Istilah istilah Jawa

Kagem pangenget-enget kula aturaken sebutan wulan lan dinten basa Jawi, Piyantun Jawi sampun ngantos ninggalaken Jawinipun.



A. *Wulan utawi Sasi:*

01. Wadana (Januari)
02. Wijangga (Februari)
03. Wiyana (Maret)
04. Widada (April)
05. Widarpa (Mei)
06. Wilapa (Juni)
07. Wahana (Juli)
08. Wanana (Agustus)
09. Wurana (September)
10. Wujana (Oktober)
11. Wujala (Nopember)
12. Warana (Desember)



B. *Dinten:*

01. Radite (Ahad)
02. Soma (Senin)
03. Hanggara (Selasa)
04. Buda (Rabu)
05. Respati (Kamis)
06. Sukra (Jumat)
07. Tumpak (Sabtu)



Neptunipun dinten:*

01. Ahad: 5
02. Senin: 4
03. Selasa: 3
04. Rabu: 7
05. Kamis: 8
06. Jum’at: 6
07. Sabtu: 9




C. *PEKENAN/WETON*

Pon = Jenar
Wage = Cemengan.
Kliwon = Kasih.
Legi =. Manis
Pahing = Abritan



D. *Neptu Weton:*

01. Pahing: 9
02. Pon: 7
03. Wage: 4
04. Kliwon: 8
05. Legi: 5

Mugi-mugi wonten paedahipun, sinambi nguri-uri budaya adiluhung kita, menawi kirang utawi lepat nyuwun koreksi, Matur nuwun.



*E. Arane Wuku*

Sawuku umure saminggu, cacahe Wuku ana 30, yaiku :

Wuku Shinta

Wuku Landhep

Wuku Wukir

Wuku Kuranthil

Wuku Tolu

Wuku Gumbreng

Wuku Warigalit

Wuku Warigagung

Wuku Julungwangi

Wuku Sungsang

Wuku Galungan

Wuku Kuningan

Wuku Langkir

Wuku Arandhasiya

Wuku Julungpujut

Wuku Pahang

Wuku Kuruwelut

Wuku Marakeh

Wuku Tambir

Wuku Medhangkungan

Wuku Maktal

Wuku Wuye

Wuku Manakil

Wuku Prangbabat

Wuku Bala

Wuku Wungu

Wuku Wayang

Wuku Kulawu

Wuku Dhukut

Wuku Watugunung



*F. Arane Sasi Masehi:*

Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, Desember



*G. Arane Sasi Arab:*

Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiutsani, Jumadil Ula, Jumadil Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqadah, Dzulhijjah



*H. Arane Sasi Jawa:*

Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah/Selo, Besar



*I. Arane Taun*

Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jinakir



*J. Arane Windu*

Adi, Kuntara, Sangara, Sancaya



*K. Arane Wilangan*

Siji = Eka

Loro = Dwi

Telu = Tri

Papat = Catur

Lima = Panca

Nem = Sad

Pitu = Sapta

Wolu = Asta

Sanga = Nawa

Sepuluh = Dasa

Satus = Sata

Sewu = Sasra

Sepuluh ewu = Saleksa

Satus uwe = Sakethi

Sayuta = Sayuta



*L. Arane Wayah*

Jam 03:00 : Wayah Fajar Sidik (Bang-Bang Wetan)

Jam 04:00 : Wayah Bedhug Subuh

Jam 05:00 : Wayah Saput Lemah

Jam 06:00 : Wayah Byar

Jam 09:00 : Wayah Tengange

Jam 10:00 : Wayah Wisan Gawe

Jam 12:00 : Wayah Bedhug

Jam 13:00 : Wayah Luhur

Jam 15:00 : Wayah Lingsir Kulon

Jam 16:00 : Wayah Asar

Jam 17:00 : Wayah Tunggang Gunung

Jam 17:30 : Wayah Tribalayu

Jam 18:30 : Wayah Surub/Candrikala

Jam 19:00 : Wayah Bakda Magrib

Jam 19:30 : Wayah Isya’

Jam 20:00 : Wayah Bakda Isya’

