Kasman


Kasman masih saja rajin ke musala di samping rumahnya. Setiap malam, ia selalu datang ke tadarusan yang diadakan musala Darussalam. Meski tiap ke sana ia tak pernah ngaji, tapi ia rajin datang untuk sekedar mendengarkan tetangganya ngaji. Para tetangganya kadang menawarinya untuk membaca tapi ia selalu menolaknya. Seringkalli ia akan menolaknya dengan alasan bahwa ia tidak lancar membaca Alquran.


Kasman pernah merantau ke Malaysia, menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau yang lazim disingkat TKI, selama puluhan tahun. Di sana, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Bahkan ia pernah bercerita bahwa menara kembar Petronas adalah hasil kerja ia dan kawan-kawanya. Warna Cat Beberapa bagian gedung menara Petronas adalah hasil kerjanya bersama teman-temannya.
Rumah yang ia tempati adalah hasil jerih payahnya dari Malaysia. Setiap kali pulang ke rumah penampilan dan tingkah laku Kasman memang sangat religius. Ia tak pernah lepas peci dan lima waktunya pun tertib. Entah apa yang mendasarinya seperti itu. Penampilannya mengingatkan warga kami pada anak anak kampung kami yang kembali dari pondok pesantren.

“Sangat sulit untuk hidup religius di sana. Kita sering lupa pegangan hidup saat di kongsi,” ujarnya suatu ketika. “tekanan hidup jauh dari keluarga membuat seseorang lupa segalanya. Lupa anak istri juga lupa agamanya,” lanjutnya.
Di negeri jiran sana, sebagaimana pernah diceritakan lelaki kampungku yang pernah merantau ke sana, hidup sangat bebas. Mau apa apa tak ada yang melarang atau mengingatkan. Semua sibuk dengan urusan masing masing. Banyak yang melakukan maksiat di sana dan hampir tak punya malu lagi karena tak ada tetangga yang tahu. Atau kalaupun ada tetangga ya biasanya mereka masih seirama gaya hidupnya.


“Terkadang hidup begitu bebas, luar biasa bebas sampai lupa kalau kita punya anak istri yang menanti hasil kerja kita,” ujar Rufin, temanku yang juga hampir lima tahun kerja di negeri jiran sana.

Kasman pernah bercerita padaku selama di Malaysia ia sering menjadi saksi pernikahan temannya. Sedangkan ia mengetahui bahwa temannya itu sudah punya anak istri di kampungnya. Hidup yang sulit di tengah suasana kerja yang kadang penuh ketegangan membuat orang sering mencari hiburan yang macam-macam. Semua hanya alasan agar sah secara agama tak menambah-nambah dosa.


“Bahkan tak jarang uang gajian habis dipakai untuk berfoya-foya; judi, minum, dan main perempuan,” cerita Kasman suatu waktu. Sambil bercerita itu Kasman terus menyeka airmatanya.
“Apa mereka nggak ingat jika mereka merantau itu untuk mencukupi kebutuhan hidup anak istrinya di rumah?” tanyaku pada Kasman saat ia bercerita panjang lebar tentang gaya hidup orang orang yang menjadi TKI di Malaysia.
“Saat seseorang merasa bebas, kealpaan itu menjadi biasa, Mas,” elaknya sambil menahan airmatanya agar tidak tumpah saat menjawab pertanyaanku.
Di musala malam itu, Aku lebih banyak menyimak cerita Kasman daripada menyimak tadarusan. Mumpung belum giliranku ngaji, aku serius mengikuti kisah yang diceritakan Kasman. Lumayan seru juga bagiku menikmati kisah orang-orang desa kami yang hidup di perantauan.


Lama sebelum aku lulus SMA aku sering membayangkan menjadi TKI di Malaysia. Pulang bisa membangun rumah dan hidup berkecukupan. Dan yang paling menggiurkan adalah bisa cepat kawin. Sudah menjadi kebiasaan jika jejaka dikampung kami sepulang kerja dari Malaysia beberapa minggu berikutnya pasti akan dilamar oleh tetangga kami.
Lelaki kampungku yang merantau ke Malaysia memang menjadi idaman para ibu ibu yang punya anak perawan di kampung kami. Setelah dua tahun merantau, begitu pulang pasti banyak tetangga yang menanyakan ke rumahnya. Ya, tentunya menanyakan ke orang tua pemuda itu apakah sudah punya calon atau belum.
Banyak gadis-gadis cantik di kampung kami beristrikan para lelaki yang menjadi TKI di Malaysia. Jaminan masa depan yang menjanjikan karena pekerjaan yang bergaji besar. Ringgit memang lebih mentereng dibandingkan rupiah. Orang tua gadis di kampung kami akan berpikir dua kali jika harus menikahkan anaknya dengan pemuda nelayan kampunya sendiri.


