desa Parto saat mereka bercengkerama di sebuah mushola.
“Yang penting kita siap mengabdi dan dicaci siapa saja boleh menjadi anggota dewan, Zud,” balas Parto dengan pedenya.
“Apa mesti harus kena caci maki jika seseorang jadi anggota dewan?” tanya Kang Kardi yang sepertinya nggak mau kalah untuk usul berpendapat.
“Itu jelas, karena pasti ada saja yang kecewa dengan kerja kita. Dan lagi,… tidak mungkin kita bisa memaksa orang lain untuk memaklumi cara kerja kita,” Parto melanjutkan penuh keyakinan.
Sudah hampir tiga puluh tahun Parto mengabdi menjadi guru di sekolah swasta desanya. Pahit getirnya menjadi guru swasta telah ia jalani bertahun tahun sehingga ia hapal setiap keluhan yang pernah ia utarakan. Mulai dari gaji yang kecil, ketidakpastian status, dan tentunya bagaimana sulitnya menghadapi kurikulum yang setiap periode harus ganti.
Semua itu dijalani dengan tabah dan ikhlas hingga pada suatu hari salah satu muridnya yang jadi anggota dewan berkunjung ke rumahnya. Imron yang dahulu adalah muridnya yang paling bandel di kelas itu, kini telah menjadi anggota dewan. Penampilannya parlente dengan kaos berkerah dan celana kain yang rapi. Gaya bicaranya pun sedikit kebarat baratan dengan logat bicara resmi seperti dalam protokol kecamatan.
Dalam kunjungan itu Imron berujar, “Bapak ini akan lebih baik jika bisa berkiprah menjadi anggota dewan.”
“Bapak akan lebih bisa mewarnai rapat rapat di ruang sidang. Melihat cara berbicara Bapak saat mengajar saya dulu, saya yakin bapak mampu,” lanjut Imron.
Perkataan itu terngiang terus di benak Parto. Ia yang telah mengajar anggota dewan itu selama enam tahun di sekolahnya. Kini murid bengalnya itu datang untuk meyakinkannya agar mencalonkan diri menjadi anggota dewan.
Ketika Istrinya diberi tahu perihal keinginannya untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan, istrinya itu hanya tertawa. Mungkin bagi istrinya Parto hanya bergurau.
“Jadi anggota dewan itu harus punya uang banyak, Pak,” kilah istrinya saat pertama kali ia sampaikan keinginannya.
“Lho, jadi anggota dewan itu hanya butuh kepercayaan, Bu, Kepercayaan……..” Parto menjelaskan sambil melanjutkan, “ Buat apa uang jika kita tak dipercaya orang.”
“Heemmmz…..Lagian siapa yang mau mempercayai bapak, kan Bapak nggak meyakinkan penampilannya. Paling paling di dunia ini hanya aku yang percaya kamu,” istrinya bersungut sungut memberi pemahaman.
Tak mau kalah dengan istrinya Parto melanjutkan, “Lihat saja nanti. Aku punya murid banyak yang bisa kuandalkan untuk menjadi tim suksesku.”
Di benak Parto, dengan berbekal banyak kenalan dan mantan murid yang sudah jadi orang, ia yakin pencalonannya nanti tidak sia sia. Selama ini ia belum pernah punya cacat sosial di masyarakat. Salah satu kekurangannya adalah kemiskinan.
Seberapapun pintar dan cerdasnya seseorang kalau dia nggak punya materi untuk dijadikan modal sosial maka omongannya tak akan pernah digugu. Bukankah sudah lazim di negeri ini kata kata jutawan lebih punya daya gedor dibandingakn dengan kata kata yang dihasilkan oleh orang pintar. Pemikiran ini sepertinya sejalan dengan pemikiran istri Parto.
Pernah suatu kali istrinya mengingatkan ,“Pak, ingatlah saat setiap rapat di mushola, meski Bapak sudah ngomong hingga bibir terkelupas orang kampung kita masih saja menunggu omongan dari juragan Hasyim di akhir rapat. Seringkali omongan Bapak hanya jadi bahan obrolan saja dalam rapat.”
Setahun kemudian saat pemilihan umum diadakan dengan muka penuh keyakinan Parto duduk menunggu di dipan rumahnya ditemani mantan mantan muridnya yang jadi tim suksesnya. Ada beberapa di antara mereka yang wajahnya terlihat lusuh dan lelah.
“Kita masih punya harapan di kecamatan sebelah, Pak, tenang penghitungan belum selesai,” salah seorang di antaranya membesarkan hati Parto. Parto masih terdiam mengenang saat saat berkampanye tiga bulan lalu. Ia menjanjikan perubahan pada daerahnya saat terpilih nanti. Baginya, tak akan ada lagi uang sebagai jalan mempercepat urusan dalam pemerintahan.
“Korupsi itu racun. Mari bersama sama memeranginya. Saya akan menjadi corong saudara semua di gedung dewan nanti. Kita mampu jika mau dan Anda semua harus bersama saya memperjuangkan itu, sanggupkah saudara saudara?” ujarnya ketika itu berapi api.
“Sanggupppppp…..” itulah jawaban yang massa berikan saat mendengar pertanyaan Parto dalam kampanyenya waktu itu.
Seseorang datang tergopoh gopoh dari halaman depan rumah Parto. Ia kelihatan panik, dan langsung menghambur ke hadapan Parto, “Habis kita! habis kita! tak ada lagi harapan. Kita telah dikalahkan oleh uang.”