Jam 21:00 : Wayah Sirep Bocah

Jam 23:00 : Wayah Sirep Wong

Jam 24:00 : Wayah Tengah Wengi

Jam 01.00 : Wayah Lingsir Wengi

*M. Arane Kiblat*

Lor = Uttara

Kidul = Daksina

Wetan = Purwa

Kulon = Pracima

Mugi2 saged kagem pangeling-eling

Anggota Dewan dan Temannya

Anggota Dewan dan Temannya


Pagi ini Darman dikejutkan banyaknya tikus-tikus yang berkeliaran di ruang kerjanya. Aroma ruang arsip tempatnya bekerja itu menjadi pengap dan agak pesing dibuatnya. Kotak-kotak tempat menyimpan arsip statis itu ada yang bolong-bolong hasil gigitan para tikus itu. Sementara itu, di meja kerjanya masih berserakan arsip-arsip yang mesti ia catat dan dikelompokkan sesuai dengan masalahnya.


Rutinitas di tempat seperti ini sangat ingin dihindari oleh mereka-mereka yang jarang dan cenderung tak suka pada kesepian. Tempat kerja yang sepi dan hanya berteman dengan catatan-catatan lama yang tak bersih dan cenderung dekil. Darman menekuni pekerjaannya itu hampir lima belas tahun lalu saat ia dipindahkan ke bagian arsip.


Bagi Darman ini adalah berkah tersendiri saat ia tahu akan dipindahkan untuk menduduki sebagai penanggung jawab ruang arsip di kantornya. Ia semakin tahu banyak hal tentang informasi dari dokumen-dokumen yang ia terima hasil penyerahan dari dinas lain di daerahnya.

Dengan bekerja di kearsipan ia makin memahami seluk beluk kegiatan administrasi pemerintahan dan juga kasus-kasus yang kadang ia temukan saat mengolah berkas-berkas pemeriksaan sebuah kasus tertentu.


“Dar, apa nggak jenuh kerja di kearsipan?” pagi itu ia dikejutkan sebuah suara yang tiba-tiba terdengar ketika ia sedang asyik mengolah arsip kacau yang sedang dipilahnya. Rupanya itu adalah suara Johan teman sekos waktu kuliah dahulu di Yogyakarta.


“Eh,… kok kamu, ada apa kok sampai ke sini?” jawabnya penuh rasa penasaran ketika teman lamanya tiba-tiba nongol di depan ruang kerjanya.


Johan masih tersenyum di depan pintu ruangnya. Pakaiannya necis rapi dan sangat parlente. Darman masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya tertegun tak percaya.


“Aku ada kunjungan studi banding ke sini. Jadi aku sempatkan mampir ke dinas arsip. Kamu kan sering ngaku kerja di Dinas Kearsipan sebagai pengelola arsip statis,” Johan menjelaskan alasan kedatangannya kepada Darman.


Darman, dengan masih terkaget kaget balik bertanya,”Lho, kok ada studi banding segala memangnya kamu kerja di mana?”


“Aku kini jadi anggota DPRD di daerahku, Dar. Alhamdulillah aku bisa mendapat kepercayaan warga di daerahku untuk maju sebagai anggota dewan lewat Partai Integritas Bangsa.” terang Johan sambil menjabat tangan Darman.


Dua teman itu saling berangkulan. Keduanya melangkah keluar menuju ruang tamu kantor yang kebetulan letaknya tak jauh dari ruang arsip tempat Darman bekerja.


“Setelah kuliah, aku banyak berkecimpung di partai politik, Dar. Dimulai dari menjadi simpatisan hingga pengurus ranting terkecil. Pengalaman kita berorganisasi saat kuliah dulu betul-betul sangat membantu perjalanan karirku,”


“Oh…aku ya tetap seperti dulu senang sekali mengumpulkan kliping koran bekas hingga akhirnya terdampar di pekerjaan ini; sebagai pengelola arsip.”


“Kuakui kerajinanmu dalam hal itu. Memang sulit untuk mengubah kesukaan orang, ngomong-ngomong sudah berapa tahun kerja di kearsipan?”


“Hampir lima belas tahun. Ya…sebagai pegawai negeri, aku pun tetap seperti saat kuliah dahulu sering kesulitan keuangan. Tapi disyukui saja yang penting sehat wal afiat terus, heheheheh..”


