Best Quote

<blockquote class=”twitter-tweet”><p lang=”en” dir=”ltr”>Behind me is infinite power, before me is endless possibility, around me is boundless opportunity. ~Author Unknown</p>&mdash; The Quote First (@TheQuoteFirst) <a href=”https://twitter.com/TheQuoteFirst/status/950382874276126721?ref_src=twsrc%5Etfw”>January 8, 2018</a></blockquote> https://platform.twitter.com/widgets.js

Iklan

PKI Harus Dibenci Tapi Tidak Semua yang Dibenci Kita Anggap PKI

Bulan September ini kita selalu gencar mendengar dan membaca tentang sebuah gerakan yang menghebohkan di tahun 1965. Gerakan 30 September Penghiantan Partai Komunis Indonesia ( PKI) atau yang lazim dikenal G30S PKI. Kisah penculikan para jenderal TNI AD yang dilakukan oleh Cakrabirawa yang dikendalikan oleh Letkol untung yang berafiliasi ke PKI. Peristiwa itu selalu menjadi mimpi buruk bagi kita rakyat Indonesia.

Tujuh Jenderal telah mati dan di buang di sumur tua di Lubang Buaya Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan betapa mencekamnya saat itu. Bagaimana tidak mencekam ketika tujuh perwira tinggi TNI telah mati oleh pasukan sendiri yang telah disusupi oleh PKI. Itulah kenangan buruk sejarah negeri ini yang semoga tak akan terulang lagi.

PKI, telah berbuat kesalahan besar dengan membunuh para perwira tinggi itu. Mereka telah menghianati negeri sendiri. Negeri yang mayoritas Islam ini hendak dijadikannya negara komunis. Dan apa yang terjadi pada tahun itu memang sedang booming dua kubu Ideologi besar Komunis dan Demokrasi Kapitalis. Keduanya pun seolah berjuang dengan dominasi yang begitu besar karena didukung oleh dua negara adi kuasa Soviet dan Amerika. Uni Soviet yang berafiliasi komunis dan Amerika yang demokrasi terlibat perang dingin dan saling pengaruh di negara negara berkembang.

Indonesia menjadi salah satu target dari kedua negara adi daya itu pun tak lepas dari perang dingin yang dilakukan oleh keduanya. Pada saat itu memang ada kecenderungan negara kita untuk lebih condong ke Uni Soviet. Dan Demokrasi Terpimpin yang sedang dijalankan di Indonesia melalui pemimpin besar Revolusi, Presiden Soekarno, terlihat memberi angin untuk ideologi komunis. Dan PKI berhasil memanfaatkan kondisi tersebut hingga terjadi peristiwa G30S PKI.

Rakyat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam menolak dengan tegas ideologi kafir tersebut. Para elite politik pun tidak menyadari bahwa islam jelas jelas menolak kekafiran yang meniadakan keberadaan Tuhan. Dalam hal ini Presiden Sukarno bisa dikatakan agak kurang perhitungan ketika berusaha merangkul semua golongan Nasionalis, Agama dan Komunis melalui jargonnya yang terkenal NASAKOM.

Biar bagaimanapun apa yang dilakukan PKI adalah kesalahan besar dan patut dibenci karena telah berusaha menghianati ideologi bangsa Pancasila yang pada sila pertamanya jelas berbunyi Berketuhanan Pada Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang tidak mengakui adanya Tuhan jelas tidak layak tumbuh di Indonesia dan patut dibenci.

Tidak Semua Yang Kita Benci Harus Dianggap PKI

Namun unsur politis yang melingkupi peristiwa itu begitu kental hingga sekarang. PKI seperti hantu bergentayangan dan menjadi label yang menakutkan di benak rakyat Indonesia. Sekarang ini konteks sangat berbeda dengan tahun 1965. Kita harus berhati hati agar tidak membuat kesalahn sebagaimana PKI yang suka menebar fitnah.

Umat Islam adalah kendaraan yang bagus untuk politik, dan Islam sangat membenci Komunisme. Jangan karena kita bergaul akrab dengan Islam lantas menebarkan isyu PKI kepada lawan politik kita dengan harapan kita mendapat dukungan dari umat Islam.

