BAPAKKU

BAPAKKU
Photo by Nathan Cowley on Pexels.com

Mobil-mobil para penjemput sudah ramai berdatangan. Mereka terdiri dari berbagai
merek, tapi kebanyakan mobil urban yang berbodi di atas sedan dan lebih kecil dari mobil elf.
Tempat parkir sekolahku sudah tidak muat lagi untuk dimasuki mobil para orangtua yang hendak
mengambil rapor anaknya. Karena halaman parkir sudah penuh terisi, Jalan di depan sekolah
terpaksa menjadi area parkir dadakan.


Aku masih duduk di bawah tangga sekolah menunggu bapakku datang. Seperti biasa,
bapak akan datang agak terlambat karena ia harus melaut lebih dulu. Sering kali kedatangan
bapak menjadi pemandangan tersendiri bagi wali murid lainnya. Ia hanya bersandal jepit
memakai hem yang warnanya sudah pudar dan berbau amis.


Di ujung pagar sekolah, aku lihat bapakku dengan mengendarai sepeda onthel tua dengan
bunyi rantai yang sedikit mengundang perhatian para orang tua yang hadir di sekolahku. Tanpa
menoleh ke beberapa mobil yang sedang di parkir di jalan pagi itu, ia terus melaju menuju pintu
gerbang sekolahku. Dengan penampilan seperti itu, Ia adalah orang paling bersahaja menurutku.


“Han, jangan pernah silau dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Semua yang diperoleh
orang lain itu sudah digariskan oleh yang Kuasa. Tugas kita adalah berusaha dan bersyukur,”
kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku. Kata itu diucapkan saat aku diajaknya melaut
saat musim liburan sekolah.


Aku sering mendapat petuah dari bapakku hanya ketika saat kita melaut bersama. Jarang
sekali kita kumpul di rumah karena bapak lebih sering di luar rumah untuk berbenah jaring atau
kapal yang perlu dibersihkan hingga malam hari.


“Pak, apakah aku akan diijinkan sekolah lagi ke perguruan tinggi?” tanyaku suatu ketika.
Saat itu aku sedang memancing berdua dengan bapak di malam-malam ketika musim purnama.
Saat itu air laut akan pasang dan banyak ikan laut dalam yang minggir ke pantai.


“Semua tergantung kamu, Han,” jawabnya singkat. Itulah ciri dari bapak jika memberikan
jawaban pertanyaan tentang rencana ke depan. Seolah semua dikembalikan pada yang bertanya
karena keputusan pada dasarnya ada pada yang bertanya.


“Lakukanlah semua yang menjadi keinginanmu. Percuma saja kau bertanya ke orang lain
jika di hatimu sendiri selalu menegasikan apa-apa yang diutarakan orang lain. Bukankah apa apa
yang kita lakukan saat ini karena kita mau melakukan dan bukan hasil dari pertanyaan-
pertanyaan?”


“Tapi bertanya adalah bagian dari mencari dukungan atas apa-apa yang kita ragukan, Pak?”
“Salah satu kesalahan kita adalah banyak bertanya dan tak mau melakukan,” jawab
bapakku sambil melempar kail ke laut yang berombak kecil dalam naungan purnama malam itu.

Aku masih melamun di bawah tangga saat bapak mendekati aku. “Mana kelasmu, ayo
segera ke sana,” ajaknya sambil menggandeng aku. Kurasakan telapak tangannya begitu keras
menandakan tangan yang sering bersentuhan dengan benda kasar.


Sudah beberapa semester ini aku gusar dengan diriku. Nilaiku banyak yang turun meski
aku masih termasuk golongan tiga besar di kelasku. Aku khawatir nilaiku membuat aku tak bisa
lolos Seleksi Nasional Masuk Pergutuan Tinggi Negeri tahun ini.


Menurut guru bimbingan konseling di sekolahku syarat untuk lolos SNMPTN nilai rapot
harus selalu meningkat. Itulah yang membuatku gusar. Namun, satu hal yang pasti, bapak nggak
pernah menanyakan aku dapat rangking berapa bahkan melihat nilaiku pun jarang. Ia hanya tahu
huruf pegon. Tentang sekolahku ia hanya bertanya tentang iuran sekolahku apa sudah jatuh
tempo.