Seperti halnya Kasman ini, meski wajahnya tak seberapa ganteng untuk ukuran lelaki kampung, tapi statusnya sebagai lelaki malaysianan, Istilah kampung kami untuk orang yang menjadi TKI di Malaysia, membuatnya sering mendapat tamu yang menginginkan agar anaknya dipinang olehnya.
Meski sudah uzur, lebih dari empat puluh tahun Kasman lebih suka membujang. Entah dengan alasan apa, tetapi setiap kali ditanya oleh tetangganya, ia sering hanya menjawabnya dengan tersenyum saja.


Ia sudah punya rumah sendiri. Hidup hanya bersama dengan ibunya yang sudah tua. Ayahnya sudah meninggal saat Kasman baru kelas dua sekolah menengah atas. Ibunya pun sering mengeluh tentang Kasman yang tak kunjung mau menikah. Ia merasa anaknya sudah pantas mendapat istri dan ia sendiri pun sudah pingin mendapat cucu.
“Man, aku sudah tua, bisa saja aku mati besok, kapan kau beri ibu cucu, lekaslah kau menikah. Apa yang kau tunggu?” tanya ibunya suatu ketika.
“Menikah itu soal waktu, kalau sudah gilirannya, aku pasti menikah, Bu,” jawabnya enteng.
“Ah kamu ini seperti tahu takdirmu, Man,” saut Ibunya dengan nada putus asa.
Kasman hanya tersenyum jika ibunya mengajak berdebat. Tak jarang ia langsung ke musala ngobrol dengan kami. Musala adalah tempat ia bersembunyi dari perdebatan tentang perkawinan dengan ibunya.
Pernah sambil tergopoh gopoh ia langsung rebahan di teras musala sambil berujar, “Daripada suntuk ditanya kapan kawin, mending ngobrol dengan kalian.”
“Ya, sabarlah dengan orangtua. Orangtua memang selalu begitu jika sudah ngebet ingin punya cucu,” jawabku.


Pagi itu, setelah salat subuh orang-orang ramai karena yang jadi imam shalat adalah Kasman. Ia yang selama ini hanya mendengar saat orang lain tadarus kini tiba-tiba jadi imam.
Bacaannya pun fasih dan tenang. Pagi itu jamaah salat subuh di musala kami pun ramai.
“Hemmm, bakat jadi Kyai, Man,” ujar Hamim salah satu muazin musala.
“Belajar, tapi jangan terus-terusan, itu tadi terpaksa menggantikan imam yang sedang berhalangan. Aku malu. Aku jauh dari sosok yang patut dijadikan imam Salat.” ,tuturnya sambil ngeluyur meninggalkan kami yang keheranan dengan sikapnya.

Cerpen ini terbit di media eks karesidenan Bojonegoro, Radar Bojonegoro 26/4/20.

Menulis itu Butuh Modal

Modal dalam menulis adalah banyak membaca. Nah membaca yang baik adalah membaca kritis. Membaca kritis adalah membaca sambil membandingkan, menganalisa, mengevaluasi dan membuat opini setuju apa tidak dengan yang dibacanya.

Dengan cara itu, maka kamu akan membaca lebih kritis, berfikir lebih logis, dan pada akhirnya akan menulis lebih kreatif dan segar. Jangan berharap akan menulis lebih segar dan kaya nuansa jika modal saja tidak ada.

Bisa kamu lihat latar belakang semua penulis produktif, mereka adalah pembaca yang rakus dalam segala tema. Jadi tunggu apa lagi membacalah dengan strategi tadi. Ala bisa karena biasa.