Begawan Desa

Semua orang tertegun melihat sosokmu. Dengan topi khas seniman dan rokok menyala di tangan kananmu. Sesekali kau hisap rokok itu penuh penghayatan dan orang orang yang duduk di kursi acara peringatan kepenyairanmu begitu terpesona. Gayamu seringkali menjadi panutan namun jarang cara berkaryamu.

“Terima kasihku pada Anda semua yang hadir di sini, ini bagiku terlalu berlebihan,” Katamu. Semua yang hadir seperti tertusuk saat kau mengucapkan itu. Mereka yang selam ini mengenal sosokmu hanya lewat puisi dan geguritan yang kau tulis menjadi begitu terpukau. Bengong.

Seseorang yang duduk disampingku bertanyam, “Mas, itu, ya, yang bernama Herry Lamongan?”

“Betul, dia memang begitu cara bicaranya, serak dan berat.” Jawabku memberi penjelasan seadanya karena aku sendiri juga baru tahu sosoknya. Bagiku pura pura mengenalnya akan membuatku sedikit keren dimata orang yang bertanya kepadaku.

Saat acara dimulai, dan Herry member sambutan semua terdiam. Namun, saat semua diberi kesempatan bertestimoni semua antusias ingin maju ke depan. Ruangan Aula Perpustakaan umum itu menjadi riuh dengan gelak tawa.

“Bagiku, Mas herry adalah guru menulis yang rendah hati. Meski namanya sudah melanglang buanan di jagad sastra, ia masih mau bergaul dan membimbing kita yang notabene dari desa atau kota kecil di Jawa timur yaitu Lamongan,” kata Syauqi anak didiknya yang paling tawaduk dan kualitas karyanya bisa dikatakan sebanding dengan gurunya itu.

Puja puji terus mengalir siang itu di ruang Aula Perpustakaan Umum Lamongan. Si Kribo kecil dengan penampilan dekil mendadak maju ke depan. “Karena sebab aku berkenalan dengan Herry Lamongan aku pun menjelajah lima benua. Dia adalah guru menulis pertamaku dan sampasi kini ia masih menjadi guruku.” Teriaknya lantang.

“Mas Gusti, dia itu adalah penulis produktif, ia tinggal di Yogya dan jika lebaran pasti berkunjung ke rumah Herry Lamongan,” ujar Munduk yang selama acara duduk di sampingku memberitahuku saat melihat aku begitu tercengang mendengar testimoni si kribo.

