Ketika Kita Hanya Mampu Menjelaskan

Jagad raya adalah gugusan teka teki. Kita mencoba menjawab dan mengetahui rahasia segala yang ada di baliknya. Kita yang kerdil ini mencoba berbagai cara untuk mengetahui grand design dari semua ini. Saat logika terasa ada keterbatasan, manusia pun tersadarkan bahwa ilmu yang dimiliknya hanyalah setetes air di lautan yang mencoba memahami air samudra.

Saat kesadaran akan kelemahan itu ada, Manusia paling jenius di Abad ke-21, Albert Einstein,  mengakui, berkenaan dengan keteraturan dan keseimbangan  jagad raya ini, bagaimana keteraturan yang mencapai perhitungan quantum itu tak mampu membuatnya mampu menebak  pergerakan benda benda kosmos secara tepat. Tentunya ada kekuatan maha dahsyat yang mengaturnya.  “Dan tuhan tak tak bermain dadu dengan semua ini,” ujarnya.

Ilmu pengetahuan modern selama ini hanya mampu menjelaskan gejala alam dan alasan alasan penyebabnya namun tak bisa menciptaan sebab  itu yang baru dan memunculkan akibat yang baru pula.

Keingintahuan yang besar telah membuat orang ingin tahu segalanya. Segala yang terjadi di dunia ini haruslah bisa dipahami secara logika. Manusia adalah makhluk yang bertanya akan selalu terlihat antusias untuk menanyakan apa apa yang terjadi di sekelilingnya. Ilmu pengetahuan berhasil menyingkirkan mitos mitos zaman kegelapan.

Stephen Hawking, pakar fisika teori dari Inggris sampai bercita cita menemukan rumus segala hal yang bisa digunakan untuk membaca segalanya. Berangkat dari energi yang terdiri dari ruang dan waktu hasil derivasi dari teori yang dikemukakan oleh Einstein. Ia beranggapan bahwa Waktu juga berubah tidak berjalan konstan. Dan dia berhasil menyanggah Kealpaan Einstein yang mengabaikan waktu sebagai materi yang juga berubah tersebut.

Ada dimensi dimensi yang membuat waktu mulur mungsret tidak lurus sebagaimana kita sadari. Inilah penemuan paling baru dari pengetahuan yang menyempurnakan teori relativitas Einstein. Jagad raya adalah ruang waktu yang maha besar. Dan terus memngembang dan membesar entah sampai kapan.

Untuk sementara, Hawking berhasil menggugah kesadaran akan sangkan paraning dumadi. Dari mana dan kemanakah kita seolah hampir diketahui dengan pasti. Hawking menyadari sesuatu yang mengembang pasti berawal dari suatu yang diam pada awalannya. Big Bang atau dentuman besar berhasil dijelaskan oleh Hawking dan menjadi penemuan penting abad ini.

Jagad raya kita ini sebelum ada sepersekian milyar  detik waktu adalah sebentuk singularitas yang sangat padat, sepesar kacang polong.  Sebuah awal yang melahirkan dentuman besar membuat jagad raya itu kini seperti adanya kini. Dan tentunya perkembangan ini makin diperkuat oleh fakta  sejak hubble menemukan teleskop . Andai kita mempunyai jarak yang bisa mengamati pergerakan antar planet di jagart raya tentunya kita bisa melihat bagaimana mereka saling menjauh satu sama lain.

Hawking meyakini bahwa tenaga yang dilontarkan pada saat dentuman besar itu mash ada dan  lambat laun akan habis serta  membuat benda benda angkasa yang  dilondarkan  tersebut itu akan menyatu kembali, menjadi singularitas sebesar kacang polong.

Waktu Tidak melaju Linier Seperti Pemahaman Einstein

Dunia, bagaimana ia tercipta adalah rahasia abadi yang mungkin semua penasaran dengannya. Ilmuwan, agamawan dan semua yang berada di dalamnya selalu bertanya Tanya tentang maksud dan keberadaan dunia ini.

Tak henti hentinya ilmuwan menganalisa, baik itu bidang fisika maupun ilmu hayat yang muncul dengan ide evolusinya. Teori dentuman besar seolah sejalan dengan teori evolusi bagaimana waktu menjadi kunci pada setiap perubahan perubahan yang terjadi.

Waktu menjadi obyek penelitian yang begitu menggairahka. Bagaimana ia berperan dalam persepsi manusia sebagai materi yang mendiami bumi ini. Relativitas Einstein berhasil menyadarkan entitas waktu yang begitu nisbi dengan mengambil perumpamaan antara kesenangan dan kesedihan.

Saat dalam kondisi senang waktu berjalan begitu cepat dalam persepsi seseorang sedangkan saat dalam kondisi sedih waktu berjalan seolah sangat lambat. Bahkan, keterkaitan dengan pergerakan ini bagaimana waktu bisa menghilangkan bentuk dari sebuah materi jika materi itu bisa bergerak secapat cahaya. Yang ada hanya energy.