Mat Klobot Akan Diterbitkan

Mat Klobot van Ciran

Biasannya orang yang banyak omongnya sering diberi julukan Klobot. Mungkin segaris dengan omong klobot itu, ya. Omong klobot adalah omong ngalor ngidul yang idenya melompat- lompat alias gak karuan dan biasanya juga tak berisi. Makanya orang yang banyak omong biasanya dibelakang namanya diberi embel embel Klobot. Misal, Dul Klobot atau Mat Klobot.

Mat Klobot hadir di setiap momen dengan berbagai karakter. Kadang seperti joker, kadang bagai pengangguran dengan hanya berkalung sarung lusuh, tapi tiba tiba bisa jadi parlente kayak orang kantoran. Dan dia ada di mana mana.


Dalam buku ini, Mat Klobot berkisah tentang seluk beluk desannya, yaitu Desa Paciran baik buruk masyarakatnya dan juga keunikan lingkungan alamnya.

Istilah istilah Jawa

Kagem pangenget-enget kula aturaken sebutan wulan lan dinten basa Jawi, Piyantun Jawi sampun ngantos ninggalaken Jawinipun.



A. *Wulan utawi Sasi:*

01. Wadana (Januari)
02. Wijangga (Februari)
03. Wiyana (Maret)
04. Widada (April)
05. Widarpa (Mei)
06. Wilapa (Juni)
07. Wahana (Juli)
08. Wanana (Agustus)
09. Wurana (September)
10. Wujana (Oktober)
11. Wujala (Nopember)
12. Warana (Desember)



B. *Dinten:*

01. Radite (Ahad)
02. Soma (Senin)
03. Hanggara (Selasa)
04. Buda (Rabu)
05. Respati (Kamis)
06. Sukra (Jumat)
07. Tumpak (Sabtu)



Neptunipun dinten:*

01. Ahad: 5
02. Senin: 4
03. Selasa: 3
04. Rabu: 7
05. Kamis: 8
06. Jum’at: 6
07. Sabtu: 9




C. *PEKENAN/WETON*

Pon = Jenar
Wage = Cemengan.
Kliwon = Kasih.
Legi =. Manis
Pahing = Abritan



D. *Neptu Weton:*

01. Pahing: 9
02. Pon: 7
03. Wage: 4
04. Kliwon: 8
05. Legi: 5

Mugi-mugi wonten paedahipun, sinambi nguri-uri budaya adiluhung kita, menawi kirang utawi lepat nyuwun koreksi, Matur nuwun.



*E. Arane Wuku*

Sawuku umure saminggu, cacahe Wuku ana 30, yaiku :

Wuku Shinta

Wuku Landhep

Wuku Wukir

Wuku Kuranthil

Wuku Tolu

Wuku Gumbreng

Wuku Warigalit

Wuku Warigagung

Wuku Julungwangi

Wuku Sungsang

Wuku Galungan

Wuku Kuningan

Wuku Langkir

Wuku Arandhasiya

Wuku Julungpujut

Wuku Pahang

Wuku Kuruwelut

Wuku Marakeh

Wuku Tambir

Wuku Medhangkungan

Wuku Maktal

Wuku Wuye

Wuku Manakil

Wuku Prangbabat

Wuku Bala

Wuku Wungu

Wuku Wayang

Wuku Kulawu

Wuku Dhukut

Wuku Watugunung



*F. Arane Sasi Masehi:*

Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, Desember



*G. Arane Sasi Arab:*

Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiutsani, Jumadil Ula, Jumadil Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqadah, Dzulhijjah



*H. Arane Sasi Jawa:*

Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah/Selo, Besar



*I. Arane Taun*

Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jinakir



*J. Arane Windu*

Adi, Kuntara, Sangara, Sancaya



*K. Arane Wilangan*

Siji = Eka

Loro = Dwi

Telu = Tri

Papat = Catur

Lima = Panca

Nem = Sad

Pitu = Sapta

Wolu = Asta

Sanga = Nawa

Sepuluh = Dasa

Satus = Sata

Sewu = Sasra

Sepuluh ewu = Saleksa

Satus uwe = Sakethi

Sayuta = Sayuta



*L. Arane Wayah*

Jam 03:00 : Wayah Fajar Sidik (Bang-Bang Wetan)