“Apa kamu ya tetap jujur dan hidup lurus seperti dulu. Saat teman kita bikin acara seminar dahulu, kamu selalu menolak hasil keuntungan yang kita dapatkan?”


“Hdup itu tak perlu terlalu bernafsu kita cukupkan dengan apa yang ada, pasti tercukupi,”


“Hahahaha… kamu ini, Dar.. masih lugu seperti yang dulu. Sekali-sekali hidup itu dianggap seperti perjalanan lah, harus ada belokan-belokannya biar asyik,”
Tak lama obrolan itu berlangsung, Johan mengajak Darman ke luar menuju mobilnya.

Johan membukakan pintu Toyota Alphard keluaran terbaru yang ia bawa. Plat nomornya tidak merah tapi hitam, menandakan mobil itu adalah mobil pribadi pemiliknya, bukan mobil dinas.


“Mobil ini kuperoleh dengan uang penghasilanku selam setahun menjadi anggota dewan, Dar. Gajiku sebagai anggota dewan memang tak seberapa tapi …kamu tahulah sendiri,” Johan menjelaskan perihal asal usul mobil yang ia kendarai itu kepada teman sekosnya itu. Darman mendengarkan sambil tersenyum kecil.


Johan melanjutkan ceritanya, “Kamu tahu, Dar, ternyata menjadi anggota dewan itu bisa membuat kita banyak relasi. Terutama pengusaha-pengusaha kaya yang punya usaha di daerahku. Mereka acapkali datang ke rumah atau kalau pas libur sering mengajak aku ngopi ke restoran-restoran mahal.”


“Terus, apa dengan ngopi-ngopi dan sering ketemu kamu lantas dapat mobil mewah ini, begitu?” Darman dengan lugunya menginterupsi cerita Johan.


Di sebuah kafe di pinggiran kota, mobil itu berhenti. Kedua pria itu masing-masing turun dan menuju ke sudut ruangan yang mejanya kebetulan kosong. Seorang pramusaji mendatangi untuk menawarkan menu yang ada. Keduanya melanjutkan obrolannya.


“Aku bersyukur bisa bekerja di tempat yang aku sukai dan juga di bidang yang aku sukai yaitu dokumentasi,” Darman membuka obrolan kembali.

“Kerja di bidang yang kita sukai adalah anugerah tiada tara meski kita tak dapat materi,” lanjutnya.


“Hidup itu butuh uang, kita tak bisa memungkirinya dan aku telah menemukan duniaku, dunia yang akan mendekatkan aku pada uang.”


“Uang bukan segalanya, Jo.”


“Kamu ini, Dar, masih saja seperti dulu, sudah ayo kita makan dulu,” Johan menghentikan obrolannya saat pramusaji datang mengantarkan pesanan mereka.


“Ya, lakukanlah semua yang kau suka, tapi ingatlah hidup ini harus hati-hati jangan terlalu tergoda materi,” Darman menggumam kecil karena ia tahu temannya itu paling tidak suka dinasehati. Ia tak ingin reuninya ini jadi berantakan hanya karena soal membahas asal usul materi yang mereka miliki. Dan Darman memahami itu, bahwa membahas kekayaan orang lain itu tabu dan membikin penyakit hati masuk ke dalam tubuh.


Darman makan sambil ogah-ogahan. Ia teringat anak istrinya di rumah yang hanya makan dengan lauk tahu dan tempe agar gajinya mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Di kafe itu ia melamunkan kemudahan apa yang diterima oleh Johan dari teman teman pengusahanya. Sementara Johan menikmati sajian dengan lahapnya, Darman meneteskan airmata entah untuk siapa. Entah untuk Johan atau keluarganya.