Bergerak adalah keniscayaan sebagaimana yang diungkapakan Einstein bahwa untuk tetap berada di jalur keseimbangan segalanya harus tetap bergerak. Begitu juga yang diungkapakan oleh Darwin bahwa yang bertahan adalah ayang bergerak mengikuti waktu hingga lestari dan bertahan keberadaannya.

Keduanya ini disempurnakan oleh teori dentuman besar Hawking yang menyebut bahwa setelah ledakan itu, jagad raya terus melaju bergerak dalam ruang dan waktu yang membero sebab akibat setiap materi di dalamnya.  Bagi Hawking waktu tak selinier yang dipahami Albert Einstein, menurutnya waktu bisa dilipat dan ditekuk untuk didekatkan.

Menurut Hawking, andai kita menggambarkan waktu laksana garis lurus A dan B dalam sebidang kertas kosong, maka untuk mendekatkan jarak antara A dan B  cukup dengan melipat kertas tersebut hingga A dan B menempel. Dalam pemahaman Einstein agar A bisa ke B dengan cepat maka ia harus bergerak dengan cepat pula. Einstein lupa bahwa ada ruang yang ditempati waktu.

Untuk saat ini Hawking berhasil melengkapi aksioma Einstein E=MC2  yang mengabaikan ruang dan waktu. Dan pemahaman soal waktu tang bisa dilipat sementara ini akan terus menjadi bahan diskusi entah sampai kapan. Atau ini adalah puncak dari pencarian teori segala hal kita pun tak tahu.

Perihal Tulisan Bagus atau Jelek

Semua orang ingin berkarya, tetapi mendadak berhenti membuat karya karena takut dinilai orang lain.

Seorang penulis harus berani mengambil resiko. Dihujat dan dipuji adalah bagian dari salah satu ujian bagi penulis. Lha…itu termasuk resiko kecil kenapa mesti takut berkarya. Bahkan ada juga lho penulis yang sampai kehilangan nyawa akibat dari tulisannya.

Kalau hanya atas dasar dihujat atau dihina Anda nggak jadi berkarya berarti Anda nggak punya mental penulis. Alangkah baiknya Anda berhenti saja menulis dan buang jauh jauh cita cita jadi penulis, hehehe (beres tho….)

Mental tahan uji itu yang pertama menjadi syarat untuk jadi penulis.

Tulisan bagus atau jelek itu ukurannya semu, nisbi dan tergantung nasib karya itu sendiri.

Apakah tulisan yang baik adalah karya yang pernah terbit di media? atau memenangi lomba? Catat!! itu bukan ukuran tolok ukur karya yang baik.

Banyak karya yang baik tetapi tidak pernah dimuat di media massa, dan atau memenangi sebuah lomba. Nah kalau mau bukti simak saja buku buku yang bagus yang jadi bahan diskusi bertahun tahun apakah ia dimuat di media atau memenangi ajang lomba.

Itulah yang saya maksud sebagai takdir sebuah karya. Karya yang bagus malah kadang muncul karena memberi efek kebermanfaatan pada pembacanya.

Banyak karya bagus juga yang tidak populer, hitsnya sedikit dan mungkin tak banyak disinggung orang. Pembaca bisa cek nama nama sastrawan yang beken atau belum beken.

Di antara nama beken itu ada juga yang karyanya asal asalan tapi sering nongol di koran. Ada juga karya dari penuli yang belum beken, sangat bagus tetapi tak berjodoh dengan popularitas.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kualitas sebuah karya itu ditentukan oleh nasib. Ada penulis yang sebenarnya bermutu tapi jarang terdengar ada juga penulis yang karya karyanya biasa tapi sering tampil dalam saluran yang menyediakan popularitas.

Sebenarnya kualitas itu tergantung peran dari karya itu sendiri. Apakah ia bermanfaat dan mampu mengubah keadaan. Kalau ia hanya ditulis dibaca dan dilupakan begitu saja berarti ia hanyalah karya yang biasa saja.

Meski biasa saja, hendaknya itu tak mengubah semangat untuk menulis karena siapa tahu suatu saat karena konteks yang mendukung karya tersebut menjadi luar biasa.

Berkaryalah karena masterpiece hanya akan hadir pada pribadi pribadi yang tekun dan tahan banting. Karya yang biasa kita hasilkan adalah jejak jejak kita untuk mengantar karya tersebut menuju ke takdirnya. Apakah ia akan abadi bergema atau hanya lewat begitu saja.

Lagi lagi, ketekunan berkarya dimbangi konsistensi akan menjadikan seseorang lebih baik pada saatnya nanti. who knows?