Jam 04:00 : Wayah Bedhug Subuh

Jam 05:00 : Wayah Saput Lemah

Jam 06:00 : Wayah Byar

Jam 09:00 : Wayah Tengange

Jam 10:00 : Wayah Wisan Gawe

Jam 12:00 : Wayah Bedhug

Jam 13:00 : Wayah Luhur

Jam 15:00 : Wayah Lingsir Kulon

Jam 16:00 : Wayah Asar

Jam 17:00 : Wayah Tunggang Gunung

Jam 17:30 : Wayah Tribalayu

Jam 18:30 : Wayah Surub/Candrikala

Jam 19:00 : Wayah Bakda Magrib

Jam 19:30 : Wayah Isya’

Jam 20:00 : Wayah Bakda Isya’

Jam 21:00 : Wayah Sirep Bocah

Jam 23:00 : Wayah Sirep Wong

Jam 24:00 : Wayah Tengah Wengi

Jam 01.00 : Wayah Lingsir Wengi

*M. Arane Kiblat*

Lor = Uttara

Kidul = Daksina

Wetan = Purwa

Kulon = Pracima

Mugi2 saged kagem pangeling-eling

Anggota Dewan dan Temannya

Anggota Dewan dan Temannya


Pagi ini Darman dikejutkan banyaknya tikus-tikus yang berkeliaran di ruang kerjanya. Aroma ruang arsip tempatnya bekerja itu menjadi pengap dan agak pesing dibuatnya. Kotak-kotak tempat menyimpan arsip statis itu ada yang bolong-bolong hasil gigitan para tikus itu. Sementara itu, di meja kerjanya masih berserakan arsip-arsip yang mesti ia catat dan dikelompokkan sesuai dengan masalahnya.


Rutinitas di tempat seperti ini sangat ingin dihindari oleh mereka-mereka yang jarang dan cenderung tak suka pada kesepian. Tempat kerja yang sepi dan hanya berteman dengan catatan-catatan lama yang tak bersih dan cenderung dekil. Darman menekuni pekerjaannya itu hampir lima belas tahun lalu saat ia dipindahkan ke bagian arsip.


Bagi Darman ini adalah berkah tersendiri saat ia tahu akan dipindahkan untuk menduduki sebagai penanggung jawab ruang arsip di kantornya. Ia semakin tahu banyak hal tentang informasi dari dokumen-dokumen yang ia terima hasil penyerahan dari dinas lain di daerahnya.

Dengan bekerja di kearsipan ia makin memahami seluk beluk kegiatan administrasi pemerintahan dan juga kasus-kasus yang kadang ia temukan saat mengolah berkas-berkas pemeriksaan sebuah kasus tertentu.


“Dar, apa nggak jenuh kerja di kearsipan?” pagi itu ia dikejutkan sebuah suara yang tiba-tiba terdengar ketika ia sedang asyik mengolah arsip kacau yang sedang dipilahnya. Rupanya itu adalah suara Johan teman sekos waktu kuliah dahulu di Yogyakarta.


“Eh,… kok kamu, ada apa kok sampai ke sini?” jawabnya penuh rasa penasaran ketika teman lamanya tiba-tiba nongol di depan ruang kerjanya.


Johan masih tersenyum di depan pintu ruangnya. Pakaiannya necis rapi dan sangat parlente. Darman masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya tertegun tak percaya.


“Aku ada kunjungan studi banding ke sini. Jadi aku sempatkan mampir ke dinas arsip. Kamu kan sering ngaku kerja di Dinas Kearsipan sebagai pengelola arsip statis,” Johan menjelaskan alasan kedatangannya kepada Darman.


Darman, dengan masih terkaget kaget balik bertanya,”Lho, kok ada studi banding segala memangnya kamu kerja di mana?”


“Aku kini jadi anggota DPRD di daerahku, Dar. Alhamdulillah aku bisa mendapat kepercayaan warga di daerahku untuk maju sebagai anggota dewan lewat Partai Integritas Bangsa.” terang Johan sambil menjabat tangan Darman.


Dua teman itu saling berangkulan. Keduanya melangkah keluar menuju ruang tamu kantor yang kebetulan letaknya tak jauh dari ruang arsip tempat Darman bekerja.