Biar bagaimanapun Islam di Negeri ini sudah banyak makan asam garam. Dan Islam di negeri ini pun pernah mengalami saat saat sulit tidak hanya dari PKI. kalau bisa kita ambil contoh peristiwa Priok. Apalagi sekarang Islam sering dianggap identik dengan terorisme. Kemanakah dan di posisi manakah mereka para anti PKI saat Islam dituduh begini dan begitu. Tanpa diajak ajak kita umat Islam jelas anti PKI karena mereka tak bertuhan. 

Semoga umat Islam semakin bijak menyikapi isyu isyu PKI karena PKI memang harus dibenci dan tak layak tumbuh di negeri ini. Namun satu hal yang pasti bahwa tidak semua yang dibenci kita tuduh sebagai PKI. Semoga para peguasa yang berkepentingan politis bisa bersekap dewasa. Jangan demi kepentingan kekuasaan sesaat kita melabeli orang sebagai PKI.  

Kekalahan McGregor Karena MMA dan Tinju Aturannya Berbeda

Conor McGregorMenarik sekali melihat pertarungan antara Floyd Mayweather melawan Conor McGregor pagi Minggu 27/8/17 waktu Indonesia . ini adalah pertarungan antara dua petarung dengan ajang yang berbeda yang mencoba diadu dalam cabang tinju. Mayweather, sebagai petinju, diuntungkan dengan kondisi pertarungan ini karena McGregor adalah seorang petarung campuran atau mix martial art (MMA).

Meski McGregor seorang petarung yang juga memungkinkan melakukan teknik bertinju, namun sebagaimana prediksi para pengamat tinju, McGregor akan kesulitan untuk menghadapi Mayweather yang mempunyai basic murni sebagai seorang petinju.

Dan prediksi pengamat tinju benar karena pada pertarungan pagi ini McGregor hanya mampu menghadapi Mayweather sampai ronde 10 saja. Di ronde ronde awal McGregor terlihat mampu mengimbangi Mayweather, pelan namun pasti, ia kedodoran secara fisik untuk bertarung selam 12 ronde.

Perbedaan mendasar antar MMA dan tinju adalah durasi ronde dalam setiap pertarungan. Dalam MMA untuk perebutan gelar juara hanya 5 ronde dan perbaikan peringkat Cuma 3 ronde. Beda dengan di cabang tinju karena untuk perbaikan peringkat saja mereka harus bertarung 10 ronde sedangkan untuk perebutan gelar juara 12 ronde.

Ternyata benar bahwa fisik adalah titik kelemahan yang ada pada McGregor. Sejak awal pengamat sudah mempertanyakan sanggupkah ia bertahan bertarung dengan aturan tinju sebanyak 12 ronde? Dan jawabnya McGregor praktis hanya mampu mengimbangi Mayweather di 5 ronde awal selanjutnya hanya bertahan.

Saya jadi teringat apa yang disampaikan Master MMA dari Brazil, Rickson Gracie, dalam suatu wawancara mengenai apa itu esensi pertarungan. Ia menyampaikan bahwa dalam pertarungan MMA sebagaimana pertarungan jalanan kemenangan bukan dengan poin dalam setiap ronde namun lebih bagaimana menyelesaikan pertarungan dengan meminimalisir cedera pada diri sendiri maupun lawan ketika kita bisa membuat lawan itu menyerah.

Sebagai salah satu adik pencetus MMA yang melahirkan Ultimate Fighting Champions (UFC), Rorion Gracie, Rickson Gracie menganggap bahwa UFC bukan lagi sebuah adu ketrampilan bertarung tapi banyak bernuansa hiburan. Dan kondisi ini bagi Rikckson Gracie menyebabkan MMA tidak lagi ramah untuk disaksikan anak anak.

UFC dianggapnya lebih dari segi tontonan yang tidak lagi ramah karena pertarungan lebih sering berjalan lama (karena terlalu banyak aturan yang mengurangi kemungkinan pertarungan diselesaikan secara cepat)  dan berdarah darah.

Apa yang terjadi pada McGregor adalah kesalahan ketika seorang petarung MMA harus bertarung dengan aturan tinju yang tentunya tidak nyambung bagi petarung MMA.

Ada ungkapan menarik dari Adik Rickson Gracie, Royce Gracie mantan juara UFC I, II, dan IV, bahwa seorang petarung harus menggunakan kemampuannya ketika bertarung tanpa harus mengikuti keahlian lawannya di bidang apa. “tidak mungkin saya bertinju dengan Mike Tyson karena jelas kalah maka saya harus menggunakan kemampuan Jiujitsu saya,” katanya dalam suatu wawancara.