Sebenarnya acara ini hanyalah untuk memperingati ulang tahunnya yang keenam puluh tahun perjalanan hidupnya. Selama itu hampir empat puluh tahun lebih ia telah berjibaku dengan dunia tulis menulis. Ia bisa menulis dengan dua bahasa yaitu bahasa ibunya, bahasa jawa dan bahasa nasional bahasa Indonesia.

Dalam dunia sastra jawa ia malah lebih dulu dikenal daripada di dunia sastra Indonesia. Geguritan yang ditulisnya sangat bernas dan liris sekali bahasanya. Aku lebih menggemari puisi bahasa jawanya itu karena lebih mudah kuhayati. Dan memang, bahasa jawa lebih dalam dan merasuk dihati saat diucapkan daripada bahasa Indonesia. Mungkin itu juga karena pengaruh bahwa aku adalah orang Jawa.

Inila salah satu geguritannya yang paling kusuka:

SANGU ELING

layangmu kang tansah dhawuh

ora leren leren

ngentas sapa wae kang sudi ngundhuh

bagus lan ala kanthi anteng

kanti meneng lan seneng

kadya bumi apadene bengawan

tansah bungah karawuhan sapa wae

lila dilurug apa wae,

pawongan kang ora gampang nyacat

utawa ngroweng dening kahanan krana sih-palilahmu

yekti bakal mapan ing larik ngarep

jalaran ngerti yen sejatine ora ngerti

Dalam testimoni aku pun membacakan gurit ciptaanya ini. Aku merasa diksi yang ia pilih begitu pas dengan jalan hidupnya.

Plok plok plok plok………tepuk tangan itu begitu panjang saat aku usai membaca puisi berbahasa jawa itu. Kulihat mas Herry berkaca kaca. Lama ia tertegun dengan tatapan kosong, menerawang entah mengingat suatu peristiwa yang mana.

“Menjadi orang itu harus rendah hati, mas…” kata harist mengulang kata kata Herry Lamongan suatu ketika ketika kami ngopi berdua.

Saat itu, sebagaimana yang diceritakan oleh Harist, temanku yang memang sangat gemar sastra dan mengaku terinspirasi oleh Herry Lamongan ketika ia juga memutuskan menjadi sastrawan, ia sedang bermain ke rumah Herry Lamongan ketika Sang Begawan itu memberinya petuah karena ia terlalu berbangga memperlihatkan novel pertamanya padanya .

“Yang paling kuingat adalah suara tawanya yang berat dan singkat,” terang harist menambahkan.

“Dan dia juga penggemar kopi yang akut,” kata nisa saat aku bertanya padanya perihal kesukaan Herry Lamongan ketika kami sedang sama sama mengambil teh hangat yang disediakan panitia.

Tanpa terasa hari semakin panas dan kami yang berada di Aula pun makin kegerahan. Tinggal satu lagi testimoni yang belum tampil. Lelaki pendiam berkacamata yang sedari tadi duduk membaca buku persembahan untuk Herry Lamongan tiba tiba terhenyak.

“Hadewwwww…….MC nya ini bikin gara gara!” sungutnya saat mendengar namanya disebut pembawa acara siang itu.

Lelaki berkaca mata ini pun menambahkan, “Dia, Herry Lamongan, adalah sastrawan yang anti pakem dan juga tidak liar sebagaimana Remy Sylado. Bahkan puisinya pun liris namun bukan seperti gayanya Sapardi. Ia membuat gayanya sendiri, Gaya Lamongan.”

Serentak seluruh peserta pun tergelak dan merasa ujaran lelaki ini ada benarnya. “Dia adalah bagi kita yang akan mengambil air kata kata. Yang paling kuingat adalah pesannya saat pertama kali aku dan Herry saling berjumpa, jika kita hanya butuh air satu gayung mengapa mesti kita angkat itu sumur, ” pungkasnya sambil menjabat tangan Herry Lamongan.

Dan seluruh peserta, terdiam meresapi kutipan lelaki berkaca mata tersebut.