“Setelah kuliah, aku banyak berkecimpung di partai politik, Dar. Dimulai dari menjadi simpatisan hingga pengurus ranting terkecil. Pengalaman kita berorganisasi saat kuliah dulu betul-betul sangat membantu perjalanan karirku,”


“Oh…aku ya tetap seperti dulu senang sekali mengumpulkan kliping koran bekas hingga akhirnya terdampar di pekerjaan ini; sebagai pengelola arsip.”


“Kuakui kerajinanmu dalam hal itu. Memang sulit untuk mengubah kesukaan orang, ngomong-ngomong sudah berapa tahun kerja di kearsipan?”


“Hampir lima belas tahun. Ya…sebagai pegawai negeri, aku pun tetap seperti saat kuliah dahulu sering kesulitan keuangan. Tapi disyukui saja yang penting sehat wal afiat terus, heheheheh..”


“Apa kamu ya tetap jujur dan hidup lurus seperti dulu. Saat teman kita bikin acara seminar dahulu, kamu selalu menolak hasil keuntungan yang kita dapatkan?”


“Hdup itu tak perlu terlalu bernafsu kita cukupkan dengan apa yang ada, pasti tercukupi,”


“Hahahaha… kamu ini, Dar.. masih lugu seperti yang dulu. Sekali-sekali hidup itu dianggap seperti perjalanan lah, harus ada belokan-belokannya biar asyik,”
Tak lama obrolan itu berlangsung, Johan mengajak Darman ke luar menuju mobilnya.

Johan membukakan pintu Toyota Alphard keluaran terbaru yang ia bawa. Plat nomornya tidak merah tapi hitam, menandakan mobil itu adalah mobil pribadi pemiliknya, bukan mobil dinas.


“Mobil ini kuperoleh dengan uang penghasilanku selam setahun menjadi anggota dewan, Dar. Gajiku sebagai anggota dewan memang tak seberapa tapi …kamu tahulah sendiri,” Johan menjelaskan perihal asal usul mobil yang ia kendarai itu kepada teman sekosnya itu. Darman mendengarkan sambil tersenyum kecil.


Johan melanjutkan ceritanya, “Kamu tahu, Dar, ternyata menjadi anggota dewan itu bisa membuat kita banyak relasi. Terutama pengusaha-pengusaha kaya yang punya usaha di daerahku. Mereka acapkali datang ke rumah atau kalau pas libur sering mengajak aku ngopi ke restoran-restoran mahal.”


“Terus, apa dengan ngopi-ngopi dan sering ketemu kamu lantas dapat mobil mewah ini, begitu?” Darman dengan lugunya menginterupsi cerita Johan.


Di sebuah kafe di pinggiran kota, mobil itu berhenti. Kedua pria itu masing-masing turun dan menuju ke sudut ruangan yang mejanya kebetulan kosong. Seorang pramusaji mendatangi untuk menawarkan menu yang ada. Keduanya melanjutkan obrolannya.


“Aku bersyukur bisa bekerja di tempat yang aku sukai dan juga di bidang yang aku sukai yaitu dokumentasi,” Darman membuka obrolan kembali.

“Kerja di bidang yang kita sukai adalah anugerah tiada tara meski kita tak dapat materi,” lanjutnya.


“Hidup itu butuh uang, kita tak bisa memungkirinya dan aku telah menemukan duniaku, dunia yang akan mendekatkan aku pada uang.”


“Uang bukan segalanya, Jo.”


“Kamu ini, Dar, masih saja seperti dulu, sudah ayo kita makan dulu,” Johan menghentikan obrolannya saat pramusaji datang mengantarkan pesanan mereka.


“Ya, lakukanlah semua yang kau suka, tapi ingatlah hidup ini harus hati-hati jangan terlalu tergoda materi,” Darman menggumam kecil karena ia tahu temannya itu paling tidak suka dinasehati. Ia tak ingin reuninya ini jadi berantakan hanya karena soal membahas asal usul materi yang mereka miliki. Dan Darman memahami itu, bahwa membahas kekayaan orang lain itu tabu dan membikin penyakit hati masuk ke dalam tubuh.


Darman makan sambil ogah-ogahan. Ia teringat anak istrinya di rumah yang hanya makan dengan lauk tahu dan tempe agar gajinya mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Di kafe itu ia melamunkan kemudahan apa yang diterima oleh Johan dari teman teman pengusahanya. Sementara Johan menikmati sajian dengan lahapnya, Darman meneteskan airmata entah untuk siapa. Entah untuk Johan atau keluarganya.