Bapakku hanya seorang lulusan pesantren tradisional. Ia hanya pandai membaca kitab
kuning. Seringkali ia diundang pengajian ke acara RT. Meski hanya seorang nelayan ia selalu
pede mengajarkan kitab kuning yang dikuasainya. Ia akan membacakan kitab klasik yang ia
kuasai ke tetangga. Meski ia tidak mau disebut ustadz.


Aku pernah menanyakan perihal keantusiasan bapak saat mengaji kitab kuning ini. ” Pak,
mengapa Bapak kok senang membacakan kitab kuning di acara pengajian RT?”


“Ilmu yang paling tinggi itu ilmu agama. Orang banyak mengejar ilmu dunia saja tanpa
ingat bahwa dunia ini hanyalah sementara. Kenapa kita nggak mempelajari ilmu agama untuk
menjemput keabadian, kan itu lebih bermakna untuk hidup kita kelak,” itulah alasan Bapak yang
diutarakannya dengan ketegasan yang sangat.


“Ilmu dunia hanya akan membuat kita lupa. Dunia itu sebenarnya menipu. Kita terlena
seolah keindahan itu nyata padahal sebenarnya semu dan fana.”


“Terus apa sekolah saya menjadi sia-sia? Bukankah di sekolah aku lebih banyak berurusan
dengan ilmu duniawi?”


“Bukan begitu, Han, kamu harus pintar memilah kebutuhan saat mana ilmu dunia itu harus
kau gunakan untuk mengatasi kesulitanmu. Dan landasilah selalu dengan nilai-nilai agama agar
ilmu yang kau pelajari tak kehilangan arah.”


Di ruang kelas sudah hampir sepi. Aku dan bapakku terlambat datang. Para wali murid
sudah banyak yang pulang. Beberapa tadi ada yang berpapasan denganku sambil murung.
Mungkin bersedih mengetahui nilai anaknya.


Aku mengantarnya masuk ke ruangan. Ia duduk dengan tenang. Kulihat mulutnya
bergerak-gerak, mungkin sedang berdo’a. Saat namaku dipanggil, Ia melangkah ke depan dengan
tenang. Ada senyum kecil seolah panggilan itu akan segera menyudahi urusannya dengan selolah
hari ini.

Wajah wajah orang tua di sekolah saat musim ambil rapot selalu bisa menunjukkan bahwa
anaknya tergolong berhasil di sekolah apa tidak. Di antara mobil mobil yang sedang diparkir itu
aku mendengar ada tangisan juga ada bentakan. Meski tak sedikit yang tersenyum gembira.


Di atas boncengan sepeda butut bapak, kami pulang bersama. Di atas sepeda onthel butut
ini, aku tak pernah mendengar bentakan ataupun keluhan tentang isi rapotku. Ia terus mengayuh
tanpa keluh. Meski aku sudah SMA, ia tak pernah minta aku untuk menggantikan
memboncengnya.


Sebuah mobil melintas cepat melewati kami berdua. Aku melihat kepala yang keluar dari
jendela mobil itu. Di tengah deru suara mobil kudengar suara di dalamnya, “Han…. Selamat,
ya…..”

2021 Aku Datang

2021 Aku Datang

Aku telah melalui tahun 2020. Kini kudatangi 2021. Aku lebih suka menggunakan istilah mendatangi daripada menyambut, itulah kenapa aku menggunakan judul 2021 Aku Datang.

Aku datangi dengan segudang usaha bukan harapan apalagi impian. Tiap pergantian tahun hanyalah tanda bergantinya kalender baru, sedangkan hari tetap sama. Esok mentari tetap terbit dari Timur dengan cara yang sama. Kecuali kiamat tiba maka mentari akan terbit dari Barat.

Tetap menulis, main musik, dan belajar hal hal baru adalah kebiasaan yang akan mendatangi 2021.

Dan kamu? Dengan apa kau datangi 2021? Siapkan dirimu!