Penulis lahir di desa nelayan, Paciran, di pesisir utara Kabupaten Lamongan. Sehari-harinya menjadi Arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan serta mengajar Bahasa Jawa di SMAM 6 dan MTsM 02 Pondok pesantren Karangasem Paciran Lamongan.
Puisinya tersebar di Bali Post, Radar Bojonegoro (jawa Pos grup), Balai Bahasa Jawa timur dan di qureta.com, Baru baru ini bersama komunitasnya menerbitkan antologi cerpen Bocah luar Pagar , Hikayat daun Jatuh, dan antologi puisi Ini Hari sebuah Mesjid Tumbuh di Kepala. Buku, kopi danKamu dan Muson adalah dua antologinya yang terbit di tahun 2018 dan 2019. Bisa di hubungi di agusbuchori@gmail.com. tulisan ini pernah dimuat di pustakaekspresi.com Bali


Muasal Puisi; Sebuah Antologi

Semua berawal dari keinginan untuk mengkongkretkan suasana atau peristiwa yang saya rasakan atau alami. Bisa saja ketika saya sedang sendiri atau ngobrol dengan orang lain.

Sebagai arsiparis yang sehari hari harus bergelut dengan dokumen, persinggungan dengan kata kata tak bisa dihindari. Bekerja dalam ruang yang sepi membuat rasa jenuh itu muncul. Dihimpit kejenuhan inilah akhirnya penulis mencari pelarian. Menulis…ya…menulis.

Kata kata itu, akhirnya menyerang dari dalam untuk dilahirkan. Ada yang berupa esai, cerpen dan salah satunya yang ada ditangan pembaca ini; puisi.

Semoga apa yang saya tangkap bisa memberi hiburan dan sedikit makna dalam hidup pembaca. Salam Literasi.

#Catatan ini dibuat untuk mengantar dan menyambut buku ketiga saya Muasal Puisi.

Ketika Kita Hanya Mampu Menjelaskan

Jagad raya adalah gugusan teka teki. Kita mencoba menjawab dan mengetahui rahasia segala yang ada di baliknya. Kita yang kerdil ini mencoba berbagai cara untuk mengetahui grand design dari semua ini. Saat logika terasa ada keterbatasan, manusia pun tersadarkan bahwa ilmu yang dimiliknya hanyalah setetes air di lautan yang mencoba memahami air samudra.

Saat kesadaran akan kelemahan itu ada, Manusia paling jenius di Abad ke-21, Albert Einstein,  mengakui, berkenaan dengan keteraturan dan keseimbangan  jagad raya ini, bagaimana keteraturan yang mencapai perhitungan quantum itu tak mampu membuatnya mampu menebak  pergerakan benda benda kosmos secara tepat. Tentunya ada kekuatan maha dahsyat yang mengaturnya.  “Dan tuhan tak tak bermain dadu dengan semua ini,” ujarnya.

Ilmu pengetahuan modern selama ini hanya mampu menjelaskan gejala alam dan alasan alasan penyebabnya namun tak bisa menciptaan sebab  itu yang baru dan memunculkan akibat yang baru pula.

Keingintahuan yang besar telah membuat orang ingin tahu segalanya. Segala yang terjadi di dunia ini haruslah bisa dipahami secara logika. Manusia adalah makhluk yang bertanya akan selalu terlihat antusias untuk menanyakan apa apa yang terjadi di sekelilingnya. Ilmu pengetahuan berhasil menyingkirkan mitos mitos zaman kegelapan.

Stephen Hawking, pakar fisika teori dari Inggris sampai bercita cita menemukan rumus segala hal yang bisa digunakan untuk membaca segalanya. Berangkat dari energi yang terdiri dari ruang dan waktu hasil derivasi dari teori yang dikemukakan oleh Einstein. Ia beranggapan bahwa Waktu juga berubah tidak berjalan konstan. Dan dia berhasil menyanggah Kealpaan Einstein yang mengabaikan waktu sebagai materi yang juga berubah tersebut.

Ada dimensi dimensi yang membuat waktu mulur mungsret tidak lurus sebagaimana kita sadari. Inilah penemuan paling baru dari pengetahuan yang menyempurnakan teori relativitas Einstein. Jagad raya adalah ruang waktu yang maha besar. Dan terus memngembang dan membesar entah sampai kapan.

Untuk sementara, Hawking berhasil menggugah kesadaran akan sangkan paraning dumadi. Dari mana dan kemanakah kita seolah hampir diketahui dengan pasti. Hawking menyadari sesuatu yang mengembang pasti berawal dari suatu yang diam pada awalannya. Big Bang atau dentuman besar berhasil dijelaskan oleh Hawking dan menjadi penemuan penting abad ini.