Sunan Drajat

Menyepilah dari keindahan dunia yang menipu, dan kau..

Memilih memberi tongkat pada yang berjalan dalam kegelapan

Menyusuri hutan perdikan dengan tirakat, dan kau

memberi makan pada yang kelaparan akan kebijaksanaan

Dalam rimbun hutan keduniawian kau berdiam, lalu kau

memilih memberikan baju pada yang tak lagi punya malu…

Saat ketakberdayaan dalam kesepian dan kelemahan, kau putuskan..

memberi payung pada yang terkulai tak berdaya…

Dunia hanyalah keindahan yang melenakan

saat kita dalam kelaparan, gelap, lapar dan hampir tak lagi peduli akan rasa malu

kau pun menganyam langgam pangkur

untuk mengajak kita belajar bertafakkur.

Belah

Perjalanan waktu yang panjang menyusuri detik detik menuju pertemuan yang lama kurindukan. Di atas bus antar kota yang membawaku ke kota kelahiranku, Paciran. Desa yang panas dan beraroma asin karena berada di pesisir pantai utara Lamongan.

Suara keroncong Tuti Tri Sedya membawakan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama membuat perjalananku malam hari itu terasa sedikit terhibur dan tidak menjemukan, walaupun bus penuh sesak dan kadang-kadang diselingi suara tangis dari bayi yang terjaga dari tidurnya minta disusui ibunya.

Masih sekitar kurang lebih tujuh puluh kilo meter lagi menuju desaku, ketika bus memasuki hutan antara Ngawi dan Bojonegoro. Jalan berjurang dan penuh liku membuat kantukku hilang dan tak bisa tidur. Entah sudah berapa tikungan aku lalui dan tanpa terasa kantukku pun datang kembali.

“Mas, sudah sampai, bangun,” suara kondektur menyadarkan aku dari tidurku. Aku bergegas turun, mengambil ranselku sambil mengucap terima kasih pada kondektur yang telah membangunkanku. Jam menunjuk pukul dua belas malam ketika aku lihat arlojiku.

Suasana terminal Tuban sudah agak sepi dan angkot menuju desaku pun sudah jarang walaupun masih bisa kutemukan kalau aku mau bersabar menanti.

Tak lama berselang angkot pun datang “Ciran , Ciran, ayo ini angkutan terakhir,” suara kenek angkutan pedesaan menawari setiap orang yang berdiri di depan terminal.

Segera aku memasukinya, “Lho kok kowe, Sam,“ sapa kenek tersebut ketika aku mendekatinya.

“ Ya arep sambang emak,” jawabku.
“Suwe, gak mulih, kon,” lanjutnya. Ternyata kenek angkot tersebt adalah Memet sahabatku waktu SMA. Dia kelihatan lebih dewasa dan terlihat kekar dibandingkan saat waktu masih sekolah dulu, kerempeng.

Memang orang yang bekerja sejak muda wajahnya kelihatan lebih dewasa, aku nggak tahu kenapa. Sebenarnya Memet ini waktu sekolah sangat pintar. Ia termasuk tiga jawara di kelasku, selain ia masih ada Agung dan Bachri. Mereka bertiga selalu berbagi rangking satu , dua, dan tiga. Dan biasanya rangking empat selalu menjadi bagianku.

Memet seringkali mewakili sekolahku dalam perlombaan matematika, pelajaran kegemarannya. Saat di SMA itu, ia berhasil membawa sekolahku menjadi juara kabupaten dan berhasil ikut dalam perlombaan tingkat provinsi.

Banyak guru guru kami yang berharap agar Memet melanjutkan kuliah ke ITB atau ITS agar kemampuan eksakta yang dipunyainya bisa tersalurkan dengan baik dan berharap ia menjadi ilmuan mumpuni. Tetapi, nasib berkata lain, ia lebih memilih patuh pada orang tuanya.

