Valentine`s Day Antara Kasih Sayang dan Materialisme

Sebuah hari, di bulan Februari, tepatnya tanggal 14 yang menjadi momen untuk mengungkapkan rasa sayang, bagi orang yang merayakannya. Hari itu dirayakan sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang.

Bukanlah sebuah kesalahan untuk mengungkapkan kasih sayang pada hari hari khusus, semacam hari Valentine, karena setiap hari perlu diapresiasi agar berarti.

Beberapa hari lagi, kita akan tiba pada tanggal tersebut dan suasana menuju perayaan itu sudah terasa terutama di kalangan remaja. Kegelisahan para orang tua pun mulai mencuat mendekati hari tersebut. Meski ada pula orang tua yang ikut ikutan latah dengan berpartisipasi merayakan hari Valentine bersama kaum remaja itu.

Memang dalam setiap menjelang perayaan hari Valentine, selalu timbul pro dan kontra. Perdebatan tentang perayaan hari Valentine membuat penulis juga merasa untuk ikut serta mengikutinya. Karena sebenarnya perbedaan yang mereka perselisihkan ada titik temunya.

Pihak pertama merasa itu bukan budaya kita jadi lantas tidak layak kita tiru. Di pihak kedua adalah pendukung yang merasa perayaan itu tidak salah karena merayakan kasih sayang. Di belakang barisan pendukung inilah ada beberapa tangan tak terlihat yang hendak menjual pesta pesta yang ujung-ujungnya adalah keuntungan atau uang.

Dalam suasana riuh rendahnya para penganut hedonisme, pesta adalah kebutuhan wajib yang mesti ada.Tentu kurang absah apabila penganut hedonis tak merayakan pesta dan setiap momen bagi mereka adalah perayaan, perayaan, dan perayaan pesta. Di sinilah peluang yang ditangkap oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara menjual aneka ragam pemuas keinginan para pemuja pesta tersebut.

Ada peluang keuntungan yang ditangkap oleh kaum kapitalis saat orang membutuhkan pesta perayaan. Pembiayaan yang ditimbulkannya adalah lahan bagi mereka untuk menyediakan kebutuhan kaum hedonis tersebut. Di era yang sarat pemujaan terhadap materi ini, tidak ada sesuatupun yang tak bisa diuangkan.

Melihat yang demikian tentunya kita perlu mempertanyakan kembali perdebatan antara dua golongan yang saling pro dan kontra dalam perayaan hari Valentine tersebut. Titik temu dari dua golongan tersebut adalah bahwa mengungkapkan kasih sayang itu penting dan itu bisa dilakukan tiap hari.

Namun yang menjadi titik beratnya adalah bagaimana menghadirkan kasih sayang itu tanpa harus dengan pesta pesta yang malah jauh dari rasa kasih dan sayang itu sendiri. Tak perlu pesta pora hingga menjurus lupa diri kalau hanya sekedar untuk berbagi kasih sayang. Kita bisa menebarkan kasih sayang dengan cara yang murah tanpa hadiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s