Penulis lahir di desa nelayan, Paciran, di pesisir utara Kabupaten Lamongan. Sehari-harinya menjadi Arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan serta mengajar Bahasa Jawa di SMAM 6 dan MTsM 02 Pondok pesantren Karangasem Paciran Lamongan.
Puisinya tersebar di Bali Post, Radar Bojonegoro (jawa Pos grup), Balai Bahasa Jawa timur dan di qureta.com, Baru baru ini bersama komunitasnya menerbitkan antologi cerpen Bocah luar Pagar , Hikayat daun Jatuh, dan antologi puisi Ini Hari sebuah Mesjid Tumbuh di Kepala. Buku, kopi danKamu dan Muson adalah dua antologinya yang terbit di tahun 2018 dan 2019. Bisa di hubungi di agusbuchori@gmail.com. tulisan ini pernah dimuat di pustakaekspresi.com Bali


Muasal Puisi; Sebuah Antologi

Semua berawal dari keinginan untuk mengkongkretkan suasana atau peristiwa yang saya rasakan atau alami. Bisa saja ketika saya sedang sendiri atau ngobrol dengan orang lain.

Sebagai arsiparis yang sehari hari harus bergelut dengan dokumen, persinggungan dengan kata kata tak bisa dihindari. Bekerja dalam ruang yang sepi membuat rasa jenuh itu muncul. Dihimpit kejenuhan inilah akhirnya penulis mencari pelarian. Menulis…ya…menulis.

Kata kata itu, akhirnya menyerang dari dalam untuk dilahirkan. Ada yang berupa esai, cerpen dan salah satunya yang ada ditangan pembaca ini; puisi.

Semoga apa yang saya tangkap bisa memberi hiburan dan sedikit makna dalam hidup pembaca. Salam Literasi.

#Catatan ini dibuat untuk mengantar dan menyambut buku ketiga saya Muasal Puisi.

Ketika Kita Hanya Mampu Menjelaskan

Jagad raya adalah gugusan teka teki. Kita mencoba menjawab dan mengetahui rahasia segala yang ada di baliknya. Kita yang kerdil ini mencoba berbagai cara untuk mengetahui grand design dari semua ini. Saat logika terasa ada keterbatasan, manusia pun tersadarkan bahwa ilmu yang dimiliknya hanyalah setetes air di lautan yang mencoba memahami air samudra.

Saat kesadaran akan kelemahan itu ada, Manusia paling jenius di Abad ke-21, Albert Einstein,  mengakui, berkenaan dengan keteraturan dan keseimbangan  jagad raya ini, bagaimana keteraturan yang mencapai perhitungan quantum itu tak mampu membuatnya mampu menebak  pergerakan benda benda kosmos secara tepat. Tentunya ada kekuatan maha dahsyat yang mengaturnya.  “Dan tuhan tak tak bermain dadu dengan semua ini,” ujarnya.

Ilmu pengetahuan modern selama ini hanya mampu menjelaskan gejala alam dan alasan alasan penyebabnya namun tak bisa menciptaan sebab  itu yang baru dan memunculkan akibat yang baru pula.

Keingintahuan yang besar telah membuat orang ingin tahu segalanya. Segala yang terjadi di dunia ini haruslah bisa dipahami secara logika. Manusia adalah makhluk yang bertanya akan selalu terlihat antusias untuk menanyakan apa apa yang terjadi di sekelilingnya. Ilmu pengetahuan berhasil menyingkirkan mitos mitos zaman kegelapan.

Stephen Hawking, pakar fisika teori dari Inggris sampai bercita cita menemukan rumus segala hal yang bisa digunakan untuk membaca segalanya. Berangkat dari energi yang terdiri dari ruang dan waktu hasil derivasi dari teori yang dikemukakan oleh Einstein. Ia beranggapan bahwa Waktu juga berubah tidak berjalan konstan. Dan dia berhasil menyanggah Kealpaan Einstein yang mengabaikan waktu sebagai materi yang juga berubah tersebut.