Ayah memet adalah nelayan di desaku yang penghasilannya tidak menentu karena dalam bekerja ia tidak mempunyai perahu sendiri hanya ikut juragan. Juragan adalah orang yang punya perahu. Biasanya juragan mengajak seorang lagi untuk membantunya melaut mencari ikan yang lebih di kenal dengan istilah belah di desa kami.

Karena ayahnya hanya seorang belah, memet tidak bisa melanjutkan sekolahnya. kebiasaan anak seorang belah, begitu lulus sekolah dasar akan langsung jadi belah juga. Mereka ini akan dilatih bekerja dengan cara diikutkan dengan juragan kenalan ayahnya.

Kehidupan belah seperti halnya kehidupan kuli tandur yang menjadi buruh tani di pemilik sawah.

Belah belah ini hanya mengandalkan tenaganya untuk mencari ikan. Mereka adalah para nelayan yang tak punya modal hanya bermodalkan tenaga.

Dalam proses pembagian pendapatan melaut pun, mereka hanya mendapat sepertiga dari total perolehan karena yang dua pertiga dimiliki oleh sang juragan. Selain itu, para belah ini biasanya rata-rata berpendidikan rendah dan tak begitu peduli dengan urusan pendidikan. Di benak mereka mencari uang adalah yang utama karena urusan perut masih menjadi kebutuhan utamanya.

Hidup di desa nelayan seperti desaku memang banyak anak yang hanya lulus sekolah dasar. Memet termasuk anak belah yang tergolong masih beruntung bisa lulus SMA dan tidak disuruh kerja seperti anak anak belah yang lain begitu lulus SD.

Setelah satu jam perjalanan dari Tuban, angkot sudah memasuki wilayah desaku. Aroma laut langsung menyengat hidungku. Bau udara yang khas beraroma ikan kering, jaring ikan yang dijemur, dan ikan yang diasap membuatku selalu rindu akan desaku.

Aku turun sambil menyodorkan ongkos pada Memet tapi ia menolak.
“Nggak usah, teman sendiri kok,” aku menjadi rikuh karenanya.
“Main ke rumah, ya,“ ajakku pada Memet ketika angkotnya hendak berangkat lagi.
Setiap pulang kampung Memet biasanya datang ngobrol ke rumahku hingga larut malam. Seringkali ia akan bertanya tentang kuliah dan gimana rasanya jadi anak kos itu. Sepertinya ia mengimpikan hal itu tapi, tak mampu, dan hanya bisa menikmati keseruan menjadi mahasiswa dari ceritaku.

Malam itu ia bercerita ingin kuliah. Penghasilannya dari menjadi kenek mobil sudah terkumpul banyak dan bisa dipakai untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Aku kaget dan heran ternyata semangat mencari ilmunya begitu menyala dan tak pernah padam.
“Untuk urusan kos dan lain lain aku bisa cari kerja nanti di Yogya untuk biaya hidupku,” jawabnya ketika aku bertanya perihal bagaimana dengan biaya sehari harinya. Kuliah tidak hanya butuh biaya pendidikan karena biaya hidup di kota itu yang lebih berat karena harus kos dan sebagainya.

Dalam hati aku bertanya, banyakkah anak-anak seperti Memet di negeri ini? Ataukah hanya ada di desaku yang memang terpencil. Desa nelayan yang orang tuanya tak begitu menghiraukan akan arti penting pendidikan bagi anak-anaknya.

Dan sering kali para orang tua di desaku itu dengan enteng berkata, “Kalau tanpa sekolah pun bisa bekerja dan mendapat uang mengapa harus susah-susah menyekolahkan anak.” sebuah kalimat sakti yang menelurkan banyak remaja putus sekolah di desaku.

Penulis aktif di komunitas Literacy Institute yang bergerak dalam pengembangan literasi di lamongan. Bersama teman temanya di sana melakukan penerbitan buku baik sastra maupun budaya untuk menggiatkan kegiatan tulis menulis di Lamongan. Baru baru ini bersama komunitasnya menerbitkan antologi cerpen Bocah luar Pagar dan antologi puisi Ini Hari sebuah Mesjid Tumbuh di Kepala. Bisa di hubungi di agusbuchori@gmail.com.