Apa yang McGregor lakukan membuktikan perkataan kedua Master Jiujitsu itu terbukti benar. MMA mempunyai aturan bahwa setiap petarung boleh bertarung dengan teknik apa saja untuk memperoleh pertarungan. Nah bila mereka bertarung dengan aturan satu jenis cabang olah raga hasilnya bisa ditebak.

Dan tinju sekali lagi bukanlah MMA karena di olah raga tinju ada sedikit nuansa hiburannyanya. Mayweather begitu perkasa di dunia tinju. Mungkin akan berbeda ceritanya bila ia harus mengahadapi McGregor di ajang yang memungkinkan McGregor melakukan segalanya, yaitu di arena MMA. Mungkin ini akan menjadi pertarungan yang menarik. Siapa tahu?

PNS; Profesi Dibenci dan Dicari

Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah profesi yang unik. Kenapa bagi saya unik? Karena profesi ini paling banyak dibully dan dibenci oleh banyak orang. Mereka menganggap PNS adalah pekerja pekerja yang malas dan seringkali terlibat kasus kasus korupsi menurut anggapan mereka.

Tahun ini Kementerian hukum membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Luar biasa! Sebagaimana yang diberitakan oleh media massa. Peminatnya membludak bahkan dikhawatirkan komputer yang dipakai untuk ujian tidak mampu melayaninya. Sampai tanggal 22/8/17 kemarin pendaftar telah mencapai 872.690 orang, hampir mencapai satu juta pelamar.

Inilah anehnya PNS dilain pihak dibenci sekaligus juga dicari. Mungkin kondisi ini disebabkan karena mudahnya cara melamar pekerjaan untuk menjadi PNS yaitu dengan tes tulis biasa tanpa harus melihat ketrampilan yang dimiliki sehingga semua berbondong bondong untuk memasukinya.

Apa sih Daya Tarik PNS

PNS masih begitu menggiurkan bagi sebagian masyarakat. Dengan gaji di atas UMR dan dapat berbagai tunjangan, masyarakat seakan terbius dengan fasilitas yang dimiliki oleh PNS. Terlebih lagi, di masa tua, mereka masih dapat uang pensiun itulah yang menyebabkan begitu menggiurkannya PNS bagi masyarakat .

Para pelamar itu kadang bukanlah sarjana sarjana yang baru lulus, dari pengalaman penulis, banyak juga yang sudah bekerja rela antri untuk menjadi PNS. Bahkan tak jarang mereka itu ada yang sudah mendapat posisi mapan ditempat kerjanya namun masih rela untuk berjejalan mendaftar jadi CPNS.

Sebenarnya bila mereka memahami, gaji PNS itu hanya cukup untuk hidup. Bayangkan gaji kotor seorang PNS golongan IIIa dengan tiga anak sebesar Rp 3.500.000,00. Anda bisa hitung sendiri dengan uang sebesar itu bisakah seseorang memenuhi GAYA HIDUPNYA?

Jujur saja apabila seorang PNS itu jujur dalam bekerja sulit tentunya untuk kaya apalagi hidup berfoya foya. Namun, apa yang terjadi kadang banyak para PNS itu yang hidupnya penuh foya foya dan suka pesta khususnya mereka mereka yang dalam berada di lahan “Basah”.

Itulah kondisi di negeri ini meski banyak masyarakat yang membenci PNS karena dengan tuduhan penyelewengan jabatan dan sebagainya namun ketika ada pembukaan CPNS di sebuah intansi pemerintah peminatnya selalu membludak.

Semoga para pendaftar CPNS yang baru itu mempunyai motivasi baru sebagai aparatur sipil negara yaitu memang ingin bekerja tulus untuk mengabdi pada negaranya. Dan saya berharap demikian! Bagaimana dengan Anda?

Jangan Risaukan Polah Malaysia, Mereka Memang Bisanya Begitu!

Insiden bendera terbalik di SEA Games ke 29 di Malaysia,  membuat menpora kita, Imam Nahrowi , kecewa. Sebuah keteledoran yang mungkin bisa saja terjadi namun di event sebesar SEA Games tentunya itu patut disesalkan. Apa yang dilakukan tuan rumah, Malaysia, sedikit banyak telah menyinggung perasaan negara kita Republik Indonesia.