Ada dimensi dimensi yang membuat waktu mulur mungsret tidak lurus sebagaimana kita sadari. Inilah penemuan paling baru dari pengetahuan yang menyempurnakan teori relativitas Einstein. Jagad raya adalah ruang waktu yang maha besar. Dan terus memngembang dan membesar entah sampai kapan.

Untuk sementara, Hawking berhasil menggugah kesadaran akan sangkan paraning dumadi. Dari mana dan kemanakah kita seolah hampir diketahui dengan pasti. Hawking menyadari sesuatu yang mengembang pasti berawal dari suatu yang diam pada awalannya. Big Bang atau dentuman besar berhasil dijelaskan oleh Hawking dan menjadi penemuan penting abad ini.

Jagad raya kita ini sebelum ada sepersekian milyar  detik waktu adalah sebentuk singularitas yang sangat padat, sepesar kacang polong.  Sebuah awal yang melahirkan dentuman besar membuat jagad raya itu kini seperti adanya kini. Dan tentunya perkembangan ini makin diperkuat oleh fakta  sejak hubble menemukan teleskop . Andai kita mempunyai jarak yang bisa mengamati pergerakan antar planet di jagart raya tentunya kita bisa melihat bagaimana mereka saling menjauh satu sama lain.

Hawking meyakini bahwa tenaga yang dilontarkan pada saat dentuman besar itu mash ada dan  lambat laun akan habis serta  membuat benda benda angkasa yang  dilondarkan  tersebut itu akan menyatu kembali, menjadi singularitas sebesar kacang polong.

Waktu Tidak melaju Linier Seperti Pemahaman Einstein

Dunia, bagaimana ia tercipta adalah rahasia abadi yang mungkin semua penasaran dengannya. Ilmuwan, agamawan dan semua yang berada di dalamnya selalu bertanya Tanya tentang maksud dan keberadaan dunia ini.

Tak henti hentinya ilmuwan menganalisa, baik itu bidang fisika maupun ilmu hayat yang muncul dengan ide evolusinya. Teori dentuman besar seolah sejalan dengan teori evolusi bagaimana waktu menjadi kunci pada setiap perubahan perubahan yang terjadi.

Waktu menjadi obyek penelitian yang begitu menggairahka. Bagaimana ia berperan dalam persepsi manusia sebagai materi yang mendiami bumi ini. Relativitas Einstein berhasil menyadarkan entitas waktu yang begitu nisbi dengan mengambil perumpamaan antara kesenangan dan kesedihan.

Saat dalam kondisi senang waktu berjalan begitu cepat dalam persepsi seseorang sedangkan saat dalam kondisi sedih waktu berjalan seolah sangat lambat. Bahkan, keterkaitan dengan pergerakan ini bagaimana waktu bisa menghilangkan bentuk dari sebuah materi jika materi itu bisa bergerak secapat cahaya. Yang ada hanya energy.

Bergerak adalah keniscayaan sebagaimana yang diungkapakan Einstein bahwa untuk tetap berada di jalur keseimbangan segalanya harus tetap bergerak. Begitu juga yang diungkapakan oleh Darwin bahwa yang bertahan adalah ayang bergerak mengikuti waktu hingga lestari dan bertahan keberadaannya.

Keduanya ini disempurnakan oleh teori dentuman besar Hawking yang menyebut bahwa setelah ledakan itu, jagad raya terus melaju bergerak dalam ruang dan waktu yang membero sebab akibat setiap materi di dalamnya.  Bagi Hawking waktu tak selinier yang dipahami Albert Einstein, menurutnya waktu bisa dilipat dan ditekuk untuk didekatkan.

Menurut Hawking, andai kita menggambarkan waktu laksana garis lurus A dan B dalam sebidang kertas kosong, maka untuk mendekatkan jarak antara A dan B  cukup dengan melipat kertas tersebut hingga A dan B menempel. Dalam pemahaman Einstein agar A bisa ke B dengan cepat maka ia harus bergerak dengan cepat pula. Einstein lupa bahwa ada ruang yang ditempati waktu.

Untuk saat ini Hawking berhasil melengkapi aksioma Einstein E=MC2  yang mengabaikan ruang dan waktu. Dan pemahaman soal waktu tang bisa dilipat sementara ini akan terus menjadi bahan diskusi entah sampai kapan. Atau ini adalah puncak dari pencarian teori segala hal kita pun tak tahu.