Jagad raya kita ini sebelum ada sepersekian milyar  detik waktu adalah sebentuk singularitas yang sangat padat, sepesar kacang polong.  Sebuah awal yang melahirkan dentuman besar membuat jagad raya itu kini seperti adanya kini. Dan tentunya perkembangan ini makin diperkuat oleh fakta  sejak hubble menemukan teleskop . Andai kita mempunyai jarak yang bisa mengamati pergerakan antar planet di jagart raya tentunya kita bisa melihat bagaimana mereka saling menjauh satu sama lain.

Hawking meyakini bahwa tenaga yang dilontarkan pada saat dentuman besar itu mash ada dan  lambat laun akan habis serta  membuat benda benda angkasa yang  dilondarkan  tersebut itu akan menyatu kembali, menjadi singularitas sebesar kacang polong.

Waktu Tidak melaju Linier Seperti Pemahaman Einstein

Dunia, bagaimana ia tercipta adalah rahasia abadi yang mungkin semua penasaran dengannya. Ilmuwan, agamawan dan semua yang berada di dalamnya selalu bertanya Tanya tentang maksud dan keberadaan dunia ini.

Tak henti hentinya ilmuwan menganalisa, baik itu bidang fisika maupun ilmu hayat yang muncul dengan ide evolusinya. Teori dentuman besar seolah sejalan dengan teori evolusi bagaimana waktu menjadi kunci pada setiap perubahan perubahan yang terjadi.

Waktu menjadi obyek penelitian yang begitu menggairahka. Bagaimana ia berperan dalam persepsi manusia sebagai materi yang mendiami bumi ini. Relativitas Einstein berhasil menyadarkan entitas waktu yang begitu nisbi dengan mengambil perumpamaan antara kesenangan dan kesedihan.

Saat dalam kondisi senang waktu berjalan begitu cepat dalam persepsi seseorang sedangkan saat dalam kondisi sedih waktu berjalan seolah sangat lambat. Bahkan, keterkaitan dengan pergerakan ini bagaimana waktu bisa menghilangkan bentuk dari sebuah materi jika materi itu bisa bergerak secapat cahaya. Yang ada hanya energy.

Bergerak adalah keniscayaan sebagaimana yang diungkapakan Einstein bahwa untuk tetap berada di jalur keseimbangan segalanya harus tetap bergerak. Begitu juga yang diungkapakan oleh Darwin bahwa yang bertahan adalah ayang bergerak mengikuti waktu hingga lestari dan bertahan keberadaannya.

Keduanya ini disempurnakan oleh teori dentuman besar Hawking yang menyebut bahwa setelah ledakan itu, jagad raya terus melaju bergerak dalam ruang dan waktu yang membero sebab akibat setiap materi di dalamnya.  Bagi Hawking waktu tak selinier yang dipahami Albert Einstein, menurutnya waktu bisa dilipat dan ditekuk untuk didekatkan.

Menurut Hawking, andai kita menggambarkan waktu laksana garis lurus A dan B dalam sebidang kertas kosong, maka untuk mendekatkan jarak antara A dan B  cukup dengan melipat kertas tersebut hingga A dan B menempel. Dalam pemahaman Einstein agar A bisa ke B dengan cepat maka ia harus bergerak dengan cepat pula. Einstein lupa bahwa ada ruang yang ditempati waktu.

Untuk saat ini Hawking berhasil melengkapi aksioma Einstein E=MC2  yang mengabaikan ruang dan waktu. Dan pemahaman soal waktu tang bisa dilipat sementara ini akan terus menjadi bahan diskusi entah sampai kapan. Atau ini adalah puncak dari pencarian teori segala hal kita pun tak tahu.

Perihal Tulisan Bagus atau Jelek

Semua orang ingin berkarya, tetapi mendadak berhenti membuat karya karena takut dinilai orang lain.

Seorang penulis harus berani mengambil resiko. Dihujat dan dipuji adalah bagian dari salah satu ujian bagi penulis. Lha…itu termasuk resiko kecil kenapa mesti takut berkarya. Bahkan ada juga lho penulis yang sampai kehilangan nyawa akibat dari tulisannya.