Event olahraga kawasan se Asia Tenggara itu seakan tercoreng apalagi bendera nasional kita terbalik di buku panduan sea games yang dicetak secara resmi untuk kenangan peserta SEA Games tersebut. Mungkin ini sebuah ketidaksengajaan namun ini juga membuktikan bagaiman kapabilitas malaysia menangani event besar sekelas SEA Games masih ada keteledoran fatal dan memalukan ini.

Kini kita bisa membandingkan apa yang selama ini digemborkan oleh media internasional bahwa negeri jiran itu sudah melampaui kita dalam hal apapun. Dan  melihat kejadian tersebut tentunya kita tidak usah berkecil hati karena siapa sesungguhnya yang cakap ada di depan mata kita.

Meski sebagai negara serumpun hubungan negara kita dengan Malaysia memang seperti selalu ada dusta yang terjadi. Banyak kasus yang membuktikan itu baik di event olah raga maupun politik. Bahkan di event sosial budaya seringkali dusta itu terjadi di antara kita dan Malaysia.

Menarik untuk dikaji adalah sejarah di antara kedua bangsa ini. Terutama di era era demokrasi terpimpin kita pernah hampir berkonfrontasi dengan mereka. Kata “Ganyang Malaysia” adalah jargon yang terus dirawat setiap kali kita ada friksi politik maupun dalam event  pertandingan olahraga.

Sebagai negara yang bisa dikatakan berusia lebih tua karena kita lebih dulu merdeka (kita 1945 sedangkan malaysia 1957) selayaknya kita lebih dewasa menyikapi  tingkah polah adik kita ini. Mungkin secara alamiah mereka ingin lebih eksis melebihi kakaknya dan lebih mendapat perhatian dunia Internasional karena merasa sudah sejajar dengan kita.

Sebagai kakak kita harus lebih pede menyikapi tingkah polah junior kita. Kita pun harus lebih bisa ngemong adik yang mengaku ngaku hak milik kakaknya. Bahkan kita harus lebih dewasa melihat keinginan adik untuk mengalahkan kakaknya karena mengalahkan kakak adalah prestasi bagi seorang adik. Dan ingat di tahun 70-an guru dan dosen kita banyak yang mengajar di sana bahkan orang Malaysia belajar ke Indonesia.

Biarlah mereka melakukan kecurangan untuk mendapatkan kemenangan, toh event SEA Games tidak begitu menjadi perhitungan bagi pesaing pesaing kita di event internasional.

Dan apa yang menjadi target seorang kakak? Adalah prestasi di kancah yang lebih besar. Kalau di event sekelas regional kita selalu sibuk dengan perilaku seorang adik maka di event dunia yang lebih besar kita akan ketinggalan.

Juara umum di event SEA Games memang membanggakan tapi tolok ukurnya adalah apakah setelah juara umum posisi kita di event olimpiade juga lebih tinggi di antara negara negara Asia Tenggara? Apa yang terjadi di lapangan, kita malah jauh di bawah Thailand ketika event internasional berlangsung.

Jangan risaukan tingkah polah Malaysia, kalau memang cara seperti itu yang mereka bisa, kita maklumi bersama dan ayo kita beri contoh bagaimana jalannya menjadi negara yang disegani. Tentunya caranya selain sportif adalah berjiwa besar dan berprestasi secara internasional. Ayo Kita Bisa!   

Tak Ada Kemerdekaan Bila Pejabatnya Bermental Kolonial

Mumpung masih dalam suasana memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 saya jadi ingin mengingatkan kembali arti kemerdekaan itu. Merdeka adalah kebebasan dalam segala hal. Sebagai sebuah bangsa kita diakui sebagai bangsa yang bebas menentukan arah langkah kita sebagai sebuah bangsa ketika Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah sekian lama merdeka apakah kita merasakan betul nikmat  sebagai warga negara sebuah bangsa yang merdeka. Kita merdeka dari pemerintah kolonial Belanda yang sebegitu lama memerintah kita sebagai koloninya. Sebagai koloni Belanda kita harus tunduk dengan apa apa yang diinginkan oleh pemerintah kolonial.

Pemerintah kolonial, seperti yang kita tahu dari beberapa dokumen dan pelajaran sejarah, mempekerjakan pejabat pejabat yang dalam banyak kasus kejam, otoriter, dan korup. Seringkali mereka memaksakan kehendaknya kepada rakyat Indonesia dengan sebegitu rupa dengan alasan merupakan kebijakan negara Belanda.