Mudukan Ala Mat Klobot

Saat sedang asyik makan rame rame di mushola tiba tiba Mat Klobot tertawa sendiri. Kita yang ada di sebelahnya pada bingung dengan polahnya.

“Lapo..kok ngakak ngono iku, Kang,” tanyaku penuh selidik.

“Kelingan zaman semono, sek cilik cilik mangan bareng urunan beras sak cangkir edang,” jawabnya dengan masih menahan tawanya yang penghabisan.

Ya, saat itu tahun 80an masih belum ada hape. Cah ciran masih suka kumpul kumpul. Nah saat kumpul inilah biasanya muncul ide untuk masakan.

“hiyo, yo zaman biyen seneng, dolanane isek kumpul ngobrol bareng, ora kaya saiki kumpul ning nggremeti hape dewe dewe,” aku mencoba mengingat sebagaimana Mat Klobot.

Saat itu, kalau masakan bersama, masing masing urun beras satu gelas. Membawa dari rumah masing masing. Anehnya karena kondisi ekonomi kita berbeda, maka berasnya pun beda beda, tetapi rasanya saat matang kok ya sama. Berkah mungkin

Hehehe…sopo sing biyen ora tau urun?

Ode To Jakarta

Pagi di Jakarta
Pagi di Jakarta tak ada yang lambat
Matahari bagai kereta cepat
Langkah langkah kaki mencoba mendahuluinya
Berderap menghentak di sudut sudut gang

Pagi di Jakarta selalu harum dan semerbak
Tak ada bau comberan di jalanan
dingin pun menjadi sweeter paling lembut
bagi orang orang yang dikejar waktu

Pagi di Jakarta adalah harapan
Tentang cita cita masa kecil
Mewarnai negeri ini dengan bakti
Meski saat di Jakarta semua tergoda materi

Pagi di Jakarta adalah doa
Bagi yang terpinggirkan di sudut kota
Mengais sisa sisa pesta para hedonis
Yang terlupa pada stasiun awal berangkat dari desa

Stasiun Senen

Bercerita tentang wajah wajah baru
Menyapa dengan ragu ragu
Yang datang mengharu biru
Apa yang kau cari

Stasiun senen menjadi saksi
Berjuta wajah mencari harapan
Lorong kosong itu lengang
Menangisi anak anak entah datang untuk siapa

Bunyi kereta menyadarkan lamunan
Sore itu sebuah perpisahan dinyatakan
Dan penyambutan mengejutkan
Ruang gelap dengan pintu yang tergantung. Sepi

Bang Ben
Saat semua yang parlente menjadi ukuran
Wajah udik membuatnya meraja
Aku adalah biang kerok
Bagi kemapanan palsu kotaku

Aku berjoget dengan hati
Berbicara dengan rasa
Tidak seperti kalian
Bergaya palsu sambil tertawa tawa

Lenong
Aktor aktor berbicara saling ejek
Di ibukota keterbukaan adalah harga yang mahal
Dalam adegan lenong waga Jakarta menumpahkan resah
Saat aktor melempar kata ke penontonnya, Ape, Lu liat liat
Penonton tertawa ………hahahahaha

Si Dul Tersesat di Kotanya
Wajahnya mendongak ke ujung gedung
Di tempatnya berdiri adalah tempatnya bermain bola
Matanya mengangkasa melihat langit Jakarta
Ada awan berarak dari cerobong pabrik
Menggantikan burung burung yang menyapanya tiap pagi

Ia berjalan di trotoar
Tak ada lagi penjual terompet kertas dan kerak telor
Ditemuinya hanyalah langkah langkah tergesa gesa
Entah menuju ke mana dan dari mana
Dalam kebingungan hatinya berkata inikah kotaku

Sebuah bus melintas di depannya
Di matanya terbayang bajai dan mikrolet tua
Ia melambaikan tangan
Bus itu melaju dan terus melaju
Meninggalkan kenangannya di halte berikutnya