Kalau hanya atas dasar dihujat atau dihina Anda nggak jadi berkarya berarti Anda nggak punya mental penulis. Alangkah baiknya Anda berhenti saja menulis dan buang jauh jauh cita cita jadi penulis, hehehe (beres tho….)

Mental tahan uji itu yang pertama menjadi syarat untuk jadi penulis.

Tulisan bagus atau jelek itu ukurannya semu, nisbi dan tergantung nasib karya itu sendiri.

Apakah tulisan yang baik adalah karya yang pernah terbit di media? atau memenangi lomba? Catat!! itu bukan ukuran tolok ukur karya yang baik.

Banyak karya yang baik tetapi tidak pernah dimuat di media massa, dan atau memenangi sebuah lomba. Nah kalau mau bukti simak saja buku buku yang bagus yang jadi bahan diskusi bertahun tahun apakah ia dimuat di media atau memenangi ajang lomba.

Itulah yang saya maksud sebagai takdir sebuah karya. Karya yang bagus malah kadang muncul karena memberi efek kebermanfaatan pada pembacanya.

Banyak karya bagus juga yang tidak populer, hitsnya sedikit dan mungkin tak banyak disinggung orang. Pembaca bisa cek nama nama sastrawan yang beken atau belum beken.

Di antara nama beken itu ada juga yang karyanya asal asalan tapi sering nongol di koran. Ada juga karya dari penuli yang belum beken, sangat bagus tetapi tak berjodoh dengan popularitas.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kualitas sebuah karya itu ditentukan oleh nasib. Ada penulis yang sebenarnya bermutu tapi jarang terdengar ada juga penulis yang karya karyanya biasa tapi sering tampil dalam saluran yang menyediakan popularitas.

Sebenarnya kualitas itu tergantung peran dari karya itu sendiri. Apakah ia bermanfaat dan mampu mengubah keadaan. Kalau ia hanya ditulis dibaca dan dilupakan begitu saja berarti ia hanyalah karya yang biasa saja.

Meski biasa saja, hendaknya itu tak mengubah semangat untuk menulis karena siapa tahu suatu saat karena konteks yang mendukung karya tersebut menjadi luar biasa.

Berkaryalah karena masterpiece hanya akan hadir pada pribadi pribadi yang tekun dan tahan banting. Karya yang biasa kita hasilkan adalah jejak jejak kita untuk mengantar karya tersebut menuju ke takdirnya. Apakah ia akan abadi bergema atau hanya lewat begitu saja.

Lagi lagi, ketekunan berkarya dimbangi konsistensi akan menjadikan seseorang lebih baik pada saatnya nanti. who knows?

Gayatri

Pada tiap hasrat lelaki
merindumu menjadi bagian pengindah tahta
sebagaimana tatapan awas matamu
menguak cahaya kedaton dada dada prawira

kau pasrah pada jejaka jelata
beraura tahta bukan berhasrat kuasa
karena yang berhasrat telah tunduk pada ketiakmu
sebagaimana Putri Dedes kau memilih untuk dipilih

memendam hati yang perawan
mengorbankan tubuhmu pada pangeran
cinta yang tak pernah kau lepaskan
membuat tahta itu lemah

kesalahanmu adalah menunggu
perempuan tak harus menunggu
kehidupanmu menjadi duri
dan sekali lagi kepasrahan itu perih, Gayatri

Panas di Bulan Oktober

Matahari seperti sangat dekat

membakar perih di kulit ini

Pada puncak suhu kita berharap berangsur turun

Ini panas berkepanjangan

ditambah hoax di halaman medsos

Panas ini semakin membara

sementara aku tersiksa rasa nylekit

kulitku gosong

hatiku gosong

semua gosong

dibakar pesimis

Di istana ada pawang hujan

menata sesaji yang tak perlu

kita hanya butuh hati

yang selalu bisa memenuhi janji

Nama nama dicatat pak presiden

disebagiannya melahirkan awan

disebagiannya membakar fikiran

orang orang pendendam

Panas di bulan Oktober makin tajam

menusuki kulitku

aku bertanya kapan

suhumu turun

jika hoax masih banyak dihimpun