Apa yang terjadi saat itu adalah bagaimana pejabat kolonial itu bertindak seolah sebagai bos yang harus dihormati oleh penduduk koloninya. Kita adalah budak budaknya yang harus patuh tanpa harus banyak protes. Namun, kenyataanya mereka adalah pribadi pribadi yang korup yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kondisi itulah yang pada akhirnya memunculkan ide nasionalisme di negara kita.

Apakah Kini Sudah Berubah?

Setelah kita merdeka apakah situasi juga berubah saat pejabat koloial itu digantikan oleh pejabat pejabat negeri sendiri. Tentunya kondisi ini masih banyak perdebatan. Sebagai bangsa yang merdeka kita telah mengalami perubahan dalam hal akses pendidikan dan pelayanan publik lainnya.

Namun, terkait dengan mental pejabat pejabat yang menjalankan roda pemerintahan saya rasa kita masih sepakat belum ada perubahan yang signifikan-hampir sama dengan masa kolonial.

Masih ditemui di negeri ini pejabat yang berkedudukan tinggi sewenang wenang terhadap bawahan. Baru baru ini terjadi seorang petinggi lembaga tertentu yang menampar pramugari. Bahkan masih banyak ditemui pejabat pejabat yang minta diperlakukan khusus sebagai ndoro ketika mereka berkepentingan dengan pelayanan publik.

Dan untuk hal yang satu ini, yaitu korupsi, bisa dikatakan malah sama persis dengan pejabat kolonial. Saya takut jangan jangan perilaku korupsi pejabat kita  malah melebihi perilaku pejabat kolonial.

Kondisi di atas itulah yang menyebabkan tidak meratanya pembangunan sehingga saudara saudara kita yang berada jauh dengan pusat kekuasaan malah tidak merasakan kue pembangunan akibat kemerdekaan. Mereka terasing di negeri sendiri meski kemerdekaan telah lama kita jalani.

Menarik untuk kita renungkan kembali sudahkan kita mewujudkan kemerdekaan itu secara utuh mengingat cita cita kemerdekaan kita adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah kita masih berpura pura lupa, kalau tidak bisa disebut menghianati, cita cita kemerdekaan yang telah digariskan oleh para founding father negara kita dalam sebuah teks Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 itu.

Semoga tulisan singkat ini mampu merefresh kembali pemahaman kita akan sebuah kemerdekaan, dan tidak silau dengan mental pejabat kolonial yang berorientasi kekuasaan dan materi. Anda setuju?

Jalan Sehat Bersama Menyambut Kemerdekaan

Ribuan warga Desa Paciran pagi ini 11 Agustus 2017 menyambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 dengan Lomba Jalan Sehat. Berawal dari lapangan Bazis dan finish di Terminal ASDP sekitar Kawasan Wisata Bahari Lamongan berjarak kurang lebih 4km.

Dimotori oleh Karang Taruna Putra Samudra, acara jalan sehat ini begitu ramai peserta karena melibatkan seluruh pelajar dan masyarakat Desa Paciran.

Dibuka oleh Camat Paciran dan Kepala Desa Paciran, suasana pagi itu begitu meriah dan bersemangat karena panitia juga menyediakan beberapa hadiah hiburan dengan hadiah utama sebuah kulkas.

Keseruan acara semakin bertambah ketika seluruh jajaran muspika Paciran hadir di garis finish menyambut kedatangan peserta jalan sehat pagi itu.

Sambutan dari seluruh muspika membuat perayaan kemerdekaan ini begitu menggelorakan semangat kebersamaan sebagaimana tema peringatan kemerdekaan tahun ini yaitu Ayo Kerja Bersama.

Camat Paciran, Fadheli berkesempatam mengambil kupon hadiah pagi itu berupa sepeda pancal, yang diteruskan oleh Danramil yang memberikan hadiah kejutan lainnya.

Seluruh peserta nampak tak lelah karema di tengah tengah proses pengundian mereka dihibur dengan sajian elekton yang disediakan oleh ketua Karang Taruna.

Menjelang pukul sepuluh, Kades Paciran, Khusnul Khulug pun mengundi hadiah utama sebuah kulkas. Semua peserta pun merapat dan akhirnya seluruh hadiah pun habis saat kulkas pun berpindah tangan kepada peserta yang kupon undiannya disebut oleh kepala desa.

Dan seperti yang disuarakan oleh pembawa acara bahwa seluruh peserta  mendapat hadiah yaitu sehat semua pun buyar sambil bertepuk tangan.