Gayatri

Pada tiap hasrat lelaki
merindumu menjadi bagian pengindah tahta
sebagaimana tatapan awas matamu
menguak cahaya kedaton dada dada prawira

kau pasrah pada jejaka jelata
beraura tahta bukan berhasrat kuasa
karena yang berhasrat telah tunduk pada ketiakmu
sebagaimana Putri Dedes kau memilih untuk dipilih

memendam hati yang perawan
mengorbankan tubuhmu pada pangeran
cinta yang tak pernah kau lepaskan
membuat tahta itu lemah

kesalahanmu adalah menunggu
perempuan tak harus menunggu
kehidupanmu menjadi duri
dan sekali lagi kepasrahan itu perih, Gayatri

Panas di Bulan Oktober

Matahari seperti sangat dekat

membakar perih di kulit ini

Pada puncak suhu kita berharap berangsur turun

Ini panas berkepanjangan

ditambah hoax di halaman medsos

Panas ini semakin membara

sementara aku tersiksa rasa nylekit

kulitku gosong

hatiku gosong

semua gosong

dibakar pesimis

Di istana ada pawang hujan

menata sesaji yang tak perlu

kita hanya butuh hati

yang selalu bisa memenuhi janji

Nama nama dicatat pak presiden

disebagiannya melahirkan awan

disebagiannya membakar fikiran

orang orang pendendam

Panas di bulan Oktober makin tajam

menusuki kulitku

aku bertanya kapan

suhumu turun

jika hoax masih banyak dihimpun

Pada Pelantikan Kedua

(Surat terbuka untuk Pak Jokowi dan Pak Yai Ma`ruf)

Pak Jokowi dan Pak Yai…..

Aku tulis surat ini dengan harapan agar di perjalanan yang kedua ini tak ada lagi yang merasa telah kau kibuli.

Menjadi presiden itu berat apalagi menjadi presiden Indonesia. Anda berdua adalah perawat dari sebuah negara dengan bejuta perbedaan. Tentu sulit dan banyak tantangannya jika Anda berdua lupa dan mencoba menjadikannya serupa warna.

Di pelantikanmu yang kedua ini, tantangan akan keraguan dari sebagian rakyat Indonesia semakin terasa. Anda berdua akan dicaci bahkan tak sedikit yang membenci. Tentu Anda berdua tahu itu, tapi optimisme padamu pun tak sedikit yang aku tahu.

Pak Jokowi dan Pak Yai….

Bangunlah Indonesiaku dengan caramu, tetapi ingatlah keberhasilan nanti jangan kau anggap milikmu. Buatlah Rakyatmu merasa telah berjalan sendiri tanpa campur tangan Anda berdua. Itulah sebaik baik membantu dan menolong orang di mana yang dibantu tak merasa dibantu.

Pesanku…. jangan kau benci mereka karena dengan begitu amalanmu telah diterima. Dan itu adalah sebagian cobaan dari amalan yang diterima.

Teruslah rendah hati Pak Jokowi dan Pak Yai…..

Hidup bukan soal klaim mengklaim. Hidup adalah perkara siapa yang lebih berarti. Jangan pernah sakit hati dikritik. Kokohkanlah pundak Anda berdua untuk menerima segala cela.

Aku berdoa semoga di tangan Anda berdua Indonesia makin berwarna. Anda berdua adalah pasangan yang tak sempurna, tapi mengapa harus risau? Bukankah kesempurnaan itu adalah milik sang pencipta.

Jangan lupa awali amanah ini dengan bismillah… Aku pun berdoa semoga Anda ikhlas dalam menunaikan perjalanan menanggung amanah bangsa ini.

Indonesia merestuimu, Selamat Bekerja!

Teruntuk Indonesiaku

Telah jauh langkahmu

Merajut pulau pulau menjadi eka

membaur bhineka warna, ras, dan bahasa

untuk bersama menjadi Indonesia

Kisahmu telah tertulis berabad abad

tentang bahari tentang nagari

peradapan yang mumpuni

mengundang decak kagum cendekia seberang negeri

Kaulah penebar aroma pala

hingga bangsa Eropa melanglang buana

hanya untuk menemukanmu

saat kapal kolonial pertama bersandar

kau masih menjadi saudagar

ketika uang selaksa permata

mulailah kealpaan panjang itu

ada jarak tiga ratus tahun lebih

kealpaan itu menghinggapimu

saat kesadaranmu pulih di tahun 1928

anak anakmu melupakan nikmat dunia

meletuslah kata merdeka di tahun 1945

Saat itu mereka bercitacita

menjadi sebuah bangsa yang sadar akan keberagaman

menjadi satu melebur dalam Indonesia

Indonesiaku ingatkanlah anak anakmu

bersatu adalah kunci

kekuatan…..kekokohan

tak mudah menjadi merdeka

Jika kita saling curiga

tak mudah menjadi Indonesia

jika kita merasa berbeda

ingatlah tak mudah saat itu

untuk sekedar berkata Indonesia…..